• Homili Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC - Retret Pewarta Dan Pengajar BPPG Jakarta

    Homili Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC

    Rertret Pewarta dan Pengajar BPPG Jakarta

    (Lembang, 3-4 September 2016)

    Saudara-saudari terkasih,

    Kita hidup dalam dunia yang fana, yang segalanya terjadi bukan tanpa proses, kita juga hidup dalam dunia robot, sekali pencet langsung cepat tanpa harus bersusah-susah, dan kita berada dalam dunia video klip, semua rangkaian terjadi dalam waktu yang cepat tanpa waktu sedikitpun untuk jeda merenung, secara cepat terus berganti. Dalam keadaan seperti itu bisa jadi kita tidak lagi mempunyai fokus pada suatu hal tertentu dan tidak lagi bisa membedakan mana yang penting, mana yang tidak penting, mana yang menjadi prioritas di dalam hidup kita. Apalagi, berbagai persoalan sering sekali datang bertubi-tubi hingga kitapun kadang-kadang terganggu untuk konsentrasi pada tugas dan karya pelayanan kita. Bisa jadi kita hidup bagaikan orang yang jalannya luntang-lantung kesana kemari, berlari tunggang langgang dalam dunia yang terus gonjang ganjing bagaikan orang ‘sinting’.

    Don Tapscott di dalam bukunya yang berjudul ‘growing up digital’ menceritakan salah satu generasi kita yaitu generasi digital atau generasi tech dimana orang-orang yang lahir setelah tahun 1979, sejak awal sudah ada barang-barang digital, mereka biasa melakukan banyak hal dalam waktu yang sama. Bisa jadi pada waktu yang sama seseorang mengunduh sesuatu dari internet, bertelpon, melakukan chatting dengan temannya, dan masih juga dapat mendengarkan musik, bahkan bisa jadi dalam saat yang sama, lima hal dilakukan secara bersama-sama. Maka pada saat itu sulitlah orang untuk fokus atau konsentrasi pada hal yang lebih utama.

    Seorang anak baru-baru ini berjumpa dan bercerita “Romo uskup, kenapa kita kalau berdoa itu kita tutup mata?” Saya tidak menjawab, kemudian anak itu berkata “Supaya kita tidak terganggu konsentrasinya, supaya kita hanya melihat tuhan”. Lalu dia berkata lagi “Kenapa tangan kita kalau berdoa dikatupkan?” mendengar itu saya bertanya-tanya, kenapa ya? Lalu ia menjawab “Supaya kita tidak memegang –megang barang-barang lain”. Mungkin anak-anak terbiasa main, tidak konsentrasi, dan memegang barang-barang lain, lalu pada waktu berdoa, entah dimana, mungkin saja di sekolahnya di ajarkan demikian, supaya pada waktu berdoa tidak melakukan apa-apa, hanya fokus pada Tuhan.

    Injil hari ini berbicara tentang fokus pada Tuhan, dengan kata-kata yang sangat keras bagi kita, Yesus berkata “Tidak layak seorang menjadi muridku, seandainya tidak membenci ayahnya, ibunya, saudara-saudarinya bahkan dirinya sendiri.” Ajaran macam apa ini? Padahal Yesus sendiri memberikan perintah yang sangat jelas, Yohanes 13:34 “Aku memberikan perintah baru kepadamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti aku telah mengasihi kamu demikianpula kamu harus saling mengasihi.”  Maksud Yesus adalah apapun yang paling penting di dalam hidup, siapa yang paling berharga dalam hidup, sekalipun mengganggu konsentrasi engkau ketika engkau mengikuti Aku, tinggalkan mereka! Jadi disini seseorang murid Tuhan diajak untuk sepenuhnya beriman, berkonsentrasi, fokus mengikuti Tuhan seraya penuh iman, percaya bahwa Tuhan akan menguduskannya.

    Kadang-kadang, kita tidak percaya pada Tuhan bahwa Tuhan ‘mengurus’ apa yang menjadi kebutuhan kita. Kadang-kadang kita tidak yakin  bahwa Tuhan sendiri yang akan bekerja untuk kita. Kalau kita bekerja untuk Tuhan, Ia akan berkata “Urusanmu akan saya urus! Lepaskanlah segala sesuatu, biar Aku yang mengurus keluargamu, Ibumu, Bapakmu, saudara-saudara-saudaramu, bahkan dirimu sendiri akan Aku urus kalau engkau fokus mengikuti aku.”

    Kalau hari ini Saudara diutus menjadi Pewarta namun belum pandai berbicara, Tuhan akan melengkapi. Kalau Saudara-saudari diutus oleh Tuhan untuk mewartakan injil Kristus namun belum ada gairah untuk membaca kitab suci dan tidak ada kerinduan dan penyerahan diri, Tuhan akan mengutus rohnya untuk membantu Saudara senantiasa membuka dan membaca kitab suci.

    Tuhan akan mengubahkan mulut para pewarta yang sungguh beriman sehingga apa yang dikatakannya adalah kata-kata yang sungguh berasal dari Yesus sendiri. Kalau kita merasa hari ini belum pantas dan belum kudus biarlah roh kudus sendri yang bekerja seperti saat ia memberikan bara api pada mulut nabi Yesaya sehingga Nabi Yesaya menjadi ‘pantas’ (Yesaya 6:6-7).

    Tidak ada seorangpun yang pantas menjadi pewarta Tuhan kecuali jika dikehendaki, diundang Tuhan, dan diutus oleh Tuhan. “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Mari dengan penuh iman kita menjawab: “Ini aku Tuhan, utuslah aku.” (Yesaya 6:8).

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/