• Pertemuan FKPE : Pewartaan Digital


    Ditulis pada tanggal : Tuesday, 20 September 2016, 07:56 PM

    Pertemuan FKPE : Pewartaan Digital

    DINAMIKA DARI PEWARTAAN DIGITAL UNTUK MEWARTAKAN KRISTUS

    (Oleh: Stefanus Tay dan Inggrid Listiani)

     

     

    Kita dapat melihat bahwa ada banyak hal yang dipakai dalam kehidupan Yesus. Yesus tidak anti dengan hal-hal yang bersifat material. Bahkan, Yesus menggunakan material untuk mengadakan begitu banyak hal, salah satunya penyembuhan. Yesus tidak hanya berfirman: “Sembuh”, namun terkadang Yesus menggunakan material; seperti saat Ia meludah ke tanah, mengaduk-aduknya, lalu mengolesnya, dan terjadilahlah satu mujizat.

    Melalui Amanat Agung (Matius 28:19-20), Yesus memerintahkan kita untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil. Perintahnya: seluruh atau semua, yang merupakan arti dari ‘Katolik’ itu sendiri. Memberitakan Injil bukan hanya kepada mereka yang mengenal Kristus, bukan hanya kepada orang Indonesia, atau hanya dalam komunitas kita saja, melainkan seluruhnya. Lalu kata Yesus, “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” Yang dimaksudkan di sini ialah ajaran yang tidaklah sedikit-dikit, tidak hanya separuh saja, atau tigaperempatnya, melainkan segala sesuatu yang telah diperintahkan kepada kita.

    Tidak berhenti sampai di situ, pada suatu malam di pantai danau Genesaret, ketika Petrus tidak memperoleh ikan, Yesus berkata, “Duc in altum.” “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam dan tebarkan jalamu.” Setelah itu, mereka menangkap ikan sangat banyak.

    Yesus memerintahkan kita untuk pergi ke tempat yang lebih dalam. Lantas dengan apa? Dengan perahu? Pada jaman dahulu, orang menggunakan perahu untuk bisa pergi ke tempat yang dalam. Sekarang kita bisa menggunakan internet atau media website untuk ‘menebarkan jala’, sehingga kita dapat pergi ke tempat yang lebih dalam yang tidak mungkin dapat kita jangkau. Hal yang dimaksudkan disini adalah teknologi. Inilah yang menjadi fokus yang harus kita sadari. Apakah kita mau mengambil sikap dan aktif melakukan sesuatu untuk mau memberitakan Injil ke seluruh dunia dan bertolak ke tempat yang lebih dalam?

    Sebelum teknologi muncul, orang-orang terbiasa mendengarkan pengajaran di dalam komunitas. Dalam Ordo Benediktus, para biarawan akan menyalin Kitab Suci satu persatu. Orang-orang akan mendengarkan pewartaan dalam beberapa kesempatan termasuk homili yang dilakukan oleh imam. Dapat dikatakan pewartaan saat itu sifatnya ‘mendengarkan’.

    Ketika mesin cetak ditemukan, setiap orang pada saat itu mulai memiliki banyak Kitab Suci sehingga mereka dapat membaca Kitab Suci secara pribadi. Kitab Suci kemudian diterjemahkan kedalam beberapa bahasa. Lalu, dengan semakin berkembangnya teknologi, lahirlah radio. Orang-orang yang terbiasa membaca, mulai mendengarkan. Saat itu, Gereja turut aktif menggunakan media radio ini.

    Pada tahun 1930, seorang Uskup di Amerika, Fulton J. Sheen, memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap Gereja Katolik. Tahun 1950, setiap minggunya 4 juta orang mendengarkan pengajaran dari Uskup Fulton J. Sheen melalui radio. Pengajarannya semakin hari semakin meluas ketika teknologi televisi muncul. Uskup Fulton J. Sheen menjadi ‘selebriti’ yang luar biasa. Setiap minggu, sekitar 10 juta orang akan mendengarkan pengajarannya. Contoh ini menunjukan bahwa pengaruh teknologi menjadi begitu luar biasa dalam mewartakan Kristus terhadap setiap orang.

    Mother Angelica, pendiri stasiun TV Kabel EWTN (Eternal Word Television Network) Global Catholic Network, yakni jaringan televisi Amerika yang menyajikan program-program bertema Katolik, adalah seorang suster yang sederhana, yang memulai karyanya dari sebuah garasi kecil. Karya ini lahir dari sebuah kemauan yang didorong oleh inspirasi Roh Kudus. EWTN dimulai dari sesuatu yang kecil, perlahan-lahan menjadi besar, dan kemudian menjadi profesional. Saat ini, subscriber untuk channel TV EWTN mencapi 146 juta di 127 negara. Kita dapat melihat bawah jika kehebatan teknologi digunakan dengan benar dan menarik maka akan menimbulkan pengaruh yang besar.

    Ketika intenet mulai merebak, social media atau blog bermunculan. Orang-orang saat itu mulai bisa menyampaikan komentar-komentar mereka terhadap suatu berita yang ditampilkan. Komunikasi yang sebelumnya hanya satu arah menjadi dua arah.

    Tidak hanya itu, setiap menit, ada sekitar 1500 orang memposting artikel. Berarti, ada sekitar 35 artikel baru setiap detiknya. Di Youtube, 600 video baru muncul setiap menit, dan setiap detik muncul 1 blog baru. Mirisnya, kebanyakan dari konten artikel dan video-video tersebut mengarah kepada hal-hal yang negatif dan berbau pornography. Ini adalah gambaran yang terjadi di dunia saat ini. Lantas, apakah kita mau menjadi orang Katolik yang mewarnai ‘dinamika’ ini, untuk memanfaatkan kemajuan teknologi dengan memberikan nilai-nilai yang positif?

    Dalam sebuah dokumen Gereja, Evangelii Nuntiandi (#45), dikatakan bahwa Gereja akan merasa bersalah di hadapan Tuhan, andaikata tidak memakai sarana-sarana yang besar sekali dampaknya itu, yang berkat keahlian manusia dari hari ke hari semakin canggih. Dengan kata lain, Gereja memiliki tanggung jawab untuk menggunakan media dalam memperkenalkan Kristus. Gereja harus turut menyikapi perkembangan teknologi agar semakin dapat berkomunikasi dengan umat.

    Paus Emeritus Benediktus XVI berkata, “Jangan takut untuk berlayar di lautan digital. Give internet a soul”. Berikan jiwa kepada internet. Begitu banyak orang yang mendapatkan hal negatif dari internet, dan inilah waktunya bagi kita semua untuk memberikan jiwa, memberikan hal positif agar banyak orang tergugah untuk mengenal Kristus.

     

    Situs katolisitas.org sebagai media pewartaan

    Sebuah ide mendirikan suatu situs katolik katolisitas.org muncul dari pasangan suami istri awam, Stefanus Tay dan Ingrid Listiati Tay. Keduanya mempunyai latar belakang sarjana Teknik Arsitektur, lulusan Universitas Parahyangan Bandung, angkatan 1987. Setelah sekian tahun bekerja di dunia sekular, pasangan ini akhirnya memutuskan untuk mengambil S2 jurusan Teologi di Institute for Pastoral Theology di Ave Maria University, Amerika Serikat, dari tahun 2006-2009.

    Melalui sebuah diskusi, munculah sebuah visi dari situs katolisitas.org, yaitu menjadi sarana menyebarkan kabar gembira yaitu kasih Tuhan kepada semua umat manusia yang digenapi dalam Yesus Kristus dan Gereja Katolik dan ajaran-ajaranya baik kepada umat katolik maupun non-katolik. Sehingga mereka dapat mengetahui dan mengasihi kebenaran serta dapat hidup di dalam kekudusan. Misi dari katolisitas.org itu sendiri ialah ingin memaparkan dan menjelaskan ajaran iman katolik dengan evangelisasi dan katekisasi, yang setia kepada Magisterium Gereja Katolik, yang bersumber pada Kitab Suci dan Tradisi Suci, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Jadi, bukanlah pendapat pribadi yang akan disampaikan, melainkan apa yang menjadi ajaran Gereja yang sesuai dengan Katekismus Gereja Katolik.

    Lewat hal ini, lebih banyak orang dapat mengetahui bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik; mereka yang Katolik dapat memperdalam iman mereka dan mencintai Gereja Katolik. Mereka yang telah meninggalkan Gereja Katolik dapat kembali kepada iman Katolik; dan mereka yang non-Katolik dapat mengenal iman Katolik. Bukan untuk membuat mereka menjadi percaya, namun menyampaikan kebenaran dasar ajaran iman Katolik. Serta, semakin banyak orang dapat mengetahui dan hidup sesuai dengan pesan utama Konsili Vatikan II, yaitu: panggilan kepada semua orang untuk hidup kudus.

    Ada sebuah kesaksian, seorang pria selama 10 tahun mencari apa agama yang benar baginya. Orang tersebut akhirnya membaca situs katolisitas.org selama satu tahun dan merasa menemukan kebenaran melalui ajaran iman Katolik. Akhirnya ia beserta keluarga dibaptis secara Katolik. Begitu banyak kesaksian-kesaksian seperti ini membuat kita percaya bahwa ada kekuatan dalam kebenaran itu sendiri, dan merupakan tugas dari kita untuk menyampaikan kebenaran itu.

     

    Diutus untuk mewartakan Kristus; Pondasi yang harus dimiliki dalam mewartakan Kristus

    Pondasi adalah hal yang paling penting dan utama ketika kita hendak memulai sesuatu dalam mewartakan Kristus. Hal ini seumpama membangun sebuah rumah. Tanpa pondasi, rumah akan cepat dibangun tetapi akan menjadi keropos dan rubuh ketika badai datang. Begitulah dengan kehidupan kita dalam mewartakan Kristus.

     

    1. Relasi dengan kristus. Ini adalah pondasi pertama yang harus kita miliki. Ketika kita ingin mewartakan Kristus, tidak ada jalan lain selain kita memiliki relasi yang erat dengan Kristus itu sendiri. Bagaimana mungkin seorang pewarta mewartakan Kristus, jika ia sendiri tidak memiliki relasi yang kuat dengan Kristus.

    2. Mengasihi Kristus dan Gereja yang didirikannya. Kita tidak dapat hanya mencintai Kepala tanpa Tubuh-Nya. Kristus adalah Kepala dan Gereja adalah Tubuh Kristus. Kita merupakan bagian dari Gereja dan satu keluarga di dalamnya. Artinya, kita diajak untuk sungguh mengasihi Kristus dan keseluruhan Tubuh-Nya.

    3. Hati yang berkobar untuk mewartakan injil dan iman Katolik. Ini yang harus kita minta kepada Tuhan agar jangan sampai kita memiliki hati yang suam-suam kuku dalam mewartakan Injil. melainkan kita dianugerahi hati seperti St. Fransiskus dari Sales; yang mau pergi mewartakan Injil dan pantang menyerah sekalipun tidak ada yang mempedulikan. Dari keteguhan hati yang dimiliki oleh Fransiskus dari Sales, 72 ribu orang akhirnya mengikuti Kristus. Hati seperti ini yang dapat membawa banyak orang kepada Kristus. Kita semua memiliki kesempatan untuk dapat seperti itu.

    4. Berpegang teguh pada ajaran Gereja. Sebagai seorang pewarta/pengajar yang mendapat tugas, hendaknya sebelum mengajar dari suatu perikop, kita dapat  membuka KGK (Katekismus Gereja Katolik) untuk melihat apakah perikop itu dikutip di dalam KGK. Kalau kita berpegang pada apa yang di sampaikan oleh Gereja, hal itu akan membuat pewartaan kita menjadi lebih  teguh. Siapkan diri diri kita dengan sungguh-sungguh agar apa yang kita ajarkan sungguh sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

    5. Memiliki Jiwa Misionaris. Dalam hal ini tidak selalu seseorang harus pergi ke berbagai tempat. Kita dapat mengambil contoh St. Theresa dari Kanak-kanak Yesus. Mengapa St Theresa dari Kanak-kanak Yesus diangkat sebagai patron atau pelindung para misionaris? Padahal, St. Theresa tidak pernah keluar dari biaranya. Jawabannya karena Allah melihat silih hati St. Theresa dari Kanak-kanak Yesus. Silih yang kuat di dalam hatinya itulah yang membedakan Dia dengan yang lain. Orang-orang dapat melihat apa yang di luar, tapi Allah melihat yang di dalam, yang tidak terlihat.

    6. Mengetahui bagaimana menggunakan media (WA, Facebook, twitter, blog).  Kita bisa berkarya melalui media ini.

     

    Inti dari evangelisasi menurut Mother Angelica adalah menyampaikan kepada orang yang kita wartakan bahwa Yesus Kristus mengasihi kita, “Jesus loves you.” Ketika kita mewartakan, Yesuslah yang diwartakan, bukan diri kita. Kemudian bagaimana kita bisa klik dengan Yesus yang kita wartakan itu? Melalui Sakramen Ekaristi. Tuhan yang dengan caranya sendiri akan mengubah kita sedikit demi sedikit supaya pikiran kita, perkataan, dan perbuat kita dipenuhi oleh Kristus. Hendaklah semuanya itu berakar pada sakramen-sakramen, khususnya Ekaristi dan Tobat.

    Katekismus Gereja Katolik nomor 427, “Yang diajarkan dalam katekese hanyalah Kristus, Sabda yang menjadi manusia, Putera Allah; segala sesuatu yang lain diajarkan dengan mengacu kepada-Nya. Dan hanya Kristus yang mengajar; setiap orang yang lain hanya sejauh ia melanjutkan kata-kata Kristus dan dengan demikian memungkinkan Kristus mengajar melalui mulutnya ... setiap katekis wajib berusaha, supaya melalui pengajaran serta tingkah lakunya menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus: Ajaran-Ku tidak berasal dari Diri-Ku sendiri, melainkan dari Dia, yang telah mengutus Aku (Yoh 7:16).”

    Bagi para pengajar dan katekis syaratnya adalah mengajar melalui mulutnya. Setiap katekis wajib berusaha supaya melalui pengajaran serta tingkah lakunya dapat menyampaikan ajaran dan kehidupan Yesus. Orang-orang akan melihat posisi kita, sebagai pengajar, atau pewarta. Mereka akan memperhatikan tingkah laku kita. Jangan sampai, orang melihat kita hanya baik di mulut, tetapi tidak dengan perbuatan.

     

    Sesi Tanya Jawab :

    1. Di dalam Seminar Hidup dalam Roh, sesi ke 6 yaitu sesi pertumbuhan, mengenai jari-jari roda kehidupan kristiani, kita selalu mengatakan bahwa kekuatan dari Tuhan Yesus didapatkan lewat Ekaristi. Saya pernah mengajarkan seperti itu, kemudian muncul pertanyaannya dari orang Katolik yang biasanya “jajan” (mencari-cari ajaran di Gereja lain). Katanya, “Bagaimana dengan orang-orang yang bukan katolik? Kalau kita katakan bahwa kekuatan kita itu berasal dari Tubuh Yesus, lalu bagaimana mereka yang bukan Katolik namun ternyata kehidupan rohani mereka justru lebih luar biasa.” Disitu kadang-kadang saya merasa kesulitan menjawab. Bagaimana kita bisa meyakinkan orang-orang yang suka “jajan” seperti itu?

     

    Jawab :

    Ada dua hal. Yang pertama adalah kita tidak boleh membandingkan apel dengan mangga,  bandingkan apel dengan apel. Kita tidak bisa mengatakan “orang Katolik menerima komuni tapi hidupnya kok ngaco, lebih bagus yang sebelah sana, tidak menerima komuni tapi hidupnya baik.” Jadi sebenarnya kita harus membandingkan yang baik dengan yang baik. Bandingkan yang paling luar biasa dari mereka dengan Bunda Teresa dari Kalkuta. Itulah apple to apple. Yang seharusnya dibandingkan adalah yang sungguh-sungguh melakukan pengajaran iman Katolik, jadinya akan seperti apa? Seperti Santo dan Santa, seperti Santa Bunda Teresa dari kalkuta, seperti Santa Santo Yohanes Paulus II, Fransiskus dari Sales, Fransiskus dari Asisi dan seterusnya. Ada begitu banyak tokoh-tokoh yang luar biasa, dan kalau ditanya rahasianya apa? Ekaristi, Firman Tuhan, Rosario, dan Sakramen Pengakuan Dosa.

    Kemudian yang kedua, dikatakan dalam dokumen Gereja bahwa Kristus mengikat diri-Nya di dalam sakramen. Mengikat diri-Nya di dalam sakramen tetapi Dia tidak terikat oleh sakramen-sakramen. Artinya mengikat diri-Nya di dalam sakramen adalah kalau orang merima Tubuh Kristus melalui ekaristi, rahmat itu sudah pasti ada. Begitu juga, sama, ketika Kristus mengikatkan diri-Nya pada Sakramen Pengampunan Dosa. Pada saat Romo mengatakan: “Atas nama Gereja aku mengampuni kamu”, maka dosa kita pasti diampuni.

    Firman Tuhan adalah unsur kebenaran yang sesungguhnya kita juga punya, tetapi kita menerima lebih dari itu. Kita menerima sakramen-sakramen yang tidak dimiliki oleh Gereja lain. Misalnya seseorang berkata, “Saya malas ke Gereja Katolik.” Kenapa? “Karena saya tidak merasakan apa-apa. Saya pergi ke ‘seberang’, lalu disana saya mendapatkan sesuatu. Saya mendapatkan komunitas, orang-orangnya lebih ramah, saya merasa bisa bertumbuh”. Kalau seperti ini, fokusnya adalah kepada diri sendiri. Seharusnya kita berfokus pada Tuhan. Apa yang Kristus inginkan, bukan apa yang kita inginkan.

    Kita percaya bahwa kita memiliki relasi dengan Kristus, namun yang menjadi pertanyaan, apakah relasi itu semakin hidup? Godaan setiap harinya datang, tapi bagaimana kita menemukan Kristus dan berjumpa dengan Kristus itulah suatu tantangan karena mengisyaratkan persiapan batin dari kita.

    Seandainya di suatu titik dalam kehidupan rohani itu kita mengalami kekeringan atau seperti biasa-biasa saja, tidak ada perasaan yang special saat kita mengikuti Ekaristi, disitulah saatnya kita meminta kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, Engkau yang hadir disitu, aku mohon pada-Mu, nyalakan lagi di dalam hatiku supaya saya bisa mengalami lagi kasih yang luar biasa itu”. Mintalah pada Tuhan, dan saya percaya ada saatnya Tuhan mendengarkan, karena itu juga merupakan kerinduan Tuhan.

    Ia ingin kita mengalami perjumpaan itu. Kekeringan atau kegelapan spiritual memang kadang sering on atau off, itulah yang juga diakui oleh Santo atau Santa, namun kesetiaan untuk datang dan menerima Kristus tetap ada dan itu merupakan suatu yang penting karena disitulah Tuhan juga melihat kesungguhan hati kita untuk mau setia dan mengikuti-Nya.

    2. Dalam mewartakan, memang kita biasanya mempersiapkan diri selalu dengan discernment, jadi kalau mau mencari apa yang disampaikan tadi, kita mengacu pada Katekismus Gereja Katolik. Tapi kita juga tidak bisa menghindari kenyataan bahwa untuk mempermudah kita kadang-kadang menggunakan google dengan meng-klik kata kuncinya kemudian keluar segala macam tulisan yang mungkin bukan dari situs Katolik. Selain melakukan discernement, bagaimana kita bisa menentukan apakah artikel ini bisa kita pakai atau  tidak.

    Yang kedua saya tertarik sekali dengan pernyataan bahwa kita harus terus berelasi lewat  Sakramen Ekaristi dan Tobat. Bagaimana jika ada pewarta yang pemahamannya menyimpang dari iman Katolik, apa yang harus dilakukan? Apakah bisa menegurnya?

    Jawab :

    Apakah seseorang dapat membangun sebuah ruangan tanpa memiliki background apapun? Basic knowledge untuk membangun sesuatu harus ada terutama yang berhubungan dengan material-material.  Sama dengan memilih artikel yang tepat dan dapat kita gunakan, cara yang paling baik adalah mengetahui terlebih dahulu basic knowledge iman Katolik itu seperti apa. Jika kita punya basic knowledge itu secara garis besar; apa itu Sakramen, Credo, Roh Kudus, dsb. Konsep eklesiologi Gereja haruslah kita miliki terlebih dahulu, karena jika kita tidak memahami itu, kita akan menjadi kebingungan.

    Jika inti dari semua itu sudah kita ketahui, kita akan meminimalisirkan kemungkinan untuk melenceng dari ajaran Katolik karena pengetahuan itu telah kita kuasai. Namun, jika ada hal-hal yang membuat kita kurang yakin, jangan pernah ragu bertanya kepada yang lebih ahli, misalnya Pastor. Diskusikan hal tersebut dan kemukakan pandangan anda beserta sumber-sumber yang anda dapatkan.  Dengan demikian, anda juga menjadi ‘naik kelas’, semakin banyak yang akan anda ketahui.

    Kemudian pertanyaan yang kedua. Seorang pewarta Katolik haruslah memiliki spiritualitas Katolik. Pewarta mewarta bersama dalam Gereja dan di dalam Gereja. Kalau kita dilahirkan di dalam Gereja Katolik, maka berwartalah dengan Gereja Katolik, bertumbuhlah di dalamnya dan jangan mencari ajaran-ajaran yang ada di luar itu, atau istilahnya sering disebut “jajan”. Kita harus punya keyakinan terlebih dahulu bahwa kebenaran yang kita yakini itu ada di dalam Gereja Katolik. Ini tidak berarti merendahkan agama lain, namun lebih kepada menekankan keyakinan itu. Setelah keyakinan itu ada, barulah kita dapat mewartakan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya pengetahuan melainkan juga perbuatan. Apa yang dapat diwartakan kepada pengikut Tuhan kalau pewarta itu sendiri tidak bersama dengan Yesus di dalam Ekaristi?

    Yesus berkata di dalam Injil Yoh 17:20-22, Ia berdoa supaya semua menjadi satu. Siapakah yang dimaksud dengan semua itu? Yaitu mereka yang nantinya akan menjadi percaya oleh pemberitaan Para Rasul. Termasuk kita semua ini. Tuhan Yesus mau kita semua menjadi satu. Jangan sampai kita termasuk dari bilangan orang-orang yang mengoyak kesatuan itu. Sebab ketidakinginan kita untuk mengikuti Perayaan Ekaristi adalah tanda yang paling jelas bahwa kita tidak mau patuh pada perintah Yesus dan tidak mau percaya pada orang yang Tuhan Yesus sudah tunjuk sebagai pemimpin.

    Jika ingin menegur, kita harus kembali kepada sistem yang telah disepakati di awal. Bagaimana seseorang harus dapat mewartakan, bagaimana kalau ada yang melenceng, dsb. Jika sistem itu ada, kita bisa menegurnya berdasarkan sistem yang telah disepakati dari awal. Akan ada satu diskusi yang panjang, dari sisi positif dan sisi negatif. Tantangannya adalah bagaimana spiritualitas karismatik ini bisa mengarahkan orang kepada sakramen, bisa membuat umat memiliki satu spiritualitas Katolik.

    Apa itu spiritualitas otentik yang Katolik? Pertama, berpusat pada Kristus, yang kedua, Ia harus mengarah pada sakramen terutama Ekaristi karena Ekaristi adalah puncak dari sumber kehidupan kristiani yang tidak tergantikan.

    Kita harus membuktikan bahwa spiritualitas karismatik ini membantu banyak umat Katolik. Jadi itu adalah satu tantangan yang mungkin perlu dipikirkan bagaimana supaya orang-orang tersebut benar-benar ini bisa berakar di dalam sakramen. Karismatik bukanlah berada di Gereja lain, karismatik ada di dalam Gereja Katolik. Apapun itu spiritualitasnya, Benedictus, Fransiskan, Igantian, maupun Karismatik sendiri, parameternya tetap sama, yaitu semakin berpusat pada Kristus terutama dalam Sakramen. ***

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/