• Renungan Harian - Minggu, 13 Agustus 2017

    Minggu, 13 Agustus 2017

    HR SP Maria diangkat ke Surga

    Wahyu 11:19a; 12:1,3-6a,10

    Mazmur 45:10-12

    1 Korintus 15:20-26

    Lukas 1:39-56

    KERENDAHAN HATI BUNDA MARIA

    Wahyu 11:19a; 12:1,3-6a,10

    “Maka terbukalah Bait Suci Allah yang di sorga, dan kelihatanlah tabut perjanjian-Nya di dalam Bait Suci itu dan terjadilah kilat dan deru guruh dan gempa bumi dan hujan es lebat.

    Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.

    Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya. Perempuan itu lari ke padang gurun, di mana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, …

    Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: "Sekarang telah tiba  keselamatan dan kuasa  dan pemerintahan Allah kita,  dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya,  karena telah dilemparkan ke bawah  pendakwa saudara-saudara kita,  yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita.”

    1 Korintus 15:20-26

    “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus. Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan. Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.

    Lukas 1:39-56

    “Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana."

    Lalu kata Maria: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan nama-Nya adalah kudus. Dan rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya." Dan Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya.”

    “… sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia …” --- Lukas 1:48

    MISTERI KETIGA -- Peristiwa Mulia -- yang keempat, dalam Doa Rosario, ialah “Maria diangkat ke sorga”. Dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK), dinyatakan dalam Pasal 6, bahwa Maria adalah Bunda Kristus dan Bunda Gereja (KGK 963-975). Di situ antara lain diajarkan bahwa “Sesudah mengakhiri perjalanan kehidupannya di dunia ini, Perawan Maria tersuci diangkat dengan jiwa dan badannya dalam kemuliaan surga, di mana ia sudah mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan Putera-Nya dan dengan demikian mengantisipasi kebangkitan semua anggota Tubuh-Nya” (KGK 974; 966).

    Ibu Maria adalah seorang yang taat dan setia terhadap Allah dalam hidupnya. Kemudian ia juga menjadi sumber harapan bagi kita sebagai orang beriman, karena ia merupakan tanda yang mengandung suatu harapan kebahagiaan abadi. Dengan demikian kita percaya jika suatu saat kita mengalami kematian, itu bukanlah akhir dari kehidupan kita, akan tetapi awal hidup baru, hidup yang tidak akan mengalami kematian lagi.

    Santo Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus, ia menegaskan bahwa kita harus percaya kalau kita akan mengalami kebangkitan. Seperti Yesus yang mengalami kematian namun Dia bangkit kembali Ia mengalahkan maut, dan mulia di sisi Allah Bapa, demikian juga Bunda Maria, Bunda Yesus. Dan kita sebagai anggota Tubuh Kristus pun akan mengalami juga.

    Dalam kisah Injil hari ini kita mendengar, percakapan antara dua ibu yang berbahagia, yang penuh dengan Roh Kudus, Maria dan Elisabet. Peranan Tuhanlah yang melalui Malaikat-Nya sehingga terjadinya perjumpaan ini, Maria dan Elisabet. Elisabet adalah seorang perempuan tua yang secara perhitungan manusia tidak mungkin akan mengandung lagi dan lebih parahnya lagi kalau ia dinyatakan ‘mandul’. Namun itu semua bukan perkara yang sulit di hadapan Allah, Ia mampu membangkitkan kembali kandungan yang mandul itu. Peristiwa “diangkatnya Bunda Maria ke surga” merupakan antisipasi apa yang akan kita alami sebagai umat beriman akan Kristus. Pesta ini meneguhkan iman dan harapan kita akan kemuliaan surga. Semua yang di alami Bunda Maria dalam perjalanan hidupnya, akan kita alami juga, namun kita harus tetap setia dan taat sampai akhir hayat kita, sebagai murid Kristus dan anak-anak Bunda Maria.

    Kita mestinya belajar dari Bunda Maria, sikap kerendahan hatinya, dengan tanpa memandang status yang kita miliki, kita perlu berani meninggalkan kesibukan kita guna meluangkan waktu mengunjungi orang-orang yang membutuhkan penghiburan yang membawa sukacita dan damai.

    Apakah benar kita membawa Kristus sumber damai dan hiburan kalau kita mengunjungi orang lain? Atau kita hanya membawa diri kita sendiri tanpa membawa Kristus?

    Maria menjadi wanita yang terberkati karena Allah memilihnya untuk ambil bagian dalam rencana besar-Nya, yakni keselamatan Umat Manusia. Maria pantas dipuji dan diagungkan, namun ia sendiri sadar bahwa semuanya itu karena kebesaran Allah. (Pieter)

    Doa: Ya Allah, berilah kami kerendahan hati dan ketaatan seperti Bunda Maria, sehingga kami pun kelak menikmati hidup kekal dalam kerajaanMu di Surga.

    Janji: “Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” ---Lukas 1:45.

    Pujian: Santa Theresa dari Calcuta selalu setia dalam melaksanakan perintah Allah dan mau menolong sesama tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih. Semangatnya ini mempengaruhi banyak orang baik orang non-Katolik maupun non-Kristen.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/