• Menyebarkan Rahmat Baptisan Dalam Roh (Oleh Fr. Jonas Abib)


    Ditulis pada tanggal : Wednesday, 14 June 2017, 08:08 PM

    Pengajaran

    SPREADING THE GRACE OF BAPTISM IN THE HOLY SPIRIT

    by Fr. Jonas Abib


    (Menyebarkan Rahmat Baptisan dalam Roh)

    Yang akan saya sampaikan sekarang adalah suatu kelanjutan dari apa yang Sr. Nancy Kellar sudah sampaikan sebelumnya.

    Dalam Kisah Para Rasul 8:5-8; 14-17 dikatakan, “Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.” Kita berpikir bahwa ini merupakan hal yang biasa, padahal sebenarnya tidak! Orang Samaria bermusuhan dengan orang Yahudi. Orang Samaria akan meludah di tanah ketika mereka melihat orang Yahudi. Dia dapat berkata, “Aku dapat meludahi mukamu,  jadi aku meludah di tanah saja.” Ketika Filipus memilih untuk pergi dari Yudea ke Galelia memang lebih dekat melalui Samaria, namun itu mustahil karena orang Samaria tidak akan membiarkan mereka melewatinya. Orang Samaria itu akan membunuh orang Yahudi yang lewat ke kotanya. Tapi lihatlah! Filipus pergi dari tempat asalnya ke kota Samaria dan mewartakan Kristus di sana. Betapa beraninya dia.

    Filipus menjadi luar biasa karena ia melakukan hal yang di luar batas. Melewati Samaria adalah hal yang mustahil, namun ia pergi ke sana dan mewartakan bahwa Yesus adalah Kristus. Hal yang menakjubkan terjadi, kerumunan orang-orang Samaria ini mendengarkan dengan seksama apa yang Filipus katakan kepada mereka. Mereka mendengarkan Filipus dengan seksama, seperti anda saat ini. Mengapa? Karena Filipus melakukan tanda-tanda dan nubuat-nubuat serta mujizat-mujizat di tengah-tengah mereka.

    Saya tidak menceritakan tentang Rasul Filipus. Yang diceritakan dalam Kisah Para Rasul ini adalah Filipus, sang diakon. Ketika tujuh orang dipilih sebagai diakon dan melayani di meja, mereka tidak dipilih untuk menjadi seorang evangelist. Mereka dipilih sebagai pelayan, untuk melayani yang lain. Tetapi Filipus melakukan hal di luar batas! Dia yang dipilih hanya untuk melayani di meja, namun pergi mewartakan Injil dan memilih tempat terburuk untuk melakukan penginjilan. Dalam bacaan itu, dikisahkan bahwa banyak orang disembuhkan. Banyak sekali orang yang disembuhkan lewat pelayanan Filipus dan ada sukacita yang besar di kota Samaria.

    Saudara-saudari, inilah yang kita perlukan saat ini, yakni menjadi berani seperti Filipus. Kita datang ke Roma bukan untuk sebuah tour, tetapi kita datang ke Roma karena kita dipanggil oleh Bapa Paus untuk membuat sebuah komitmen. Untuk kembali ke negara dan ke kota asal kita masing-masing, dan membawa Yesus Kristus kepada semua orang seperti pada waktu Gereja awal. Sayangnya, kita tidak membawa Yesus Kristus kepada orang-orang seperti apa yang mereka lakukan waktu dulu.

    Apa yang telah dilakukan Filipus menjadi sangat terkenal di Yerusalem. Karena itu, Petrus dan Yohanes, rasul-rasul yang sangat penting ini menyusul Filipus ke Samaria.  Petrus dan Yohanes juga melakukan hal di luar batas! Mereka meninggalkan Yerusalem dan datang ke kota Samaria. Ketika sampai di sana, mereka melihat bahwa orang-orang Samaria ini sudah dibaptis. Namun dengan kejelian yang menjadi karakteristik Para Rasul, mereka merasakan bahwa orang-orang yang sudah dibaptis ini belum menerima Roh Kudus. Maka Petrus dan Yohanes menumpangkan tangan atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.

    Di Brazil, pada jaman awal pembaruan, Fr. Eduardo Dougherty SJ mengundang seorang temannya yang juga imam yang penuh dengan karunia untuk datang ke Brazil dan ikut ambil bagian dalam sebuah konferensi. Imam ini datang hanya sebagai peserta dan kami melihat semua karunia yang dia pakai di antara kami.  Imam ini melihat bahwa para anggota dari pembaruan ini belum menggunakan karunia, kemudian ia menemui Fr. Eduardo Dougherty, SJ. Sang imam berkata bahwa dia akan kembali lagi ke Brazil, “Saya akan membiayai sendiri perjalanan saya dan membawa serta pasutri yang mempunyai karunia berdoa untuk penyembuhan luka batin. Pilihlah dua belas orang Brazil dan saya akan mengajari mereka tentang karisma”. Akhirnya, tidak hanya dua belas pemimpin yang dipilih melainkan dua puluh orang lebih. Imam ini bernama Robert deGrandis, S.S.J.

    Imam tersebut tidak hanya sekedar mengajari, namun juga melatih kita dan membuat kita mengalami karunia-karunia. Ia mengajarkan semua karunia tanpa terkecuali dan bahkan terjadi pelepasan pada waktu kita berlatih dalam seminggu itu.  

    Pasutri yang dibawa sertapun mendoakan orang-orang. Sang suami mendoakan beberapa orang dan sang istri juga mendoakan beberapa orang untuk penyembuhan luka batin. Anda tidak dapat membayangkan apa yang terjadi. Begitu banyak penyembuhan luka batin yang terjadi. Kami telah mendengar tentang penyembuhan luka batin namun belum pernah mengalaminya sendiri. Mereka mendoakan saya ketika hampir malam. Saya menangis dan menangis karena saya belum pernah menangis seumur hidup saya. Keesokan paginya mereka melanjutkan mendoakan saya sampai tuntas.

    Latihan-latihan menggunakan karunia itu membuat kami semakin bertumbuh. Pembaruan di Brazil tumbuh dan dua puluh pemimpin di Brazil itu pergi ke mana-mana. Mereka pergi ke beberapa tempat di Brazil dan membawa api karisma dari Roh Kudus.

    Saudara-saudari, kita ada di Roma, bukan sebagai turis. Kita di sini karena kita dipanggil oleh Paus Fransiskus untuk membawa ke negara kita, kota kita, rahmat Baptisan dalam Roh, dan rahmat karisma. Negaramu tidak bisa dibiarkan tanpa karunia-karunia dari Roh Kudus.  Ini adalah panggilan dari Bapa Suci. Kita harus berkomitmen kepada Bapa Suci supaya dapat membawa rahmat Baptisan dalam Roh, karunia-karunia, dan karisma dari Roh Kudus ke negara kita masing-masing.

    Saya ingin memberitahu anda sesuatu yang saya dengar. Sebuah persekutuan doa di Buenos Aires melakukan pertemuan setiap Sabtu. Pemimpin dari persekutuan doa ini adalah Pino dan Julio. Beberapa kali mereka mengundang Kardinal Bergoglio untuk hadir ke acara persekutuan doa mereka, namun Kardinal tidak pernah muncul.

    Maka mereka menggunakan cara lain yaitu dengan menjadi teman Kardinal Bergoglio. Mereka pergi ke rumah Kardinal dan minum semacam teh Argentina baik disajikan panas maupun dingin bersama-sama dengannya. Pino dan Julio tetap setia melakukannya hingga suatu saat Kardinal Bergoglio berkata, “Aku akan pergi ke persekutuan doamu. Katakan waktunya dan aku akan hadir.” Lalu beliau mengambil agenda dan menulisnya.

    Di hari Sabtu yang dijanjikan itu, Kardinal Bergoglio sungguh hadir ke persekutuan doa Pino dan Julio. Persekutuan doa mereka sangat mirip dengan yang kita lakukan. Pertama-tama mereka bernyanyi. Pino bermain gitar dan bernyanyi dengan sangat baik. Lalu mereka berdoa dalam Bahasa Roh dan salah satu dari mereka membacakan Firman. Mereka berharap bahwa Kardinal Bergoglio akan memberikan pengajaran, namun beliau berkata, ”Tidak, tidak, tidak. Saya tidak akan melakukan apa-apa. Saya hanya ingin  duduk di sini dan melihat apa yang kalian lakukan”, lalu, inilah yang terjadi. Setelah pengajaran, mereka berdoa lagi dalam Bahasa Roh.

    Kemudian Kardinal Bergoglio berdiri dan pergi ke tengah tengah mereka, berlutut, lalu berkata, ”Berdoalah untuk saya, supaya saya bisa mendapatkan apa yang kamu miliki yang belum saya miliki.” Anda tahu siapa Kardinal Bergoglio bukan? Kardinal Bergoglio adalah Bapa Suci yang ketika namanya diumumkan di St. Peter Square lalu, membungkuk dan berkata kepada semua orang agar berdoa bagi beliau. Beliau adalah satu-satunya Paus yang melakukan hal itu karena beliau sudah dibaptis dalam Roh. Kardinal Bergoglio melakukan hal di luar batas!

    Dapatkah anda membayangkan seorang Kardinal berlutut di lantai, meminta yang lain berdoa bagi beliau, dan memberitahu mereka untuk meminta kepada Tuhan agar Tuhan berkenan memberikan apa yang dimiliki oleh orang-orang itu yang belum dimiliki oleh dirinya.

    Memiliki seorang Paus yang adalah seorang karismatik merupakan rahmat yang sangat luar biasa saat ini. Hal ini terjadi karena Pino dan Julio melakukan sesuatu di luar batas! Mereka lakukan hal di luar batas ketika mereka pergi ke rumah Kardinal Bergoglio dan menjadi seorang sahabat.

    Saya bertemu seorang pria yang luar biasa, David Plessis, seorang pendeta Evangelican. Mereka memanggilnya Mr. Pentacost karena kemanapun ia pergi, ia akan selalu berbicara tentang Pentakosta. Ia akan berbicara tentang Roh Kudus, tentang Baptisan dalam Roh, tentang karunia-karunia Roh Kudus. Dia akan menumpangkan tangan  kepada orang-orang supaya mereka menerima rahmat Baptisan dalam Roh.

    Saat itu, dia berada di Brazil atas undangan seorang Kardinal dan topik yang ia bicarakan bukanlah mengenai Roh Kudus. Seperti biasanya, pada akhir pembicaraannya, dia mulai berbicara tentang Roh Kudus, Baptisan dalam Roh, dan Karisma Roh Kudus. Dia menumpangkan tangan kepada Kardinal-kardinal, semua Imam yang hadir, semua orang yang hadir, dan berdoa supaya mereka semua menerima Baptisan dalam Roh. Saya hadir di sana dan saya melihat kejadian itu.

    Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan para Kardinal itu. Saya tidak tahu apa yang terjadi pada para Imam itu dan juga kepada semua yang hadir saat itu. Namun saya tahu apa yang terjadi pada diri saya. Melihat pria itu, saya berkata kepada diri saya sendiri bahwa seumur hidup, saya akan menjadi Mr. Pentacost. Lalu Sr. Nancy berkata bahwa dia akan menjadi Ms. Pentacost.

    Inilah yang Bapa Suci kehendaki agar kita kembali ke negara asal, ke kota asal, dan menjadi Mr. and Ms. Pentacost, untuk berbicara tentang Roh Kudus, tentang Baptisan dalam Roh, tentang karunia-karunia Roh Kudus, dan untuk menumpangkan tangan atas orang-orang sehingga mereka menerima Baptisan dalam Roh dan karisma.

    Saya akan menceritakan sesuatu kepadamu. Ketika itu saya di Londrina, bagian selatan Brazil. Mereka minta saya mendoakan seorang wanita yang sakit parah. Saya bertemu wanita tersebut bersama dengan suaminya. Saya berdoa untuknya karena sakitnya sangat parah. Saat itu saya tidak hanya berdoa untuk mereka, tetapi juga berbicara sedikit tentang Baptisan dalam Roh. Saya mengajari mereka berdoa dan mengajak mereka berdoa bersama. Saat itu juga mereka dapat berdoa dalam Bahasa Roh. Mereka tidak hanya mendapatkan pengurapan dan kesembuhan, namun mereka juga menerima Baptisan dalam Roh.

    Ketika meninggalkan kamar mereka, saya bertemu dengan anak perempuan mereka yang mengundang saya, lalu saya berbicara sedikit mengenai Baptisan dalam Roh. Saya menumpangkan tangan atasnya dan mengajaknya berdoa bersama. Seketika itu dia mulai berdoa dalam Bahasa Roh. Saat itu, anak-anak si perempuan tadi kebetulan juga berada disana. Saya melakukan hal yang sama; mendoakan mereka satu persatu dan mereka semua juga berdoa dalam Bahasa Roh. Hanya si pemilik rumah yang belum hadir waktu itu karena ia sedang pergi ke suatu tempat.

    Ketika kami sedang makan bersama, pemilik rumah datang. Saya memanggilnya dan mulai membicarakan tentang Baptisan dalam Roh, lalu menumpangkan tangan atas-nya. Belum sampai saya ajak berdoa bersama, sang pemilik rumah sudah mulai berdoa dalam Bahasa Roh. Ini adalah waktu di mana saya, dengan rahmat Tuhan menjadi Mr. Pentacost. Bapa Paus memanggil anda semua untuk kembali ke negara asal dan menjadi Mr. and Ms. Pentacost.

    Tuhan, saya berdoa bagi saudara-saudari semua supaya mereka menjadi ‘Mr. and Ms. Pentacost’ di negara dan kota asal mereka masing-masing. Biarkan mereka tidak mengenal rasa takut untuk berbicara tentang Baptisan dalam Roh. Untuk berbicara tentang karunia-karunia Roh Kudus. Dan untuk berdoa bagi orang-orang agar mereka mendapatkan Baptisan dalam Roh. Ya Tuhan, di hadapan Bapa Paus Fransiskus, di sini di Roma, saya berkomitmen bahwa dimana saya tinggal, saya akan menjadi ‘Mr. and Ms. Pentacost’. Semoga berkat Tuhan menyertaimu. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin.

    Catatan tambahan, jawaban Sr. Nancy Kellar atas pertanyaan peserta workshop:

    Jawaban 1:

    Saya kira salah satu kesulitan dari biarawan-biarawati adalah ketika kami dilatih menjadi biarawan-biarawati, kami belajar bahwa kehidupan spiritual adalah seperti ini:

    Dalam hidup ini kamu akan dimurnikan. Dan mungkin kamu mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan. Namun persatuan sesungguhnya dengan Tuhan datang setelah kehidupan yang sekarang. Jadi sekarang, seorang Imam sudah mendengar bahwa dia perlu hidup dengan setia bertahun-tahun lamanya sampai suatu saat akan mengalami suatu perjumpaan secara pribadi dengan Tuhan.

    Maka ketika seorang muda datang dan bercerita bahwa dirinya telah mengalami perjumpaan pribadi yang luar biasa dan sangat intim dengan Tuhan, maka akan sangat sulit diterima oleh sang Imam. Padahal sekarang lewat Baptisan dalam Roh, persatuan dengan Tuhan dapat terjadi sekarang.

    Kita perlu memahami para biarawan-biarawati ini. Dan cara terbaik untuk menuntun mereka mengalami Baptisan dalam Roh adalah dengan memberi mereka kesaksian akan perubahan yang telah terjadi dalam hidup kita.

    Jawaban 2:

    Tidak cukup hanya dengan memasukkan kertas dalam tungku api. Kamu menyebutkan bacaan (Injil) tentang benih. Salah satu bagian dari bacaan itu menyebutkan bahwa tanahnya menerima benih dengan sukacita. Namun kemudian benih itu terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan, dan kepuasan-kepuasan dalam hidup.

    Saya berpikir bahwa kita tidak cukup diajari cara untuk membantu orang-orang untuk mampu mengatasinya ketika kekuatiran hidup kembali menghimpit hidup mereka. Kadangkala orang-orang mencoba mengatasinya dengan mencari kepuasan lagi, dan kadang juga kepuasan dalam hal-hal spiritual.

    Jadi kita harus mengajari mereka bahwa adalah tidak cukup hanya memiliki karunia-karunia.  Kita harus menghasilkan buah-buah lewat memanggul salib kita. Tidaklah cukup hanya dengan mendapatkan mujizat kesembuhan. Kita perlu belajar bagaimana harus menerima salib. Banyak orang yang kemudian menyerah ketika salib datang.

    Jawaban 3:

    Yang harus dilakukan seorang leader ketika melihat ada perpecahan di dalam organisasinya adalah: bertobat, bertobat, dan bertobat. Ajak semua saudara-saudarimu untuk bertobat, bertobat dan bertobat. Karena persatuan adalah faktor manusia dan masalah ini akan terus menerus kembali. Tidak ada jalan lain untuk mengatasinya selain kembali bertobat, memaafkan, dan berdoa lagi dan lagi untuk sebuah kesatuan. Jangan kaget ketika perpecahan terjadi karena itu adalah hal yang normal. Yang bisa dilakukan adalah bertobat, memaafkan, dan berdoa untuk mengalami urapan lagi. ***

    Diterjemahkan oleh: Ignatius Surya Prasetya Wijaya, MBA

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/