• Renungan Harian - Senin, 31 Juli 2017

    Senin, 31 Juli 2017

    St. Ignasius dr Loyola, Im

    Keluaran 32:15-24,30-34

    Mazmur 106:19-20,21-22,23

    Matius 13:31-35

    MACAM-MACAM POLA KEPEMIMPINAN

    "Apakah yang dilakukan bangsa ini kepadamu, sehingga engkau mendatangkan dosa yang sebesar itu kepada mereka?"--- Keluaran 32:21

    ADA DUA Pola Kepemimpinan yang ada dalam Kitab Suci yang dinilai ‘tidak benar’.

    • Pola pertama, kepemimpinan Harun. Yang Harun utamakan ialah menyenangkan orang-orang. Bila ada orang yang datang kepadanya dengan masalah, Harun tidak mempertimbangkan pada kehendak Allah. Tetapi Harum ingin memuaskan keinginan orang-orangnya. Boleh dikatakan dengan bahasa sekarang “pembiaran” dan dengan hasil ‘semau gue’ dan berakhir dengan ’berantakan’. (Kel 32:25). Di bawah kepemimpinan Harun, bukannya Tatanan dari Ilahi yang dipakai, tetapi karena ’kelemahan dalam memimpin’, yang adalah kedosaan, ketidak aturan dan kacau balau. (1 Kor 14:33, 40).
    • Dalam zaman Gereja Perdana, Surat Yohanes memberi informasi tentang seorang pemimpin kristiani yang bernama Diotrephes. Ia senang sekali dengan kedudukan sebagai pemimpin dalam Gereja setempat (3 Yoh 9). Ia ingin menguasai. Pola kepemimpinannya ialah mencoba memuaskan diri sendiri. Diotrephes tidak menyajikan Kitab Suci kepada umat dalam mencari kehendak Allah, tetapi ia berlaku semau-maunya. Ia menolak kuasa dan wewenang Gereja yang telah dibangun oleh Allah dan mengusir orang-orang yang mau meminta mematuhinya (3 Yoh 10).
    • Sedang Musa benar-benar seorang pemimpin yang melayani (Luk 22: 26). Ia menggunakan wewenang dan kuasa Allah hanya kalau diperlukan (Kel 32:26). Ia lembut hati (Bil 12:3). Ia dengarkan kebutuhan umat (Kel 18:13). Pola kepemimpinannya adalah memuaskaan Allah (Kel 34:34). Ia mau berkorban dalam mengasihi bangsanya. Musa selalu mencari kehendak dan pengarahan dari Allah, dan menundukan diri pada kehendak Allah. Ia menjadi perantara dari umat yang ia kasihi dan menyampaikan-nya kepada Allah. Ia rela berkorban untuk itu (Kel 32:10-14,32).

    Hari ini kita peringati St. Ignasius dari Loyola, hidup di tengah kekacauan Gereja di abad tengah. Munculnya Reformasi. Luther, Calvin dan Raja Henry VII memberontak pada Paus. Ignasius memilih mereformasi dari dalam Gereja, dengan mengumpulkan para mahasiswa yang ia telah bimbing dalam retret 30 hari. Ia dirikan pasukan rohani, yakni Ordo Yesuit. Ia serahkan warga Ordo yang baru itu kepada Paus, guna memperbaiki Gereja dan guna diutus untuk pewartaan Injil. Pola atau gaya kepemimpinannya ala militer, yakni kepatuhan kepada pimpinan, patuh taat kepada Paus pengganti Kristus di dunia. Tetapi yang Ignatius cari pertama dan utama adalah kehendak Allah. Lewat pendidikan yang tangguh baik pendidikan umum maupun pendidikan para calon imam, Gereja diperbaharui. Semua demi “Tambahnya Kemuliaan Allah yang lebih besar”.

    Doa: Bapa, perkenankan aku tunduk patuh pada pembesar yang Engkau tunjuk bagi kami.

    Janji: “Aku akan mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan” --- Matius 13:35; Mzm 78:2.

    Pujian: St. Igansius, seorang prajurit yang terluka, bertobat dalam iman yang dalam akan Yesus, sewaktu dia membaca riwayat hidup para kudus sambil menunggu proses penyembuhannya. Kalau santo Benediktus dan Fransiskus bisa berbuat ini dan itu untuk Tuhan, mengapa aku tidak?

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/