• Roh Kudus Sumber Kuasa & Karunia Dalam Melayani (Oleh Mgr. I. Suharyo)

    Ceramah Umum Konvenda X BPPG Jakarta 2017

    ROH KUDUS SUMBER KUASA DAN KARUNIA DALAM MELAYANI

    Oleh: Mgr. Ignatius Suharyo (Uskup Agung Jakarta)

    Saya akan menampilkan seorang tokoh yang kita temukan di dalam Kitab Suci. Seorang yang sangat menarik pribadinya, yang kita temukan dalam Kisah Para Rasul, namanya, Barnabas.

    Mengapa Barnabas? Jawabannya ada pada Kisah Para Rasul 11:24. Pada ayat itu dikatakan, “…karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.” Saya ingin menampilkan Barnabas sebagai seorang pelayan, dan bagaimana Roh Kudus berperan.

    Saya tidak akan menjelaskan konsep, atau teologi mengenai Roh Kudus, tetapi melihat bagaimana seorang Barnabas yang dikatakan penuh dengan Roh Kudus dan iman, tampil berkarya dan melayani. Oleh karena itu, cara yang dipakai sangat sederhana sekali, yaitu dengan mencari ayat-ayat pada Kisah Para Rasul yang berkaitan dengan Barnabas.

    Nama Barnabas di dalam Kisah Para Rasul pertama kali kita temukan pada Bab 4:36–37. Dikatakan, “Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” Ayat itu merupakan pertama kalinya nama Barnabas kita temukan di dalam Kisah Para Rasul. Dengan demikian, namanya sebetulnya bukan Barnabas, tetapi Yusuf. Barnabas adalah panggilan yang diberikan kepadanya oleh rasul-rasul, dan Barnabas artinya adalah anak penghiburan. Silahkan membayangkan, jika seorang pribadi diberi panggilan seperti itu, kira-kira seperti apakah orang tersebut? Anak penghiburan; pasti badannya agak gemuk sedikit, kemana-mana selalu tersenyum, dan kalau ada dia, semuanya merasa senang. Bisa kita coba bayangkan, jika ada dia, suasana menjadi cair, tidak tegang, tidak bingung, gembira, dsb.

    Kemudian pada ayat ke 37, “Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul”. Jika Roh Kudus sungguh-sungguh membimbing, akibatnya sangat dahsyat seperti ini, seperti Barnabas, anak penghiburan, yang menjual ladangnya dan memberikan uangnya kepada Para Rasul. Karena orang-orang seperti inilah, maka jemaat pertama pengikut Kristus sungguh-sungguh disebut sehati, seperasaan, satu dalam doa, satu dalam iman pengajaran Para Rasul.

    Saya mengajak anda untuk mencari ayat lain dimana Barnabas ditemukan. Kisah Para Rasul Bab 9 bercerita tentang yang biasa disebut sebagai kisah pertobatan Rasul Paulus. Ketika Paulus berjumpa dengan Kristus, hidupnya berubah. Dikatakan begini, “Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid” – Kis 9:26.

    Silahkan merasakan kalimat itu. Paulus yang tadinya menganiaya jemaat, bertemu dengan Kristus dalam perjalanan, kembali ke Yerusalem dan mencoba menggabungkan diri kepada murid-murid-Nya. Kira-kira apakah ia diterima? Jawabannya, “…tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat percaya, bahwa ia juga seorang murid.”

    Silahkan membayangkan Paulus, orang hebat itu, berubah hidupnya, mencoba bergabung dengan Para Rasul tetapi ditolak. Semua orang takut. Tidak mau menerima dia. Padahal ia adalah seorang komandan, kemana-mana berkuasa, kemana-mana dilayani, orang-orang takut kepadanya, orang hormat kepada dia, tetapi ketika ia ingin bergabung dengan murid-murid, semura orang takut dan tidak dapat percaya. Lalu ayat ke 27, “Tetapi Barnabas  menerima dia dan membawanya kepada rasul-rasul…”

    Kalimat tersebut dimulai dengan kata ‘tetapi’. Jika murid-murid tidak mau menerima Paulus, Barnabas mau menerimanya. Kata ‘tetapi’ itu menjadi sangat penting, karena berlawanan dengan kalimat sebelumnya. Dan, itulah sikap Barnabas yang paling mendasar. Ketika murid-murid yang lain tidak mau menerima, tetapi Barnabas mau menerima. Barnabas menunjukan bahwa dia mempunyai watak yang sangat berbeda dengan sikap murid-murid pada waktu itu. Inilah yang disebut dengan orang baik, penuh dengan Roh Kudus, penuh iman.

    Untuk mengetahui peranan Barnabas selanjutnya, kita akan mengikuti sebentar nasib Paulus yang ditolak di Yerusalem itu. Kita mengikuti kisah Paulus untuk menunjukan peranan Barnabas yang sangat penting, dan menunjukan bahwa inilah orang yang sungguh dikuasai dan dibimbing oleh Roh Kudus.

    Berkat jasa Barnabas, Paulus diterima di Yerusalem. Kis 9:30-31, “Akan tetapi setelah hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus”, (Ayat 30). Rupa-rupanya meski diantar kepada Para Rasul, Paulus tetap tidak diterima dengan baik di Yerusalem. Oleh karena itu, dia dibantu ke Kaisarea dan dari situ dibantu ke Tarsus.

    Tarsus adalah rumah asal usul Paulus. Orang-orang tidak ada yang mau menerima Paulus, maka satu-satunya tempat yang bisa dia tuju adalah kembali ke Tarsus. Lalu ayat 31 menarik sekali, “Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.” Mengapa aman dan damai? Karena ‘pengacaunya’ sudah dipulangkan ke Tarsus.

    Selanjutnya, kita kembali kepada peristiwa penganiayaan di Yerusalem dimana murid-murid Yesus mengalami penganiayaan. Ketika murid-murid Yesus mengalami penganiayaan di Yerusalem, mereka lari. Kemana larinya? Ada dua arah, “Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” – Kis 8:4.

    Jadi wilayah pelarian pertama jemaat Yerusalem adalah wilayah Samaria. Siapa yang diutus ke Samaria ketika umat di Samaria berkembang? ”Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ” – Kis 8:14. Yerusalem dianiaya, orang-orang lari, orang-orang mewartakan Injil, Injil diterima di Samaria. Gereja pusat, Gereja induk mendengar mengenai perkembangan Samaria, sehingga yang diutus kesana adalah Petrus dan Yohanes, rasul-rasul hebat itu.

    Rombongan yang lain yang lari dari Yerusalem, lari ke tempat yang lebih jauh. Hal itu diceritakan pada Kis 11:19-22. “Sementara itu banyak saudara-saudara telah tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi saja” (ayat 19). Sampai ke Antiokhia, tapi yang disasar oleh pemberita injil hanya orang-orang Yahudi. Kemudian, “Akan tetapi di antara mereka ada beberapa orang Siprus  dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata juga kepada orang-orang Yunani dan memberitakan Injil, bahwa Yesus adalah Tuhan” (Ayat 20).

    Jadi, ada yang memberitakan Injil kepada orang Yunani, bukan Yahudi. Samaria adalah wilayah Yahudi, maka yang diutus kesana adalah Petrus dan Yohanes. Masih wilayahnya, sehingga bahasanya memakai bahasa yang sama, cara berfikirnya sama, latar belakangnya sama. Nah masalahnya adalah ketika Gereja masuk ke dalam wilayah Yunani berkat penganiayaan. Jadi ‘berkat’ penganiayaan. Jadi kalau tidak ada penganiayaan di Yerusalem, maka Gereja tidak tersebar dimana-mana.

    Yang menarik ada pada Bab 11:22, “Maka sampailah kabar tentang mereka itu kepada jemaat di Yerusalem, …”. Seperti tadi, ketika Samaria berkembang, beritanya sampai ke Yerusalem, kemudian Yerusalem mengutus Petrus dan Yohanes. Ketika berita Injil sampai ke Antiokhia, siapa yang diutus oleh jemaat Yerusalem? “…lalu jemaat itu mengutus Barnabas ke Antiokhia”. Mengapa Barnabas yang bukan termasuk dalam 12 rasul, diutus ke Antiokhia? Lalu kemanakah rasul-rasul yang lainnya? Maka kita bertanya-tanya, apa keistimewaan Barnabas dibandingkan dengan rasul-rasul?

    Jawabannya sama seperti tadi, “… karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman...” (Kis 11:24). Saya membayangkannya begini, seandainya yang diutus ke Antiokhia adalah rasul-rasul seperti Petrus dan Yohanes, dkk, maka mereka akan menjadi bingung. Mereka adalah orang-orang sederhana, hebat, tetapi lingkungan mereka adalah orang Yahudi. Latar belakang dan cara berfikir mereka adalah Yahudi.  Sementara Antiokhia bukanlah kota Yahudi, tetapi kota Yunani. Antiokhia membutuhkan orang seperti Barnabas yang baik, penuh Roh Kudus dan iman, wawasannya luas, mudah beradaptasi, dan menghargai budaya lain. Barnabas adalah pribadi yang cocok untuk Antiokhia yaitu karena dia anak penghiburan. Jika disederhanakan; mampu beradaptasi di dalam situasi dunia yang lebih rumit, dunia yang lebih luas.

    Hal selanjutnya, sekali lagi akan menampilkan watak Barnabas yang seperti apa. Ketika Barnabas diutus ke Antiokhia, dikatakan begini, “Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia. Ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan” (Kis 11:23). Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman, sejumlah orang dibawa kepada Tuhan. Sekarang untuk menunjukkan orang yang penuh Roh Kudus itu pikirannya seperti apa, maka ayat selanjutnya, “Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia” (Kis 11:25).

    Silahkan membayangkan, Saulus sebelumnya dipulangkan ke Tarsus karena di Yudea dianggap mengganggu dan membuat orang tidak tenteram. Apa yang dilakukan oleh Paulus di Tarsus? Tidak ada yang tahu, tetapi saat-saat itu merupakan saat paling gelap dalam hidup Paulus. Hatinya ingin melakukan banyak hal, namun kemana-mana ia tidak diterima. Barnabas pergi ke Tarsus untuk mencari Saulus dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia, pusat Gereja baru di Antiokhia yang dipimpin oleh Barnabas. “Saya ingat dulu pernah bertemu dengan orang yang namanya Saulus, dipulangkan ke tanah airnya, maka saya akan jemput dia, untuk menjalankan tugas kerasulan”, kira-kira seperti itu. Maka dijemputlah Paulus yang sudah kehilangan kepercayaan diri dan putus asa.

    Kemudian Kis 13:1, “Pada waktu itu dalam jemaat di Antiokhia ada beberapa nabi dan pengajar, yaitu: Barnabas dan Simeon yang disebut Niger, dan Lukius orang Kirene, dan Menahem yang diasuh bersama dengan raja wilayah Herodes, dan Saulus”. Saulus ada di dalam daftar tetapi berada di urutan kelima. Berada di nomor 5 tidak akan terpilih, sementara yang pertama, baru akan terpilih. Orang yang tadinya sudah kehilangan kepercayaan diri dijemput oleh Barnabas, diletakan pada daftar nomor 5. Lumayan! Itulah Barnabas, orang yang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman, terbuka terhadap kemungkinan yang sama sekali tidak dipikirkan oleh orang lain se-jamannya.

    Yang lebih hebat lagi, pada Kis 11:26, “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.” Siapakah yang berjasa? Barnabas. Kalau sekarang kita disebut orang Kristiani, itu terjadi karena Barnabas, bukan Paulus. Tanpa Barnabas, maka tidak akan ada Paulus.

    Untuk menunjukan bahwa yang dilakukan Barnabas sungguh-sungguh sangat istimewa, baik ketika dia masih di Yerusalem maupun ketika dia di Antiokhia. Saya ingin mengajak anda melihat ayat-ayat yang lain. Kita ingat apa yang diceritakan di dalam Injil Matius 14:22-31. Ceritanya tentang Yesus berjalan di atas air. Apa yang terjadi ketika Petrus ingin berjalan di atas air? Dikatakan begini, "….Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam”. Petrus di dalam bahaya tenggelam, lalu dia berteriak "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tanganNya memegang dia….”.

    Jika saat itu Yesus tidak mengulurkan tangannya, kita tidak akan memiliki Petrus. Gambarannya sama, seandainya pada waktu itu Barnabas tidak mengulurkan tangannya menyambut Paulus, maka Paulus sudah ‘habis’ pada waktu itu. Itu ketika di Yerusalem. Ketika di Antiokhia, jika Barnabas tidak mencari Paulus di Tarsus, maka kita tidak akan pernah memiliki seorang Paulus, karena Paulus akan ‘mati stress’ di Tarsus, ia tidak tahu harus berbuat apa. Sekali lagi, untung ada Barnabas, orang yang penuh Roh Kudus.

    Jika kita mengingat lagi sejarah, kita semua tahu bahwa menurut sejarah ada tiga pusat Gereja pada awal mula. Pusat pertama adalah Efesus, dipimpin oleh Yohanes Rasul. Pusat kedua adalah Yerusalem yang dipimpin oleh Yakobus. Pusat ketiga adalah Antiokhia yang dipimpin oleh Barnabas. Jika kita membaca sejarah, pusat Gereja di Efesus hilang. Mengapa? Karena terlalu banyak terjadi perkelahian. Di sana terdapat banyak sekali aliran sehingga diantara banyak kelompok-kelompok itu saling bermusuhan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika Yohanes, Penulis Injil, di dalam Injilnya banyak memberi nasihat tentang Kasih, “Hendaklah kamu saling mengasihi.” Gereja di Efesus hancur karena umatnya terlalu banyak berkelahi.

    Jemaat di Yerusalem habis karena terlalu ‘kolot’ dan terlalu keras. Pemimpinnya, Yakobus, adalah orang Yahudi yang mempunyai pemikiran yang ‘sempit’, kalau mau menjadi pengikut Kristus, harus menjadi orang Yahudi dulu, dan mengikuti adat istiadat orang Yahudi. Satu-satunya yang bertumbuh menjadi Gereja misioner adalah Antiokhia yang dipimpin oleh Barnabas. Jadi, kalau warta tentang Kristus hari ini sampai ke Bogor atau ke Serang, misalnya, itu berkat Barnabas.

    Kisah Para Rasul 13:2, “Pada suatu hari ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka. Pertanyaannya, pusat visi pertama Gereja itu di mana? Jika jemaat Yerusalem orangnya pergi karena dianiaya, tetapi Antiokhia lain. Yang memutuskan Gereja Antiokhia untuk menjadi misioner adalah Barnabas, bukan Paulus. Di dalam daftar sekali lagi, Barnabas berada diurutan pertama, dan Paulus ada di nomor sekian, dan ketika kedua nama itu disebut, tidak pernah disebutkan ‘Saulus dan Barnabas’, namanya tetap ‘Barnabas dan Saulus’, artinya komandannya adalah Barnabas, sehingga yang memutuskan agar Gereja tersebut menjadi Gereja yang misioner adalah Barnabas.

    Ini adalah keputusan yang sangat menentukan di dalam sejarah Gereja ketika Barnabas dan pimpinan-pimpinan di Antiokhia mengambil langkah, “Mari kita menjalankan misi.” Dikatakan di situ, “…berkatalah Roh Kudus...” Pertanyaannya, lewat apa Roh Kudus berbicara? Pasti tidak seperti yang kita lihat dalam gambar-gambar suci dimana di pundaknya orang kudus ada merpati hinggap, lalu merpati itu menganggung-angguk menyampaikan sesuatu, dsb, tetapi bukan seperti itu.  Roh kudus bekerja tidak seperti itu.

    Roh Kudus di dalam kasus Antiokhia, kalau istilah sekarang, bekerja melalui focus group discussion, sehingga keputusan misi adalah keputusan Dewan Paroki Antiokhia. Mereka yakin bahwa keputusan itu bukan hanya keputusan yang diambil berdasarkan hitung-hitungan manusiawi tetapi berdasarkan bimbingan Roh Kudus, maka dikatakan “berkatalah Roh Kudus”. Itulah caranya Roh Kudus berkarya, untuk mengambil keputusan bersama. Itulah yang sekarang kita sebut penegasan Roh; mencari kehendak Tuhan yang disampaikan kepada kita lewat berbagai macam situasi, keadaan, dan kepada kita diberikan berbagai macam alat, sarana, kemampuan, ilmu, untuk mengambil keputusan, menemukan tuntunan Roh Kudus di dalam keputusan itu.

    Di Antiokhia, diputuskanlah untuk memulai karya misi. Maka ada perjalanan misi pertama, perjalanan misi kedua, perjalanan misi ketiga. Apa yang terjadi di dalam perjalanan misi yang pertama itu? Perjalanan misi pertama ada pada Kis 13-14. Di dalam perjalanan misi itu terjadi pergeseran kepemimpinan. Pada Kis 13 tadi sudah ditunjukan, dimana Barnabas nomor 1, Saulusnya nomor terakhir.  Kemudian pada Bab 13:4, “Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Urutannya masih sama, Barnabas dan Saulus. Artinya, Saulus itu ‘pembantu’, ia membantu. Tetapi pada ayat ke 42, urutan namanya berubah, “Ketika Paulus dan Barnabas keluar, mereka diminta untuk berbicara tentang pokok itu pula pada hari Sabat berikutnya”, urutannya berubah, Paulus menjadi nomor 1, Barnabas nomor 2.

    Urutan nama di dalam Kitab Suci tidak pernah tanpa arti. Urutan Para Rasul, Petrus selalu berada di nomor pertama, dan Yudas di nomor terakhir. Tidak ada daftar Para Rasul yang menuliskan Yudas diurutan pertama. Satu-satunya tempat dimana Petrus diletakan no. 2 ada di dalam surat kepada jemaat di Galatia, nomor 1 Yakobus, nomor 2 Kefas, nomor 3 Yohanes. Mengapa? Karena kepemimpinan di Yerusalem sudah tidak lagi ditangan Petrus, tetapi sudah beralih ke tangan Yakobus. Di sini, sebelumnya adalah Barnabas dan Saulus, tetapi kemudian akan muncul Paulus dan Barnabas, orang yang baik, penuh Roh Kudus, dan iman itu rela kalau kepemimpinannya diserahkan kepada orang lain. Ada pergeseran kepemimpinan.

    Namun, ada sesuatu yang sangat menyedihkan terjadi. Dalam perjalanan pertama ini, ada perselisihan di antara orang-orang. Kis 13:5, “Setiba di Salamis, mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi. Dan Yohanes menyertai mereka sebagai pembantu mereka”. Yohanes disini bukanlah Yohanes Rasul tetapi Yohanes Markus, keponakan Barnabas yang diajak oleh Barnabas untuk membantu perjalanan misi pertama.

    Tetapi kemudian Markus membelot, ia meminta pulang ke Yerusalem dan tidak melanjutkan ikut membantu Barnabas dan Saulus. Hal ini rupanya membuat Saulus marah. Ini akan disimpan dan nanti akan bertemu lagi di Bab 15 mengenai perkara ini. Begitu selanjutnya dan sampailah kita pada Konsili Yerusalem, Kisah Para Rasul Bab 15. Apa yg terjadi di Antiokhia?

    Rupa-rupanya ketika sebagian orang Yahudi mendengar bahwa Antiokhia berkembang begitu pesat, orang-orang Yahudi yang ‘kolot’ mengutus orang-orangnya untuk ke Antiokhia. Untuk apa? Untuk mengganggu, karena Barnabas adalah orang yang terbuka, sementara orang-orang yang tertutup itu tidak suka, maka dikirimlah orang-orang fundamentalis untuk mengganggu Gereja, dimana untuk menjadi pengikut Kristus harus mengikuti adat istiadat orang Yahudi. Sementara Barnabas dan Paulus tidak berfikir seperti itu. Terjadilah perselisihan dan arena perselisihan itu terjadi di daerah, maka mereka pergi ke Yerusalem, untuk melapor kepada pemimpin di Yerusalem. Untuk mencari keputusan. Itulah yang diceritakan di dalam Kisah Para Rasul 15 dengan judul, Sidang di Yerusalem.

    Yang sangat menarik adalah, sidang di Yerusalem menurut Kisah Para Rasul berjalan dengan mulus. Petrus berbicara, Paulus berbicara, Barnabas berbicara, Yakobus mengambil keputusan, persoalan selesai. Bahkan di dalam keputusannya pada Bab 15:28 dikatakan, “Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini. Kata Roh Kudus berada di urutan pertama. Dan karena Roh Kudus yang memimpin, maka sidang di Yerusalem berjalan lancar, tidak ada perkelahian.

    Tetapi ‘perkelahian’ itu ditutup-tutupi, jika ingin tahu perkelahian yang sesungguhnya, hal itu dapat dibaca pada surat kepada jemaat di Galatia Bab 2. Paulus sunguh marah, “Kemudian setelah lewat empat belas tahun, aku pergi pula ke Yerusalem dengan Barnabas dan Tituspun kubawa juga,” lalu, “Aku pergi berdasarkan suatu penyataan…” Di balik kalimat ini kira-kira Paulus berkata seperti ini: “Kalau seandainya hanya dipanggil oleh Petrus dan Yakobus, tak sudi aku datang. Saya mau datang ke Yerusalem karena “penyataan.“ Jika melihat yang sebelumnya, gampang sekali ya Konsili Yerusalem itu; Barnabas dan Paulus datang, diterima Para Rasul, Petrus bicara, Paulus dan Barnabas bicara, Yakobus bicara, masalah selesai diputuskan oleh Roh Kudus.

    Dan sesudah itu, Paulus berkata pada ayat 9, “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku …”, kira-kira kalau dibaca dengan agak nakal, “Seandainya mereka itu gak mengajak salaman, saya tidak mau menyalami mereka.”

    Begitu besar persoalan di Antiokhia karena ada orang-orang Yahudi Fundamentalis yang mewartakan Injil yang tidak benar. Paulus sungguh-sungguh membela, meskipun dengan cara yang seperti itu. Konfliknya bukan main besar. Tapi sekali lagi, karena Roh Kudus lah, konflik yang besar seperti itu akhirnya selesai, bahkan diceritakan dengan sangat mulus pada Kisah Para Rasul sebelumnya. Keputusan Roh Kudus, keputusan pada Konsili itu adalah jangan memberikan beban yang lebih besar kepada mereka yang ingin mengikuti Kristus.

    Terakhir, Kisah Para Rasul Bab 16. Akhir yang agak tragis. Rupa-rupanya, Paulus itu masih sakit hati kepada Markus, keponakan Barnabas, karena meninggalkan mereka ketika mereka sedang dalam perjalanan misi yang pertama. Sesudah Konsili Yerusalem, mereka mengadakan perjalanan misi yang kedua, ceritanya ada pada Kis 15:35–41. “Tetapi beberapa waktu kemudian berkatalah Paulus kepada Barnabas: Baiklah kita kembali kepada saudara-saudara kita di setiap kota, dimana kita telah memberitakan firman Tuhan, untuk melihat, bagaimana keadaan mereka” (Ayat 36). Sekarang yang mengajak perjalanan misi adalah Paulus. Lalu ayat 37-38, “Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka.”

    Paulus masih dendam kepada Markus, hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah, dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. Barnabas berasal dari Siprus. Jika diawal yang pulang ke Tarsus adalah Saulus, sekarang ketika mereka berselisih, Barnabas mengalah saja, kira-kira seperti ini, “Sudah, mau apa orang satu ini. Paulus ini hebat, nanti pasti Tuhan dimuliakan lewat pelayanannya, saya mundur saja, waktu saya sudah selesai.” Maka Barnabas kembali ke Siprus, entah apa yang terjadi dengan dia, membawa Yohanes Markus.

    Yang tersisah adalah pertanyaan, apakah Paulus memang terus berselisih dan tidak pernah rekonsiliasi dengan Markus? Masak Rasul Paulus yang kita kenal sebagai Rasul Agung, guru segala bangsa kok tidak bisa mengampuni sih? Apakah keadaannya memang seperti itu? Barnabas memiliki semangat lepas bebas, “Sudah! Kamu, Paulus, lanjutkan pekerjaanmu, saya kembali menikmati hari tuaku di Siprus.” Itulah Barnabas, orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman.

    Untuk menjawab pertanyaan yang tadi, saya akan mengutip ayat terakhir, 2 Tim 4:9-16. Apa yang dikatakan disini, pada masa tuanya Paulus menulis, “Berusahalah supaya segera datang kepadaku, karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku…” dst. Pada ayat 11, Paulus menulis begini, “Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku”. Dulunya Paulus sama sekali tidak mau dengan orang yang bernama Yohanes Markus, tetapi kemudian ada rekonsiliasi karena di dalam surat ini Paulus menulis, “... Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku.”

    Saya mencoba menampilkan, bukan konsep, bukan pendapat, bukan pengajaran, bukan gagasan, tetapi kisah seorang pribadi yang bernama Barnabas, yang tidak banyak dikenal, tetapi sebetulnya jika betul pembacaan kita, orang ini sungguh sangat menentukan di dalam sejarah Gereja. Kalau tidak ada Barnabas, kita tidak punya Paulus yang kita kenal sebagai Rasul Segala Bangsa. Dan Barnabas itu adalah orang baik, penuh Roh Kudus, dan iman. Oleh karena itu, ia disebut anak penghiburan. Semoga semakin banyak dari kita yang disebut seperti itu, ‘anak penghiburan.’ ***

    (Medikom BPN)

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/