• Renungan Harian - Kamis, 17 Agustus 2017

    Kamis, 17 Agustus 2017

    HR Kemerdekaan RI

    Sirakh 10:1-8

    Mazmur 101:1-3,6-7

    1 Petrus 2:13-17

    Matius 22:15-21

    KITA SEBANGSA DAN SETANAH AIR

    “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” --- Matius 22:21

    PERANG DUNIA ke-2, berdampak positif bagi kita, bangsa Indonesia. Kita bebas. Kita merdeka! Kedua bapa-bangsa kita, Soekarno-Hatta tujuh puluh dua tahun lalu, atas nama seluruh rakyat, memproklamirkan kemerdekaan kita. Kita lalu menjadi bangsa yang berdaulat . Banyak pejuang dari bangsa kita, tidak pandang bulu suku dan agamanya, berusaha terus memperjuangkan kemerdekaan negeri kita dengan mempertaruhkan hidupnya. Taman-taman pahlawan, hampir di semua ibu kota provinsi ada, menjadi saksi perjuangan mereka. Kita sangat berhutang budi kepada mereka. Mereka berjuang memberikan hidupnya demi kemerdekaan dan kebebasan, dan kita yang menikmati hasilnya.

    Orang-orang Farisi yang mengirim murid-muridnya dan bersama kelompok Raja Herodes, menanyakan pertanyaan kepada Yesus, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar?” (Mat 22:17). Suatu pertanyaan yang cerdik. Suatu pertanyaan yang menjebak. Tujuan pokok ialah bagaimana dapat menjerat Yesus, agar Ia keceplosan bicara yang dapat menjadi ‘delik’ pengaduan ke pengadilan Romawi. Dengan demikian Yesus akan diseret ke pengadilan, dijatuhi hukuman mati. Dan kaum Farisi lalu bebas hidup seperti sebelumnya.

    Realitasnya bahwa bangsa Yahudi waktu itu sudah kehilangan kemerdekaannya dan dijajah oleh Kerajaan Roma. Mereka takut memberontak. Karena dari pengalaman perjuangan mereka, selalu kalah (Kis 22:23).

    Pertanyaan mereka dikatakan menjebak, karena ‘jawabannya akan serba salah’. Bila Yesus mengatakan ‘ya’ wajib membayar kepada Kaisar, dengan mudah kaum Farisi akan menyatakan bahwa Yesus sang Guru, tidak patut menjadi guru Taurat, karena pro penjajah dan bukan sebagai orang Yahudi sejati yang cinta bangsa dan tanah airnya. Bila Yesus menjawab ‘tidak’, mereka langsung mencatat apa yang dikatakan Yesus, itu menjadi bukti sebagai ‘provocator’ anti Roma dan pantas ‘diciduk’ dan dihukum. Dengan demikian Yesus kehilangan popularitasnya serta tidak mempunyai pengikut lagi. Tetapi ternyata Yesus lepas ‘lubang jarum’.

    Kata “Kaisar” adalah lambang kekuasaan negara Romawi. Dan di Indonesia saat ini, “Kaisar” adalah lambang pemerintah negeri kita tercinta, Indonesia. Kita diminta menjadi warga negara yang baik dan patuh dan berperan aktif dalam mengisi kemerdekaan “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik” (1 Ptr 2:13-14). Artinya kita, sebagai warga negara, sudah semestinya berusaha menjadi orang “Indonesia 100%”.

    Sedang kata kepada “Allah” adalah lambang iman kekatolikan kita. “Sebab inilah kehendak Allah, ... Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah ... Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja” (1 Ptr 2:15,16-17). Artinya kita menghayati iman kita sehingga kita menjadi “orang Katolik 100%.”

    Dan memang nantinya Yesus akan ditangkap, diadili dan dihukum mati. Ia mati sebagai pahlawan yang membebaskan kita dari penjajah, yakni dosa dan maut !     

    Dengan  semangat “Revolusi Mental” ini, dengan tulus sebagai warga negara berkontribusi membangun negeri tercinta ini, menjadikan tempat di mana anak-anak kita dapat mengalami dan mengaktualisasikan kemerdekaannya yang sejati, yakni kemerdekaan anak-anak Allah, yang cinta damai dan cinta tanah-air, hidup rukun bersaudara, bertetangga baik dan ramah, hidup bersama dengan semua orang, tanpa pandang suku, agama dan budayanya, mengusahakan kesejahteraan bersama.

    Doa: Bapa, terima kasih atas karunia kemerdekaan negeri kami tercinta. Mampukan kamu putera-puteri ini ikut aktif membangun negeri agar menjadi negeri yang aman, damai sejahtera.

    Janji: “Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga, sebab Engkau tidak mencari muka” --- Matius 22:16

    Pujian: Setelah Pilkada putaran ke-2, dinyatakan pasangan “Basuki-Jarot” kalah, yang berarti pasangan itu tidak akan menjabat lagi. Meski demikian,  banyak rakyat DKI termasuk umat Katolik ikut bangkit mengungkapkan syukur dan terima kasih kepada “Basuki-Jarot”, dengan nyanyian lagu-lagu kebangsaan, bunga, nyala lilin dan balon, kepada keduanya yang telah berhasil merubah wajah kota Jakarta menjadi layak huni. Keduanya memiliki ‘integritas kepribadian’ yang tinggi.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/