• Renungan Harian - Minggu, 12 November 2017

    Minggu, 12 November 2017

    Minggu Biasa XXXII

    Kebijaksanaan 6:13-17

    Mazmur 63:2-8

    1 Tesalonika 4:13-18 (4:13-14)

    Matius 25:1-13

    MENYAMBUT KEDATANGAN TUHAN

    Kebijaksanaan 6:13-17

    “Ia mendahului memperkenalkan diri kepada yang ingin kepadanya. Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan tak perlu bersusah payah, sebab ditemukannya duduk di dekat pintu. Merenungkannya merupakan pengertian sempurna, dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan segera akan bebas dari kesusahan. Sebab ia sendiri berkeliling mencari orang yang patut baginya, dan dengan rela memperlihatkan diri kepada mereka di jalan, pada tiap-tiap pikiran dijumpainya. Sebab permulaan kebijaksanaan ialah keinginan sejati akan didikan, dan mencari didikan adalah kasih kepadanya …”

    1 Tesalonika 4:13-18

    “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia. Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal. Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.”

    Matius 25:1-13

    "Pada waktu itu hal Kerajaan Sorga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

    Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Songsonglah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

    Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

    “Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup.” --- Matius 25:10

    ZAMAN DULU, pesta perkawinan berlangsung selama beberapa hari. Saat yang terpenting adalah kedatangan mempelai laki-laki di rumah mempelai perempuan. Saat itulah para gadis-gadis pengiring menjumpainya dengan penuh kegembiraan. Menurut pustaka kuno, kadang-kadang mempelai laki-laki menunda kedatangannya hingga tengah malam, untuk menguji kesiapan para gadis pengiring, atau juga mungkin belum selesai perjanjian antara dua keluarga bersangkutan.

    Gadis-gadis pengiring, baik yang dengan minyak cadangan maupun tidak, di sini adalah kita, pengikut Kristus yang akan ikut dalam perjamuan pesta nikah. Sebagai orang Kristiani, kita harus memperhatikan keadaan rohani kita mengingat Kristus bisa datang pada saat yang tidak kita ketahui dan tidak terduga, bahkan pada saat tengah malam, di mana semua orang sudah mulai terlelap tidur.

    Perumpamaan tentang ‘gadis bijak dan bodoh’ mau mengajar kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyongsong kedatangan-Nya nanti yang kedua kali. Dalam menyongsong kedatangan Yesus, perlu keteguhan dan kemantapan iman agar kita tidak terpengaruh oleh tawaran yang menggiurkan yang membuat persiapan kita terlupakan. Dan ketika "terbangun dari tidur", kita baru sadar ada masalah besar yang tidak bisa diatasinya sendiri seketika. Orang lain pun tidak mampu untuk membantunya dalam saat mendadak itu.

    Karena itu, hendaklah kita berjaga-jaga dengan memperhatikan keadaan rohani kita dan melakukan persiapan agar pada hari kedatangan-Nya kita akan memanggil nama-Nya dan menunjukkan perbuatan-perbuatan kita yang telah melakukan kehendak Bapa sehingga kita bisa masuk bersama-sama dengan Kristus dalam Pesta Nikah dalam Kerajaan Surga. (Pipin)

    Doa: Ya Bapa,  bantulah aku dengan Roh Kudus-Mu untuk setia dan selalu berjaga-jaga dalam menantikan kedatangan Kristus Yesus. 

    Janji: Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji --- Mazmur 63:6

    Pujian: Tak diragukan lagi Santa Teresa dari Avilla, adalah orang yang menanggapi panggilan Kristus dengan hati yang bernyala-nyala. Ia dipanggil juga untuk menjadi sahabat-Nya.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/