• Bayangkanlah suatu pertandingan di sebuah stadion bola yang dihadiri oleh 53.000 penonton, Paus sebagai kaptennya, dan Yesus sebagai pemenangnya. Itulah yang terjadi pada tanggal 1 – 2 Juni 2014 di Stadio Olimpico Roma – Italia, dalam acara 37th Convocation of the Charismatic Renewal yang dihadiri oleh Paus Fransiskus .


    Di hari yang cerah ini, Stadio Olimpico Roma mendadak berubah menjadi The Upper Room, ketika selama 2 hari berturut-turut, seluruh umat dari 52 negara yang hadir bersatu hati untuk memohon tercurahnya Roh Kudus. Sebanyak 10.000 umat dari luar Italia pun turut hadir memeriahkan acara ini.

    Acara ini diselenggarakan atas kerja sama 3 organisasi karismatik dunia: ICCRS (International Catholic Charismatic Renewal Service), CFCCCF (Catholic Fraternity of Charismatic Covenant Communities and Fellowships), dan RnS (Rinnovamento nello Spirito Santo/BPN Italia).

    Setelah melalui antrian yang cukup panjang untuk memasuki pintu stadion, kami pun masuk dan duduk di tengah-tengah umat karismatik Italia yang penuh semangat. Acara dibuka dengan pujian penyembahan dan perarakan bendera negara-negara peserta yang dibawakan oleh 70 penari muda.

    Dalam kata sambutannya, Mr. Salvatore Martinez sebagai Presiden RnS, mengungkapkan sukacita atas berkumpulnya umat karismatik dari seluruh dunia di jantung ke-Kristenan, di bawah bayang-bayang Petrus, oleh kasih dan kuasa Roh Kudus. Beliau pun berterima kasih atas kerja sama 1300 sukarelawan Italia yang membantu membersihkan dan mempersiapkan stadion demi terselenggaranya acara ini.

     

    HARI PERTAMA

    BERTOBATLAH!

    Sesi pertama, BERTOBATLAH!, dibawakan oleh Kardinal Vatikan, Angelo Comastri. Beliau mengajak umat merenungkan perumpamaan tentang anak hilang yang merupakan perumpamaan tentang pertobatan. Bapa kita teramat baik dan mau menerima kita yang tidak layak, namun kita jarang bersyukur untuk rahmat pengampunan ini. Untuk sedikit kesenangan, banyak orang mau membuang kebahagiaan yang besar. Dosa berbahaya karena dosa tidak menyakitkan, sehingga kita sering terjebak di dalamnya.

    Tiga langkah pertobatan:

    1. Menatap Yesus

    2. Menyadari dan kagum akan kebaikan Tuhan yang mau menyambut kita si pendosa ini

    3. Mau merendahkan hati dan percaya pada pengampunan Tuhan

     

     

    DOA SYAFAAT

    Mantan mahasiswi Duquesne yang mengalami langsung pencurahan Roh Kudus pertama kali di tahun 1967, Mrs. Patti Gallagher Mansfield, memimpin doa syafaat bersama. Dia mengutip kata-kata seorang rohaniwan terkemuka, “Setan bersuka saat kita membuat rencana kita sendiri, setan tertawa saat kita sibuk, dan setan gemetar ketika kita berdoa, terutama bila kita berdoa bersama.”

    Ujud doa syafaat yang pertama adalah bagi para imam dan beliau menyampaikan pesan profetik ini: “Anakku, teruslah berada di dekatku, dengarkan apa yang kupikirkan tentangmu, daripada mendengarkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu.” Beliau juga mengutip ayat dari Roma 11 yang menyatakan bahwa karunia dan panggilan Tuhan tidak dapat dikembalikan.

    Ujud yang kedua adalah bagi para anak muda dengan pesan profetik sebagai berikut: “Anak muda, kalian adalah harapan Gereja, namun kalian haruslah kudus. Buatlah pilihan untuk menjadi kudus.” Beliau bercerita tentang sebuah gerakan di Brasilia “For Today, NO!”, yaitu pilihan untuk berhenti berbuat dosa untuk hari ini, ”Tidak apa-apa jika kau tidak bisa menghentikan kecanduanmu. Tapi hari ini, TIDAK!” sesuai dengan doa “berilah kami rezeki pada hari ini” dalam doa Bapa Kami bahwa Tuhan akan memberikan kita rahmat secukupnya hari ini untuk menghentikan kebiasaan buruk kita.

    Ujud ketiga adalah bagi keluarga. Hanya satu kata profetik untuk para keluarga, “Ampuni, Ampuni, Ampuni!”. Para keluarga diajak untuk mohon rahmat pengampunan dari Roh Kudus seraya beliau mensharingkan pengalaman sebuah keluarga dari Jerman yang selamat dari kehancuran berkat saling pengampunan di antara mereka.

    PERCAYALAH!

    Sesi kedua ini dibawakan oleh Pst. Raniero Cantalamessa, OFM Cap. Dengan penuh semangat beliau mengingatkan kita bahwa iman merupakan syarat untuk menerima Roh Kudus. Iman telah menyebar ke seluruh dunia namun hanya ada 1 ujung, dan kita akan menghidupkan kembali ujung ini dalam Pentakosta. Semua orang tahu bahwa Yesus telah mati, karena itu tertulis dalam kitab sejarah, namun tidak semua orang percaya bahwa Dia bangkit. Itulah iman Kristiani, yang kita nyatakan setiap minggu dalam syahadat. Seorang religius bernama Seraphim di abad 19 berkata, “Kristus telah bangkit dan itu cukup.”

    Ada 3 tembok yang memisahkan kita dengan Tuhan:

    1. tembok alami – karena kita darah dan daging, sedangkan Tuhan adalah roh

    2. tembok dosa – tembok ini telah dihancurkan lewat pengorbanan Yesus di salib

    3. tembok kematian

    Kita harus menyadari dan setiap hari mengingat bahwa kita hidup karena kematianNya. “Sebelum aku mengenalMu, Tuhan, aku tidak ada.” Roh Kudus akan menghidupkan tubuh mental kita. Kebangkitan tubuh akan terjadi di hari akhir, namun kebangkitan hati harus terjadi setiap hari, yaitu kebangkitan dari keputusasaan dan kesedihan, karena ini akan membunuh hati kita sehingga kita tidak bisa lagi menyebarkan sukacita. Inilah tulang-tulang kering yang disebutkan oleh Nabi Yehezkiel.

    Di akhir renungannya, beliau mengingatkan bahwa tugas kita bukanlah untuk memberitahukan kepada dunia bahwa mereka sudah jauh dari Tuhan, namun untuk membujuk dan menggoda mereka dengan keindahan Tuhan.

     

    MISA HARI RAYA KENAIKAN TUHAN

    Homili dalam misa dibawakan oleh Kardinal Stanislaw Rylko. Hari ini Gereja merayakan Pesta Kenaikan Tuhan. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut dan naik ke surga dengan mulia, namun Dia tidak memisahkan diri dari kemanusiaan kita. Melalui PKK (Pembaharuan Karismatik Katolik), kita menemukan keindahan panggilan kita ini. Beliau mengutip kata-kata St. Agustinus, “Hati kami gelisah hingga kami beristirahat di dalamMu,” dan kata-kata Paus Fransiskus, “Secara alami, orang Kristiani adalah orang-orang yang selalu gelisah, yang selalu bergerak, dan bertanya: apa yang harus kami lakukan agar kami tidak jatuh tertidur?”

    Yesus berkata, di mana hartamu berada di situ hatimu berada. Di mana hartamu? Di mana hatimu? Melalui PKK, banyak orang bisa menemukan harta ini, yaitu Kristus. Kita adalah para peziarah, bukan pengembara. Peziarah tahu apa tujuan akhirnya. Dunia berada di dalam kegelapan, dan walaupun orang Kristiani hidup di dunia, mereka tidak hidup menurut cara dunia, melainkan menjadi garam dan terang dunia karena kita telah menerima kekuatan Roh Kudus yang turun ke atas kita untuk menjadi saksiNya hingga ke ujung dunia.

    Namun, dunia tidak bisa melakukan penginjilan tanpa paru-paru, yaitu doa. Paus Fransiskus dalam Evangelii Gaudium mengatakan bahwa tidak ada motivasi yang cukup jika hidup tersebut tidak mendapatkan kekuatan dari Roh Kudus.

     

    SAMBUTAN PAUS FRANSISKUS

    Di penghujung acara hari pertama, kami diberkati oleh kehadiran Paus dengan mobil kepausannya yang memasuki stadion dengan diiringi lagu “Hosana, hosana, hosana yang ditinggi.” Namun beliau menolak untuk naik mobil hingga ke panggung dan memilih untuk turun di pintu stadion, karena beliau ingin berjalan di tengah-tengah umat. Beliau sibuk menyapa dan menyalami umat di sepanjang perjalanannya menuju panggung.

    Setelah mendengarkan sharing dari masing-masing kelompok, Paus Fransiskus menyampaikan pesannya kepada kelompok-kelompok tersebut:

    • Kepada para imam beliau berpesan: “untuk selalu dekat dengan Tuhan dalam doa dan adorasi dan untuk selalu dekat dan mengasihi umat Tuhan yang dipercayakan kepada mereka”.
    • Kepada kaum muda beliau berpesan: “adalah menyedihkan bila anak muda menyimpan masa mudanya dalam lemari besi, karena akan menjadi usang dan tidak terpakai. Masa muda harus dipertaruhkan dengan harapan, masa muda harus dibagikan sehingga orang lain bisa mengenal Tuhan. Jangan menyimpan masa mudamu untuk dirimu sendiri, tetapi berikanlah dan pergilah”.
    • Kepada para keluarga beliau berpesan: “keluarga adalah gereja lokal tempat cinta akan Yesus bertumbuh. Itulah sebabnya iblis seringkali menyerang dan menghancurkan keluarga, karena iblis tidak mau cinta menguasai keluarga-keluarga Kristiani. Suami dan istri juga adalah manusia berdosa, namun mereka perlu keluar dengan iman untuk memenangkan iman anak-anak mereka”.
    • Kepada kaum cacat beliau berpesan: ”Orang yang menderita adalah orang yang diurapi oleh Yesus, karena mereka meniru Yesus dan menghidupkan kembali penderitaan Yesus. Terima kasih kepada Anda semua yang telah menerima urapan penderitaan ini”.

     

    Berikutnya Paus juga menambahkan pesan kepada para kakek-nenek dan orang tua: “para orang tua adalah penjamin iman kita. Diceritakan dalam Injil bahwa Maria dan Yosef dibimbing oleh Roh Kudus dan membawa Yesus ke bait Allah dan di sana mereka bertemu dengan Simeon dan Hanna. Simeon dan Hanna, dengan bimbingan Roh Kudus, menyatakan bahwa Yesuslah Juru Selamat. Para orang tua memiliki kebebasan dalam Roh Kudus dan merekalah kebijaksanaan Gereja”.

    Dalam pidato singkatnya Paus Fransiskus mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah menyelenggarakan acara ini. Beliau mengatakan bahwa karunia pertama dari Roh Kudus adalah karunia Roh Kudus itu sendiri, yang dapat membuat kita jatuh cinta kepada Yesus. Inilah yang kita sebut ‘lahir baru dalam roh’, seperti Nikodemus.

    Bagi Paus, PKK adalah seperti  sebuah orkestra, di mana berbagai alat musik yang berbeda membentuk suatu kesatuan yang indah. Dalam PKK, tidak ada seorang pun yang lebih hebat dari yang lain, karena hanya ada 1 kepala, yaitu Yesus sendiri. Tidak ada seorang pun bisa mengatakan Yesuslah Tuhan tanpa adanya Roh Kudus.

    Paus Fransiskus berkisah bahwa dahulu beliau tidak menyukai gerakan karismatik, karena bagi beliau, umat karismatik seperti anak sekolah yang sedang menari samba. Namun, Tuhan rupanya ingin memperkenalkan beliau kepada gerakan ini, karena beberapa bulan sebelum dilantik menjadi Paus, beliau ditunjuk sebagai penasihat spiritual gerakan karismatik Buenos Aires. Setelah mengenal gerakan ini dari dekat, beliau menyadari betapa besar kebaikan yang dibawa gerakan ini ke dalam Gereja. PKK merupakan suatu kekuatan besar yang ada dalam Gereja.

    Beliau mengajak kita untuk kembali kepada kasih yang semula, selalu membawa Kitab Suci dan membacanya, karena umat zaman sekarang lebih suka membaca dan membawa ponsel mereka lebih daripada Kitab Suci. Beliau memperingatkan kita untuk berhati-hati agar tidak kehilangan kebebasan yang kita miliki karena organisasi yang berlebihan. Jangan sampai kita kehilangan rahmat yang membiarkan Tuhan menjadi Tuhan. Biarkan diri kita dibimbing oleh Roh Kudus. Pupuk Firman Tuhan dalam hati kita.

    Beberapa kelompok berusaha menjadi manajer Roh Kudus, berusaha mengontrol  Roh Kudus dengan menentukan siapa yang  berhak dan tidak berhak menerima pencurahan Roh Kudus. Kita adalah dispenser/penyalur kasih Allah, dan bukan pengendali/pengontrol atau bahkan petugas bea cukai yang mencoba mengatur kasih Allah.

    Di akhir pidatonya, Paus Fransiskus menyampaikan 3 pesan bagi kelompok PKK:

    1. Bertobatlah dan biarkan cinta Tuhan mengubah hidup kita agar kita menjadi saksiNya dengan pertolongan Roh Kudus

    2. Lakukan evangelisasi dengan Firman Tuhan, bahwa Yesus hidup dan mengasihi kita. Gereja dilahirkan dari evangelisasi di pagi hari Pentakosta. Jangan kurung karya Roh Kudus.

    3. Berdoa kepada Roh Kudus untuk persatuan umat Allah, karena PKK merupakan kelompok ekumenikal. Jamah dan dekatilah kaum miskin dan mereka yang membutuhkan. Kejarlah persatuan, karena persatuan datang dari Roh Kudus, sedangkan perpecahan datang dari si jahat. Hindari pertengkaran-pertengkaran internal.

     

    Sebagai penutup, beliau mengucapkan terima kasih karena kelompok PKK bersedia untuk mengorganisir acara Great Jubilee of the Pentacost yang akan diadakan pada tahun 2017 di Basilika St. Petrus – Vatikan.

     

    HARI KEDUA

    RECEIVE THE HOLY SPIRIT

    Sesi ini dibawakan oleh Ralph Martin, salah seorang pendiri awal gerakan karismatik yang menerima pencurahan Roh Kudus di tahun 1967. Ralph mengatakan bahwa peristiwa Pentakosta tahun 1967 terjadi karena Tuhan sedang  mempersiapkan umatnya untuk menghadapi hal-hal buruk yang akan terjadi di dunia, antara lain: pemberontakan mahasiswa di tahun 1968, kemerosotan budaya Kristiani dan berkembangnya sekularisme.

    Pada tahun 1975, Paus Paulus VI bersama 10.000 umat karismatik berkumpul di lapangan St. Petrus – Vatikan. Beliau berpesan, “Gerakan PKK adalah kesempatan/peluang bagi Gereja.” Inilah kesempatan kedua bagi kita untuk merendahkan diri dan memohon Roh Kudus karena konflik di dunia ini semakin memburuk. Inilah waktu untuk konfrontasi akhir.

    Dalam 2 Tes 2:2 disebutkan tentang gerakan anti Kristus, di mana begitu banyak orang akan meninggalkan imannya dan dibukanya belenggu setan. Pada saat itu Yesus akan datang untuk mengalahkan para anti Kristus itu dan mereka yang menutup hati terhadap kebenaran Injil akan musnah.

    Mat 7:13-14 bicara tentang jalan lebar yang menuju ke neraka dan jalan sempit yang menuju ke surga. Yesus telah mati untuk kita agar semua orang yang berada di jalan yang lebar punya kesempatan untuk pindah ke jalan yang sempit.

    Pesan no. 659 dari St. Faustina adalah pesan belas kasih Tuhan. Masih banyak jiwa-jiwa yang hancur meskipun Yesus telah mati di salib untuk mereka. Yesus bersedih melihat umat tidak mengambil belas kasih tersebut. Yesus pun berpesan kepada St. Faustina untuk menceritakan tentang belas kasih Tuhan yang sangat besar. Inilah tugas kita, evangelisasi, menceritakan belas kasih Tuhan kepada jiwa-jiwa yang berada di jalan yang lebar.

    Dalam Kisah Para Rasul (bab 8, 10, 11, 19) diceritakan di mana semua orang yang baru bertobat tersebut mengalami Roh Kudus sama seperti yang dialami para rasul. Mereka menjadi bersemangat dan pergi untuk memberitakan Injil. Seperti yang dikatakan Paus Fransiskus, “Anda tidak butuh banyak pelajaran agama. Jika Anda mengenal cinta Tuhan, Anda akan segera pergi dan memberitakan Injil”.

    Roh Kudus diberikan untuk semua orang. Roh Kudus bukanlah sejenis spritualitas atau gerakan baru namun ini merupakan prinsip dasar dalam Kitab Suci. Kardinal Suenens pernah berpesan bahwa tujuan PKK adalah untuk evangelisasi. Oleh karena itu, kita perlu mengadakan SHDR terus menerus.

    Dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa Bunda Maria berdoa bersama para rasul untuk mohon Roh Kudus. Masih banyak lagi kuasa Roh Kudus yang belum kita miliki, oleh karena itu kita perlu terus memintanya, karena kita sangat membutuhkannya!

     

    GO FORTH

    Sesi keempat ini dibawakan oleh Mr. Salvatore Martinez, selaku ketua RnS Italia. Dalam kitab Tesalonika dikatakan bahwa ada musuh di antara kita, orang Yahudi menjadi cemburu karena kaum Yunani menerima pewartaan Injil. Janganlah kita merasa takut, karena rasa takut adalah musuh kita. Perjuangkanlah persatuan dalam keanekaragaman karunia dan perbedaan (unity in diversity).

     

    MISA PENUTUP

    Misa penutup dan adorasi dipimpin oleh Kardinal Roma, Agostino Valini. Dalam homilinya, Kardinal Agostino mengatakan hanya di dalam Dia kita dapat berbuah. Roh Kudus adalah kunci agar kita dapat mengerti segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, untuk melihat dengan jelas segala sesuatu di sekitar kita, dan untuk bisa menerima penderitaan yang terberat sekalipun.

    Bagaimana kita bisa menyebarkan Roh Kudus kepada orang lain?

    • Dengan tersenyum
    • Dengan memberikan kata-kata iman yang menyemangati, yang penuh hormat namun meyakinkan

     

    DOA PENGURAPAN

    Sr. Briege McKenna OSC memimpin doa pengurapan di hadapan Sakramen Maha Kudus. Beliau berpesan bahwa yang terpenting bukanlah penyembuhan fisik. Yesus sendirilah yang akan menyembuhkan kita.

    Beliau bercerita bagaimana seorang anak kecil yang hanya memiliki satu ginjal karena terkena kanker datang kepadanya dan minta didoakan penyembuhan. Lalu beliau berkata kepada anak itu, “Jika kau percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkanmu, datanglah kepadaNya.” Maka dengan penuh iman, saat imam berjalan membawa Sakamen Maha Kudus, anak itu menghentikan sang imam dan berkata, “Yesus, sembuhkanlah saya”. Beberapa hari kemudian dokter memeriksa kondisi si anak dan ternyata ginjalnya sudah pulih.

    Kita pun perlu berdoa untuk dapat memiliki pandangan iman dan rohani, selain juga penyembuhan fisik. Banyak orang yang lumpuh karena ketakutan, kemarahan, dan penolakan. Yesus akan menyembuhkan kelumpuhan spiritual yang kita alami.

     

    PENUTUP

    Seluruh rangkaian acara 2 hari ini ditutup dengan pujian penutup dan perarakan bendera dari negara-negara peserta. Pengalaman ini adalah pengalaman yang luar biasa dan kami sangat diberkati lewat acara ini. Dan seperti doa yang dipanjatkan selama 2 hari ini, mari kita terus berdoa dan memohon: Veni Creator Spiritus - Roh Kudus datanglah, perbaharuilah hati umatmu!

     

    --- God Bless ---

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/