• PRACTICAL TECHNIQUES OF EVANGELIZATION (Jim Murphy)

    ADA seorang pastor Finlandia yang sudah tua. Dia melayani Tuhan selama bertahun-tahun dan menolak untuk pensiun dan terus menerus melayani Tuhan.  Karena sudah tua, yang terjadi adalah ia mulai lupa dengan apa yang dia kotbahkan. Karena sering lupa, umat menjadi begitu sulit terkoneksi dengan pastornya. Tetapi umat di Paroki tersebut sangat mencintai Pastor ini. Akhirnya beberapa anggota paroki berinisiatif datang dan bertemu dengan Uskup. Dengan cinta dan kasih yang besar, mereka menceritakan kondisi pastor itu. Uskup ini juga sangat perhatian dan mencintai pastor ini.

     

    Suatu hari, Uskup mengundang pastor itu makan bersama untuk membicarakan masalah yang terjadi. Bapa Uskup tidak tahu bagaimana memulai percakapan dengan pastor, tetapi ia merasa harus menyampaikannya. Pastor ini merasa terpojok, dan mengatakan “Saya tidak pernah lupa segala sesuatu, saya bisa berkotbah seperti sebelumnya.” Uskup ini berkata, “Kadang kita bisa lupa. Kadang saya juga lupa sesuatu”. Kemudian Uskup itu memberikan saran pada pastor itu, “Jika kamu memberikan homili dan melihat sekeliling kemudian tidak ada orang yang memperhatikan, berhenti sebentar, dan ketika mereka semua melihat padamu, katakan seperti ini: Saudaraku… Aku jatuh cinta pada seorang wanita yang cantik. Aku memimpikannya siang dan malam dan mengingatnya setiap waktu. Saya ingin selalu bersama dia.” Saat semua  orang sudah kaget maka katakanlah, “Dia adalah Bunda Maria.”

     

    Minggu berikutnya ketika dia berkotbah, semua orang mulai mengantuk. Tiba-tiba Pastor itu mengingat apa yang dikatakan oleh Uskup. Dia diam dan semua orang melihat kearahnya, kemudian ikut berdiam. Dia mulai mengatakan, “Saya barusan makan siang dengan Uskup, dan dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Dia memikirkan wanita itu siang dan malam, dia ingin bersama dengan wanita itu setiap hari. Dan… sekarang saya tidak bisa ingat nama perempuan itu. Nanti kalau saya pulang akan saya tanyakan namanya.”

     

    Sekarang kita akan bicara tentang teknik bagaimana kita bisa menginjili. Dalam materi ini akan saya ceritakan beberapa contoh pengalaman yang saya dapatkan beberapa tahun lalu.

     

     

    Hal-hal Praktis dalam Melakukan Evangelisasi

     

    Beberapa orang memang dipanggil untuk menjadi Evangelist (Pewarta), tapi sebenarnya semua orang dipanggil untuk menginjili. Misalnya kita mengenal seseorang  yang mempunyai karunia yang sangat jelas dan memiliki kemampuan menjelaskan pada banyak orang. Dalam karunia karismatik, kita punya karunia untuk mengevangelisasi. Tidak banyak orang yang punya panggilan seperti itu, tetapi semua orang dipanggil untuk berevangelisasi. Contoh yang lain, beberapa orang punya karunia untuk menyembuhkan, tapi sebenarnya semua orang bisa berdoa untuk kesembuhan orang. Saya tidak bicara tentang beberapa orang di tempat ini yang punya karunia, tapi kepada semua orang di sini. Jadi, jangan pernah berfikir, “Ini bukan karunia saya.” Mari kita lihat apa yang kita perlukan untuk mempersiapkan diri melakukan evangelisasi.

     

    Doa Syafaat

    Ada dua pernyataan penting, yang pertama dari Paus Paulus VI, “Roh Kudus adalah agen tunggal dari evangelisasi” dan yang kedua adalah Evangelii Nuntiandi 75, “Roh Kuduslah Pelaku utama evangelisasi: Dialah yang mendorong tiap orang supaya mewartakan Injil; Dia pula yang dilubuk hati orang-orang menyebabkan sabda keselamatan diterima dan dimengert.” Kedua statemen ini menjadi sangat penting bagi setiap orang untuk memasukannya ke dalam hati. Ada satu kesalahan yang dilakukan banyak orang yaitu kita selalu melakukan sesuatu buat Tuhan, padahal seharusnya kita melakukan sesuatu bersama Tuhan. Itu membuat suatu perbedaan yang sangat besar.

     

    Ketika kita melakukan sesuatu untuk Tuhan, tanpa kita sadari kita sangat bergantung pada kemampuan kita sendiri, dan kita akan mencoba dengan lebih keras. Kita akan berusaha melakukan dengan lebih baik lagi. Jadi, fokusnya adalah diri kita sendiri, yang membuat anda semakin bergantung pada diri sendiri. Ketika saya bekerja bersama Tuhan, kekuatan dan kuasa Tuhan itu hadir. Rahmat Tuhan sedang bekerja dan Tuhan sedang menolong kita. Paus Paulus VI mengatakan, “Anda tidak bisa melakukan penginjilan tanpa Roh Kudus.” Dan pernyataan kedua memberikan pernyataan sangat penting. Dalam evangelisasi, Roh Kudus bekerja dengan dua cara; Roh Kudus bekerja pada hati seorang yang melakukan evangelisasi (apa yang harus dilakukan, dipikirkan, dan apa yang harus dikatakan) dan Roh Kudus juga bekerja pada orang yang dievangelisasi.

     

    Saya ingin menambahkan sesuatu pada anda. Ingatlah bahwa anda tidak akan pernah bisa mengubah siapapun. Jika bukan Tuhan sendiri yang membangun rumah, maka sia-sialah pekerja yang membangunnya. Jangan pernah katakan sudah berapa orang yang anda selamatkan, karena anda bahkan tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Roh Kudus sendiri yang harus bekerja pada diri pribadi yang melakukan evangelisasi dan Roh Kudus bekerja pada diri orang yang mau mendengar. Tidak peduli seberapa pintar anda, jika Roh Kudus tidak bekerja di hati mereka, tidak akan ada apapun yang terjadi. Paulus berkata pada kita, ”Inilah seharusnya, marilah kita tidak seorangpun dari kita boleh berbangga diri. Biarlah Roh Kudus yang menjadi pusat dari penginjilan.” Jadi, tahap pertama untuk melakukan evangelisasi adalah dengan berdoa.

     

    Ada beberapa hal yang bisa kita doakan, kita bisa berdoa untuk diri kita sendiri, “Tuhan aku memberikan diri saya hari ini kepada-Mu, berikan hikmat dan inspirasi hari ini, bagaimana caranya saya melakukan penginjilan hari ini.” Kita juga berdoa pada orang-orang yang akan kita injili hari ini, “Tuhan apakah ada seseorang yang Engkau ingin aku jumpai hari ini? Saya membuat diri saya siap dipakai hari ini dan jika saya bertemu sesorang hari ini, saya berdoa supaya engkau mempersiapkan hati mereka, berkati mereka, bantulah mereka, apapun kondisi mereka saat ini, bantu saya untuk boleh mengasihi dan melayani mereka, dan kami berdoa untuk urapan-Mu Tuhan.”

     

    Doa ini sangat sederhana dan setiap orang dapat mendoakannya. Percayalah bahwa ini adalah doa yang bisa dijawab dengan seketika. Jika anda tipe orang yang tidak nyaman dengan evangelisasi, setidaknya anda bisa memulai dengan tahapan ini, berdoa supaya Tuhan yang memulai bekerja dalam hati kita.

     

    Attitude

    Kedua yang sangat penting dalam evangelisasi adalah sikap kita. Terkadang kita berbicara seolah-olah kita sudah melakukan hal yang benar dan orang lain itu melakukan hal yang salah. Kita akan mencoba memperbaiki mereka. Orang-orang bisa merasakan kesombongan dan penghakiman anda. Berhati-hatilah dengan sikap diri anda. Saya bicara ini berdasarkan pengalaman saya. Seringkali saya punya sikap diri yang salah. Saya merasa malu tapi saya harus mengakui bahwa saya juga punya sikap yang salah.

     

    Suatu saat ketika saya sedang berjalan membawa salib yang besar. Di jalan, saya berjumpa dengan orang-orang Asia yang bekerja untuk sebuah konstruksi di jalanan. Waktu itu, saya merasa sangat sadar diri dengan salib yang sangat besar ini, terutama diantara pria. Saya merasakan bahwa mereka akan membuat lelucon kemudian mentertawakan saya.

     

    Saya terus berjalan dengan salib, saya semakin gugup, dan setiap kali saya gugup saya akan menjadi defence (berusaha mempertahankan diri). Semakin dekat dengan mereka saya semakin siap untuk bertengkar, pikir saya, kalau seandainya mereka mengolok-olok saya, saya akan berbuat ini… Kalau mereka berkata seperti ini… saya akan membalasnya seperti ini. Saya semakin marah dan semakin siap untuk bertengkar.

     

    Tiba-tiba, saya merasa Tuhan meminta saya untuk berhenti. Para pekerja itu juga melihat saya berhenti. Saat itu saya merasa Tuhan berkata pada saya, “Jangan maju selangkah lagi menuju ke mereka, sampai kamu bisa menghampiri mereka sebagai seorang pelayan.”

     

    Tuhan kemudian memberikan saya sebuah vision. Saya berpakaian seperti seorang pelayan restaurant, menggunakan sarung tangan putih, dan membawa nampan perak yang indah. Di atas nampan tersebut ada sebuah Alkitab. Dalam vision itu, saya menghampiri mereka, para pekerja, kemudian saya berlutut dan mempersembahkan nampan perak itu. Saya dapat merasakan Tuhan berkata, “Selalu milikilah sikap seperti itu apapun yang akan mereka katakan kepadamu. Kamu adalah pelayan mereka. Perlakukan mereka dengan rasa hormat.”

     

    Pada saat itu hati saya langsung berubah. Inilah orang-orang yang Tuhan beritahukan bahwa saya harus melayani mereka. Saya melanjutkan langkah saya dan ketika saya menghampiri mereka, tidak ada satupun diantara mereka yang bersikap kasar, bahkan mereka sangat tertarik kepada apa yang saya lakukan. Para pekerja itu ingin mendengar Firman Tuhan, dua orang ingin didoakan dan satu orang ingin memberikan dirinya pada Kristus. Tuhan telah mengubah sikap diri saya sebelum saya mendekati orang tersebut. Jadi, periksalah hatimu sebelum memulai penginjilan. Jika anda melihat ada sesuatu dalam diri anda yang perlu di ubah, bawalah itu pada Roh Kudus.

     

    Mendengarkan

    Point ketiga dalam sebuah evangelisasi adalah bahwa anda perlu benar-benar mendengarkan. Kita semua memiliki dua telinga dan satu mulut. Kalau kita menggunakan telingan dan mulut sesuai proporsi yang Tuhan berikan pada kita, maka akan semakin banyak orang menerima kabar Tuhan. Yakobus mengatakan, “Cepatlah mendengar dan lambat berbicara.”

     

    Kepercayaan kita kepada Yesus begitu besar, kita sangat antusias dan kita ingin semua orang mengenal Yesus. Akibatnya, kita jadi lebih banyak berbicara dan tidak mendengarkan. Saat mereka berbicara, kita sudah memikirkan ayat apa yang akan akan kita berikan pada mereka, “Ooh, saya tahu apa yang harus mereka lakukan. Saya sedang menunggu mereka menarik nafas dan saya siap mensharingkan betapa hebatnya saya.” Itu bukanlah mendengarkan.

     

    Ada dua hal yang perlu anda dengarkan. Anda perlu mendengarkan Tuhan dan anda perlu mendengarkan orang yang anda hadapi. Ketika anda mendengarkan orang tersebut, pada waktu bersamaan, Roh Kudus akan mengatakan pada anda, bagaimana anda bisa memulai percakapan. Seringkali  Tuhan memberikan discernment  atau kata-kata yang harus digunakan, bahkan ketika kita berbicara.

     

    Tetapi, anda perlu benar-benar mendengarkan sehingga anda tahu cara terbaik untuk merespon situasi tersebut. Anda tidak perlu gelar teolog, untuk menjadi pendengar yang baik, semua orang disini bisa menjadi pendengar yang baik.

     

    Saya ingin sejenak menyingkirkan hal-hal rohani dan berbicara tentang hal-hal psikologis. Seorang konselor profesional, therapist, psikolog, dan psikiater, memperkirakan bahwa 80% kemajuan dari orang-orang yang melakukan konseling didapatkan ketika si konseli bercerita dan ketika konselor mendengarkan. Survey lain mengungkapkan fakta yang menarik; ketika orang merasa benar-benar didengarkan dan tidak diinterupsi, orang yang berbicara tersebut akan percaya pada orang yang mendengarkan mereka.

     

    Ketika saya bicara pada anda dan anda mendengarkan saya, kapasitas saya untuk mempercayai anda semakin bertumbuh, dan ini sangat menarik. Kita semakin terbuka pada orang yang kita percayai, dan kita cenderung untuk semakin menarik diri pada orang yang tidak kita percayai. Jadi, pikirkan apa yang akan kita lakukan. Jika kita mencoba membagikan pesan pada orang lain tetapi mereka tidak bias mempercayai kita, maka hatinya tidak akan terbuka untuk menerima pesan itu. Sedangkan, jika mereka bisa mempercayai kita, maka mereka punya kapasitas yang lebih besar untuk mendengarkan dan mempercayai kita. Jika kita semua mau mendengarkan lebih, kita bisa memperbesar kemungkinan untuk orang-orang dapat menerima Kabar Baik.

     

    Berbicara

    Ada waktu mendengar, ada waktu bicara. Biarkan Roh Kudus memimpin kita dalam waktu-waktu tersebut. Kadang kita bicara terlalu cepat, dan kadang kita tidak berbicara pada saat seharusnya kita bicara. Kadang kita bicara terlalu banyak dan kadang kita tidak cukup bicara. Tapi sesungguhnya kita perlu menyampaikan pesan dari Paus Paulus VI, “Tidak ada evangelisasi yang benar kalau nama, pengajaran, kehidupan, janji, kerajaan, dan misteri Yesus, anak Allah yang hidup tidak diproklamirkan.” Kita bisa berbuat baik pada seseorang, bisa melakukan hal baik pada seseorang, dan bisa mempersiapkan tanah yang subur untuk ditaburkan benih yang baik, tapi pesan harus  disampaikan.

     

    Suatu ketika Fransiskus Asisi mengirimkan pesan pada suatu grup dan dalam suratnya ia menuliskan, “Ketika akan pergi pada suatu paroki yang baru, sebelum kamu memulai kotbahmu, pergilah kepada Uskup dan meminta ijin. Jika Beliau tidak mengijinkan, paling tidak wartakan Injil itu dengan cara hidupmu.” Seringkali, orang-orang memakai “quote” itu (tidak perlu berkotbah, melainkan mewartakan Injil dengan cara hidup). Dengan segala hormat saya katakan, banyak dari kita yang belum memiliki cara hidup seperti Fransiskus Asisi. Ketika anda bisa membangkitkan orang mati dan punya stigmata mungkin kita bisa membuat janji-janji yang lain. Sampai hal itu tiba, anda harus beritakan Injil. Anda mungkin tahu, bahwa Fransissus Asisi di tengah-tengah perang salib, pergi ke selatan wilayah Islam dan memberitakan Yesus Kristus dengan kata-katanya. Jadi, beritakan Yesus dengan perkataanmu.

     

    Hal yang ingin kita wartakan adalah pesan dari Yesus sendiri. Bagaimana caranya? Ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan. Bayangkan saya memiliki sebuah tas, saya meletakan senter, apel, dan obat untuk luka saya. Saya membawa tas saya dan pergi bertemu dengan seorang teman. Saya bertanya, “Apa kabarmu saudaraku?” Ia menjawab, “Saya sangat lapar!” Apa yang akan saya ambil di tas saya? Dia tidak mungkin bisa memakan senter, tapi ia bisa memakan buah apel. Saya melanjutkan perjalanan, hari semakin gelap. Di tengah jalan, saya melihat ada seorang pengemis yang sedang tidur, kemudian saya menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Ia menjawab, “Di sini gelap, saya tidak dapat melihat apapun”. Saya tidak akan bertanya apakah ia menginginkan apel. Saat itu saya tahu bahwa saya bisa menggunakan senter. Apakah anda menangkap pointnya?

     

    Inilah yang ada perlu kita miliki saat melakukan penginjilan. Anda perlu memiliki ayat-ayat pegangan, bukan ratusan ayat, juga bukan ayat yang panjang. Saya menemukan kuasa dalam Firman Tuhan, dan saya bisa membagikan dengan pengalaman pribadi. Ingat, bahwa Firman Tuhan diinspirasikan oleh Roh Kudus. Paulus menjelaskan hal itu seperti pedang bermata dua yang bisa menusuk masuk ke dalam hati.

     

    Saya pikir orang-orang sering melakukan beberapa kesalahan, mereka hanya sekedar mengambil ayat saja bahkan ada orang lain yang mencoba menghindari tidak memakai Firman sama sekali. Hal yang paling baik adalah anda hanya perlu memiliki 4-5 ayat pegangan yang sungguh-sungguh menyentuh hati dan hidup anda. Saat anda mencintai ayat tersebut, Firman yang menjadi hidup.

     

    Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seseorang yang mengalami masa sulit dalam hidupnya. Dia sangat depresi dan kecewa, bahkan ia tidak mau meneruskan hidupnya lagi. Saya hanya mendengarkan dan berkata bahwa saya pernah membaca sesuatu yang sangat membantu saya ketika melewati masa-masa sulit dalam hidup. Saya bertanya kepadanya, apakah saya boleh membagikan padanya, dan ia mengangguk.

     

    Saya menatap orang tersebut dan saya katakan, “Jangan takut karena Aku bersamamu, jangan kuatir karena Aku Tuhan Allahmu, Aku akan menguatkanmu dan akan menolongmu, dan Aku akan memegangmu dengan tangan kananku yang memberi kemenangan.” Perkataan itu seperti anak panah yang mengenai hatinya, perlahan-lahan raut wajahnya mulai berubah.

     

    Alasan mengapa saya mengetahui ayat itu adalah ketika saya berumur 40 – 50 tahun, saya mengalami masa-masa yang sulit dalam hidup. Saya membenci diri saya dan kemudian seseorang membagikan ayat tersebut. Ayat itu sendiri begitu masuk ke dalam hati saya. Jadi, ketika saya membagikannya kepada orang lain, saya tidak mengatakan Firman lain yang panjang dan hebat, tetapi saya mencurahkan apa yang ada pada hati saya. Saya mencintai Firman itu dan saya bagikan.

     

    Jika anda tidak mencintai Firman Tuhan, anda tidak bisa membagikannya dengan kuasa Tuhan. Jadi daripada mengucapkan Firman Tuhan seperti sebuah mesin, carilah 4-5 ayat dan biarkan ayat itu me-rhema dalam hati anda dan letakan itu dalam “tas” anda. Pada saat yang tepat, anda bisa memberikan harta dari hati anda pada orang yang membutuhkan, dan Firman Tuhan  tidak akan pernah kembali pada anda sia-sia. Seperti hujan yang turun yang punya tujuan, Firman Tuhan akan menggenapinya. Temukan suatu cinta yang baru dalam Firman Tuhan dan bagikan Firman Tuhan yang anda cintai itu pada orang yang anda cintai. Anda akan melihat kuasa dari kata yang tidak pernah anda bayangkan.

     

    Seperti apa yang pernah diceritakan oleh Michelle bahwa sebuah konsep juga perlu aplikasi. Saya bisa  membaca  Firman Tuhan, tetapi saya harus punya ilustrasi dari hidup saya pribadi. Hidup anda akan menjadi sesuatu untuk menolong orang lain, tetapi anda juga perlu berhati-hati. Anda perlu ingat bahwa tujuan dari kesaksian anda adalah mengilustrasikan apa yang Roh kerjakan, dan bukan tentang anda menceritakan kisah anda.

     

    Kisah lain, ada seorang duduk di kursi dan menangis. Kemudian, datang orang lain dengan maksud baik dan bertanya, “Apakah kamu baik-baik-baik saja?” Kemudia orang yang duduk itu menjawab, “Mama saya baru saja meninggal minggu lalu. Saya bertanya-tanya apakah ada keabadian? Dimana mama saya sekarang?” Orang yang datang itu berkata, “Saya tahu apa yang kamu alami, papa saya meninggal dua tahun lalu dan itu menghancurkan hati saya.” Orang yang duduk itu menjadi tertarik pada 2-5 menit perkataan orang itu. Sebenarnya orang tersebut hanya menceritakan kisahnya tanpa mendengarkan sedikitpun dari orang yang duduk yang seharusnya bercerita itu. Kesaksian anda bisa menjadi powerful, tapi itu hanyalah bumbu. Taruhlah bumbu untuk membuat rasa enak, tapi jangan terlalu banyak karena akan merusak rasanya. Pakailah kesaksian yang cukup untuk masuk pada point utama, jangan sampai anda mendominasi percakapan itu. Kita punya Firman Tuhan, dan kesaksian kita bisa membuat itu menjadi aplikasi yang baik.

     

    Kita bisa bercerita dari sebuah film, berita yang kita baca, atau bahkan cerita dari seorang teman dan kita bisa masuk kedalamnya. Yesus melakukan itu sepanjang waktu. anda tahu bagaimana seseorang belajar? Buat seseorang belajar konsep yang baru. Mereka harus terkoneksi dengan konsep yang mereka sudah miliki sebelumnya.

     

    Bagaimana seseorang bisa mengerti tentang cinta Tuhan yang begitu luar biasa? 2000 tahun yang lalu orang sangat mengerti gembala yang menjaga domba-dombanya. Jadi, saat Yesus menceritakan sebuah misteri sementara kita tidak punya kapasitas untuk mengerti, Dia akan ambil contoh yang bisa dimengerti oleh semua orang. Jadi hal itu yang perlu kita lakukan. Kita berdoa, mendengarkan, memberikan Firman Tuhan.

     

    Berdoa

    Banyak orang hari ini tidak tahu bagaimana cara berdoa. Ketika kita berkata, “Mengapa kita tidak berdoa?” Umumnya mereka tidak tahu cara berdoa, dan reaksi normalnya ketika diminta berdoa adalah, “Tidak, terima kasih.” Doa adalah dialog dengan Tuhan, dan kita harus menemukan cara untuk membantu seseorang berdoa dengan kondisinya.

     

    Kemarin saat sesi LTC berakhir, kita tidak punya doa yang formal. Saya meminta anda sebelum meninggalkan ruangan, berdirilah beberapa menit dan memandang wajah Yesus.

     

    Beberapa orang berpikir, kalau anda seorang Kristen akan sangat terintimidasi untuk berdoa. Ketika ditanya, “Maukah anda berdoa?” Mereka takut berdoa karena mereka tahu anda pergi ke gereja. Kadang-kadang mereka merasa anda akan menghakimi cara mereka berdoa. Jadi banyak orang tidak ingin berdoa. Pada saat itu anda harus meminta Roh Kudus, untuk menemukan caranya supaya anda bisa menggerakkan hati orang tersebut.

     

    Beberapa orang suka, kalau anda yang memimpin doanya. Beberapa orang merasa nyaman saat kita berkata, “Tutup mata dan saya akan berdoa bagi kamu.” Saya percaya bahwa doa itu bukan hanya kata-kata dari mulut, tapi gerakan dari hati. Jadi temukan cara terbaik untuk bisa menggerakkan hati seseorang; bisa juga gerakan tubuh, bisa juga doa, atau sebuah doa yang orang akan merasa nyaman seperti Bapa Kami, Kemuliaan.

     

    Suatu saat jika orang berkata, “Saya tidak tahu bagaimana berdoa, biasanya saya bernyanyi. Apakah Tuhan berkenan jika saya menyanyikan lagu?” Saya katakan, “Tuhan sangat senang kalau anda bernyanyi.” Dan orang yang kelihatan kasar ini mulai menangis ketika menyanyikan lagu Amazing Grace. Saya rasa Tuhan juga meneteskan airmata ketika orang yang kasar itu menyanyikan lagu tersebut, jadi kita perlu berdoa.

     

     

    Kesaksian yang Tidak Terbantahkan

     

    Satu hal yang menjadi bagian besar dari penginjilan adalah bukan hanya apa yang kita bicarakan, juga bukan apa yang kita lakukan, tapi tentang menjadi diri kita. Siapa diri kita? Saya jabarkan kesaksian yang tidak bisa ditolak yakni Firman, sikap hidup dan karakter. Saya rasa kita semua pernah bertemu dengan orang-orang yang selalu mengatakan perkataan yang benar, tapi anda merasa tidak ada apapun dalam hati mereka, atau ada orang yang mengatakan satu satu hal tetapi ia melakukan hal yang berbeda. Tidak ada orang yang sempurna, jadi ini tiga area dalam hidup kita yang perlu kita beri perhatian. Kata-kata yang kita keluarkan, bagaimana gaya hidup kita dan bagaimana karakter kita. Ini adalah hal dimana kita bisa terus menerus bertumbuh dan saya harap anda semua dapat terus bertumbuh.

     

    Saya pernah bertemu pada orang yang hidupnya sangat kudus, anda juga mungkin pernah merasakan. Anda merasakan atmosfir ruangan itu berbeda keadaannya ketika orang tersebut masuk ke dalam ruangan. Ia tidak perlu berkata apapun, tidak berdoa, dan tidak menunjukan mujizat apapun tetapi kita bisa merasakan perasaan lebih nyaman ketika orang tersebut berada di dalam ruangan. Tuhan mau dunia lebih baik ketika anda menunjukan diri anda. Tuhan mau orang-orang menjadi lebih nyaman saat anda datang. Tuhan mau keluarga anda merasakan perasaan damai ketika anda berada di rumah. Ketika kita semua berserah diri pada Tuhan, kita bisa mengubah suatu atmosfir. Ini bukan hal kecil. Ini adalah bagian yang besar dalam sebuah penginjilan.

     

     

    Penggunaan Karisma dalam Sebuah Penginjilan

     

    Saya sering melihat orang-orang menggunakan sebuah karunia luar biasa tetapi tidak menggunakan kepekaannya dan tidak melakukan discernment  dengan baik. Hal itu akan menjadi kacau. Saya juga pernah mengalami bahwa karisma yang digunakan dengan cara yang lembut dan dipimpin oleh Tuhan akan mempunyai kuasa yang luar biasa. Kadang kita merasakan karisma/karunia itu sangat baik ketika di dalam persekutuan doa, tetapi kita kemudian menonaktifkan itu di luar. Karisma seharusnya membangun kerja secara internal, tapi juga harus dipergunakan untuk memanggil orang dari luar kembali pada Kerajaan Allah.

     

    Suatu ketika saya sedang berada di tengah kota dengan membawa salib dalam perjalanan, menunggu lampu menjadi hijau untuk menyebrang. Saya sering melakukan hal itu. Dari arah lain, seorang wanita berjalan dan melihat saya, kita bertemu di tengah-tengah. Saya percaya ini adalah Sabda Pengetahuan dan inspirasi dari Roh Kudus. Saya punya perasaan bahwa wanita ini pernah melakukan aborsi.

     

    Kita harus sangat berhati-hati dalam hal ini. Ada kemungkinan saya salah. Walaupun saya benar, itu bisa juga menjadi suatu bencana seandainya saya mengatakan, “Halo..., saya Jim Murhpy dan saya tahu kamu sudah pernah melakukan aborsi.” Dapatkah kita bayangkan reaksi wanita itu?

     

    Kami berpapasan. Dia memandangi saya dari atas sampai ke bawah, “Apa yang kamu lakukan?” JM: “Sedang menunggu lampu hijau.” W: “Oh..., bukan, apa yang kamu lakukan dengan salib besar itu?” JM: “Oh… itu. Saya berjalan dengan salib besar ini hanya ingin menunjukan betapa Tuhan mencintai mereka.” Ia merespon dengan: “Oh…“

     

    Saya melanjutkan, “Dalam hidup kadang kita melakukan kesalahan, kita melakukan kesalahan-kesalahan yang serius. Kita berfikir bahwa mungkin Tuhan tidak lagi mencintai kita. Jadi saya membawa salib besar ini untuk mengatakan kepada mereka bahwa Tuhan mencintai semua dari kita. Allah memberikan Yesus untuk pengampunan dosa kita.” Ia hanya melihat saya. “Kadang kita menyesal dalam hidup kita, dan berharap waktu bisa diputar kembali agar kita bisa melakukan sesuatu yang berbeda. Kita merasa terperangkap karena tidak bisa memutar waktu kembali. Tetapi kita perlu ingat bahwa cinta Tuhan tidak dihalangi oleh waktu, dan cinta Tuhan menjangkau segala kesalahan yang kita lakukan di masa lalu, bahkan sampai saat ini Tuhan bisa menyembuhkan masa lalu kita.”

     

    Ia masih terus memandang saya. “Mungkin ada masa dimana dalam hidup kita merasakan ada jurang pemisah yang dalam antara kita dengan Tuhan. Tahun semakin berlalu, banyak kesalahan, kita ingin kembali kepada-Nya tetapi kita tidak tahu bagaimana caranya.” Saya meletakan salib besar itu menghadap ke wajahnya. Saya katakan, “Inilah jembatan untuk pulang, apapun penghalang, sedalam apapun jurang itu, Salib ini adalah jembatan untuk kembali kepada Yesus. Pintunya selalu terbuka untuk kita sampai ke rumah Tuhan. Yang perlu kita lakukan adalah berjalan bersama salib Yesus untuk kembali kepada Kristus.”

     

    Wanita ini masih saja diam memandang saya, kemudian ia berkata, “Ini adalah percakapan paling aneh yang pernah saya alami.” Dia melihat sekeliling, “Saya tidak pernah bicara ini pada siapapun, tetapi tujuh tahun lalu saya melakukan aborsi. Saya merasa apapun yang kamu bicarakan seolah ditujukan pada saya.”

     

    Apapun yang saya katakan memang untuk dia. Saat itu, kita memiliki saat yang indah di dalam doa. Dia mengalami pemulihan. Dia melakukan rekonsiliasi dengan anak yang diaborsi. Saya membawanya ke suatu Gereja yang bisa mendampingi dia saat-saat itu. Saya mendapatkan pelajaran penting saat itu. Tidak selalu sabda pengetahuan harus disampaikan, tetapi kita harus mencari cara, minta tuntunan Roh Kudus untuk bisa sampai pada yang dimaksudkan dan diinginkan oleh Tuhan.

     

    Saya pernah juga bertemu dengan orang yang tidak pernah mendengar nama Yesus, disembuhkan oleh Karunia Roh yang menyembuhkan.

     

    Saya akan menutupnya dengan cerita sewaktu berada di LA. Udara sangat dingin, banyak orang mabuk dan hidup di jalanan. Ada seorang anak muda yang tinggal di jalanan, duduk disana. Saya menghampirinya dan mencoba duduk dekatnya.

     

    Dia melihat salib yang besar dan bertanya “Apa yang kamu lakukan?” Saya menjawab, “Saya sedang duduk.” Dia bertanya kembali, “Oh…, bukan, apa yang kamu lakukan dengan salib ini?” Dengan cara yang sederhana saya mencoba untuk menyampaikan pesan Yesus.

     

    Pada saat itu, Tuhan menggerakan saya untuk berdoa bagi dia. Saya bertanya kepadanya, apa saya boleh berdoa? Dia menjawab, “Saya tidak tahu bagaimana cara berdoa, kalau anda mau menunjukkan caranya baiklah kita lakukan.” Saya meletakan tangan saya dipundaknya dan saya berdoa. Dia menundukan kepada, saya merasa ada satu dorongan untuk berdoa dalam Bahasa Roh.

     

    Secara manusia saya tidak bisa melakukan itu. Orang ini akan berdiri dan pergi. Dia belum pernah ikut SHDR, tidak pernah mengetahui apa yang terjadi dalam suatu persekutuan doa. Orang ini akan menganggap saya gila. Tapi Bahasa Roh itu kemudian terlontarkan. Saya tidak berteriak, hanya bernyanyi dalam Bahasa Roh. Saya tidak berani melihatnya, dia hanya menutup matanya dan tidak bergerak sama sekali.

     

    Ketika selesai, saya mengintip. Ada air mata yang mengalir. Saya bertanya, “Apakah kamu baik-baik saja?” Ia berkata, ”Ini luar biasa. Saya tidak tahu bagaimana kamu memulainya. Ketika kamu mulai bernyanyi lagu malaikat surga, saya merasa seperti api masuk ke dalam saya dan hati saya berkobar. Apa yang terjadi? Saya tahu bahwa Tuhan begitu mencintai saya, dapatkah kamu mengajarkan saya nyanyian lagu tadi? Jadi saya bisa terus menjaga api dalam dada saya?”

     

    Saya katakan seperti orang Farisi, “Ini doa yang sangat istimewa dan tidak semua orang bisa berdoa seperti itu.” Ia berkata, “Saya ingin berdoa seperti itu.” Kemudian secara sederhana, saya menjelaskan kepada dia apa itu Bahasa Roh. Saya katakan, “Alasan doa adalah kita meyembah Tuhan. Kita butuh komitmen dalam hati, kita bisa memberikan hidup untuk melayani Tuhan.” Lalu dia berkata lagi, “Saya mau melayani Tuhan.”

     

    Si Farisi ini berkata “Ini membutuhkan komitmen. Kamu harus melayani Tuhan seumur hidup.” Orang itu bangun, berjalan menghadap saya dan memegang salib itu. Ia berlutut di hadapan salib itu dan berkata, “Saya mau melayani Yesus seumur hidup saya. Saya memberikan hidup saya, saya hanya butuh pertolongan untuk bisa melayani Dia, apa yang harus saya lakukan sekarang?” Saya berikan salib itu padanya dan meletakan tangan di pundaknya, sekitar 30 detik kemudian ia bernyanyi dalam lagu malaikat (Bahasa Roh).

     

    Ketika saya berpikir untuk mempertobatkan orang, itu sebenarnya sudah membawa orang pada Tuhan. Jadilah bijaksana, selalu melakukan discerment, dan bersikap lemah lembut tapi tetaplah karismatik. ***

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/