• Renungan Harian - Sabtu, 12 Agustus 2017

    Sabtu, 12 Agustus 2017

    Ulangan 6:4-13

    Mazmur 18:2-4,47,51

    Matius 17:14-20

    BUTUH PERCAYA YANG MENDALAM

    “Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja …” ---  Matius 17:20

    SELAIN MENGAJAR tentang Kerajaan Allah, Yesus melayani penyembuhan sebagai tanda datangnya Kerajaan Allah itu. Ia mengutus dan memberi kuasa para murid untuk mengajar dan menyembuhkan. Tetapi dalam bacaan Injil hari ini, ada suatu kegagalan yakni para murid tidak bisa menyembuhkan seorang penderita sakit ayan. Yesus kecewa karena ketidaksanggupan mereka melakukan apa yang patut dilakukan, padahal mereka sudah dua tahunan bersama Yesus. Mereka melihat, menyaksikan dan mengalami apa yang dilakukan Yesus. Tepatlah kalau Yesus lalu mengeluh “Hai kamu angkatan yang kurang percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu?".

    Yesus lalu mengambil-alih pelayanan penyembuhan itu menanggapi permintaan orang yang membawa anaknya sakit ayan. Lalu Yesus dengan keras menegur dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga.

    Kemudian murid-murid itu bertanya kepada Yesus "Mengapa mereka tidak dapat mengusir setan itu?" Dan Yesus berkata kepada mereka “Karena kamu kurang percaya” (Mat 17:20). Dalam Injil Markus, mengenai peristiwa yang sama ini, Yesus juga mengatakan “Tidak ada yang mustahil bagi yang percaya” (Mrk 9:23). Maka dengan tegas Yesus mengatakan kepada para murid-Nya: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini pindah, maka gunung ini akan pindah dan tidak ada yang mustahil bagimu.’

    Setiap kali melakukan mujizat, Yesus selalu menuntut iman atau kepercayaan. Dan Yesus menghendaki agar kepercayaan itu dibangun atas dasar usaha dan perjuangan pribadi untuk menerima Yesus sampai dasar hati yang terdalam. Salah satu perjuangan itu adalah berdoa (Mrk 9:29). Tentu bukan sembarang doa, sebab doa yang benar adalah doa yang mengalir dari hati, di mana dalam doa itu terjadi pertemuan pribadi dengan Tuhan. Perjuangan kita untuk percaya dengan Tuhan adalah perjuangan untuk menyatukan hidup kita dengan Tuhan dalam doa.

    Sejauh manakah relasi kita dengan Tuhan? Apakah kita sungguh beriman kepada-Nya secara mendalam? Apakah kita sudah berjuang untuk selalu menyatukan hidup kita dengan Tuhan lewat doa-doa kita? (Pipin)

    Doa: Tuhan Yesus, seringkali aku terjerumus dalam iman yang semu kepada-Mu, sehingga meski aku sering berdoa dan menyebut nama-Mu, tetapi hatiku tetap jauh dari-Mu. Ya, Yesus, bimbinglah agar hatiku selalu bersatu dengan-Mu dan ajarlah aku setiap saat selalu berdoa kepada-Mu, karena aku percaya akan kuat-kuasa-Mu.

    Janji: “Terpujilah Tuhan, seruku : maka akupun selamat daripada musuhku” --- Mzm 18:4

    Pujian: Lewat setia berdoa, Harun merasa lebih bersatu dengan Allah. Ini membuat dia belajar untuk menjadi sabar dan rendah hati.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/