• ICCRS Leadership Training Course: Kepemimpinan

    Bahaya Dan Jebakan Yang Dapat Dialami Oleh Seorang Pemimpin

    Oleh: Jim Murphy

    Dalam Kitab-kitab Kebijaksanaan, seringkali kita berpikir bahwa seorang pemimpin yang baik adalah suatu berkat dari Tuhan, atau suatu kepemimpinan yang baik akan membawa umat kedalam suatu pertumbuhan yang berkembang. Begitu juga sebaliknya, jika kepemimpinannya buruk, maka seluruh umat akan menderita.

    Saya percaya bahwa Tuhan sudah membangkitkan pemimpin sebagai wujud kebaikan hati-Nya kepada kita. Tuhanlah yang menyelamatkan Israel tapi Tuhan melakukannya melalui Musa, Harun, Yoshua. Tuhanlah yang terus menerus memanggil umat-Nya untuk kembali kepada-Nya melalui Yesaya, Yehezkiel, atau para Nabi yang lain. Tuhan memberikan tanah suatu neg’ri kepada umat-Nya dan ingin mereka semua makmur dan Ia melakukannya melalui Raja-raja seperti Daud dan Hizkia. Jadi keberadaan umat manusia itu bisa ‘berfungsi’ jika ada pemimpin.

    Menjadi seorang pemimpin bukanlah seperti sebuah kehormatan, prestise, atau gelar, tetapi merupakan sebuah tanggung jawab yang sebetulnya sangat menggentarkan. Pada saat nanti kita menghadap Tuhan, kita harus mempertanggungjawabkan kepemimpinan kita itu. Dengan kata lain, jiwa-jiwa itu pertaruhkan dengan bagaimana kita memimpin mereka. Kepada mereka yang diberikan lebih banyak tanggung jawab, akan semakin banyak dituntut juga.

    "Menjadi seorang pemimpin bukanlah seperti sebuah kehormatan, prestise, atau gelar, tetapi merupakan sebuah tanggung jawab yang sebetulnya sangat menggentarkan"

    Banyak pemimpin yang melakukan banyak hal besar tapi ternyata hidupnya sendiri keluar jalur. Seperti yang pernah disharingkan oleh Michelle Moran. Semua staff dan mahasiswa yang ada di retret pada tahun 1967 (The Duquesne Weekend) hanya sedikit yang terus menerus berjalan di dalam Roh, bahkan ada yang benar-benar jauh dari Tuhan dan terlibat dengan dunia. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Padahal pada waktu itu mereka semua sangat terbekati oleh Roh, mereka bernubuat dan berbicara dalam bahasa Roh.

    Beberapa tahun yang lalu saya berdoa bersama dengan sebuah kelompok pemimpin. Saya menerima sebuah vision dan sampai saat ini pun hal itu masih membuat saya takut. Saya akan menceritakan vision yang saya terima tersebut.

    Coba bayangkan, ada sebuah ladang atau tanah yang indah pemandangannya. Ada bunga-bunga yang sangat cantik dan ada juga domba-domba di sana. Ada domba yang makan rumput, ada yang cuma duduk dan istirahat, ada juga yang malahan sedang tidur. Suatu pemandangan yang indah dan tentram. Semua domba-domba bahagia.

    Di sekeliling tanah itu juga terdapat sebuah hutan yang gelap gulita. Tiba-tiba, terdengar suara tangisan menjerit-jerit dari dalam hutan. Suara itu terdengar seperti jeritan dari neraka. Saat itu, munculah suatu penampakan yang mengerikan dari dalam hutan. Sosok makhluk; ada yang seperti singa, ada yang seperti harimau, dengan gigi dan taring yang tajam. Tidak lama kemudian makhluk mengerikan ini keluar dari hutan, berdiri di pinggir tanah yang damai itu dan mereka mulai menyerang domba-domba itu. Serangan itu sangat menakutkan hingga terjadi pertumpahan darah. Pembunuhan itu dilakukan bukan karena mereka ingin makan tetapi karena mereka bernafsu melihat darah. Vision berhenti disitu.

    Vision yang kedua adalah suatu pemandangan yang sama seperti tadi, sangat tentram. Pada vision yang kedua ini, ada sebuah pagar yang melindungi domba-domba tersebut. Tinggi pagar itu sekitar dua sampai tiga meter seperti kawat berduri tetapi tidak ada tiang panjang yang mengelilingi. Untuk yang kedua kalinya, makhluk yang mengerikan itu keluar dari hutan yang gelap gulita, berlari ke arah domba-domba itu dan menerjang pagar itu. Pagar itu ambruk hingga makhluk mengerikan itu dapat menerobos masuk. Pembunuhan terjadi sangat parah.

    Vision ketiga, dengan setting yang masih sama; pemandangan indah dengan domba-domba. Disana juga terdapat pagar yang mengelilingi tempat itu, namun pagar itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Pagar itu melekat pada tiang-tiang dari kayu yang cukup besar. Tiang-tiang pagar berdiri teratur dengan sangat rapih. Sekali lagi, keluarlah makhluk ini dari dalam hutan dengan segala jeritannya dan berlari ke arah para domba. Makhluk itu menerjang pagar, tetapi kali ini pagar itu masih berdiri kokoh.

    Makhluk jahat ini bingung, mengapa ia tidak dapat merobohkan pagar itu? Perlahan-lahan dia mulai menyadari yang menjadi halangan mereka bukan hanya pagar tetapi ada tiang-tiang yang justru memperkuat pagar itu. Makhluk itu kemudian berkumpul disekitar tiang-tiang itu, dengan cakar dan taringnya yang tajam mereka mulai mencabik-cabik tiang itu. Beberapa dari tiang itu mulai hancur, tetapi masih ada tiang-tiang lain yang cukup kuat untuk menyangga pagar tadi, karena tiang itu saling berhubungan dengan pagar-pagar dan masih berdiri kokoh, maka domba-domba tadi selamat.

    Saudara-saudara yang terkasih, anda semua para Leaders adalah tiang-tiang itu. Kita bukan segala-galanya tapi kita adalah bagian dari perlindungan yang diberikan dan itu merupakan bagian yang sangat penting. Kita menjadi sasaran yang ingin dirubuhkan oleh musuh.

    Jika seekor serigala membunuh seekor domba maka yang dijadikan korban dan didapat oleh serigala itu hanyalah satu ekor domba. Tetapi jika serigala itu membunuh gembalanya, maka dia mendapatkan semua dombanya. Jadi, seumpama anda adalah seekor serigala, mana yang akan anda bunuh? Domba atau Gembalanya? Gembala merupakan target yang lebih penting daripada dombanya. Hal ini adalah sesuatu yang sangat serius.

    Jika, anda menganggap bahwa kepemimpinan itu sesuatu yang main-main belaka, hanya sebuah peran, atau yang senang-senang saja, maka anda akan berada dalam masalah. Meskipun anda tidak menganggap kepemimpinan anda itu serius tapi musuh, ‘serigala’ itu, menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat serius.

    Kadang-kadang kita berkata, “Aku ini bukan apa-apa, aku ini tidak penting”, namun iblis tidak punya pandangan yang sama dan Tuhan juga tidak punya pendapat yang sama. Kita sedang tidak main-main, Tuhan menjadikan anda pemimpin bukan hanya untuk memberi tanda mata, tetapi juga memanggil anda untuk bekerja bagi umat-Nya. Ini bukan tentang anda sendiri, tapi tentang melayani Allah dan melayani umat-Nya. Allah benar-benar tertarik dengan pelayanan anda. Allah ingin menganggap hal itu merupakan sesuatu yang sangat serius, iblis pun juga menganggapnya serius, lalu kenapa anda tidak demikian?

    "Tuhan menjadikan anda pemimpin bukan hanya untuk memberi tanda mata, tetapi juga memanggil anda untuk bekerja bagi umat-Nya. Ini bukan tentang anda sendiri, tapi tentang melayani Allah dan melayani umat-Nya"

    Kegiatan Roh Jahat

    Dalam Injil Matius, dikatakan bahwa Yesus berpuasa 40 hari lamanya. Ia digoda iblis sebanyak 3 kali dan 3 kali juga Yesus menangkis serangan iblis tersebut. Apa yang dikatakan Injil setelah itu? Apakah setelah itu, iblis menyerah lalu kembali neraka? Tidak demikian. Dikatakan dalam Injil, iblis meninggalkan Dia, menunggu saatnya untuk kembali lagi. Mungkin kita berpikir jika Yesus sudah dicobai iblis sebanyak 3 kali artinya sudah selesai lalu iblis tidak akan kembali lagi. Namun sebetulnya Yesus terus menerus digoda karena iblis tidak pernah menyerah. Iblis begitu liciknya, dia tau persis bagaimana bisa melukai kita. Kadang-kadang iblis datang dan mencoba menggoda anda. Jika anda menyerah, maka dia menang. Lalu, kadang-kadang iblis akan mundur dari anda dan anda berkata “Ohh... aku sudah mengalahkan iblis itu”, saat itu anda dipenuhi oleh kesombongan dan dia yang mempunyai kewenangan.

    Anda tahu bagaimana bermain catur dengan komputer? Setiap kali anda melakukan gerakan, komputer itu akan mencatat gerakan yang anda lakukan ke dalam memorinya. Bila kemudian anda bermain lagi, komputer itu bisa mencari celah karena dia sudah tahu, jalan mana yang akan anda ambil. Jadi, komputer itu yang menyesuaikan diri dengan anda. Begitu juga dengan dosa kita.

    Salah satu bahaya yang paling besar di dunia saat ini adalah semakin banyaknya virus yang tersebar. Virus ini bisa mengubah dirinya kemudian menyesuaikan diri untuk menghadapi antibiotik yang kita pakai. Semakin lama, kita akan kehabisan antibiotik karena virus itu terus-menerus mengubah diri. Hal itu jugalah yang dilakukan oleh musuh.

    Para Bapa Padang Gurun juga sering berkata agar kita jangan langsung terlibat dalam permainan iblis, tetapi berserulah dalam nama Tuhan. Biarkan Tuhan yang bangkit dan musuhlah yang terserang. Barang siapa yang memanggil nama Tuhan maka dia akan diselamatkan, serahkanlah kekhawatiran anda ke dalam tangan Tuhan karena dia sangat memperhatikan anda.

    Kepada seorang pemimpin, iblis akan selalu berbisik di telinga anda, ia disebut sebagai “penuduh”. Ada dua teknik yang menjadi favoritnya untuk menyerang seorang pemimpin. Salah satu tekniknya adalah mengatakan kepada anda, “Wah kamu itu hebat dan luar biasa. Banyak orang yang telah diberkati oleh pelayananmu. Betapa hebatnya pekerjaan yang engkau lakukan untuk Kerajaan Allah! Selama 12 tahun kamu tidak pernah absen sekalipun dalam persekutuan doa. Sungguh luar biasa! Kamu begitu suci dan kamu benar-benar takkan tergantikan.” Itu adalah salah satu godaannya. Kita digoda oleh kesombongan, kita mulai merasa puas diri, lalu mulailah masalah itu datang. Kemudian yang berikutnya, apa yang iblis bisikan ke telinga anda akan berubah 180 derajat. Iblis akan berkata kepada anda, “Kamu itu pecundang, kamu itu munafik, kalau ada orang lain yang tahu apa yang kamu lakukan, kamu pasti tidak dipakai disini. Apa kamu ingat bagaimana kamu memperlakukan orang lain 5 tahun yang lalu? Apa kamu ingat, 12 tahun lalu ketika orang itu datang kesini? Kamu bahkan tidak menyapa dia!” Hal itu akan terus-menerus dibisikkan ke telinga kita, lalu kita mulai tergoda untuk jatuh.

    Ketika saya mulai memasuki dunia pelayanan, ayah saya memberikan suatu nasihat kepada saya, katanya, “Kalau kamu melakukan sebuah program dan hasilnya sangat sukses, jangan terlalu semangat. Dan kalau kamu menyelenggarakan sebuah acara lagi namun tidak berhasil sama sekali, jangan berkecil hati. Jangan biarkan hatimu ada pada hasilmu. Arahkan hubungan hatimu hanya kepada Yesus Kristus saja”. Saya tidak tahu betapa seringnya kita melupakan hal ini. Iblis dapat membawa kita dalam kesombongan kita atau membawa kita jatuh di lubang yang dalam, dan kedua-duanya jelas mematikan.

    "Jangan biarkan hatimu ada pada hasilmu. Arahkan hubungan hatimu hanya kepada Yesus Kristus saja"

    Salah satu hal yang menarik tentang iblis ini, dia pintar sekali menangani sifat manusia. Saya tidak menyalahkan iblis tentang semua masalah saya, itu adalah hal yang ‘bodoh’. Sebagai manusia, saya juga memiliki banyak kesalahan. Kalau saya mendengar para pemimpin berkata bahwa mereka selalu dibimbing oleh Roh, mereka sudah mengalahkan semua dosa dan godaan dan mereka selalu hidup dalam urapan Roh, saya tidak percaya. Karena bagi saya mereka tidak bisa dipercaya. Jawabannya hanya dua, antara mereka berbohong atau mereka terkecoh dengan pemikiran mereka sendiri.

    Keterpecahan Manusia

    Santo Paulus dalam 1 Korintus 4:7 berkata, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”

    Begitu banyak pemimpin yang bermasalah karena mereka tidak mau mengakui kemanusiaan mereka sendiri. Mereka berpikir kalau mereka adalah superman, “Tidak ada yang bisa mengahalangiku, karena aku ini hamba Tuhan.” Namun hal itu adalah kesombongan. Seandainya tidak ada iblis sekalipun, sifat manusia itu sendiri yang dapat membuat kita melenceng.

    Landasannya pada sebuah pelayanan, ada hal-hal yang membuat seseorang terjebak; masalah seksualitas, uang, kekuasaan, dan masih banyak yang lainnya. Tidak ada seorangpun yang bisa luput dari godaan-godaan ini. Saya sering bertemu dengan pemimpin-pemimpin yang melayani Allah dan mempunyai pelayanan yang sangat hebat. Tetapi ada juga dari mereka yang telibat dalam sebuah masalah serius. Seperti yang dikatakan oleh Bruder James bahwa karisma tidak membuat anda kudus, meskipun anda bisa membangkitkan orang mati atau bernubuat, semua itu tidak sama artinya dengan taat. Jadi jangan mudah terkesan dengan orang-orang yang bisa menunjukan kuasa seperti itu, atau bahkan jika anda sendiri yang memiliki kuasa seperti itu.

    Saya pernah mendengar seperti ini, “Orang Kristen tidak sempurna, mereka hanya sudah diampuni”. Rasanya kita seperti menggunakan topeng jika kita itu super. Kita dapat berbuat dosa dan kesalahan dan kita harus terus-menerus tumbuh dalam kekudusan, tapi kita tidak dapat berpura-pura kalau kita telah terbebas dari perbuatan salah.

    Pada saat ini, saya tidak berbicara tentang dosa, saya berbicara tentang keterpecahan manusia. Misalnya begini, saya mengenal seseorang yang dibesarkan dalam masa yang sulit. Ketika mereka tumbuh besar, mereka disingkirkan dan tidak dianggap oleh orang lain. Saat itu mereka menjadi takut untuk disingkirkan. Orang-orang seperti itu, ketika menjadi pemimpin dalam suatu persekutuan doa akan sangat sulit membiarkan orang lain melangkah lebih maju selain diri mereka sendiri. Saat mereka maju sebagai pemimpin, untuk pertama kalinya orang lain akan mendengarkan mereka. Hal yang mereka rindukan untuk dapat diperhatikan oleh semua orang, seolah-seolah mereka sedang berusaha mendapatkan oksigen. Secara pribadi, saya tidak menyebut itu sebagai dosa, tapi saya menyebutkannya, melakukan pelayanan dari keterpecahan, daripada melayani dengan cara yang sehat. Artinya, ketika mereka melayani, mereka melayani dari keterpecahan dan ketidakutuhan mereka sendiri. Semua diarahkan terhadap diri mereka sendiri.

    Kisah lain, ada seseorang yang tumbuh besar dalam keluarga yang memiliki kecanduan terhadap alcohol. Hidupnya sangat sulit sehingga ia tumbuh dalam kekhawatiran, bahwa segala sesuatunya harus ada di dalam kendalinya. Saat ia berada dalam persekutuan doa, ia memiliki hal-hal yang sangat terperinci mengenai jalannya acara; menit demi menit akan ia jalankan persis seperti apa yang sudah dijadwalkannya. Ia ingin segala sesuatunya berjalan aman dalam kendalinya. Tidak enak sekali hidup sekaku itu yang cenderung membatasi gerak Roh. Ia tidak berdosa, namun keterpecahannya itu mempengaruhi banyak orang.

    Seandainya semua orang yang tidak utuh dan terpecahkan seperti itu melayani dalam suatu persekutuan doa, saya yakin tidak ada orang yang ingin dilayani. Saya tidak mengatakan bahwa orang-orang dengan keterpecahan itu tidak boleh melayani, tapi yang ingin saya katakan adalah anda harus mengenali diri anda masing-masing. Bagian mana dari diri anda yang tidak utuh, dan berusahalah untuk mencari bantuan untuk diri anda sendiri. Milikilah seorang teman yang benar-benar bisa mengatakan kepada anda dengan jujur bilamana anda bertindak berdasarkan ketidakutuhan anda sendiri.

    Keterikatan Akan Duniawi

    Kadang-kadang memang sulit membedakan, apakah kita sedang membangun Kerajaan Allah atau sedang membangun kerajaan kita sendiri? Terkadang kita memang tertarik dengan kekuasaan, kita tertarik pada hal-hal yang menarik, dan itu adalah kenyataan yang memang harus kita sadari. Saya pernah bertemu dengan seorang kepala pemimpin dan ia berkata, “Saya akan membawa keahlian-keahlian ini kepada dunia, karena dunia itu jauh lebih menarik”. Saya sendiri sudah bertemu dengan pemimpin-pemimpin yang tidak mau lagi melayani Tuhan karena sudah terlalu bahagia dengan kehidupan duniawi.

    “Kita tidak perlu berdoa berlama-lama, kita tidak perlu khawatir kita berdosa, kita tidak perlu bermanis-manis muka dengan orang yang tidak kita sukai”, itulah yang sering dikatakan iblis kepada kita. “Hidupmu penuh dengan pengorbanan, sulit sekali. Kamu juga tidak terlalu baik hidup disini, kamu sudah berusaha dengan sekuat tenaga, coba kita cicipi yang disana itu, semua ini sudah diberikan kepadaku dan kalau kamu mau berlutut dan menyembah aku, maka aku akan memberikannya kepadamu.” Godaan seperti itu juga yang dihadapi oleh Yesus dan hal seperti itu menjadi issue serius yang kita hadapi.

    Masalah Besar: Keinginan tanpa Discerment

    Masalah lain yang yang sering dihadapi seorang pemimpin adalah mereka sering memiliki keinginan yang baik namun tidak diimbangi dengan discernment yang baik. Iblis tidak memiliki aturan main, kadang-kadang iblis menghancurkan pemimpin bukan dengan cara menyuruh si pemimpin memilih dosa atau menariknya dari pelayanan. Melainkan sebaliknya, menarik si pemimpin untuk melayani lebih banyak lagi, dengan berkata, “Mereka sangat membutuhkan kamu.” Pemimpin akan semakin ditarik, dan terus ditarik untuk terus melayani. Kalau kita tidak memiliki discernment yang baik, hal tersebut justru akan menjadi suatu masalah karena pekerjaan yang kita lakukan terlalu banyak. Jika iblis tidak dapat membuat anda menginjak rem, maka pedal-lah yang harus di injak. Tanpa discernment, orang akan masuk dalam masalah dan secara jasmani mereka akan kelelahan. Jadi kita harus benar-benar melakukan discerment agar lebih peka dan tahu yang dikehendaki Tuhan kepada kita.

    "Pemimpin akan semakin ditarik, dan terus ditarik untuk terus melayani. Kalau kita tidak memiliki discernment yang baik, hal tersebut justru akan menjadi suatu masalah karena pekerjaan yang kita lakukan terlalu banyak"

    Kita hanyalah sebuah tiang, bukan seluruh pagar. Ketika Tuhan sudah menanamkan tiang itu, Tuhan sudah meletakan anda di sana. Jika setiap orang mau setia melakukan apa yang dikatakan Tuhan kepadanya, maka semua akan menjadi ‘beres’.

    Hal-hal Kecil yang Bisa Melukai Hati

    Saya dulu adalah seorang penyelam. Saya pernah melihat sebuah kapal karam. Kapal yang sudah karam tidak dirangkai lagi untuk dipakai kembali, tapi ditinggalkan begitu saja. Setiap kisah memang tidak selalu berakhir dengan baik. Ada dua hal yang harus anda perhatikan: hal yang pertama adalah sikap. Bagaimana sikap hati kita?

    Berhati-hatilah atas apa yang ada di dalam hatimu, apakah itu kesombongan, ketamakan, atau ketidakjujuran. Hal-hal yang timbul untuk yang pertama kalinya masih dapat kita atasi. Namun secara tidak sadar, terkadang kita sendiri yang membuat perasaan-perasaan itu menetap dan menguat di dalam hati kita.

    Misalnya saja seperti ini, ketika saya masih kecil, Ibu saya selalu berpesan kepada saya sebelum saya pergi berlibur, katanya, “Sebelum kamu pergi, ambilah waktu untuk pergi ke belakang rumah dan cabut semua rumput.” Saya pergi ke belakang rumah dan mencabuti rumput itu, tetapi ada rumput pendek yang tidak langsung saya cabut. Saya berencana mencabutnya ketika saya kembali. Setelah kembali dari liburan, rumput-rumput pendek tersebut sudah menjadi pohon yang akarnya mencengkram tanah. Pohon itu tidak dapat saya cabut hanya dengan tangan. Perhatikanlah hati anda, sikap atau ilalang macam apakah yang ada di dalam hati anda?

    Yang kedua adalah actions and non actions (tindakan atau tidak adanya suatu tindakan). Saya akan menceritakan sebuah kisah, beberapa tahun yang lalu di Negara saya, ada seorang penginjil yang sangat terkenal. Pelayanannya benar-benar penuh kuasa, sangat diurapi, dan banyak mujizat terjadi. Bukan hanya itu, ia juga menjangkau banyak orang-orang miskin dan membuka rumah singgah bagi para remaja yang hamil diluar nikah agar tidak menggugurkan kandungan mereka. Dia melakukan banyak hal baik.

    Tetapi pada suatu hari, ia ditangkap oleh polisi dan wajahnya muncul di koran. Kami semua terkejut dan bertanya-tanya, apa yang terjadi? Ternyata dia terjerat skandal seks dan masalah penggelapan uang. Kemudian, ia dijebloskan ke dalam penjara. Seseorang yang dapat berkata-kata dalam bahasa roh ini, yang dipakai Tuhan dengan luar biasa, dan yang selalu memberi makan orang miskin ini masuk penjara.

    Bertahun-tahun kemudian, ia keluar dari penjara, bertobat dan merendahkan dirinya dihadapan Allah. Dia aktif kembali dalam pelayanan walaupun pelayanannya tidak seperti dulu.

    Pada suatu hari, teman saya bertemu dengannya dalam suatu kegiatan, mereka duduk bersama. Kemudian teman saya bertanya kepadanya, “Apa yang terjadi?”

    Coba perhatikan baik-baik apa yang dikatakan oleh orang ini, “Saya tidak pernah bangun pada satu pagi dan berkata bahwa ini adalah hari yang baik untuk menghancurkan pelayanan saya. Tidak, saya tidak pernah merencanakannya. Saya tidak pernah menyangka kalau hal itu akan terjadi. Tapi, hal itu terjadi. Saya memiliki begitu banyak pekerjaan dalam pelayanan dan saya juga sangat kewalahan dengan keuangan pelayanan saya. Saya begitu sibuk, saya mulai memotong jam doa saya. Saya piker, saya tidak perlu berdoa karena ketika saya dalam pelayanan, saya juga akan berdoa. Saya berfikir, Tuhan pasti mengerti. Saya juga tidak perlu membaca Kitab Suci sepagi ini, karena ketika saya berada dalam pelayanan, saya juga akan membaca Kitab Suci.”

    Orang tersebut, sedikit demi sedikit mengurangi waktu yang biasa dia pakai untuk menjalin hubungan dengan Allah. Dengan maksud agar waktu itu bisa dipakai untuk dia mengatasi semua pekerjaan pelayanan. “Pada waktu yang bersamaan saya mulai berunding di bawah meja, saya melakukan sedikit demi sedikit hal yang agak melenceng, tapi semua itu demi Tuhan dan demi pelayanan. Aku yakin apapun yang aku lakukan untuk pelayanan, Tuhan pasti mengerti.”

    Dia menarik diri dari hal-hal yang harus dilakukannya. Dan apa yang harusnya tidak ia lakukan, ia mulai lakukan. Dia lebih penuh kuasa dari saya. Urapannya jauh lebih baik dari saya. Tapi seperti itulah yang terjadi.

    Saat ini, tidak ada seorangpun di ruangan ini yang dapat menarik diri dari Allah dan mulai melakukan hal-hal di luar jalur untuk sebuah pelayanan. Hal itu akan menjadi bencana bagi diri anda sendiri dan juga bagi orang lain. Saya akan tutup dengan kata-kata Santo Paulus dalam 1 Korintus 9:24-27: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya. Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

    Gambaran yang dipakai oleh Paulus adalah sebuah perlombaan lari. Anda harus terus mengarahkan pandanganmu ke depan, Anda harus terus lari, dan itulah yang seharusnya menjadi sikap kita dalam perlombaan lari iman, kalau kita mau terus melayani Yesus Kristus. ***

    Sesi Tanya Jawab

    Apakah Allah membiarkan kita untuk jatuh ke dalam godaan dan melakukan dosa agar kita belajar sesuatu dari kejatuhan kita itu, dan bagaimana kita tahu apa yang dikehendaki Tuhan dan bukan pilihan kita sendiri?

    Jim Murphy:

    Kedua Rasul, Yakobus dan Paulus membicarakan hal ini. Dia mengatakan, “Jangan ada seorangpun yang mengatakan bahwa aku digodai oleh Allah karena Allah tidak membawa kita masuk ke dalam dosa.” Paulus juga berkata, “Dengan setiap godaan, Tuhan memberi kita rahmat khusus untuk menolak godaan itu.” Jadi sebetulnya setiap orang punya kekuatan untuk menolak godaan.

    Dosa itu adalah tanggung jawab kita, bukan kesalahan iblis karena iblis tidak dapat membuat anda berdosa. Iblis memang bisa membuat dosa itu menjadi sangat menggiurkan, namun dosa itu sendiri adalah tanggung jawab anda masing-masing.

    Allah tidak menginginkan kita berdosa, untuk itu kita dapat menemukan suatu pengharapan yang besar dalam Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”. Jadi kalau kita bertobat dari dosa-dosa kita dan sungguh merendahkan diri di hadapan Tuhan, Ia akan tetap menggunakanmu untuk hal-hal yang baik.

    Beberapa tahun yang lalu saya mengenal seorang remaja wanita yang hamil diluar nikah. Apakah itu kehendak Tuhan? Apakah Tuhan menginginkan dia untuk melakukan dosa itu? Tidak! Dia tidak melakukan aborsi, dia terus merawat bayi laki-lakinya itu. Dia bahkan harus hidup dalam kemiskinan karena kehamilan itu mengharuskannya berjuang seumur hidup. Pada akhirnya, bayi laki-laki itu tumbuh besar dan menjadi seorang Pastor Katolik. Allah telah melakukan hal-hal yang baik dari semuanya ini. Allah mengerjakan segala sesuatu demi kebaikan.

    Di dalam doa liturgi malam Paskah, anda akan mendengar suatu ungkapan dari bahasa latin yang berbunyi Felix Culpa (dosa yang membahagiakan), kalimat yang merujuk pada dosa Adam.  Apakah menjadi suatu kehendak Tuhan supaya Adam berdosa? Tentu tidak, namun karena dosa itu, Yesus datang ke tengah-tengah kita. Allah mengerjakan segala hal untuk mendatangkan kebaikan. Yang terpenting, menjauhlah dari dosa! Hindari godaan, perangi dosa dan godaan itu dengan segala kekuatanmu. Dosa akan menuju kepada maut, dan dosa menyakiti dirimu juga orang lain. Kalau kita berdosa, Allah akan tetap setia mengampuni kita asalkan kita mau bertobat dengan hati yang sungguh-sungguh, namun alangkah lebih baik jika kita tidak berdosa.

    Ada ungkapan “Kita adalah satu”, itu digunakan oleh sekelompok karismatik yang sekarang sedang bertumbuh dengan cepat. Tapi ada anggota-anggotanya yang menunjukkan tanda-tanda kesombongan rohani. Apakah ini diijinkan dan bagaimana kita mengatasinya? Bagaimana kita menegur/menangani seseorang yang punya karisma tertentu tapi terlalu sombong sehingga orang lain menganggap orang tersebut dan Pembaruan Karismatik  dianggap aneh.

    Jim Murphy:

    Kesombongan adalah sifat yang sangat berbahaya, karena hal itu membutakan mata kita sehingga kita tidak melihat kebenaran. Kesombongan membuat kita memiliki pandangan lain tentang Allah dan membuat kita menutup diri. Akibatnya kita menjadi sulit menerima kritikan dari orang lain. Sebenarnya, kesombongan adalah dasar dari dosa lain. Dosa artinya lebih memilih diri sendiri dibanding Tuhan. Entah itu dosa besar ataupun dosa kecil, pada dasarnya tetap sama, yakni lebih memilih diri sendiri daripada Tuhan. Sejak awal mula, dosa sudah ada bersama kita, maka kita harus terus menyerahkannya kepada Tuhan.

    Mengenai pemberian koreksi atau menegur orang lain, ini adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Pertama-tama kita harus berdoa dan berpuasa, memohon agar Roh Kudus bekerja dalam hati mereka dan bekerja dalam hati kita. Kemudian kita meminta Tuhan menunjukkan waktu yang tepat. Lalu dengan kerendahan hati, dengan kebenaran, dan dengan kasih, kita dekati orang yang hendak kita tegur itu. Kita katakan di awal hal-hal baik yang telah mereka lakukan, setelah itu kita bisa menyampaikan apa yang menjadi kekhawatiran kita. Katakan dengan lembut kebenarannya, setelah itu biarkan saja. Berikutnya, itu sudah menjadi urusan mereka dengan Tuhan.

    Yesus mengatakan suatu perumpamaan, “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3) Tidak perlu pedulikan orang-orang karismatik yang lain, tidak perlu pedulikan anggota Gereja yang lain, bagaimana dengan orang-orang di tempat ini. Bagaimana dengan saya? Bagaimana saya bisa cabut kesombongan di hati saya? Karena hanya hati saya sendiri yang dapat saya ubah. Mari kita masukan pelajaran ini ke dalam hati kita. ***

     

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/