• Wawancara Dengan Bapak George Wangsanegara

    1. Bolehkah kami mengenal bapak lebih dalam dengan menanyakan tentang orangtua bapak, masa kecil bapak sampai bapak berkeluarga sekarang ini?

    Ayah saya sudah dipanggil Bapa di surga tahun 2002, Ibu saya masih sehat walafiat sampai saat ini.  Saya menjadi katolik sejak tahun 1961 pada saat duduk dibangku Sekolah Dasar atas permintaan Ayah . Saat itu Ayah dan Ibu  belum menjadi Katolik.  Saya sekolah di sekolah Katolik hanya pada tingkat SD untuk selanjutnya pada sekolah Kristen. Disaat mahasiswa saya aktif di organisasi kemahasiswaan Katolik. Dalam usia yang relative muda yaitu saat menginjak usia ke 25 tahun saya menikah dengan Lucy Halim yang saya kenal di organisasi kemahasiswaan dan dikaruniai seorang Putri & seorang Putra. Saya sudah mendapat seorang cucu berusia 6 tahun dari Putri saya. 

    2. Bagaimana pengalaman pertama dengan Tuhan dan bagaimana sampai bapak menjadi pemimpin di dalam PKKI dan BPN?

    Saya menerima Sakramen Baptis pada tgl 9 Mei 1961 sehingga bisa dianggap saat itu saya mengenal Tuhan Yesus yang pertama kali. Kala itu yang diingat hanya menjadi seorang anak katolik yang taat pada orangtua , guru, setiap hari Minggu harus mengikuti Perayaan Ekaristi dan sebulan sekali mengaku dosa. Rutinitas ke-Katolikan  saya terbawa sampai dewasa.

    Tahun 1979 saat kelahiran anak kedua saya mengalami Kasih Allah. Doa kepada Tuhan Yesus agar menyelamatkan nyawa isteri saya dikabulkan. Meskipun sudah merasakan Kasih Allah saya hanya mengucapkan syukur tanpa berusaha untuk mengenal lebih dekat dengan Tuhan dan mendalami ke-Katolikan saya.

    Tahun 1989 saya bersama istri mengikuti Seminar Hidup Dalam Roh  , melalui seminar ini kehidupan rohani kami menjadi berubah melalui proses pertobatan hingga pencurahan Roh serta mengenal cara-cara untuk lebih  dekat dengan Tuhan.

    Kehidupan Rohani seperti membaca Firman Tuhan, berdoa, menjadi anggota komunitas dan melayani menjadi sesuatu yang diprioritaskan . Tuhan memberi kesempatan kepada kami untuk ambil bagian dalam kegiatan Paroki dan Karismatik. Awalnya tidak pernah terpikir untuk melibatkan diri lebih jauh apalagi bercita-cita menjadi pemimpin /leader. Saya merasakan Tuhan selalu menambahkan Kasih Anugerah dan Kasih Karunia dalam setiap pelayanan saya serta mengimani bahwa setiap penempatan sebagai Dewan Pastoral Paroki , Koordinator PDKK , Koordinator BPK, Wakil Koordinator BPN adalah berasal daripada-NYA.

    3. Bagaimana pandangan bapak tenang kiprah BPN semenjak terjun di dalam PKK hingga sekarang sebagai Wakil Koordinator? Apakah pandangan-pandangan bapak itu mengalami pergeseran/perubahan?

    Kita ketahui saat ini BPN telah berusia 25 tahun. Setiap periode kepengurusan BPN sejak dilahirkan tentunya mempunyai tantangan yang ber-beda2 sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu . Ini bisa kita lihat dari tema-tema  KONVENAS. Pada Perayaan ulang tahun BPN ke 25 yang dipusatkan di Keuskupan Padang dengan tema Melayani Lebih Sungguh kita mencoba mengevaluasi perjalanan PKK yang kemudian dirangkum menjadi Kesepakatan Bersama Padang.

    Tentu saja sudah banyak perubahan dan kemajuan dalam tubuh PKK yang saya ketahui sejak ikut karismatik di tahun 1989 sampai kini. Memang  masih ada hal-hal yang harus diperhatikan agar Visi / Misi PKK tetap terjaga.

    4. Apa yang paling bapak minati di dalam PKK umumnya dan di dalam kepengurusan BPN khususnya? Apakah juga ada pergeseran di dalam minat-minat bapak?

    Dalam  mengikuti PKK saya ingin bertumbuh dalam rohani dengan mengikuti  persekutuan doa/retret/seminar/konvensi. Pada kepengurusan, saya merasa terpanggil untuk terlibat dibidang organisasi rohani, masih diperlukan waktu untuk mengisi kekurangan2 dalam tubuh PKK contohnya dalam hal komunikasi. Komunikasi antar pengurus/leader , antara BPN , BPPG , BPK.

    5. Adakah kekecewaan-kekecewaan yang bapak alami selama berkecimpung di dalam kepengurusan PKK di kota anda dan di BPN?

    Semoga tidak ada kekecewaan karena yang ada adalah bagaimana kita bersama membangun dan memperbaiki kekurangan2 yang ada.

    6. Apa harapan-harapan bapak bagi PKK dan Gereja?

    PKK sebagai salah satu bagian kecil dari Gereja Katolik bisa ambil bagian dan berperan dalam kehidupan meng-Gereja.

    7. Hal-hal apa yang bapak cita-citakan yang sudah tercapai dan belum tercapai?

    Secara pribadi tidak ada cita-cita untuk PKK, karena bagi saya semua adalah karya Roh Kudus dan  saya hanya mengerjakan bagian yang Tuhan percayakan kepada saya.

    8. Bapak telah mengemukakan 3 pilar sebagai unsur-unsur di dalam PKK. Bagaimana perwujudannya sampai saat ini? Apakah bapak puas?

    3 pilar sebagai unsur-unsur dalam mengelola PKK   baru disosialisasikan pada periode kepengurusan BPN 2006 -2009. Saat ini baru sampai pada tahap penyesuaian dalam berbagi tugas sebagai penanggung jawab unsur Pelayanan Terpadu , Organisasi dan Penyandang Dana. Tahap selanjutnya membenahi masing- masing unsur, contoh di unsur Organisasi  bagaimana tentang kepengurusan BPPG/BPK/PDKK dan aktifitasnya, pelaksanaan jenjang pembinaan PKK, komunikasi , pendataan.

    Mudah2-an dengan kesepakatan bersama Padang , sinergi 3 pilar  bisa lebih cepat terwujud.

    9. Tahun depan pada Konvenas XI akan ada pemilihan Koordinator PKKI. Apakah bapak sudah siap menghadapinya seandainya bapak yang terpilih sebagai Koordinator yang baru? 

    Saya tidak mempersiapkan diri untuk itu dan berpendapat Koordinator yang baru hendaknya berasal dari generasi yang lebih muda.

    10. Hal-hal apa yang mau bapak sampaikan kepada umat PKK dan seluruh gereja yang belum saya tanyakan namun penting?

    Tidak ada, saya hanya mengaris bawahi jawaban saya pada pertanyaan no.6.

     

    Wednesday, May 07, 2008

    Sumber : Majalah Warta Shekinah Edisi 04 Th IV

    Gambar : diambil dari Konvenas XII di Jakarta, September 2012  

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/