• Renungan Harian - Rabu, 14 Juni 2017

    Rabu, 14 Juni 2017

    2 Korintus 3:4-11

    Mazmur 99:5-9

    Matius 5:17-19

    HUKUM YANG SEMPURNA

    "Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” --- Matius 5:17 

    SAAT BANGSA  ISRAEL lepas bebas dari perbudakan di  Mesir, di bawah pimpinan Nabi Musa, mereka berjalan di padang gurun menuju tanah terjanji. Tetapi bangsa Israel waktu itu tidak tahu berterima kasih, menuntut dan memberontak. Dikatakan mereka itu bangsa yang tegar tengkuk (Kel  32:9; 33:3), mereka tidak menghargai semua yang telah diberikan Allah. Mereka hanya mengeluh dari hari ke hari. Mereka menganggap masa lalu lebih baik daripada saat itu; kehidupan di Mesir lebih baik daripada kehidupan di padang gurun (Kel 16:3).

    Untuk mengajar bangsa Israel agar menjadi taat, maka Tuhan mengeluarkan Sepuluh Perintah Allah melalui nabi Musa yang tertulis dalam dua loh batu. Tetapi bangsa Israel tidak selalu patuh pada perintah Allah tersebut, seringkali mereka membangkang dan mengingkarinya serta mencari ilah-ilah yang lain, antara lain membuat ‘anak lembu emas’ (Kel 32).

    Taurat Musa yang berisi hukum Taurat, umumnya mencakup kelima buku: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan dan Ulangan. Di situ terdapat hukum, peraturan dan pelbagai macam ketetapan yang harus dijalankan dengan setia oleh Umat. Dan ini diajarkan oleh para ahli Taurat kepada umat dan tetap berlaku bagi semua orang Israel. Tetapi para ahli Taurat umumnya menangkapnya secara ‘harafiah’ dan kehilangan ‘roh’nya. Mereka melakukannya secara ‘munafik’ yakni agar dipuji orang. Yesus menginginkan mereka untuk menaatinya tidak secara harafiah, tetapi sesuai ‘roh’ di balik hukum itu. Misalnya menurut hukum Taurat, tidak boleh bekerja pada hari Sabat, tetapi bila ada orang sakit dan membutuhkan pertolongan, Yesus menyembuhkan mereka, meski hari Sabat, melepas lembu dan dibawa untuk mencari air, sehingga lembu dapat  meminumnya. Hal inilah yang diajarkan oleh Yesus.

    Yesus menghendaki agar hukum Taurat tidak dilakukan secara kaku. Semua hukum Taurat dan ajaran para nabi, berintikan hukum cinta kasih sebagaimana Yesus ajarkan (Mat 22:37,39). Kasih perlu berada di atas berbagai hal yang lain, termasuk juga segala peraturan dan hukum. Kasih tidak bertentangan dengan hukum yang lain, malahan ia menyempurnakannya. Paulus menangkapnya, maka ia tulis, di antara tiga hal yang penting bagi kita : iman, pengharapan dan kasih, maka yang paling penting adalah kasih (1 Kor 13:13). Kasih dalam perbuatan nyata. Love in action. ---  DAG.

    Doa: Bapa, ajarlah kami untuk melaksanakan kasih dalam seluruh kehidupan kami.

    Janji: “Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah; ialah  membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dalam suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum tertulis itu mematikan, tetapi Roh menghidupkan” --- 2 Kor 3:5-6

    Pujian: Santa Theresa dari Calcuta, engkau adalah teladan kami, karena engkau sungguh telah mengasihi sesama, tanpa pilih kasih. 

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/