• ICCRS Leadership Training Course: Elemen-elemen Persekutuan Doa - Memberikan Pengajaran

     

    Memberikan Pengajaran dengan Baik

    (Michelle Moran)

     

     

    Pentingnya Sebuah Pengajaran

    Apakah anda pernah memberikan sebuah pengajaran dalam suatu Persekutuan Doa? Ada berbagai macam fokus dari suatu pengajaran. Biasanya di dalam suatu persekutuan doa, kita mengajar untuk memotivasi, memberi informasi, menegur, mendorong, atau untuk membangun semangat orang-orang. Jadi, hal pertama yang harus anda perhatikan adalah mengetahui apa yang menjadi tujuan dari pengajaran yang akan diberikan. Tujuan itu pula yang akan membentuk bagaimana cara anda menyampaikan pengajaran.

    Saya ingin mengingatkan anda bahwa ada sebuah pengajaran yang resmi dari Gereja yaitu Magisterium dan juga ada pelayanan pengajaran resmi dari Uskup dan Pastor, tetapi kalau kita mau menyampaikan pengajaran sederhana dalam suatu PD, kita akan menggunakan apa yang Paulus katakan dalam Kolose 3:16, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di  antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”

     

    Persiapan

    Saya sarankan kita mempersiapkan bahan pengajaran beberapa hari sebelumnya. Itu yang saya sebut dengan persiapan doa jangka panjang. Beberapa dari anda mungkin memiliki bahan yang sudah disampaikan berkali-kali, itu baik karena kita memang perlu memiliki satu ‘perpustakaan’ bahan-bahan pengajaran, tetapi saya ingin menyarankan supaya kita mempersiapkan setiap pengajaran secara unik dan berbeda. Jika anda hanya mengulang bahan yang sama terus menerus maka komunikasinya akan menjadi kurang hidup.

    Seandainya saya diminta untuk memberikan renungan Prapaskah, saya harus berdoa dan bertanya kepada Tuhan, apa yang mau Tuhan sampaikan. Misalnya Tuhan mengatakan tentang puasa sebagai temanya, maka saya harus merenungkannya dan masuk ke dalam tema itu lebih dalam lagi. Walaupun saya sudah sudah memberikan 100x pengajaran tentang puasa, saya akan melakukan penelitian yang lebih lagi, atau mencari tambahan referensi. Hal itu saya lakukan agar pewartaan saya tetap baru dan dinamis. Saya akan membuka Kitab Suci, membaca dan mencari ayat lain tentang puasa. Saya selalu melihat dan merujuk pada Kitab Suci, Katekismus Gereja Katolik dan ajaran-ajaran Gereja Katolik. Bagi saya itu merupakan bagian yang mendasar. Selain itu, agar pengajaran kita semakin baik, maka kita perlu menambahkan cerita atau sharing yang bisa membuat bahan ini menjadi lebih praktis.

    Jadi, kalau contoh yang kita pakai tadi tentang puasa, maka saya akan mencari informasi atau latar belakang tentang puasa di Tradisi Gereja, dan perikop dalam Kitab Suci yang berhubungan dengan puasa. Kemudian saya akan mencari cerita, bisa dari sejarah Gereja atau seorang yang saya kenal untuk membuat pengajaran ini lebih hidup. Jadi, dalam mempersiapkan pengajaran, saya akan memulai dari informasi, lalu masuk ke dalam Kitab Suci dan akhirnya dalam contoh nyata sehari-hari. Dengan elemen tersebut, saya bisa memberikan pengajaran tentang puasa dalam 3 atau 5 menit, bisa juga sampai 30-45 menit. Tapi sebetulnya isi pengajaran itu hanyalah ketiga elemen tadi dengan dinamika yang berbeda.

    Salah satu godaan yang kita hadapi saat mempersiapkan pengajaran adalah kita memiliki banyak materi. Saat saya melatih orang tentang public speaking dan hal-hal semacam ini, mereka akan pergi ke perpustakaan dan mengambil begitu banyak buku untuk mempersiapkan bahan. Kalau jaman sekarang mungkin hanya akan mengambil 5 video youtube, 3 artikel dari wikipedia, dan 15 slide power point. Saya selalu katakan kepada mereka, “Rampingkan bahan tersebut, apa yang menjadi inti dari pengajaran itu.”

    Yang saya mau tekankan juga bahwa Tuhan akan memakai kita sebagaimana kita dengan segala keahlian alami kita. Saya adalah seseorang yang tegas. Jika saya mempersiapkan suatu bahan, saya akan membuka Kitab Suci dan mencari perikop tentang puasa. Saya akan berdoa, mencari dan memutuskan ayat apa yang ingin saya jadikan sebagai dasar. Berbeda dengan suami saya, ia adalah seseorang yang senang memikirkan berbagai macam kemungkinan. Maka, saat dia mempersiapkan pengajaran, dia akan berdoa, mencari dalam Kitab Suci dan punya beberapa pilihan. Ketika bertanya kepadanya, “Perikop apa yang akan engkau pakai?” Dia akan menjawab, “Mungkin saya akan pakai perikop orang Samaria yang baik hati, atau mungkin anak bungsu yang hilang. Saat saya naik ke panggung akan saya putuskan pakai yang mana.” Meskipun dia memiliki dua pilihan, dia tetap akan mempersiapkan keduanya, itu yang terpenting.

    Saya tidak setuju dengan orang-orang yang berkata, “Saya tidak usah mempersiapkan apapun, saya percaya kepada Tuhan yang membimbing saya.” Memang kadang kala ada keadaan darurat yang mungkin saja kita harus membawakan Firman. Kalau keadaan darurat seperti itu, Tuhan pasti akan sediakan. Walaupun kita ada di bawah kuasa Roh Kudus, kita harus tetap melakukan persiapan. Bagaimanapun cara kerja kita, yang terpenting adalah persiapan.

     

    Struktur Pengajaran

    Pendahuluan

    Berapa lamapun waktu yang diberikan, anda harus memiliki pendahuluan yang baik untuk menarik perhatian umat. Banyak pengajaran yang cuma selesai begitu saja. Kita bisa dengar suara pewartanya semakin lama semakin pelan, dan kalau sudah seperti itu umat tidak dengar lagi, karena dinamikanya hilang. Semuanya bisa tertidur. Jadi walalupun anda mempersiapkan pewartaan 3 menit ataupun 30 menit, anda tetap membutuhkan struktur. Pendahuluan berfungsi untuk menarik perhatian orang. Dan semakin pendek waktu kotbah, maka pendahuluan harus semakin baik.

    Pastor paroki saya di Katedral, Inggris, adalah seorang komunikator yang baik. Di Katedral, posisi duduk umat berada di tiga sisi serta bagian belakang paduan suara. Sulit sekali untuk berkomunikasi dengan situasi seperti itu, dimanapun kita duduk, kita pasti akan melihat 75 umat lain dan perhatian kita akan lebih mudah terpecah. Ya, tapi pastor paroki saya sangat hebat dalam komunikasi. Contohnya, suatu ketika saya duduk untuk mendengarkan kotbah, saya melihat seorang wanita dengan topi merah. Saya tertarik dengan topi itu. Kemudian, ada satu keluarga Nigerian yang memiliki 5 orang anak, dan mereka sangat lucu. Semua itu adalah suara-suara berisik latar belakang saya, padahal saya orang yang sangat bersemangat untuk mendengar kotbah. Pastor itu berdiri di atas mimbar dan berkata, “Tadi malam saya pergi ke konser rock, hip hop. Tiga wanita tua pingsan.”

    Saya katakan peduli amat dengan topi merah, ini kotbah yang bagus. Dengan kalimat pertama itu dia bisa menarik umat. Salah satu contoh lagi, ia berkata, “Saya suka tato.” Dan semua orang berpikir “Apa?” Di kalimat kedua dia katakan lagi, “Saya suka tato,” kemudian ia berkata lagi, “ini adalah perkataan orang di kereta yang selalu bersama saya.”

    Saya tidak katakan kita harus seperti itu, tapi pastor itu tahu cara menarik perhatian umat. Tentu selanjutnya kita perlu memperhatikan ini. Kita harus bisa membawa umat terus bersama kita sepanjang pengajaran.

    Tiga Poin Utama

    Yang kedua yang juga penting adalah isi pewartaan. Saya menyarankan anda untuk memikirkan tiga hal. Dalam contoh tentang materi puasa tadi, bagi saya tiga hal itu adalah sejarah puasa, Injil dari Kitab Suci dan yang ketiga yaitu contoh nyata. Setiap pendengar memiliki cara mendengar yang berbeda-beda. Ada orang yang tertarik pada informasinya, ada orang yang ingin terhubung secara emosional. Ada orang yang perlu membayangkan gambar itu baru bisa mengerti pesannya. Jadi kita semua menanggapi komunikasi dengan cara yang berbeda. Ini artinya kita harus menyampaikan sesuatu yang bisa diterima semuanya. Memang ada dari kita yang punya bakat alami lebih tentang dinamika ini.

    Saya punya seorang teman pastor, dan dia adalah seorang story teller yang bagus. Dia menulis buku yang isinya cuma kumpulan dongeng, tapi selalu ada pesan moralnya. Gaya komunikasinya lebih kepada mendongeng. Hal ini bisa diterima oleh beberapa orang, karena ada juga orang-orang yang tidak menyukai dongeng. Walaupun anda bukan tipe orang yang menyukai dongeng, tapi kalau dongeng itu sangat bagus dan diceritakan dengan baik, maka anda pasti akan tertarik. Kita semua bisa belajar untuk mengajar dari Kitab Suci, tetapi pasti ada orang-orang tertentu yang memang mempunya bakat itu.

    Saya juga ingat ada profesor tua yang mengajar di komunitas saya, sebetulnya ia tidak punya keahlian komunikasi dan matanya sudah rabun, tetapi dia bisa menghidupkan Firman Tuhan dengan baik. Setiap kata-katanya sangat indah, dan ketika saya mendengarnya saya bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Ia tidak memiliki keahlian komunikasi, tetapi Ia memiliki semangat. Sekarang pastor itu sudah meninggal, namun tapi setiap kali membaca Kitab Suci saya teringat dia, karena dia selalu mampu menghidupkan setiap kata.

    Kesimpulan

    Waktu kita masih kecil segala cerita selalu dimulai dengan “Dahulu kala… dan saat akhir cerita hanya dikatakan ‘the end’ (tamat). Kita perlu suatu kesimpulan atau sesuatu yang menyatukan semua itu. Bagaimana prakteknya, yang terpenting kita harus mengakhirinya dengan ending yang kuat. Bagian perenungan ini sangat penting tetapi juga sangat sulit. Kadang-kadang ketika sampai pada bagian penutup kita menyadari waktu kita mungkin sudah habis, dan kita berkata, “Waktu saya habis, maaf. Terima kasih sudah mendengarkan.” Tetapi jika anda berkata seperti itu, orang-orang malah akan mengingat bagian permintaan maaf anda. Jadi, jika anda berkata tentang puasa, anda bisa mengatakan, “Yesus sudah melakukan puasa, Gereja melakukan dan kamu harus melakukan, amin!” Itu adalah penutup yang sangat kuat.

     

    Kemampuan Berkomunikasi

    Saya tadi bercerita bahwa saya banyak mengajar komunikasi. Para ahli komunikasi mengatakan bahwa sebenarnya kita hanya mengkomunikasikan 7% dari pesan kita lewat kata-kata, 38% kita komunikasikan lewat nada suara, dan 55% lewat bahasa tubuh atau non verbal.

    Sebelum sesi LTC dimulai, saya dan Jim melihat-lihat sekitar. Jim kemudian menginformasikan bahwa di tempat ini ada panggung, terlihat lebih formal. Kita memang perlu panggung agar orang-orang dibelakang dapat melihat kita karena kalau kita berdiri di bawah, kita tidak akan mendapatkan pandangan mata orang-orang yang ada di belakang. Jadi panggung ini bagus sekali supaya kita bisa tahu siapa saja yang tertidur. Kalau ada yang tidur, itu adalah masalah saya, bukan masalah anda. Kegagalan komunikasi adalah masalah komunikator. Kalau ada banyak yang tertidur maka sebagai komunikator kita harus cepat mencari ide.

    Sekali lagi, kita harus ingat bahwa dalam proses komunikasi hanya 7% yang disampaikan lewat kata-kata, dan 38% lewat nada suara. Jadi kita juga harus memperhatikan dinamika yang lain selain kata-kata. Nada suara tiap-tiap bahasa juga berbeda-beda, misalnya saja Bahasa Mandarin. Bahasa tersebut memiliki intonasi yang berbeda-beda dan itu benar-benar penting. Tapi yang saya maksud dengan intonasi dalam hal ini adalah adalah keras atau lembut, kecepatan dan laju bicara anda. Kadang kita harus bicara cepat dan kadang kita harus memperlambat untuk menekan suatu poin tertentu.

    Biasanya kalo kita bicara konteks dunia barat, semakin gugup anda semakin cepat anda bicara. Orang muda juga berbicara lebih cepat dari orang tua. Jika kita dengar acara radio atau TV untuk orang muda, mereka berbicara dengan cepat. Saat saya semakin tua, saya semakin tidak mengerti apa yang mereka katakan. Jadi, kita harus memikirkan keadaan umat. Kita perlu sedikit lebih lambat agar orang-orang bisa lebih mendengar apa yang kita sampaikan. Tapi yang terpenting adalah yang kita sebut “Light and Shade” . Jika bicara dengan nada yang sama terus menerus maka akan menjadi monoton.

    Dibeberapa bahasa, hal ini lebih sulit. Kalau saya berasal dari Inggris Utara, yang aksennya sangat kuat. Ratu Inggris bicaranya sudah seperti ini. Vocal saya datar. Dan untuk menaikkan atau menurunkan nada suara, saya perlu kerja keras. Margareth Tatcher, Perdana Menteri wanita pertama menggunakan pelatih suara untuk menurunkan nada suaranya. Anda bisa dengar bedanya saat dia pertama menjabat dan belakangan, berbeda. Jadi alat terbaik kita adalah suara kita.

    Jika seseorang memiliki suara yang pelan, anda tidak perlu khawatir karena hal itu bisa diatasi dengan menggunakan mic. Saya sendiri terkenal memiliki suara yang keras. Saya harus ingat untuk tidak memekakkan telinga anda, ketika saya berbicara. Memang ada saatnya kita berbicara dengan suara keras untuk menekankan sesuatu, tetapi kita tidak perlu terus menerus ‘berteriak’, karena hal itu akan menyakitkan telinga.

    Cara komunikasi terbaik adalah dengan menjadi diri anda sendiri. Banyak orang juga meniru gaya tertentu. Mereka menonton kotbah di TV dan meniru pengkotbah itu. Walaupun ada teman saya yang kemampuan komunikasinya buruk, tapi dia berhasil mengkomunikasikan pesannya pada saya. Jadi, pikirkan dinamika komunikasi itu, hati-hati dengan bahasa tubuh. Karena kadang bahasa tubuh itu malah mengganggu. Kita akan terganggu misalnya jika mic yang dipakai mengalami gangguan, atau jika kabel mic menyulitkan posisi sehingga harus melompati/mempermainkan kabel, bahkan kadang tersandung kabel. Hati-hati karena semua itu bisa membuat latar belakang berisik (mengganggu kita) sehingga mengganggu komunikasi anda.

    Perhatikan juga pakaian anda karena itu bisa menjadi gangguan. Saya pernah mengikuti sebuah retret bersama seorang suster. Selama pengajaran itu kami yang mendengarkan mengalami kekhawatiran kalau syal yang dipakai akan jatuh. Itu bisa menjadi gangguan.

    Kalau saya biasanya akan melepas name tag. Saya sering memakai gerakan tangan, saya khawatir name tag itu akan mencekik saya sendiri dan menjadi gangguan. Kemudian juga untuk pria, mereka suka meletakkan berbagai macam barang di saku. Salah satunya coin, hal itu bisa membuat suara bergemericik dari dalam kantong. Kadang ada juga ballpoint yang suaranya dimainkan terus. Saran saya, jangan memegang apapun yang tidak diperlukan karena orang akan melihat itu.

     

    Meminta Umpan Balik

     

    Salah satu hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan cara pengajaran kita adalah meminta masukan atau umpan balik. Masukan yang bisa diberikan bisa mengenai isi bahan pewartaan, cara penyampaian, dan apakah materi itu sesuai dengan tema yang diminta.

    Jim dan saya melakukannya secara alami. Kami sudah sering melakukan pengajaran tetapi kalau retret bagi kami itu adalah hal yang baru. Sewaktu kami merenungkan tentang “Bapa”, saya tahu apa yang harus saya sampaikan, namun saya belum tahu bagaimana mengakhirinya. Kadang kita juga harus merasakan apa yang ingin Roh katakan. Pada waktu itu, mendadak, saya merasakan harus menghampiri dan mendoakan umat.

    Saya bicarakan hal tersebut kepada Jim dan kami melakukannya. Di akhir, dengan cara yang formal kami membicarakannya, kami membahas isinya dan kami juga membicarakan apakah cara yang kami gunakan dengan menumpangkan tangan dan mendoakan umat menjadi berhasil.

    Kami juga menyediakan kotak komentar, jangan sampai kami merasa segala sesuatunya sudah berjalan dengan baik, tetapi ternyata ada yang tidak memahami pengajaran kami. Intinya kita harus selalu memperbaiki diri. Saya harap anda juga demikian.

    Carilah seorang teman yang bisa memberi masukan yang jujur, yang tidak hanya berkata “sudah baik”, tetapi juga seseorang yang bisa menunjukan sesuatu, misalnya “Oohh pendahuluan anda terlalu panjang.”  

    Saya juga akan bertanya dan merefleksikan hal itu pada diri sendiri, kalau saya melakukan pewartaan itu lagi, apa yang harus saya ubah? Memang ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah, misalnya kalau kita mengajar dalam Gereja itu tidak bisa diubah. Hal-hal yang tidak bisa diubah, akan saya catat saja. Jika ada yang saya rasa kurang begitu jelas saat saya memberikan pengajaran, saya akan catat untuk perbaiki.

     

    Dinamika Presentasi

    Sekarang saya ingin bicara tentang dinamika presentasi. Saya selalu menggunakan istilah ini “kenali dan miliki ruang anda”. Sebagai contoh, kita akan pergi ke Katedral dan saya akan  berkotbah disana. Saat saya masuk ke dalam Katedral, saya akan melihat dimana umat duduk, dimana saya berdiri, sound system nya seperti apa, kemudian apakah ada tempat untuk meletakan buku. Hal semacam ini harus kita pikirkan sebelum kita naik untuk berkotbah.

    Jadi pikirkan hal ini, dimana dan bagaimana anda berdiri. Anda boleh membawa catatan, tetapi pikirkanlah dimana anda dapat meletakannya. Kalau saya kotbah di Gereja, saya tidak akan membawa banyak catatan karena tidak ada tempat untuk meletakannya. Mungkin saya hanya akan meletakan sepotong kertas catatan di Alkitab. Hal-hal seperti inilah yang harus anda pikirkan sebelum naik ke atas panggung.

    Ada perbedaan saat memberikan pengajaran di belakang meja dan di mimbar. Kalau di belakang meja saya tidak memerlukan terlalu banyak bahasa tubuh karena anda dapat melihat saya lebih jelas. Kalau saya di belakang mimbar, anda tidak bisa melihat terlalu banyak badan saya, tetapi saat itu saya harus tetap menarik perhatian anda. Jadi saya memerlukan lebih banyak energi di belakang mimbar daripada dibelakang meja. Saat saya mengeluarkan banyak energi, anda juga akan menerima banyak energi, saya lebih bisa menarik perhatian anda. Bagi saya, sulit untuk menyampaikan kotbah dengan duduk saja, karena tidak akan ada energi yang tersalurkan.

    Sekali lagi, pikirkan hal-hal ini, apakah anda akan duduk atau berdiri, dimana anda akan berdiri, dimana umat akan duduk serta juga bagaimana dengan sound systemnya. Intinya yang ingin saya katakan tentang persiapan pewartaan adalah jangan sekedar mempersiapkan isinya, tapi masih ada hal lain yang perlu dipersiapkan. Yang terpenting adalah teknik komunikasinya dan bagaimana anda bisa membaca situasi umat. Semoga ini tips yang berguna. ***

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/