• ICCRS Leadership Training Course: Pembaruan Karismatik Katolik (Bag. 2)

    Bagian 2

    Sebelum tahun 1967, Roh Kudus juga sudah berkarya dengan cara-Nya sendiri. Roh Kudus sudah hadir sejak adanya waktu. Kitab Kejadian adalah kitab pertama dalam Kitab Suci. Dalam Kitab Kej 1:1-2, kita menemukan Roh Kudus. Roh Allah itu melayang-layang di atas permukaan air. Jadi sejak adanya waktu, Roh Kudus sudah terus menerus hadir di alam raya ini. Dan ada masa-masa tertentu di dalam sejarah, ada hal-hal baru yang dihadirkan, bisa dikatakan bahwa itu adalah saat-saat khusus.

    Gereja mula-mula yang kita baca di dalam Kisah Para Rasul, ialah satu Gereja yang bergerak di dalam aliran Roh Kudus. Selama abad sebelas, ada banyak lahir gerakan-gerakan misionaris dalam Gereja seperti Dominikan, Fransiskan dll. Saya tidak akan membahas semua point-point sejarah itu, tapi saya harap anda bisa melihat saat-saat dimana Roh Kudus itu mengalir dan bekerja. Ada waktu-waktu istimewa atau gerakan-gerakan istimewa dari Roh Kudus pada akhir abad 19 atau permulaan abad 20.

    "Ada waktu-waktu istimewa atau gerakan-gerakan istimewa dari Roh Kudus pada akhir abad 19 atau permulaan abad 20"

    Jadi bagi kita, ini adalah satu saat yang mendahului kelahiran. Sesuatu yang lahir  pasti dikandung terlebih dulu. Jadi pada akhir 19 permulaan abad 20 kita mulai melihat ada banyak hal baru yang terjadi bersama-sama, dan hal-hal yang  terjadi ini penting bagi kita untuk mengerti tentang sejarah.

    Ada seorang biarawati di sebuah kota di Itali. Helena, suster itu, mengabdi pada Roh Kudus. Hidupnya diabdikan pada Roh Kudus. Karena itu, suster ini juga mempunyai devosi yang sangat besar kepada Roh Kudus. Beliau menulis kepada Paus yang menjabat pada waktu itu, Paus Leo XIII. Ada satu seri surat tahun 1895 sampai 1903. Mungkin anda juga ingat akan Santa Chaterina yang sering menulis surat kepada Paus pada waktu. Ini terjadi sebelum ada komunikasi modern seperti saat ini. Jadi bisa bertahun-tahun karena surat yang ditulis itu akan sampai ke penerima membutuhkan waktu yang lama.

    Komunikasi ini yang memberi dorongan kepada Paus Leo XIII. Jadi dengan surat-surat suster ini, Paus mulai memerhatikan apa yang diminta oleh suster itu. Dan Paus juga memberi respon kepada permintaan suster ini. Paus Leo XIII meminta kepada Gereja untuk mengadakan Novena Roh Kudus diantara waktu kenaikan Yesus dan Pentakosta. Dua tahun kemudian pada tahun 1897, beliau menulis ensiklik tentang Roh Kudus. Jadi mulainya seperti itu.

    Novena ini adalah Novena Roh Kudus yang sama, yang kita doakan antara hari kenaikan Yesus dan Pentakosta. Paus Leo XIII memperkenalkan ini sebagai Novena abadi. Dan beliau mengatakan, ini yang tidak selalu kita ingat, intensi dari Novena itu adalah persatuan dari seluruh kekristenan. Itu adalah bahasa yang digunakan pada waktu itu. Sekarang dikatakan kesatuan dalam Tubuh Kristus.

    Jadi rahmat kelahiran dari Pembaruan Karismatik adalah rahmat ekumenisme. Karena Roh Kudus lah yang membawa persatuan. Jadi, sejak tahun 1895, sejak diperkenalkannya Novena itu, ada satu fokus perhatian yaitu berdoa untuk kesatuan. Jadi hal ini perlu dicatat sebagai point penting di dalam catatan kita.

    Jadi Paus Leo XIII sedang mengikuti gerakan Roh.  Anjuran atau himbauan beliau untuk berdoa bagi kesatuan dari seluruh kekristenan ini bersifat profetis. Pada saat itu Gereja tidak pernah terlintas tentang ekumene. Tetapi Paus Leo XIII mempunyai gagasan untuk berdoa bagi persatuan itu.

    Ketika memasuki abad baru, Januari 1901, sekali lagi biarawati ini mendorong Paus Leo XIII. Di Vatican di Gereja Santo Petrus itu beliau menyanyikan pujian Veni Creator, atas nama seluruh Gereja dan ia mempersembahkan abad ke-20 itu sebagai abad Roh Kudus. Apa yang dilakukan Paus Leo ini sangat penuh kuasa. Bukan sekedar simbolis saja tapi ada kuasa disitu kalau seorang Paus melakukannya.

    Hampir bersamaan waktunya,di Kansas, Amerika Serikat, ada seorang pria Kristen yang juga ikut dalam satu gerakan kekudusan. Jadi orang-orang ini juga sudah mulai merasakan satu gerakan Roh. Bersamaan waktunya pada waktu Paus Leo XIII ini mendedikasikan abad 20 sebagai abad Roh Kudus, di lain pihak dalam kelompok Kristen, Roh Kudus juga mulai mencurahkan diri dan bekerja di dalam diri individu-individu. Dimulailah satu gerakan Pentakosta.

    Tapi sebelum lahir pasti ada sesuatu yang dikandung. Jadi pada permulaan abad 20,1901 itu adalah masa kehamilannya. Karena dua hal ini terjadinya bersamaan waktunya, dan karena fokus perhatian Paus Leo XIII, ada banyak teolog yang mengatakan bahwa rahmat Pembaruan Karismatik adalah suatu rahmat ekumenis. Jadi kita bisa katakan bahwa Pembaruan Karismatik Katolik adalah bagian rahmat ekumenis. Dari Pembaruan Karismatik yang mengalir ke semua Gereja. Karena itu ada banyak kesamaan yang ada pada kita, dengan saudara-saudara lain di Gereja lain. Juga, dan satu hal yang bisa sama pada kita atau pada mereka adalah pengalaman kita tentang pencurahan Roh Kudus, saya tidak membicarakan tentang praktek Pastoral tapi permulaan-permulaan yang kita alami.

    Roh Kudus sudah mengalir sejak pada waktu pertama-pertama, dan Roh Kudus itu mengalir di semua bagian dunia ini dan di semua Gereja, dan kita mengambil bagian pada rahmat yang dicurahkan kepada semua Gereja ini. Jadi saya bisa saja membahas tentang sejarah bagaimana Roh itu dicurahkan di Gereja Pentakostal atau aliran-aliran Gereja lain. Bagaimana Roh Kudus juga tercurah kepada mereka. Misalnya di Gereja Anglikan atau Lutheran, atau Methodist atau Gereja Baptis. Mereka semua punya sejarah mereka sendiri, seperti kita juga.  Jadi kita mempunyai sejarah kita sendiri.

    Sekarang kita akan masuk ke dalam suatu terobosan Roh Kudus yang paling penting dalam Gereja kita, yaitu Konsili Vatikan II. Paus yang membukanya tahun 1959 adalah Paus Yohanes XXIII. Ketika diangkat menjadi Paus, Paus Yohanes XXIII ini tidak diunggulkan. Jadi waktu itu mereka tidak yakin siapa yang  harus dipilih, akhirnya mereka memilih ‘orang tua’ ini yang dianggap cukup aman.

    Dia diangkat tahun 1958, dan tahun 1959 dia melontarkan ide untuk menyelenggarakan Konsili Vatikan II. Saya baca di salah satu buku sejarah, bahwa ketika Paus Yohanes XXIII ini menyajikan idenya ini dihadapan Kuria, idenya ini disambut dengan biasa-biasa saja. Mereka tidak terlalu antusias mendengarnya.

    Saya seringkali berfikir tentang hal-hal di dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Mereka juga begitu kalau mendengar tentang PKK, mereka tertarik tapi tidak antusias.

    Tapi ternyata Paus Yohanes XXIII yang tidak diunggulkan ini, sesungguhnya penuh inisiatif. Paus ini membawa kita ke dalam suatu masa penuh perenungan dalam Konsili Vatikan II. Dan saat Paus mulai mengajak seluruh Gereja untuk mendoakan Konsili Vatikan II, dia jelas sangat diurapi Roh Kudus. Dia mengajak seluruh Gereja untuk mendoakan dan merenungkan Kisah Para Rasul. Saat itu orang awam masih belum boleh memegang Alkitab.

    Dan ini yang dikatakan Paus, “Baca ulang, dan doakan terus-menerus kisah hidup Para Rasul dalam Kisah Para Rasul ini.”

    Maka dia mengajak seluruh Gereja untuk mendoakan doa yang biasa kita doakan dalam Novena Pentakosta: “Tuhan, perbaharui keajaiban-keajaiban-Mu seperti yang terjadi di dalam Pentakosta.” Mungkin versinya ada yang berbeda, “Perbarui keajaiban-keajaiban-Mu yang turun lewat Pentakosta baru.” Jadi sepanjang tahun 1959 sampai 1960 seluruh Gereja mendoakan doa itu.

    Anda lihat kehamilannya mulai besar. Jadi, pada tahun 1967, saat para mahasiswa (Duquesne) itu mengadakan retret, ini bukan sesuatu yang  tiba-tiba muncul. Tapi ini adalah suatu momentum Roh Kudus yang sudah dibangun sejak lama. Ini adalah bagian dari suatu gambaran yang lebih besar. Jadi saya selalu katakan kepada orang-orang, “Kita memang memakai peristiwa Duquesne ini sebagai awal mula karena kita memang perlu suatu tonggak awal mula.” Karena memang sejak saat itu rahmat Pembaruan Karismatik ini mulai menyebar ke seluruh dunia.

    "Jadi, pada tahun 1967, saat para mahasiswa (Duquesne) itu mengadakan retret, ini bukan sesuatu yang  tiba-tiba muncul. Tapi ini adalah suatu momentum Roh Kudus yang sudah dibangun sejak lama. Ini adalah bagian dari suatu gambaran yang lebih besar"

    Secara pribadi saya rasa salah kalau kita bilang bahwa PKK lahir dari retret di Duquesne itu. Bahkan retret Duquesne itu hanyalah salah satu dari serangkaian hal-hal yang terjadi dalam masa itu di Amerika Serikat.

    Saat ini masih ada dua orang yang juga turut serta dalam retret Duquesne itu yang masih memimpin kita dalam Pembaruan Karismatik. Mungkin anda pernah dengar nama Patty Mansfield dan seorang lagi adalah David. David sepanjang hidupnya tinggal di Amerika dan dia menjadi anggota dari salah satu Komunitas Perjanjian. Ada banyak orang yang ikut dalam retret Duquesne itu, tapi mereka tidak bertumbuh dalam hidup dalam Roh Kudus. Bahkan ada orang-orang yang ikut serta dalam retret Duquesne yang malah hidupnya sekarang sangat jauh dari Tuhan.

    Kenapa saya ceritakan ini? Karena yang terpenting adalah kita menanggapi Roh Kudus, dan bahwa kita terus-menerus menanggapi Roh Kudus. Tidak cukup kalau kita hanya bilang, “Saya datang loh ke acara persekutuan dimana Roh Kudus tercurah dengan sangat luar biasa.” Karena Tuhan akan bertanya, “Kalau begitu apa yang anda lakukan setelah pengalaman itu?”

    Ketika saya berbicara dengan  Patty Mansfield tentang mahasiwa-mahasiswa itu, itu mengingatkan saya bahwa kita harus terus-menerus waspada. Tidak ada seorangpun dari kita yang dijamin akan terus hidup di dalam Roh, kecuali kita secara terus-menerus mengatakan “Ya” pada Tuhan.

    Jadi, selain peristiwa Duquesne ada juga beberapa hal lain yang terjadi. Ralph Martin juga mulai mengalami Roh Kudus melalui gerakan yang namanya Corsier. Dan di Southbank Amerika Serikat Roh Kudus juga tercurah atas para mahasiswa. Jadi saya ingin katakan bahwa pencurahan Roh Kudus ini bukan sesuatu yang hanya terjadi sekali saja di suatu tempat. Tapi mungkin kesamaan nya adalah bahwa sebagian besar pengalaman ini ada di Amerika Serikat dan kebanyakan terjadi pada orang-orang awam.

    Lalu saya juga merenungkan kenapa terjadinya di Amerika Serikat, kenapa tidak di Roma? Atau Bali? Kenapa di Amerika? Jawabannya, saya tidak tahu. Tapi yang saya tahu orang Amerika  senang mengekspor. Anda harus ingat juga tahun 1967 belum era globalisasi seperti sekarang.

    Sekarang kalau ada sesuatu terjadi di Amerika kita bisa langsung lihat di internet. Tahun 1967 ketika sesuatu terjadi, kita tidak segera tahu kabarnya. Mengingat keadaan teknologi saat itu, sangat luar biasa bahwa Rahmat Tuhan ini bisa menyebar ke seluruh dunia. Dengan sangat cepat api Roh Kudus ini menyebar ke Australia. Entah bagaimana dengan suatu cara, dengan rahmat Roh Kudus, seorang dari Australia datang ke Amerika dan membawa pulang api Roh Kudus itu. Api dari Australia bisa dengan mudah sampai di Indonesia.

    Dan juga luar biasa, api menyebar ke negara-negara seperti Taiwan. Saya pergi ke Taiwan tahun lalu, dan mereka ceritakan bahwa awal dari gerakan PKK di Taiwan tahun 1970. Karena ada seorang misionaris Amerika Serikat datang ke Taiwan. Hanya tiga tahun sejak hal besar ini terjadi di Amerika, langsung  sampai di Taiwan. Tempat kecil seperti Taiwan juga bisa mengalami karunia Allah.

    Sangat luar biasa kalau melihat bagaimana api itu bisa menyebar dengan cepat. Secara manusiawi tidak mungkin penyebaran itu bisa kita organisir. Tapi kita lihat spontanitas Roh Kudus. Roh bisa pergi kemanapun dia mau. Maka rahmat Pembaruan Karismatik Katolik ini mulai menyebar ke seluruh dunia.

    Penutup oleh James Murphy

    Kita sudah mendengar cerita yang luar biasa mengenai bagaimana gerakan ini tersebar ke seluruh dunia. Itulah karya Tuhan. Saya pernah mendengar suatu cerita, ada seorang pebisnis dari belahan dunia yang lain yang mempunyai satu urusan di Amerika. Karena ada kerusakan pesawat, dia harus tinggal satu malam lebih lama di Amerika. Dia tinggal di suatu hotel. Seorang porter di hotel itu menginjili dia dan mengajak dia ikut ke persekutuan doa. Dia mengalami pembaruan karismatik, lalu membawa pengalaman ini ke negaranya.

    Ada dua orang mahasiswa medis dari Tiongkok. Mereka bukan beragama Katolik dan bukan beragama Kristen. Mereka melihat teman-teman mereka yang lain berjalan menuju ke suatu gedung. Kedua mahasiswa yang bukan Kristen ini, ikut masuk. Mereka ingin tahu ada apa. Mereka melihat orang-orang menyanyi dan menari walaupun mereka tidak mengerti. Seorang gadis Amerika berumur 19 atau 20 tahun, ketika semua orang sedang memuji menyembah Tuhan, gadis Amerika muda ini mulai berbicara dalam bahasa lidah.

    Saat itu semua orang juga sedang menyanyi berbahasa roh, jadi tidak ada yang memperhatikan wanita ini. Tapi kedua mahasiswa Tiongkok ini mendengar bahwa gadis Amerika ini mewartakan tentang Yesus Kristus dalam dialog bahasa mereka di Tiongkok. Orang lain tidak tahu, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan gadis berbahasa Roh ini. Tapi kedua mahasiswa ini mendengar pesan Yesus dan hidup mereka berubah.

    Jadi seperti kata Michelle, bahwa penyebaran gerakan PKK ini ke seluruh dunia ke tempat yang begitu luas dalam waktu yang begitu singkat pasti adalah karya Roh Kudus. ***

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/