• Menyebarkan Rahmat Baptisan Dalam Roh (Oleh Sr Nancy Kellar)

    Spreading The Grace of Baptism in The Holy Spirit

    By. Sr Nancy Kellar

    (Menyebarkan Rahmat Baptisan Dalam Roh)

    Rahmat datang dari Roh Kudus. Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu orang-orang agar siap menerima rahmat tersebut? Salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan memberikan pengajaran yang baik. Berapa banyak dari anda sekalian yang pernah memberikan pengajaran di persekutuan doa?

    Saya akan mulai dengan sebuah cerita. Ada sebuah kontes di Inggris yang menawarkan hadiah uang dengan nominal yang cukup tinggi. Seorang aktor terkenal mengikuti kontes itu, demikian pula dengan seorang petani miskin. Aktor itu membaca dengan penuh perasaan dan semuanya bertepuk tangan. Lalu tibalah giliran si petani miskin. Orang-orang mulai menangis ketika dia berbicara. Sang Aktor berkata, "Oh kasihan, ini sangat buruk sampai semua orang menangis.” Si petani menyelesaikan renungannya mengenai Mazmur 23. Ketika selesai, semua orang hening dan aktor itu kembali berkata, "Oh kasihan, ini sangat buruk. Apa kamu menyadari bahwa tidak ada seorangpun yang bertepuk tangan?"

    Si petani memenangkan kontes itu dan si aktor berkata, "Aku tidak mengerti." Juri menjawab, "Kamu tahu dan membaca Mazmur itu dengan baik, tapi si petani mengenal sang Gembala.” Petani menang karena dia tidak hanya tahu tentang Mazmur itu, tetapi dia mengenal sang Gembala.

    Kalo kita ingin mengajar tentang Tuhan Yesus, kita harus terlebih dulu mengenal-Nya. Tidak hanya mengenal-Nya di dalam kepala kita, tidak hanya tahu tentang Yesus saja, namun mengenal-Nya dengan mengalami secara pribadi.

    Memberikan sebuah pengajaran atau kotbah dapat diibaratkan seperti memasak. Ketika memasak, anda membutuhkan bahan-bahan, bumbu, komposisi, dan waktu yang tepat. 

    Ketika anda memberikan pengajaran tentang Baptisan dalam Roh, bahan masakannya adalah: "Apakah Baptisan dalam Roh itu?" Bumbu-bumbunya adalah kesaksian iman pribadi. Sementara komposisinya membutuhkan dua bagian: inspirasi dan struktur pengajaran, untuk menjadikannya suatu pengajaran yang baik. Inspirasi akan membuat orang-orang bersemangat untuk mendengarkan. Dan anda membutuhkan lebih dari semangat, yakni struktur pengajaran, yang dapat membantu mengarahkan orang ke hal-hal yang lebih mendalam.

    Ketika saya tumbuh besar di New York City, saya memiliki tungku arang di dapur. Saya belajar membuat api di tungku arang itu. Pertama-tama saya belajar meletakan kertas, kemudian kayu, lalu arang.

    Ketika memberikan pengajaran tentang Baptisan dalam Roh, kertas melambangkan antusiasme mula-mula. Kertas adalah “wow moment" dan kita menyukainya. Namun jika kita hanya menaruh kertas dalam nyala api, apa yang akan terjadi? Apinya akan membesar lalu mengecil. Jadi, anda harus memasukkan kayu ke dalam nyala apinya. Kertas itu akan terbakar cukup lama untuk menyalakan kayunya.

    Kayu dalam kehidupan spiritual kita adalah pengajaran tentang Roh Kudus, pengajaran tentang Doa, membaca Firman Tuhan, dan bertumbuh dalam Sakramen. Semua itu dapat menjaga api dan membuatnya besar. Tetapi jika anda benar-benar ingin nyala api bertahan lama, anda harus menaruh arang dalam nyala api itu. Arang dalam kehidupan spiritual kita adalah salib kita masing-masing, pemurnian. Dan api yang memurnikan. Berapa banyak dari anda yang telah merasakan penderitaan dalam 50 tahun ini?

    Membuat api dalam tungku arang membuat saya belajar lebih banyak lagi, bahwa anda harus menumpuk arang-arang itu satu di atas yang lain, saling berdekatan dan bergesekan. Hal itu seperti sebuah gambaran dari suatu komunitas. Di dalam komunitas, kita mengalami pemurnian. Kadangkala kita ingin menjadi sangat spiritual, dan kita berdoa, ”Tuhan, murnikan aku.” Namun ketika kita pergi ke persekutuan doa dan ada seorang teman mengatakan, ”Kamu harus bertobat.” Kita malah berkata, ”Apa???”

    Kita perlu mengingat bahwa kita berdoa memohon pemurnian. Dari manakah pemurnian datang? Dari gesekan-gesekan satu sama lain dalam suatu komunitas.

    Lalu saya belajar lain hal lagi. Kalo kamu sangat ingin api bertahan lebih lama lagi, kamu harus keluar dan mendapatkan arang-arang baru. Pergi keluar dan mendapatkan arang-arang yang baru inilah yang disebut Misi, Evangelisasi, dan membagikan buah-buah.

    Ada tiga janji dari Roh Kudus. Ketika saya mengajar tentang Baptisan dalam Roh, hal pertama yang saya ajarkan adalah iman yang penuh pengharapan. Banyak orang kenal saya karena mengatakan kata lebih banyak. Akan selalu ada lebih banyak. Salah satu hal tentang pembaruan karismatik adalah tentang seseorang yang memberitahu saya bahwa ada lebih banyak tentang Roh Kudus, dan kita berkata, ”Tuhan, saya butuh lebih banyak.” Kita perlu mengobarkan harapan orang-orang yaitu dengan menaruh kertas dalam nyala api. “Penting bagi kita untuk menjadi antusias, itu penting, dan kita tidak mau kehilangan antusiasme kita, tetapi kita mau lebih banyak lagi.”

    Suatu hari, saya membaca tentang Baptisan dalam Roh. Artikel itu mengatakan bahwa Baptisan dalam Roh adalah melepaskan kuasa Roh Kudus dan pencurahan Roh Kudus yang segar sehingga kita merasakan semua yang Tuhan janjikan tentang Roh Kudus. Saya lapar dan saya mau semua janji-janji itu. Lalu saya mengambil Kitab Suci, mencari semua janji-janji Roh Kudus dan menemukan bahwa janji-janji itu dapat dikategorikan dalam tiga kelompok:

    1. Ada janji-janji untuk pembaharuan pribadi: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku dan kamu akan datang untuk mengenal-Ku.” “Kamu akan datang untuk mengenal kasih Bapa.” “Kamu akan datang untuk merasakan kemerdekaan Yesus.” Itulah janji-janji Roh Kudus untuk pembaruan pribadi.
    2. Lalu saya melihat janji-janji itu lagi dan menemukan kelompok yang kedua: “Aku akan mencurahkan Roh-Ku, Aku akan menjadi penuntunmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Bukan hanya pembaruan pribadiku saja, namun juga pembaruan umat Tuhan sebagai satu komunitas.            
    3. Lalu saya melihat kelompok ketiga dari janji-janji Roh Kudus untuk Misi dan Pelayanan. “Aku akan mencurahkan Roh-Ku, dan kamu akan menjadi saksi-Ku sampai ke ujung bumi.”

    Ketika saya mengajar tentang hal ini, saya menggunakan tangan saya. Untuk janji-janji pembaruan pribadi, tangan saya seperti mengucurkan air dari ujung kepala sampai ke kaki. Untuk janji-janji pembaruan komunitas, tangan saya bergerak seperti menaburkan benih ke kiri, tengah dan kanan. Untuk janji-janji Misi dan Pelayanan, tangan saya seperti mengusir serangga di udara dari kiri, tengah, dan kanan.

    Sekarang, lihatlah peristiwa Pentakosta. Peristiwa itu membantu, ketika mengajar tentang Baptisan dalam Roh. Dalam Baptisan dalam Roh, kita melihat pada peristiwa Pentakosta yang pertama. Karena Baptisan dalam Roh, adalah mengalami Pentakosta. Pentakosta adalah untuk semua.

    Lihatlah Petrus pada peristiwa Pentakosta. Sebelum Pentakosta, Petrus tidak pernah mengerti. Petrus ketakutan. Dia menyangkal Yesus tiga kali. Lihatlah Petrus setelah Pentakosta. Dia berdiri di hadapan ribuan orang dan mewartakan bahwa Yesus yang telah mereka salibkan adalah Anak Allah yang hidup. Darimana dia mendapatkan keberanian itu? Roh Kudus...

    Dia melihat kembali Sabda Tuhan dan menjelaskan kepada mereka bahwa Yesus adalah Mesias yang mereka tunggu selama ini. Darimana dia mendapatkan kebijaksanaan itu? Roh Kudus. Darimana dia mendapatkan karunia pengajaran? Roh Kudus...

    Lihatlah kembali peristiwa Pentakosta. Lihatlah Para Rasul. Sekarang ada tes kecil: “Sebelum Pentakosta, waktu perjamuan malam terakhir, Para Rasul berdoa dengan sungguh-sungguh? Ya atau tidak?”

    “Tidak!” Waktu perjamuan malam terakhir, Para Rasul berdebat satu sama lain. Dalam Luk 22:24 dikatakan: “Siapakah yang terbesar di antara mereka?” Apakah itu? “Iri hati, persaingan, permusuhan?” Hal-hal yang terdengar umum di kalangan kita sendiri.

    Lihatlah Para Rasul sesudah Pentakosta. Dikatakan bahwa mereka satu dalam pikiran dan satu dalam hati. Hanya Roh Kudus yang dapat mempersatukan kita.

    Lihatlah Para Rasul setelah Pentakosta. Apakah mereka tinggal di ruang atas? Tidak! Mereka keluar. Dan mereka menemukan orang lumpuh di pintu gerbang, dan Petrus berkata, ”Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” Darimana dia mendapatkan karunia penyembuhan? Roh Kudus..

    Ketika kita mengajar tentang mengalami Baptisan dalam Roh, kita perlu mengajarkan tentang pemenuhan janji-janji Roh Kudus. Roh itu membantu kita untuk memuji Tuhan. Roh itu membantu kita tumbuh dalam kesucian, tapi kita perlu untuk mengajarkannya. Ada lebih banyak lagi... Adalah suatu karunia dari Roh itu juga untuk mempersatukan kita semua.

    Kalo saya disuruh menunjuk satu alasan yang paling menonjol yang menyebabkan kita kehilangan api Roh Kudus, itu adalah lemahnya persatuan. Lemahnya persatuan antara para pemimpin. Lemahnya persatuan dalam persekutuan doa. Di mana ada perpecahan, disitu ada dosa. Di mana ada dosa, disitu ada maut.

    Kita perlu bertobat dari lemahnya persatuan kita. Tidak perlu terkejut dengan lemahnya persatuan kita, karena hal yang sama pun terjadi di antara Para Rasul sebelum Pentakosta. Kita perlu mendeteksinya. Kita perlu membicarakannya apa adanya dan bukannya menutupinya seolah-olah tidak terjadi.  Kita perlu mengenalinya dan berdoa memohon karunia persatuan, karunia yang mempersatukan kita semua.

    Ketika saya membicarakan tentang karunia lidah, saya mengatakannya sebagai karunia untuk berdoa. Ketika kita tidak tahu lagi bagaimana harus berdoa, Roh itu yang berdoa dari dalam diri kita. Karunia lidah adalah karunia untuk pujian dan penyembahan. Tetapi karunia lidah juga merupakan karunia persatuan. Lihatlah ketika kita berdoa dalam Roh. Kita tidak lagi membutuhkan penterjemah. Roh itu memberikan kepada kita bahasa-bahasa yang mempersatukan kita. Karunia lidah juga merupakan karunia untuk evangelisasi. Ketika kita tidak tahu bagaimana mendoakan seseorang, Roh itu memberi kita kata-kata. Kita perlu mengharap kepenuhan janji-janji Roh Kudus.

    Sedikit tentang menuntun orang-orang dalam doa; ketika kita berdoa bersama-sama untuk pencurahan Roh Kudus, pertama-tama kita perlu untuk terus melakukannya. Kadangkala, saya punya masalah dalam pembaruan karismatik. Ketika mengingat masa lalu, ketika kita dalam satu konferensi sabtu malam, kita berdoa bersama-sama untuk mengalami Baptisan dalam Roh. Tetapi sekarang, banyak, banyak, banyak, banyak konferensi namun mereka tidak berdoa bersama-sama untuk mengalami Baptisan dalam Roh. Mereka hanya berdoa untuk penyembuhan. Kita perlu menganjurkan agar berdoa untuk pencurahan Roh Kudus. Rahmat dari jantung  pembaruan ini adalah rahmat dari berdoa untuk mengalami Pentakosta.

    Kita perlu mengatakan kepada orang-orang apakah mereka sudah mengalami Pentakosta secara pribadi. Berikan kesaksianmu dari perubahan hidup yang kamu alami setelah mengalami Pentakosta secara pribadi. Lalu, tuntun mereka untuk didoakan. Ada lagi...? Selalu ada lebih banyak dari Roh Kudus...

    Mereka (panitia) memberitahu saya bahwa saya punya sisa waktu tiga menit. Apa kamu kira saya membutuhkan waktu limabelas menit untuk minta lebih dari Roh Kudus? Saya hanya perlu semenit saja. Mari berdoa bersama, “Datanglah Roh Kudus...” ***

    Diterjemahkan oleh: Ign. Surya Prasetya Wijaya, MBA

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/