• IN SPIRITU DOMINI “Aku Percaya Akan Roh Kudus” 

    Karisma Untuk Menjabat Tugas

    Setelah merenungkan macam-macam karisma untuk berbuat, sekarang kita mau merenungkan kelompok karisma lain, yaitu karisma untuk menjabat tugas, berfungsidalam umat Allah. Dalam karisma-karisma perbuatan, lebih diperhatikan isi dan cara pelayanan. Dalam karisma untuk menjabat tugas, lebih diperhatikan kepribadian orang yang bertugas sehingga tetap secara kontinu berfungsi dan melayani umat.

    Perlu kita ketahui bersama bahwa seorang umat dapat saja sesekali bernubuat dan karenanya ada orang yang merasa disentuh Tuhan oleh nubuatnya, tetapi dengan demikian bukan berarti bahwa orang yang bernubuat itu adalah seorang nabi, artinya ia belum bertugas, dan berfungsi setaraf nabi.

    St. Paulus membahas tentang tugas pelayanan dalam surat-suratnya kepada umat di Efesus, Korintus, Roma, dan Filipi. Dalam surat-surat St. Petrus dan St. Yohanes serta dalam keempat Injil, kita dapat membaca petunjuk-petunjuk mengenai anggota umat yang diurapi Roh Kudus dan dipakai Tuhan secara khusus untuk membimbing, menggerakkan, mendorong, mendidik, mendampingi, menasehati, membela, memelihara, dan mendoakan umat. Untuk menggambarkannya secara lebih mendetil, St. Paulus menyebutkan sepuluh macam fungsi pelayanan dalam umat, yaitu: (1) rasul; (2) nabi; (3) penginjil/pewarta; (4) pastor/gembala; (5) pengajar; (6) administrator; (7) pemimpim/pembimbing; (8) uskup; (9)presbyter/imam; (10) diakon.

    Semua jabatan atau fungsi di atas perlu dilihat dan dihayati bukan sebagai pangkat kuasa dan status kehormatan atau milik pribadi, melainkan sebagai hamba Tuhan yang menjadi “bejana Roh”, alat pelayanan dalam tangan Tuhan. Isi dari pelayanan yaitu berkat dan rahmat, kasih dan kekuatan Ilahi. Itulah yang pertama-tama harus disalurkan kepada jemaat Kristus, Gereja, dan kemudian berkat itu juga dapat dilimpahkan kepada manusia-manusia lain di seluruh dunia.

    Karisma merupakan bagian integral dari kekuatan dan kesehatan seluruh jemaat Gereja. Santo Paulus dalam 1Kor 12:12-30 menguraikan bagaimana kita harus melihat fungsi, manfaat, dan tujuan relasi semua anggota Gereja. Paulus manganalogkannya dengan istilah semua organ dalam tubuh manusia. Semua organ dalam tubuh harus bekerja sama demi kesejahteraan seluruh tubuh, begitu pula halnya dengan semua anggota jemaat. Semua anggota memiliki peran yang saling mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai suatu keutuhan.

    Tuhan tidak menumpukkan banyak peran atau karisma kepada satu orang, tetapi menganugerahkannya kepada banyak orang, supaya semakin banyak orang yang terlibat. Oleh karena itu, tak boleh ada iri hati, kekecewaan atau kemarahan terhadap satu sama lain, sebab Roh Allah yang bekerja dan bebas bergerak, memilih siapa yang Ia kehendaki. Sebab semua karisma ini harus dialami dalam dinamika cintakasih Ilahi (1Kor 12:7,11;13; Gal 5:16-22).

    Tuhan memanggil, mengurapi, mengutus dan menggunakan manusia, sesuai dengan bakat dan karismanya masing-masing demi kemuliaanNya dan kesejahteraan umat. “Grace builds on nature”, dengan kata lain, Tuhan yang memberikan bakat tertentu, juga dapat memberikan tambahan urapan rohani, sehingga bakat manusiawi alamiahnya menjadi suatu karisma Roh Kudus. Misalnya, seseorang sudah berbakat menjadi guru sekolah yang baik, kemudian Tuhan dapat mengurapinya dengan kekuatan Ilahi, sehingga ia mendapat karisma  pengajar dan pewarta Injil KABAR GEMBIRA dalam umatNya.

    Marilah kita semua berdoa dan terus memohon pencurahan Roh Kudus, supaya semakin banyak anggota umat mau mengenal, merindukan, memohon, dan melangkah dalam suatu karisma pelayanan dalam Roh Kudus, entah kepada umat, entah kepada masyarakat. Amin.

    Karisma Menjadi Rasul (Ef 4:11)

    “Allah telah menetapkan beberapa orang dalam jemaat: pertama sebagai  rasul-rasul…, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pelayanan, bagi pembangunan Tubuh Kristus” (1Kor 12:28; Ef 4:11-12). Yesus memilih, mendidik, membekali, dan mengutus para rasulNya. Kelompok pertama, gelombang primer, yang dipilihNya adalah dua belas rasul sesuai model dua belas bapa bangsa Israel, dua belas anak Yakub, yang namanya Israel. Demikian umatNya menjadi “Israel Baru” di bawah bimbingan Tuhan Yesus.

    Kata rasul berasal dari kata Yunani apostello, artinya mengutus; apostolos (apostle), artinya yang diutus (Yoh 3:16-17; Kis 9:2-6; 2 Kor 8:23-24). Dua belas rasul ini berfungsi sebagai dasar, menjadi tiang-tiang dan berbentuk suatu kolese, dengan Simon anak Yunus, yang diberikan nama Petrus (artinya “batu karang”), sebagai ketua. Dalam daftar nama para rasul, nama Petrus selalu disebut sebagai yang pertama, kemudian Andreas, Yakobus dan Yohanes. Kelompok berikutnya: Filipus, Bartolomeus (Nathanael), Matius, dan Tomas. Kelompok ketiga Yakobus, Tadeus (Yudas), Simon, dan Yudas Iskariot –yang kelak mengkhianati Yesus– sebagai nama terakhir (Luk 6:13-16; 11:49; Kis 14:12-18; Mat 10:2-4; Mrk 3:16-19; Kis 9:15-16; 22:21).

    Kemudian, dalam gelombang sekunder dipanggillah Matias sebagai pengganti Yudas Iskariot. Akhirnya, ada tambahan rasul lagi, yaitu Paulus, yang dipanggil dan diutus langsung oleh Yesus, Ananias, Barnabas dan sidang para rasul (Rom 1:1,5; 11:13; Gal 1:1,15-17; Rom 16:7). Setelah itu, gelombang tersier yang mencakup: para diakon yang juga disebut rasul seperti Filipus, Barnabas, dan lain-lain. Sebenarnya dalam arti luas semua murid Yesus yang dibaptis dan diurapi dengan minyak krisma, diutus menjadi “rasul”, utusan Yesus, untuk meneruskan misi Yesus (1Kor 15:5,7-8; 2 Kor 5:20; Gal 1: 19; Ef 2:19-20; 4:11; 1 Tes 1:1,2,6; 2:7; Kis 14:14; 20:28; 1 Ptr 5:2-7).

    Menjadi rasul adalah suatu karisma dari Roh Allah. Roh Allah mengutus rasul untuk menjadi perintis, pergi mewartakan Injil, dan  mengumpulkan manusia sehingga menjadi umat Allah. Dengan demikian, manusia dapat mengalami hidup baru dalam Kasih Allah. Selanjutnya, rasul itu akan memilih dan melatih para pekerja untuk melayani umat, lalu mengawasi pelayanan mereka. Dengan demikian, seorang rasul pada masa Gereja Perdana diutus untuk menjadi pewarta Kabar Baik, Gembala, dan juga pengajar.

    Untuk menjadi rasul, seseorang harus dibaptis terlebih dahulu. Seorang rasul hendaknya telah mengalami kepenuhan inisiasi di dalam hidup Gereja. Seorang rasul hendaknya telah dibaptis, menerima sakramen Krisma, dan Perayaan Ekaristi. Kemudian, ia hendaknya juga mengalami perkembangan sepenuh-penuhnya  hidup dalam Roh Yesus, sehingga mau dan mampu mengenal serta menghayati visi dan misi Yesus. Setelah semua itu, ia baru dapat diutus untuk meneruskan misi Yesus, yaitu membangun Kerajaan Allah (Yoh 3:5-6; Kis 1:21-26; Kis 22:14-16; Kis 2:43; 5:12-13; 8:5-8; 2 Kor 12:12-13).

    Rasul-rasul merupakan salah satu karisma utama dan pertama, yang sangat vital. Karisma tersebut diberikan Tuhan untuk  membangun dan memperluas Kerajaan Damai Allah di dunia. Para Uskup merupakan pengganti para rasul pertama. Mereka menjamin tradisi apostolik dari Gereja. Sampai zaman sekarang dan seterusnya, Allah dan UmatNya “mengutus” orang, artinya memberikan karisma menjadi rasul untuk pergi melayani daerah-daerah, kelompok-kelompok, golongan-golongan, dan bidang-bidang kehidupan manusia, yang belum mengenal dan menghayati kekayaan hidup Kerajaan Allah. Mari kita ingat selalu kata-kata St. Paulus: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil”, karena aku diutus (1Kor 9: 16).

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/