• ICCRS Leadership Training Course: Kepemimpinan Bag. 2

    Kekuatan Datang Dari Allah

    Oleh: Michelle Moran

     

    Di dalam Yesus Kristus ada kemenangan. Tidak peduli berapa banyak godaan datang dari setan, berapa banyak kelemahan kita, atau berapa kali kita pernah gagal, kita harus tetap percaya bahwa kekuatan datang dari Tuhan. Musuh akan berkata bahwa kita sudah kalah, dan kalau anda merasa kalah biasanya anda akan mundur. Untuk itu kita harus tetap berdiri didalam kemenangan Kristus. Injil berbicara tentang Yesus yang sudah menang di Salib di atas Gunung Kalvari. Kita adalah umat dengan Salib di depan kita dan dunia di belakang kita, dan kita berjalan dalam kemenangan.

    Ibrani 13:7 mengatakan, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpinkamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.”

    Kita diminta untuk mengingat para pemimpin kita dan mencontoh mereka dengan melihat hidup mereka. Pikirkan diri anda sebagai seorang pemimpin. Saya percaya anda pasti ingin supaya umat mendoakan anda. Tapi apakah anda ingin mereka meniru anda? Santo Paulus dalam 1 Korintus 11:1 berkata, “Jadilah peniruku, sama seperti aku juga menjadi peniru Kristus”. Inilah tujuan akhir hidup kita, yakni untuk hidup secara kudus dan suci di hadapan Allah. Ada panggilan kekudusan secara universal. Universal artinya untuk semua orang, maka jika kita secara universal dipanggil untuk menjadi kudus, berarti kita dipanggil untuk jadi orang kudus. Jika kita lupa akan tujuan itu, musuh sedang menanti, karena iblis selalu mencoba membuat kita lupa akan tujuan akhir hidup kita.

    "Inilah tujuan akhir hidup kita, yakni untuk hidup secara kudus dan suci di hadapan Allah"

    Saya menganjurkan anda untuk mendoakan ini di dalam hidup anda. Beberapa tahun yang lalu saya menyusun suatu doa kepada Hati Kudus Maria yang Tak Bernoda. Bagi saya, doa ini sudah menghasilkan banyak buah dalam hidup saya. Saya harus mendaraskan doa pendek ini kepada Bunda Maria setiap hari. Artinya, saya mempercayakan diri saya kepada Bunda Maria. Doanya seperti ini, “Bunda Maria, saya ingin menjadi orang kudus dan saya tahu bahwa Bunda juga menginginkan saya untuk menjadi orang kudus. Maka, saya percayakan diri saya kepada-Mu, dan mempelai-Mu, Roh Kudus, supaya Engkau bisa mengubah diri saya untuk melakukan apa yang Engkau mau demi Kerajaan Allah.”

    Ini adalah doa yang sederhana. Anda tidak perlu mendoakan doa ini dengan kalimat yang sama.Tetapi pada intinya, saya mau menekankan bahwa kita semua dipanggil untuk menjadi orang kudus, dan inilah tujuan hidup kita. Kalau kita mau setia akan panggilan ini, maka kita akan terus berjalan dalam kekudusan.

    Jalan menuju kekudusan ini adalah jalan yang sempit, ini adalah jalan dimana kita membutuhkan discernment untuk membedakan roh. Jika kita ingin menjadi pemimpin yang diteladani oleh orang-orang, maka kita harus berjalan di dalam panggilan menuju kekudusan ini.

    Allah ingin agar kita jadi pelari jarak jauh (marathon), bukan pelari jarak pendek. Banyak orang yang setelah ikut SHDR memulai hidup dengan bagus dan indah. Namun, mereka menjadi seperti seorang pelari jarak pendek. Energi yang penuh dan antusias yang tinggi, tapi semua itu hanya di awal-awal saja. Padahal, seharusnya kita menjaga agar apinya terus menyala.

    Saat kita melihat api unggun, kita berdiri melingkari api unggun yang menyala dengan baik. Kemudian tiba-tiba seorang pekerja meletakan semakin banyak kayu. Saat itu yang terjadi, api menjadi padam kemudian muncullah semakin banyak asap. Hal itu disebabkan karena orang tersebut ingin api unggunnya dapat menyala-nyala, tetapi ia mencoba melakukannya terlalu cepat. Jika anda berlari terlalu cepat, anda akan jatuh digaris finish. Seorang pelari jarak pendek begitu sampai di garis finish akan langsung berbaring karena sudah tidak bisa bernafas.

    Pola kehidupan rohani kita haruslah seperti seorang pelari jarak jauh, pelari marathon. Kita tidak dapat terus berlari dengan kecepatan yang sama. Kita perlu membuat penyesuaian dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita. Itu sebabnya, betapa penting sebuah discernment. Kita dapat melakukan discernment dengan bantuan Bapa/Ibu Rohani, para Pastor, atau saudara-saudari seiman kita. Memang ada saat-saat dimana dalam hidup kita, kita harus bergerak dengan cepat. Tetapi anda tidak bisa selamanya tinggal dijalur cepat. Ada saat dimana anda harus memperlambat dan menyesuaikan “rohani” anda dengan keadaan. Jadi silahkan renungkan hal ini untuk hidup anda dan kelompok yang anda pimpin.

    "Pola kehidupan rohani kita haruslah seperti seorang pelari jarak jauh, pelari marathon. Kita tidak dapat terus berlari dengan kecepatan yang sama. Kita perlu membuat penyesuaian dengan apa yang terjadi dalam kehidupan kita"

    Ibrani 12:1-2, “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlombadengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

    Tiga hal sederhana yang dapat membantu kita mengatasi berbagai persoalan:

    1. Singkirkan Semua Penghalang

    Singkirkan segala hal yang mengganggu dan menghalangi kita. Bersihkanlah semua hambatan itu, khususnya dosa-dosa kita. Berusahalah sedapat mungkin menerima Sakramen Tobat. Kesadaran akan pentingnya menerima Sakramen Pengakuan Dosa harus kita tanamkan apalagi sebagai seorang pemimpin. Karena tentu saja kita tidak mau hidup terbiasa dengan dosa-dosa tersebut. Kita tidak mau hidup kita menjadi suam-suam kuku. Tujuan dari semua itu ialah untuk menjadi orang kudus, yang setiap harinya kita mau berpaling, menyingkir, dan mau bertobat dari dosa. Kita memerlukan rahmat Sakramen Tobat untuk memperkuat perjuangan kita melawan dosa.

    2. Berlari dengan Tekun dalam Perlombaan yang Diwajibkan bagi Kita

    Teruslah berlari dengan tiada henti. Bagaimana cara kita tetap bertahan? Bagaimana kita terus berlari dengan tekun? Yaitu berlari dengan kecepatan yang tepat disaat yang tepat berdasarkan bimbingan Roh.

    3. Pusatkan Perhatian Anda pada Yesus Kristus

    Yesus sebagai penyempurna dan penentu hidup kita. Pusatkan perhatian anda pada Salib Yesus. Karena kita sudah mati bersama Kristus dan kita akan hidup bersama Kristus. Permenungan kita tentang kehidupan di dalam Kristus membawa kita kedalam pelukan Bapa dan juga kepada janji Yesus yaitu Roh Kudus. Semakin kita memusatkan perhatian kepada Yesus, semakin kita masuk lebih dalam ke dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus.

    Ada sebuah kata yang berasal dari Yunani, namanya Perichoresis, yang artinya adalah kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Dimana Bapa mengirim Putera-Nya Yesus karena kasih-Nya yang besar. Yesus berjanji, Dia tidak akan meninggalkan kita sendirian tapi Dia akan mengirimkan Roh-Nya yang kudus. Roh Kudus itu yang mencurahkan kasih Bapa ke dalam hidup kita.

    Jadi Perichoresis ini artinya tarian Tritunggal Maha Kudus, bahwa Ketiga Pribadi yang adalah satu Tuhan mengundang kita semua untuk masuk ke dalam tarian yang kudus itu. Semua itu hanya akan terjadi kalau mata kita terus memandang pada Yesus. Jika kita menari bersama Roh Kudus, tidak ada roh jahat yang bisa menghancurkan kita, tidak ada kelemahan manusia yang bisa membuat kita lumpuh. Kita akan memiliki perisai yang selalu melindungi dan rahmat untuk dapat melawan semua roh jahat. Rahmat itu ada dalam diri kita dan dapat kita bagikan kepada dunia. Inilah yang dimaksud dengan menimba kekuatan dari Allah.

    Tiga hal sederhana di atas akan menjadi jawaban bagi masalah kita.

    Berdoa

    Sebagai seorang pemimpin, kesadaran akan pentingnya berdoa haruslah kita miliki. Bagaimana dengan kehidupan doa anda?

    Ada tiga hal penting di dalam doa seorang pemimpin:

    1. Hidup Doa Pribadi

    Seperti yang dikatakan oleh Injil Matius,“Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.”Jangan seperti orang Farisi yang ingin dilihat saat berdoa. Kalau anda segera menyadari bahwa anda ingin dilihat saat sedang berdoa, mintalah kepada Tuhan untuk mematahkan kesombongan dan arogansi rohani itu.

    Relasi kita dengan Tuhan haruslah tumbuh melalui doa pribadi. Membaca Kitab Suci, Sakramen, dan Devosi Pribadi (misalnya Rosario) akan semakin menguatkan relasi kita. Biarkan Tuhan membawa anda lebih dalam lagi. Saya sangat percaya, hal ini akan memberi anda kekuatan sebagai pelari marathon. Apapun yang terjadi di dalam hidup anda, tetaplah setia dan berkomitmen terhadap doa pribadi.

    2. Mencari Visi Tuhan untuk Komunitas yang Dipimpin

    Sebagai seorang pemimpin, kita harus betul-betul mencari apa yang Tuhan inginkan di dalam komunitas kita. Tanyakanlah kepada Tuhan dan mintalah Dia menunjukan jalan bagi anda. Hal tersebut sangat penting karena seringkali para pemimpin sudah memutuskan segala-galanya, baru kemudian berserah, “Tuhan, tolong berkati rencana saya.”

    Minta Tuhan menunjukan jalan-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah jalan bagi saya.” Kemudian, bisa jadi Tuhan ingin berkata, “Aku mau tunjukkan cara baru dalam menyelenggarakan SHDR.” Saat kita mencari Tuhan, Dia memang tidak akan menjawab secara langsung melalui e-mail dan memberikan hasil rinciannya. Tetapi, mungkin Tuhan akan memberikan kita dorongan untuk hal baru, yang Dia ingin arahkan kita menuju hal-hal tertentu sesuai kehendak-Nya. Apapun itu, kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak memiliki waktu untuk berdoa dan mendengarkan suara Tuhan. Yesaya 55:3,“Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaku, dengarkanlah maka kamu akan hidup.

    Tuhan ingin kita mendengarkan suaranya. Dia ingin agar kita membawa semua program-program komunitas kita ke dalam tangan-Nya. Dia ingin kita melakukan hal yang seharusnya kita lakukan dengan kedua telinga kita yaitu mendengarkan. Pusatkan perhatian kita saat kita ingin mendengarkan suara Tuhan.

    3. Seorang Pemimpin Harus Mendoakan Umat

    Seorang pemimpin harus setiap hari mendoakan saudara-saudarinya. Sebagai seorang pemimpin, kita punya peran sebagai pendoa syafaat bagi umat kita. Dalam doa-doa pribadi harian kita, hendaklah kita mengingat saudara-saudari kita dan membawa intensi-intensi kita kepada Tuhan. Dalam hal ini, karunia berdoa dalam bahasa roh akan sangat membantu kita, seperti yang dikatakan Roma 8:26, saat kita tidak tahu apa yang harus dikatakan, maka Roh akan berdoa di dalam kita. Jika Roh berdoa di dalam kita, maka itulah doamu. Berdoalah di dalam Roh bagi umat-umat kita. Saya ingin mengajak anda semua para pemimpin, mari kita tetap setia di dalam doa-doa kita.

    Saya percaya jika kita sungguh-sungguh memusatkan perhatian kita pada hidup doa, maka ‘akarnya’ akan tumbuh dalam. Dan pemimpin yang tetap setia berlari di dalam marathonnya adalah mereka yang dengan setia berdoa. Godaan-godaan akan selalu datang, yaitu ketika kita terlalu banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan Tuhan sehingga tidak ada cukup waktu yang kita berikan untuk Tuhan secara pribadi. Kita menjadi terlalu sibuk.

    Kita memang perlu sibuk karena ada banyak hal kerajaan Surga yang harus dilakukan dan Tuhan memang mencari pekerja-pekerja di ladangnya, jadi kita memang harus sibuk. Tetapi kita juga tidak bisa menjadi malas, dan berkata, “Ohhh saya tidak bisa membantu anda, karena saya harus berdoa.” Keperluan kita untuk berdoa tidak bisa kita jadikan alasan supaya kita tidak bekerja, justru kita harus mencari keseimbangannya. Hanya anda sendiri yang tahu bagaimana keseimbangan yang tepat untuk anda.

    Mungkin ada orang-orang dalam ruangan ini yang berkata, “Sebagai pemimpin saya harus berdoa sejam dalam satu hari.” Itu baik sekali. Mungkin ada juga dari mereka yang mampu berdoa lebih dari satu jam. Hal yang terpenting bukanlah berapa lama doanya, tetapi bagaimana kualitas doa tersebut.

    Pelayanan Praktis

    Baru-baru ini saya bicara dengan pemimpin karismatik Eropa. Kami sedang membahas sebuah peluang untuk sebuah pelayanan. Kemudian ia berkata seperti ini, “Saya memiliki dua orang anak yang masih kecil, dan istri saya kurang begitu mengerti tentang karismatik. Dalam pekerjaan, saya juga memiliki banyak tanggung jawab.” Saat saya mendengarkannya, saya menganggap dia adalah orang yang bijak. Saya tidak beranggapan bahwa dia adalah orang yang malas karena dia tidak mau bekerja.

    Justru, kita memang perlu menyeimbangkan prioritas di dalam hidup kita. Kalau hidup kita tidak seimbang maka akan ada banyak masalah terjadi dalam hidup kita. Setiap dari kita berbeda-beda, ada yang memiliki stamina yang kuat, ada yang lemah dan mudah sakit, ada juga yang mungkin memiliki keadaan-keadaan tertentu dalam hidupnya. Maka kita memerlukan orang lain untuk membantu kita melihat bagaimana kita menyeimbangkan hal itu. Ada seseorang yang bertanya, bagaimana kita dapat membedakan hal ini? Orang tersebut sering merasa bersalah karena sering pulang cepat dari pekerjaannya untuk melakukan suatu pelayanan, tetapi menurutnya, selama ini Tuhan selalu membantu ia mengatasi setiap masalah dalam pekerjaan. Ia bertanya-tanya, apakah ia sedang mencobai Allah?

    Saya rasa ada dari kita juga mengalami hal ini. Semua hal ini harus memiliki tempat-tempat yang cocok dalam hidup kita. Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu kerjaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Kita harus mencari tahu dalam hidup kita apa artinya mencari Kerajaan Allah. Kalau anda adalah orang yang terlalu sibuk pelayanan sampai anda tidak melakukan pekerjaan anda dengan baik, menyebabkan anda kurang tidur, anda mengantuk saat bekerja, atau membuat anda mengambil waktu disela-sela pekerjaan anda untuk melakukan tugas pelayanan anda dan membuat pekerjaan anda terbengkalai, apakah itu adalah hal adil untuk Bos anda di kantor? Apakah dengan hal itu anda telah menjadi saksi yang baik? Mungkin anda adalah seorang pemimpin terbaik di dunia, namun anda tidak sedang mencari Kerajaan Allah.

    Saat kita sungguh-sungguh mencari Kerajaan Allah, Tuhan akan memberkati kita dengan kapasitas yang cukup untuk melakukan banyak hal. Kita tidak perlu mengatakan, “Tuhan, aku hanya tidur 3 jam karena aku sibuk pelayanan.” Itu adalah hal yang bodoh. Anda bisa jatuh sakit. Untuk itu kita memang perlu bersikap bijaksana. Kita akan mendapatkan hal-hal yang tidak dapat kita bayangkan jika kita sungguh-sungguh sedang mencari Kerajaan Allah.

    Saya percaya Tuhan akan memberikan materi, rohani, dan juga energy. Seperti ayat yang kita baca tadi, ingatlah akan pemimpin-pemimpinmu dan contohlah mereka. Dalam hidup, saya sering bertemu dengan banyak pemimpin Gereja dan saya mencontoh mereka. Saya sangat merasa diberkati karena dapat mengenal mereka dan meneladani mereka. Meneladani bukan berarti kita harus menjiplak mereka, melainkan kita belajar dari pemimpin kita, dan kita ingin agar orang lain juga dapat belajar dari hidup kita. Jika kita dapat melakukannya, kita akan hidup secara kudus dan seimbang di hadapan Tuhan.

     Tiga Kata Penting sebagai Rambu dalam Kehidupan Kita

    Dalam pembahasan sebelumnya, Jim (Murphy) meminta kita untuk memeriksa hati, apakah ada ilalang dalam hati kita? Hal-hal ini dapat membantu kita mengetahuinya.

    1. Akuntabilitas = Pertanggungjawaban

    Hal ini dapat kita peroleh lewat Sakramen Pengakuan Dosa.  Kita bersyukur dan bersuka cita akan hal-hal baik yang terjadi, namun kita juga perlu menumbuhkan hati yang mau bertobat. Saat kita bertobat, Tuhan mengampuni kita. Salah satu bagian dari akuntabilitas adalah pengakuan secara umum di dalam sakramen.Saat kita mengaku dosa, pengakuan yang kita tujukan bukan kepada Pastor, melainkan kepada Tuhan yang diwakili oleh Pastor. Saat kita mengaku dosa, kita mengaku di hadapan Tuhan dan di hadapan komunitas bahwa, “Aku telah berdosa. Ampuni aku.” Di dalam tindakan itu ada suatu tindakan akuntabilitas.

    2. Truth Speaker (Orang yang Mampu Menyatakan Kebenaran)

    Selain dari akuntabilitas masing-masing dari kita harus dapat dipercaya. Pagi hari saat sesi LTC belum dimulai, Jim menghampiri saya dan bertanya, “Bagaimana doa pribadimu?” Buat saya, ini merupakan pertanyaan yang sangat penting. Kita memang harus menanyakan hal ini kepada saudara-saudari kita diwaktu yang tepat. Kita harus saling mengingatkan. Kita dapat mencegah dosa dari hal-hal kecil dengan menjaga satu sama lain. Kita memang memerlukan orang-orang yang bisa menyatakan kebenaran dalam hidup kita yang tidak hanya dapat mengatakan kebaikan-kebaikan kita, tetapi juga bisa menegur, memberi semangat, serta peringatan-peringatan.

    3. Safe Place (Tempat yang Aman)

    Komunitas perlu untuk menjadi tempat yang aman. Kita perlu pergi kemana kita dapat didengarkan, didoakan, dan dipulihkan.

    Beberapa hari sebelum Natal tiba, saya bersama suami sedang berada dirumah. Lokasi rumah kami berdekatan dengan tempat Persekutuan Doa kami. Biasanya kalau kami sedang berada di rumah, teman-teman komunitas sudah memahami kalau kami sedang tidak ingin diganggu. Namun pada suatu malam, seorang teman komunitas menghubungi saya dan mengatakan kalau ia ingin datang ke rumah kami sebentar. Sebetulnya saya sedikit kurang senang, saya mulai berfikir, “Wah sulit sekali memiliki waktu santai sebentar saja.”

    Kemudian teman kami datang, ia mulai menangis. Ia duduk dan berkata, “Aku membuat kesalahan besar.” Dia mulai menceritakan apa kesalahan itu. Saat itu, saya mengeringkan air matanya, kami duduk, dan kemudian berdoa bersama. Saat itu saya bersyukur karena dia merasa memiliki tempat yang aman, yang bisa ia datangi untuk mengungkapkan pergumulannya.

    Kalau dia bawa kesalahan itu kepada sang Terang, maka sang Terang yang akan dapat mengubahnya. Bersama-sama kita mampu mengatasi kesalahan itu sebelum terjadi sebuah kesalahan-kesalahan lain yang akan semakin besar. Kita memerlukan tempat-tempat yang aman itu, dan kita juga harus menjadi teman aman tersebut bagi saudara-saudari kita. ***

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/