• Karunia-karunia Roh Kudus Dalam Gereja Untuk Pelayanan (Oleh Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm)

    CERAMAH UMUM KE-II KONVENDA BPPG JAKARTA 2017

    "KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS DALAM GEREJA UNTUK PELAYANAN"

    Oleh: Mgr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm

    Selama ini saya mendapat pelajaran bahwa manusia adalah makhluk paling mulia, paling berbudi. Sedangkan binatang juga merupakan makhluk hidup ciptaan Tuhan tetapi tidak berakal budi. Akan tetapi video-video yang saya terima tentang binatang membuat saya terusik. Masak sih binatang itu tidak punya pikiran, karena begitu pintar seringkali.

    Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seseorang dan dia menceritakan pengalamannya di hutan Kalimantan. Dia bersama rombongannya memasuki hutan, kemudian ada orang utan turun. Dia begitu ketakutan, tetapi orang-orang berkata, “Tidak usah takut, diam saja! Paling dia mencuri tas-mu.” Benar saja, dibuka tasnya, ada laptop, ada handphone, dll. Orang ini takut kalau tasnya akan dibawa pergi, namun ternyata tidak! Dikembalikan dengan dilempar secara kasar, lalu orang utan itu naik lagi ke pohon. Kemudian, tuan rumah yang adalah orang Kalimantan mengatakan, “Pak, kalau masuk ke sini kita mesti bawa makanan. Karena orang utan minta makanan dari tas anda, tetapi saya lupa beritahu.”

    Keesokan harinya, mereka masuk lagi ke hutan dan sudah menyiapkan makanan; roti tawar dan buah-buah. Orang itu menaruhnya di tas. Benar saja! Orang utan turun lagi, merampas tas, membuka tas, mengambil roti, dan langsung naik ke pohon. Lalu sampai di atas pohon, apa yang terjadi? Orang utan itu memberi tanda jempol. Membuat saya terusik, apakah orang utan memang tidak memiliki pikiran sehingga sampai di atas baru memberi tanda jempol. Apa kaitannya dengan ceramah hari ini?

    Kaitannya begini; Kalau anda mau memberi seekor orang utan sesuatu yang bisa diterima dengan senang, jangan memberi laptop, karena dia tidak butuh laptop. Jangan memberi handphone, karena dia tidak bisa pakai handphone. Tapi beri dia kacang; dia pasti senang! Beri dia makanan lain, dia pasti senang. Setiap pemberian harus berguna bagi yang menerima. Biarpun handphone itu mahal, tetapi jika anda berikan kepada seekor monyet/orang utan, maka tidak ada gunanya, karena anugerah itu tidak diperlukan oleh orang utan tersebut.

    Tema hari ini adalah karunia-karunia Roh Kudus untuk pelayanan. Pembaruan Karismatik Katolik (PKK) adalah karunia Tuhan, menurut Santo Yohanes Paulus ke II. Setiap karunia di dalam Gereja adalah karunia Roh Kudus. Setiap gerakan yang baik dalam Gereja adalah karunia Roh Kudus. Maka, karunia ini harus berguna bagi Gereja. Kalau kita tidak berguna bagi Gereja, di sini dan sekarang, kita bukanlah karunia Roh Kudus. Roh kudus tidak mungkin memberikan karunia yang tidak cocok dengan situasi Gereja.

    Maka nanti pada akhir dari ceramah umum ini, kesimpulannya sederhana, jadilah karunia yang berguna dan yang diperlukan oleh Gereja lokal dimanapun anda berada. Jadilah karunia Roh Kudus yang dibutuhkan dan yang berguna bagi Gereja karena kita datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.

    Ada pepatah Jerman yang mengatakan, “Setiap anugerah adalah suatu tugas.” Kita bisa melihat contoh ini pada kisah ibu mertua Petrus yang dikunjungi oleh Yesus ketika dia sakit. Untuk itu saya mengajak anda membuka Injil Lukas 4:38-39, “Kemudian Ia meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itupun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.”

    Menarik untuk kita perhatikan. Yesus baru keluar dari Sinagoga, kita lihat Yesus meninggalkan Sinagoga lalu pergi ke rumah Simon. Artinya, harus ada kaitan antara ibadah dan pelayanan. Harus ada kaitan antara doa dan pelayanan. Tidak ada gunanya orang rajin masuk Gereja, memuji Tuhan, menyanyi, mengikuti liturgi, tetapi keluar dari Gereja tidak ada pengaruh apa-apa. Harus ada kaitan erat antara ibadah dan pelayanan. Maka Yesus membuktikan hal itu. Dia keluar dari rumah ibadah, dia menyembuhkan ibu mertua Simon. Begitu perempuan ini disembuhkan oleh Yesus, dia bangun dan melayani Yesus dan rombongannya. Anugerah kesembuhan yang diberikan oleh Yesus dia pakai untuk melayani. Jelas sekali kaitannya.

    Saya pernah memiliki seorang kenalan di kota Malang yang mengalami sakit keras. Dia berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan, “Tuhan, kalo saya sembuh saya akan melayani Tuhan. Saya serahkan diri saya untuk Tuhan,” dan ternyata ia mengalami kesembuhan. Tetapi setelah sembuh, dia lupa akan janjinya. Dia terlalu senang, lalu hidup tanpa melayani Tuhan lagi. Tidak lama kemudian, Tuhan “pukul” dia, dan ia mengalami sakit lagi dan kali ini sakitnya sangat serius. Dia sungguh-sungguh memohon ampun atas kelalaiannya dan bertobat. Dia memohon kesembuhan, dan kemudian dia sungguh mengalami kesembuhan. Kali ini dia menjadi seorang pewarta. Ibu mertua Petrus juga demikian. Dia menerima karunia Tuhan untuk melayani.

    Saudara-saudara yang terkasih, mengapa kita perlu menerima karunia untuk pelayanan? Saya masukkan tema ini dalam konteks yang lebih menyeluruh. Apa artinya menjadi murid Yesus? Apa artinya kita menyebut diri orang Kristen? Apakah itu berarti bahwa kita menerima Yesus sebagai penyelamat kita? Ya! Itu artinya menjadi pengikut Kristus, tetapi itu tidak cukup. Apakah kita percaya bahwa Yesus Anak Allah yang turun ke dunia? Ya! Itu artinya menjadi murid Yesus. Tapi itu juga tidak cukup. Menjadi murid Kristus lebih daripada mengakui dengan akal budi siapa Yesus, karena di dalam injil Yohanes 15, dengan indah digambarkan bagaimana Yesus itu pokok anggur dan kita ranting-rantingnya. Akulah pokok anggur yang benar dan kamulah ranting-rantingnya.

    Yesus ingin tinggal di dalam murid-Nya dan murid-Nya tinggal di dalam diri-Nya. Itulah artinya menjadi murid Yesus yang sejati. Ada persatuan, dimana yang satu ada di dalam yang lain. Hanya dengan bersatu dengan Yesus kita adalah murid Kristus. Dan dengan bersatu dengan Yesus, pelan-pelan kita diubah menjadi seperti Yesus. Harus semakin mirip dengan Yesus. Kalau kita mengaku diri murid Yesus, tetapi tingkah laku kita, cara hidup kita, pikiran kita, perasaan kita, begitu jauh dari pikiran Kristus, perasaan Kristus, tingkah laku Kristus, itu artinya kita adalah murid Yesus secara KTP saja, hanya namanya saja Kristen tetapi sebenarnya bukan Kristen.

    Semakin lama kita harus makin menyerupai Yesus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani, dan menyerahkan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang. Selama kita belum sampai pada pelayanan, kita belum menjadi murid Yesus yang lengkap.

    Kisah-kisah di dalam Injil, misalnya perempuan Samaria, Yohanes 4:1, ada perempuan Samaria bertemu dengan Yesus. Kita tahu betapa sulitnya komunikasi antara Yesus dengan perempuan ini, karena perempuan itu terlalu duniawi sementara pembicaraan Yesus terlalu surgawi. Maka pada awal dialog, tidak ada titik temu. Tetapi setelah Yesus secara pelan-pelan masuk ke dalam kehidupan perempuan itu, masuk dalam kehidupan pribadi perempuan itu, ia akhirnya mengakui bahwa Yesus itu sungguh Nabi Allah.

    Setelah perempuan itu mengenal Yesus, dan pelan-pelan dibimbing oleh Yesus, perempuan itu menjadi ‘pewarta’ bagi orang-orang Samaria. Kita dapat melihat pada akhir cerita itu bagaimana perempuan itu lari meninggalkan tempayannya dan pergi menemui orang-orang sekampungnya. Ayat 28-29, “Maka perempuan itu pergi meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: Mari lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?”

    Akhir dari cerita pertemuan Yesus dengan perempuan Samaria adalah pelayanan. Perempuan Samaria menjadi pelayan, menjadi pewarta. Begitu juga dengan perempuan lain dalam Injil Yohanes yang sangat terkenal yaitu Maria Magdalena. Ia bertemu dengan Yesus di kubur, setelah ia mengenal kembali Yesus, Maria diutus oleh Yesus menjadi pewarta bagi orang lain. Menjadi rasul pertama yang mewartakan kebangkitan Yesus kepada para murid.

    Jadi inilah skema yang kita temukan dalam Injil. Setiap murid Kristus harus bersatu dengan Yesus, harus mirip dengan Yesus, dan mengambil bagian dalam tugas yang dimiliki Yesus. Kalo Yesus datang untuk melayani, begitu juga pada murid-Nya harus seperti Yesus, datang untuk melayani. Yesus adalah seorang pelayan. Maka jangan terlalu memanjakan para Uskup atau para Imam. Para Uskup dan para Imam datang bukan untuk dilayani secara ekstra. Tidak! Karena kami datang untuk melayani.

    Inilah garis besar umum mengapa tema pelayanan harus dibicarakan, karena kita memang murid Kristus. Hanya dalam konteks yang menyeluruh ini, kita boleh menempatkan tema yang ditujukan kepada PKK, tema pelayanan yang dilakukan oleh mereka atau anda yang masuk dalam PKK ini.

    Kita lihat dalam Kitab Suci bagaimana pemberian Roh Kudus erat kaitannya dengan perutusan dan pelayanan. Kita mulai dari Kitab Hakim-Hakim. Para Hakim Israel adalah panglima perang. Mereka juga menjadi hakim yang mengadili bangsa Israel. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang diutus pada saat-saat yang kritis pada waktu bangsa Israel mengalami kemerosotan iman dan moral.

    Di dalam Kitab Para Hakim, sering dikisahkan bahwa bangsa Israel berjalan di luar jalur, mereka tidak taat kepada Tuhan, mereka menyembah berhala, pokoknya mereka menjadi bangsa yang jahat. Kemudian Tuhan menghukum bangsa Israel dengan membiarkan mereka dikalahkan oleh bangsa lain. Nah, dalam keadaan seperti itu, bangsa Israel menyesal, dan mereka menjerit meminta kepada Tuhan suatu pertolongan. Pada saat itulah dikatakan, Roh Tuhan hinggap. Jadi, Roh Kudus turun atas Para Hakim. Karena dikuatkan, dan dipenuhi dengan Roh Kudus, maka para hakim bisa mengusir musuh-musuh, dan mengalahkan bangsa lain yang menjajah mereka. Lalu, mereka (Para Hakim) memerintah bangsa Israel sebagai pemimpin. Inilah yang digambarkan di Kitab Hakim-Hakim.

    Yang berikutnya dalam Kitab Perjanjian Lama, ada tiga kelompok manusia yang diurapi oleh Roh Kudus untuk pelayanan. Ketiga kelompok itu adalah Imam, Nabi, dan Raja-raja. Tiga pilar kehidupan bangsa Israel, masing-masing memiliki tugas; Raja memimpin bangsa secara politis, Nabi-Nabi adalah utusan Tuhan untuk mendidik bangsa ini dalam iman yang benar karena para nabi adalah juru bicara Allah, dan yang ketiga adalah Imam, diurapi untuk mempersembahkan kurban-kurban kepada Allah. Imam menjadi pengantara Allah dengan manusia, tetapi Imam juga bertugas mewartakan firman.

    Tiga kelompok ini disebut tiga jabatan yang diperlukan umat, tiga jabatan pelayanan, tiga karunia Roh Kudus yang harus dipakai untuk melayani. Jadi para Imam, dari Paus sampai Diakon adalah seorang pelayan, bukan tuan. Pastor adalah Diakon, dari kata Diakonos yang artinya pelayan. Sakramen Imamat adalah sakramen pelayanan. Paus sendiri sejak jaman dulu selalu menganggap diri bukan sebagai seorang tuan tetapi sebagai hamba dari segala hamba. Servus Servorum Dei.

    Dan itu diungkapkan dengan indah oleh Paus Fransiskus dengan menjadi pelayan bagi semua orang, ketika beliau mencium kaki orang-orang pada Hari Kamis Putih yang bahkan bukan seorang Katolik. Ia mencium kaki orang yang beragama lain, para pengungsi yang ada di italia. Pada waktu itulah Paus menunjukan kepada kita apa arti kata hamba dari segala hamba.

    Sekarang kita lompat pada Perjanjian Baru. Yesus adalah hamba Tuhan. Saya ajak anda untuk melihat Lukas 4, yang dianggap oleh para ahli Kitab Suci sebagai bagian penting dalam Injil Lukas, karena mengungkapkan visi dan misi Yesus. Apakah visi dan misi Yesus? Mari kita liat dalam perikop ini, mulai dari ayat 14, “Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.” Jadi setelah Dia dipenuhi Roh Kudus, Dia tidak pernah terpisah dari Roh Kudus. Roh Kudus selalu ada pada Yesus sejak Dia dikandung oleh Maria. Roh Kudus turun sekali lagi secara istimewa ketika Yesus dibaptis di sungai Yordan, dan sesudah itu Roh Kudus tidak pernah meninggalkan Yesus. Dalam kuasa Roh, kembalilah Yesus ke Galilea lalu Dia mengajar di rumah ibadat.

    Dan sekarang tiba pada perikop yang saya maksud, Yesus masuk ke Sinagoga. Dia berdiri, Dia hendak membaca dari Alkitab, nah kebetulan hari itu bacaan diambil dari kitab Yesaya yang bunyinya, “Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi aku.” Roh Tuhan ada pada Yesus. Untuk apa? Untuk pelayanan. Roh Tuhan mengurapi Yesus “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Dan Ia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitahukan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Jadi sangat jelas karunia Roh Kudus turun atas Yesus untuk pelayanan.

    Sekarang bagaimana dengan Para Rasul? Kita liat Yohanes 20:21-22, ini kisah Yesus yang sudah bangkit dan menampakkan diri kepada para murid. Dia berdiri menunjukan tangan dan lambungnya. Murid-murid bersuka cita ketika melihat Tuhan, maka kata Yesus kepada mereka, “Shalom Alecheim,” dalam bahasa Ibrani. “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus aku, demikian juga sekarang aku mengutus kamu.”

    Yesus mengutus Para Murid,dan ketika Yesus mengutus Para Murid, Dia mencurahkan Roh Kudus. Begitu erat kaitan antara perutusan dan Roh Kudus. Para Murid tanpa Roh Kudus tidak mampu menjalankan tugas, maka Yesus langsung memberikan pencurahan Roh Kudus. “Terimalah Roh Kudus.” Jadi karunia Roh Kudus sangat erat kaitannya dengan perutusan.

    Ketika berlangsung Moderda kemarin, Romo Broto menguraikan suatu ayat, ”Kamu akan menerima kuasa.” Kuasa itu dalam bahasa Yunani: dinamis. Dinamis itulah asal kata dari dynamo. Itu artinya kuasa, kekuatan. Roh Kudus adalah kuasa, kekuatan. Seperti mobil, jika tidak ada dynamo-nya, maka tidak dapat berjalan. VCD Player kalau rusak, orang bilang “Ahh dynamo-nya rusak,” artinya daya yang menggerakannya itu rusak. Itulah kata yang dipakai untuk Roh Kudus. Dinamis – kuasa. “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

    Betapa eratnya kaitan antara perutusan, pelayanan, dan kuasa Roh Allah, maka saya senang dengan judul ini; Melayani dengan Kuasa Roh Kudus. Empowered By The Holy Spirit. Diteguhkan, atau dikuatkan, atau diberi kuasa oleh Roh Kudus untuk pelayanan.

    Para Rasul setelah menerima karunia Roh Kudus menjadi pewarta yang baik. Untuk itu kita lihat, kapan kuasa itu turun? Turunnya pada waktu Pentakosta. Pada Hari Raya Pentakosta, Roh Kudus turun dalam bentuk api. Api adalah kekuatan yang dahsyat. Api bisa membakar seluruh dunia, api bisa mengembangkan sesuatu yang kecil menjadi besar. Seperti popcorn, jagung itu masih kecil-kecil, keras, dan tidak bisa dimakan. Siapa yang bisa memakan jagung keras? Tidak ada. Hanya ayam dan merpati. Tetapi kalau jagung yang keras dan kecil ini dimasukan ke dalam panci yang panas, kemudian ditutup, maka jagung-jagung yang keras ini, karena panas, akan meledak menjadi pop corn yang besar dan empuk. Barulah kita dapat memakannya. Roh Kudus adalah kuasa dari Allah yang membuat manusia dipenuhi dengan api-Nya, dan api itu akan membakar manusia dan manusia itu akan menjadi “mekar” atau “meledak”.

    Sejak turunnya Roh Kudus, Petrus yang menurut Kitab Para Rasul sendiri disebut “idiotes dan agramatos”, atau “tidak mengenal huruf dan tidak berpendidikan”, menjadi begitu dikuatkan dan dikuasai Roh Kudus. Petrus yang penakut, yang bersembunyi dalam ruang yang tertutup tiba-tiba membuka pintu dan berkotbah sampai kira-kira 3000 orang dipertobatkan pada hari itu. Saudara-saudari yang terkasih, inilah kuasa Roh Kudus yang dicurahkan untuk pelayanan.

    Sekarang kita lihat ajaran Gereja, menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK) nomor 1316, ada yang namanya Sakramen Penguatan, dalam bahasa inggris, confirmation; dalam bahasa latin confirmare, artinya mengokohkan – menguatkan, tapi karena memakai minyak krisma, maka juga disebut Sakramen Krisma.

    Apa kata Katekismus tentang karunia Roh Kudus? Dikatakan, “Sakramen penguatan menyempurnakan rahmat sakramen pembaptisan, memperkuat ikatan orang dengan misi Gereja.” Nah ini yang saya ingin tekankan, Sakramen Krisma, Pencurahan Roh Kudus, itu berkaitan dengan misi Gereja. Anda yang menerima sakramen Krisma mendapatkan tugas untuk ikut menjadi pewarta Kristus. Menjadi saksi-saksi Kristus dengan kata-kata, tetapi terutama dengan perbuatan.

    Saya kira perlu menekankan perbuatan, karena ada seorang bijak dari agama Islam mengatakan, “Kalau kamu mau lihat kebenaran seseorang, jangan melihat berapa banyak dia berdoa atau berapa banyak dia berpuasa, tapi lihatlah bagaimana dia memperlakukan orang lain.” Jadi percuma saja kata-kata, doa, atau hal-hal lain, tetapi jika dalam tindakan tidak kelihatan. Itulah Sakramen Krisma, membuat orang menjadi dewasa, untuk menjadi saksi-saksi Kristus dengan kata-kata terutama dengan tindakan. Jadi, Sakramen Krisma adalah sakramen untuk pelayanan yang membangun Gereja, hal tersebut dikatakan dalam KGK No. 688.

    Seorang dosen Teologi Dogmatic di kota Malang, Pastor Petrus Handoko, yang sekarang menggantikan saya menulis untuk majalah hidup pada rubrik konsultasi iman, menulis demikian, “Anggota jemaat dalam Roh Kudus digerakan dan disanggupkan untuk ikut serta dalam tugas penyelamatan jemaat Kristus untuk turut membangun jemaat Kristus di dunia ini demi keselamatan umat manusia”. Itulah arti Sakramen Krisma yang diajarkan Gereja. Karunia Roh Kudus adalah untuk pelayanan, untuk suatu misi.

    Sekarang saya akan membicarakan tentang Santo Paulus dalam 1 Kor 14, tentang karunia Roh Kudus. Apa kata Paulus tentang Karunia Roh Kudus? Karismata yang dikembangkan dan diminta oleh para penganut PKK. Mulai dari ayat 3, “Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur.” Jadi, kalau bernubuat maka orang turut membangun sesama, tetapi, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri.” Jadi satu-satunya karisma yang tidak langsung berkaitan dengan pelayanan adalah bahasa roh, karena bahasa roh melayani diri sendiri. Karunia lain yang terdapat dalam daftar, semua bertujuan untuk pelayanan. Lalu, 14 ayat 5 dikatakan, “… Sebab, orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga jemaat dapat dibangun.” Ayat 12, “….Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat.”

    Seorang ahli Kitab Suci Protestan mengatakan, di dalam Surat-surat Paulus, Karunia Roh Kudus harus di uji. Apakah karisma itu dari Roh atau bukan, tidak ditentukan oleh hebatnya perbuatan seseorang. Tidak cukup ada kejadian aneh, atau tidak cukup bahwa orang tersebut bisa menyembuhkan dan melakukan hal hebat, kemudian kita menganggap itu karunia Roh Kudus. Karunia Allah tidak ditentukan dengan hadirnya kejadian supernatural atau luar biasa tetapi dari kegunaannya bagi Gereja.

    Tolok ukur dari Karisma adalah berguna atau tidaknya bagi Gereja. Persis seperti yang kita lihat tadi pada ayat 1 Korintus ini, yakni membangun jemaat. Kita di anugerahi Roh Kudus bukan untuk diri sendiri tetapi sama seperti Kristus kita melayani. Kita dapat melihat bagaimana Paulus berkali-kali mengatakan perlunya membangun jemaat. “Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.” Kata Paulus, untuk apa Karunia Roh Kudus kalo tidak ada dampak bagi orang lain. Juga dalam 1 Korintus 12:7, dengan kata lain Paulus mengatakan bahwa karunia Roh Kudus itu penting untuk kebaikan bersama, bukan untuk kebaikan sendiri, tetapi harus digunakan untuk kebaikan bersama.

    Dalam surat-surat lain, dalam Roma 12, Efesus 4, 1 Korintus 14, 1 Petrus, dll, di sebutkan banyak karunia Roh Kudus. Jika kita lihat, sangat jelas bahwa karunia-karunia tertentu harus dipakai untuk pelayanan. Karunia penyembuhan, karunia mengajar, karunia kebijaksanaan, karunia bernubuat, adalah untuk pelayanan. Masih banyak karunia lainnya. Yang penting adalah karunia apapun itu harus berguna, harus membangun, harus bersifat pelayanan. Bahkan jika anda mendapat karunia jabatan sebagai pemimpin, anda juga harus jadi pemimpin yang melayani.

    Jika anda ingin menjadi anugerah bagi Gereja, jadilah anugerah yang berguna. Memberi kepada orang apa yang dia perlukan, tidak asal memberi. Jadilah penganut Karismatik yang lokal di Paroki, sesuai dengan kebutuhan paroki. Ini lah anugerah bagi Paroki, bagi lingkungan, bagi wilayah, dimanapun anda berada. Jadilah garam, meskipun sedikit tetapi daya atau pengaruhnya luar biasa, meresap ke seluruh bagian. Tuhan memberkati.

    Tanya Jawab

    1. Mohon juga dapat dijelaskan bedanya antara Karunia Roh Kudus pada Perjanjian Lama dengan Karunia Roh Kudus pada Perjanjian Baru, sebab saya membaca bagaimana Allah mengambil sebagian Roh yang ada pada Musa lalu membagikan kepada 70 tua-tua.

    Jawaban:

    Karunia Roh Kudus sebenernya sama, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Kalau dalam konteks cerita Musa yang dipenuhi Roh Tuhan untuk memimpin dan bernubuat, lalu dibagikan kepada 70 orang atau kepada Yosua, itu sebenarnya hanya pembagian Karunia supaya orang tahu bahwa bukan Musa saja orang yang bisa mendapat karunia kepemimpinan. Ini bersifat partisipatif. Roh Tuhan bisa hinggap kepada siapapun, dari Saul pindah ke Daud. Dari Musa dibagikan kepada 70 tua-tua Israel. Bukan monopoli Musa, tetapi disitu Karunia Roh Kudus lebih punya arti khusus, karunia kepemimpinan dan juga ada karunia bernubuat. Itu sama. Sifatnya sama pelayanan.

    Musa mendapat Roh Tuhan untuk melayani, tetapi yang kadang dibicarakan Perjanjian Lama, karunianya lebih pribadi. Mengapa ada pendapat semacam itu? Karena kata Karunia Roh Kudus diambil dari Yesaya. Dalam Yesaya itu memang dikaitkan dengan Mesias, “...akan lahir seorang anak yang punya macam-macam karunia,…” Nah..., 7 karunia Roh Kudus; Kebijaksanaan, Pengetahuan, Takut akan Tuhan, Kesalehan, dll, karunia ini kebetulan adalah karunia Roh Kudus untuk diri sendiri, dan ini hukumnya wajib bagi orang Katolik kalau mau berkembang sebagai orang Kristiani.

    Maka dalam Novena Pentakosta, semua umat Katolik berdoa Novena dengan mohon 7 karunia Roh Kudus. Kalau orang tidak punya karunia takut akan Allah, hidupnya sembrono, mudah berbuat dosa. Kalau orang tidak punya Roh Hikmah, sulit membedakan mana yang benar mana yang tidak benar. Ini diperlukan oleh semua orang, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

    Tanggapan: Dalam Perjanjian Lama saya pernah mendengar, kalau Roh Kudus itu hanya melekat, kalau di Perjanjian Baru benar-benar tinggal, Roh Kudus yang kita terima karena baptis, sehingga benar-benar tinggal di dalam kita.

    Tanggapan Mgr:

    Saya tidak setuju dengan pendapat itu, hanya cara menggambarkannya berbeda. Dalam Perjanjian Lama gambarannya masih sederhana, Roh Allah melayang-layang di atas samudera. Mengapa digambarkan seperti burung merpati? Karena Roh Allah dalam Perjanjian Lama, Kitab Kejadian 1:2, digambarkan seekor seperti burung melayang-layang di atas permukaan laut. Ini gerakan seekor burung. Lalu ketika Saul berdosa, Roh Allah itu hingga di atas Daud, seakan-akan cuma melengketi. Tidak! Roh Allah itu menguasai. Tentu saja, kita harus melihat kepada Para Nabi dimana Roh Allah tidak hanya lengket sebentar lalu pergi, tetapi Roh Allah menguasai seluruh pribadinya. Maka kutipan dari Yesaya ketika diterapkan pada Yesus tidak berbeda. Jadi ketika kita melihat Lukas 4, Roh Allah itu hinggap, itu diambil dari Yesaya. Maka bisa juga dikenakan pada Yesus. Gambaran melekat, hinggap, itu diartikan Roh Kudus masuk ke dalamnya, menguasai pribadinya.

    Dalam Perjanjian Baru-pun, kalau manusia berdosa tentu Roh Kudusnya tidak bekerja. Jadi saya tidak bisa menerima pendapat bahwa Perjanjian Lama, Roh Kudus hanya dikulit, tetapi kalau sudah dalam Yesus sudah masuk ke sanubari. Sama. Ini hanya perbedaan, yang satu Roh Kudusnya belum 100 persen dicurahkan, tapi dalam Perjanjian Baru sudah pencurahan yang lebih total. Tetapi ini bukan soal baru dipermukaan, hanya hinggap, itu tidak.

    Tanggapan Moderator:

    Pada saat seorang Katolik yang sudah menerima Sakramen Inisiasi, berarti dalam dirinya sudah ada materai Roh Kudus, lalu apakah karena suatu dosa atau kelemahan materai itu bisa dicabut lagi?

    Jawaban Mgr:

    Tidak! Materai itu dalam bahasa Yunani ‘Karakteros’. Misalnya saya punya seekor sapi, saya beri cap ‘Pidyarto’ dikulitnya memakai besi panas, itu akan meninggalkan luka, dan saya tahu ini sapi milik saya karena sudah saya beri cap. Lalu sapi saya dicuri orang, capnya masih tetap ada di kulit itu. Tidak bisa hilang.

    Dalam dogmatik diajarkan, Sakramen Krisma, Sakramen Baptis, memberikan karakter/cap yang tidak mungkin hilang walaupun orang tersebut murtad. Tidak mungkin hilang. Hal ini sama dengan Imamat. Seorang Imam yang keluar dan menikah, tetaplah imam, tidak bisa hilang. Seandainya terjadi bahaya perang, misalnya ada seorang imam yang keluar dan menikah lalu hidup di kampung kemudian tiba-tiba terjadi perang, dan pengakuan dosa begitu dibutuhkan pada saat itu, sementara tidak ada imam lain. Pada saat itu, dia boleh melayani sakramen tobat. Tidak bisa dihilangkan, yang bisa hilang hanya daya-nya saja, tetapi materainya tetap ada.

    2.   Menarik mengenai sifat Allah Tuhan. Bagaimana mau menggambarkan sifat kasih atau kemurahan Tuhan dengan membandingkan cerita Bapa Uskup mengenai Bapak yang tadi sakit. Dua kali sakit, yang pertama istilah Bapa Uskup dihantam lagi, seakan Allah ini, Allah yang suka investasi. Kalau dia tidak invest orang ini, dia pukul lagi, mohon maaf agak sedikit nakal pertanyaannya. Yang kedua, pada waktu Yesus telah mati, lalu dia berada di antara Para Murid dan mengatakan dalam suasana tertutup, “Terimalah Roh Kudus.” Tetapi menurut pemikiran saya itu belum Pentakosta, tapi pada waktu diberikan “Terimalah Roh Kudus,” itu dayanya saat itu, atau pada waktu Pentakosta?

    Jawaban:

    Pertanyaan pertama. Ini gambaran Allah ini agak mengerikan ya, kok mau nyuruh orang pelayanan aja pake cara Allah hantam lagi pakai penyakit. Ya, kadang Allah terpaksa pake cara yang begitu pak, manusia itu terlalu ‘dablek’. Kadang harus pake hukuman, tidak bertentangan dengan Gambaran Allah yang pengasih. Sebab, kalau ini diterapkan dalam kehidupan manusia sama saja. Seorang ayah kedapatan menghukum anaknya, apakah kita bisa langsung mengambil kesimpulan, “Bapak ini jahat sekali.” Anaknya ditampar. Ya, belum tentu. Terkadang tamparan itu perlu. Orang mesir menggambarkan pendidikan itu dengan tongkat, karena ada hubungannya. Surat kepada orang-orang Ibrani mengatakan mana ada didikan yang tanpa dipukul. Perlu loh ‘pukulan’ itu. Tapi  jangan dipukuli terus. Babak belur itu juga tidak boleh. Kadang-kadang boleh, dianggap sebagai bagian dari pendidikan, dan itu dianggap sebagai ungkapan kasih, bukan sebagai ungkapan benci. Gambaran itu hanya gambaran kecil dari gambaran keseluruhan, maka harus dibaca juga dalam keseluruhan.

    Sekarang, apakah Yesus ketika mengatakan “Terimalah Roh Kudus”, itu belum? Roh Kudus itu baru saat Pentakosta? Nah, ini bila kita melihat Kitab Suci seperti sejarah. Wah Injil Yohanes di tempat ke-empat, langsung disusul dengan Kisah Para Rasul,  ketika dalam Kisah Para Rasul baru ada cerita Roh Kudus dicurahkan, berarti pada waktu Injil Yohanes belum. Nah ini yang harus dihapus cara berfikir seperti ini.

    Masing-masing penulis, mengungkapkan teologinya sendiri. Roh kudus tidak bisa dibatasi pada waktu Pentakosta. Roh itu Roh Pencipta.

    Sekarang saya lari ke Injil Lukas dulu. Roh Kudus sudah ada pada Maria, Roh Kudus sudah ada pada Simeon, Roh Kudus sudah ada pada Benediktus, dst. Mereka dipenuhi Roh lalu bernubuat. Tidak bisa pencurahan Roh Kudus itu (hanya) pada waktu Pentakosta. Pada waktu Pentakosta, pencurahan Roh Kudus secara khusus, itu dapat saya terima.

    Sesudah Pentakosta, dalam Kis 4 atau 5, ketika mereka mendengar bahwa Petrus dan Yohanes diselamatkan secara ajaib oleh Tuhan, mereka berdoa, penuhlah saat itu dengan kekuatan Roh Kudus, goncanglah tempat mereka berdoa, Roh Kudus turun lagi, tidak tahu Pentakosta ke berapa. Kita tidak bisa menganggap bahwa Pentakosta pada Kisah Para Rasul sebagai satu-satunya peristiwa turunnya Roh Kudus.

    Jadi, saya yakin, balik lagi ke Yohanes, sesudah Yesus bangkit, Yesus menghembuskan Roh Kudus. Dia menghembuskan. Roh Kudus itu nafas, Roh Allah, maka menghembuskan itu kaitannya dengan Roh Kudus. Ketika Yesus menghembuskan Roh Kudus, seakan-akan Para Rasul diciptakan kembali, mengingatkan kita pada Kisah Kejadian, ketika manusia dibentuk dari tanah, lalu Tuhan menghembuskan nafas kehidupan dari mulutnya, lalu tanah yang hina ini menjadi Adam yang mulia. Roh Allah dihembuskan, Roh Allah menciptakan, dari tanah menjadi manusia mulia.

    Sekarang ketika Yesus bangkit, Dia punya Roh Kudus yang membaharui Para Murid, seakan-akan para murid menjadi baru. Manusia baru. Manusia baru sangat erat kaitannya dengan pencurahan Roh Kudus, nah saat Yesus mencurahkan, itu bukanlah pura-pura, “Nih, simbol aja ya. Nanti kamu terima saat Pentakosta.” Tidak! Saat itu Roh Kudus sudah dihembuskan.

    Itulah sebabnya Injil Yohanes tidak berbicara lebih lanjut tentang Pentakosta, karena baginya, sesudah bangkitnya Yesus, lalu naik ke Surga, dan menghembuskan Roh Kudus, itu sudah selesai. Dalam Teologi Yohanes, itulah tugas Yesus. Pentakosta hanya momen khusus, momen dimana Gereja lahir, dimana Gereja diutus, dikuatkan oleh Roh Kudus.

    Roh Kudus sendiri sudah ada, bahkan di dalam diri orang yang Atheis, dalam diri orang yang melawan Tuhan. Mengapa Roh Kudus itu ada? Karena Roh Kudus itu pencipta, begitu Roh Kudus itu ditarik, lenyaplah dia. Ini adalah teologi yang resmi, bukan pendapat pribadi. Semoga cukup dimengerti.

    Tanggapan:

    Mgr, bagaimana bisa dibedakan bahwa peristiwa Pentakosta itu adalah unik, tidak diulangi lagi, bahwa Para Rasul hanya sekali saja di situ.

    Tanggapan Mgr:

    Ini unik, dalam arti satu kali, untuk lahirnya Gereja, untuk perutusan Para Rasul. Unik dalam arti itu, Tetapi Roh Kudus itu suatu Kuasa, tidak cukup diberikan sekali, lalu selesai. Roh Kudus terus menerus dikembalikan, dikuatkan lagi. Jadi orang perlu dikuatkan lagi dengan kehadiran Roh Kudus yang baru.

    Maka, Gereja selalu menyanyikan “Veni Creator Spiritus”, “Datanglah ya Roh Pencipta”. Loh, tetapi ‘kan sudah dapat Roh Kudus waktu dibaptis? Iya, sudah! Tetapi Roh Kudus datang bukan hanya sekali saja. Para Rasul, selalu dibimbing Roh Kudus, setelah Pentakosta, selalu ada pencurahan Roh Kudus. Jadi kata unik harus diartikan bahwa kejadian Pentakosta itu  unik sejauh hari itulah lahirnya Gereja, Para Rasul disadarkan, berani mewartakan, dsb. Hanya dalam arti itu.

    3. Dalam injil Matius 12:43-45, mengenai kembalinya roh jahat. Sebagai manusia kadang saya sering mendengar Pastor berbicara bahwa manusia sering mengaku dosa yang sama terus menerus. Bagaimana dengan ayat yang ada pada Injil Matius ini, mengenai kembalinya roh jahat. Terus terang ini sangat menghantui saya sebagai seorang manusia biasa yang tidak lepas dari melakukan dosa yang sama.

    Jawaban:

    Mengenai kembalinya roh jahat, kita jangan mengkaitkannya dengan dosa manusia. Kalau saya berdosa, saya melukai hati orang, saya mengaku dosa, ehh kemudian melukai lagi, dsb, jangan dikaitkan dengan ayat ini, karena ayat ini lebih berkenaan dengan kerasukan setan.

    Kerasukan setan tidak identik dengan kelemahan manusia, meskipun dosa itu juga akibat godaan setan, tetapi lain hal dengan kerasukan setan. Anda memiliki kelemahan, belum kuat melawan godaan setan, tetapi yang digambarkan dalam Injil tersebut adalah orang yang kerasukan setan, diusir, balik lagi. Tidak perlu mengusik hati anda. Tidak perlu dikaitkan dengan pengalaman tadi, kelemahan yang sama muncul lagi, lalu menjadi takut. Jangan takut, selama anda berusaha, jangan putus asa.

    Seminggu yang lalu saya memulai kotbah dengan ilustrasi ini. Seorang pemuda merasa putus asa karena dia berusaha mengatasi satu dosa, dan tidak berhasil sehingga menjadi putus asa. Saya katakan, jangan takut! Selama anda berusaha mengatasinya, percayalah kepada kerahiman Allah yang tidak pernah lelah mengampuni. Manusialah yang sering lelah meminta maaf. Allah tidak pernah lelah mengampuni selama manusia tidak pernah lelah menyesali dosa dan memohon ampun.

    Selama ini anda berusaha mengatasi kelemahan itu sendirian, sama seperti Petrus, dkk, “Semalam-malam kami bekerja keras dan tidak menangkap seekorpun”, tetapi ketika Yesus yang memerintah, ketika dia berusaha bersama dengan Yesus, hasilnya ikan sangat banyak. Maka, kepada pemuda yang putus asa karena selalu mengulang dosa yang sama, tolong, mulai sekarang berdoalah terus meminta kekuatan dari Tuhan. Jangan berusaha sendiri! Maka tidak perlu takut. Anak Tuhan tidak boleh takut. Anak Tuhan penuh suka cita, optimis, asalkan kita berusaha keras. Serahkan hasilnya kepada Tuhan.

    4. Saya teringat sewaktu Tuhan Yesus mengutus para murid untuk menyembuhkan penyakit, mengusir setan, mereka diberikan kuasa, tetapi tidak disebutkan namanya Roh Kudus. Jadi, kuasa apa yang diberikan pada saat Yesus mengutus Para Rasul? Apakah istilah Roh Kudus ini muncul setelah Tuhan Yesus menghembusi para murid dan menugaskan, “Baptislah semua orang dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus”, apakah istilah Roh Kudus setelah itu?

    Jawab:

    Roh Kudus memang tidak disebutkan saat perutusan para murid secara eksplisit, dalam Matius 10 misalnya. Jangan lupa bahwa Yesus sendiri sebelum mulai menjalankan tugasnya mendapatkan pencurahan Roh Kudus, dibimbing Roh Kudus, dipenuhi Roh Kudus. Yesus menjalankan perutusannya, meskipun tidak dikatakan langsung, Roh Kudus sudah ada pada Para Murid ketika menjalankan tugas dari Yesus. Sekali lagi, jangan menganggap Roh Kudus itu suatu barang yang diberikan pada waktu Pentakosta, sehingga sebelumnya tidak ada, jangan! Konsep itu harus dihapus.

    Saya yakin, seperti Yesus yang sudah berkarya karena dipenuhi Roh Kudus, tentu saja Yesus membagikan Roh Kudus seperti Musa membagikannya kepada 70 tua-tua, Yesus juga membagikannya kepada Para Murid. Sebab, tanpa Roh Kudus, bagaimana mereka menjalankan tugas ini? Nah, ketika Pentakosta ada pencurahan Roh Kudus secara khusus, secara unik, membuat mereka resmi menjadi Gereja. Jadi, itu saja cara berfikirnya yang mungkin lebih mudah bagi kita.

    5. Saya mengutip ada 1 Korintus 14:5, “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.” Bagaimana pengertian lebih berharga disini? Karena bahasa roh di sini harus bisa diterjemahkan. Jadi kalau cuma berkata-kata, belum bisa menerjemahkan, itu bagaimana pengertiannya? Karena ini membuat saya bingung.

    Jawab:

    Paulus hanya ingin mengatakan bahwa karunia yang diberikan Roh Kudus dan berguna bagi orang lain lebih patut diminta daripada karunia untuk diri sendiri. Hanya itu saja maksudnya.

    Kalau bahasa lidah, atau bahasa roh tanpa ada yang menafsirkan, itu tidak berguna bagi orang lain. Sedangkan kalau bernubuat pasti berguna karena bernubuat mengatakan tentang orang itu, Firman Tuhan yang bersifat membangun. Jadi masalahnya, lebih berguna mana? Bernubuat atau karunia mendapat bahasa roh? Dalam arti itu saja Paulus membedakan. Inginkan semua karunia tetapi yang terutama karunia yang bersifat membangun sesama, itu yang dikatakan lebih berharga. Jadi tidak perlu bingung, “Apa ini kata Paulus, kok bisa ada yang kurang berharga?” Diganti saja, lebih berguna atau kurang berguna bagi jemaat? Itu ukurannya untuk menilai.

    Ada sebuah iklan dimana ada sepasang sejoli, sang pria terpeleset dan hampir jatuh ke jurang, kemudian berpegangan pada dahan. Lalu ada “jin” keluar dari dalam teko, ingin mengabulkan satu permintaan. Pernah tonton iklan tersebut? Si pria pikir, wanita ini pasti memohon agar jin menolongnya, ternyata wanita ini minta agar dirinya menjadi lebih kurus. Nah, ini kan permintaan yang egois.

    Paulus mengharapkan karunia Roh Kudus, tetapi yang berguna untuk orang lain. Itu lebih mulia daripada meminta karunia yang berguna untuk diri sendiri. Jadi itu saja maksudnya. Tidak perlu ditarik kesimpulan lebih dalam sehingga menjadi membingungkan. Mohon melihatnya seperti itu. ***

    (Tim Medikom BPN PKKI)

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/