• Renungan Harian - Sabtu, 5 Agustus 2017

    Sabtu, 5 Agustus 2017

    Pemberkatan Greja Basilik SP Maria

    Imamat 25: 1,8-17

    Mazmur 67:2-3,5,7-8

    Matius 14:1-12

    BERANI MENYATAKAN KEBENARAN

    “Herodes ingin membunuhnya, tetapi ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi” --- Matius 14:5

    DARI BACAAN hari ini, kita melihat keberanian Yohanes Pembaptis saat menegur Herodes Antipas yang hidup dalam perzinahan karena memperistri Herodias, istri Filipus saudaranya sendiri.  Teguran tersebut membuat Herodes ingin menyingkirkan Yohanes Pembaptis, tetapi Herodes takut kepada orang banyak yang memandang Yohanes Pembaptis sebagai nabi (Mat 14:5).  Keinginan jahat tersebut akhirnya terlaksana ketika Herodes yang sedang bersuka hati melihat anak perempuan Herodias menari di perayaan ulang tahunnya. Ia bersumpah akan  memberikan apa saja  yang diminta anak perempuan Herodias. Kesempatan itu dipakai Herodias yang mempunyai dendam kepada Yohanes Pembaptis. Herodias menyuruh anak perempuannya meminta kepada Herodes supaya memenggal kepala Yohanes Pembaptis. Herodes tak bisa menjilat ludahnya.

    Di beberapa kejadian, sering kali orang yang berbuat kesalahan cenderung menutupi kesalahannya, dan tidak mau mengakui perbuatannya. Apalagi jika ia seorang yang “berkuasa”, meskipun ia bersalah, biasanya ia akan menggunakan segala pengaruh dan kekuasaannya untuk membela diri. Berbagai macam cara akan digunakannya, bisa dengan mengelak, mengancam, menuntut balik, menuduh balik sebagai pencemaran nama baik, atau bahkan melakukan tindakan-tindakan kekerasan yang dapat mengancam keselamatan orang yang berani melaporkan ataupun yang melihat perbuatannya. Apakah kitapun bersikap seperti Herodes, yang menolak teguran guna menutupi kesalahannya?

    Dan bagi orang-orang kebanyakan, umumnya takut menegur kesalahan orang, memberi koreksi tentang peri laku orang, karena kita  takut ditekan, diintimidasi, takut diserang balik, takut dianggap sok suci, takut dikucilkan dari lingkungannya, ataupun takut resiko kematian bisa menjadi kendala untuk berani menyatakan kebenaran.

    Kita tentu masih ingat peristiwa pembunuhan terhadap Salim Kancil pada 26 September 2015, seorang aktivis lingkungan hidup dari desa Selok Awar-Awar, Lumajang Jawa Timur yang bersama warga lainnya  melakukan gerakan advokasi protes menolak penambangan pasir karena dianggap merusak lingkungan di desa mereka. Ia dibunuh karena disinyalir menghalangi oknum mendapatkan keuntungan dari penambangan pasir tersebut. Dan akibat dari kematiannya, akhirnya dunia mengetahui peristiwa adanya perusakan lingkungan dan juga terkuaknya aksi kejahatan di desanya.

    Keberanian Yohanes Pembaptis menegur Herodes menjadi teladan bagi kita. Sebagai pengikut Allah, ia berani menyatakan kebenaran meskipun Herodes membelenggunya, memenjarakannya dan bahkan membunuhnya.

    Marilah kita menjadi saksi kebenaran, penuh iman kepada Kristus, dan selalu menyerahkan hidup kita dalam penyertaan-Nya. (Thonny)

    Doa: Ya Bapa, kami ingin meneladan Santo Yohanes Pembaptis,  mampukanlah kami supaya berani menyatakan kebenaran dalam hidup dan karya kami setap hari.

    Janji: “Allah memberkati kita, kiranya segala ujung bumi takut akan Dia” --- Mazmur 67:8

    Pujian: Salim Kancil, engkau sungguh berani dalam menyatakan kebenaran, bahkan rela mengorbankan diri.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/