• Renungan Harian - Jumat, 18 Agustus 2017

    Jumat, 18 Agustus 2017

    Yosua 24:1-13

    Mazmur 136:1-3,16-18,21-22,24

    Matius 19:3-12

    DEMI KERAJAAN SURGA

    "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." --- Matius 9:10

    SEWAKTU YESUS menjawab pertanyaan orang Farisi ‘bolehkah menceraikan istrinya apapun alasannya’, Ia tegaskan “Tidak!” -- “Apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia”. Reaksi para murid, "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin”.

    Kita dicipta untuk saling mengasihi, saling melengkapi, bersama mengusahakan kesejahteraan keluarga. Maka memang dari koderatnya kita itu wajar menjalani hidup berkeluarga. Tanggapan Yesus atas keluhan para murid-Nya “lebih baik jangan kawin”, sangat memberi pencerahan. “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.”  Artinya, untuk kelestarian hidup berkeluarga, satu-sama-satu, dan selamanya (tak ada perceraian) membutuhkan bantuan ilahi, karena ini adalah suatu karunia.

    Kalau para murid menyatakan “lebih baik jangan kawin”, ditanggapi oleh Yesus, secara positif. Ia jelaskan:

    •  Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya;
    •  Ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain;
    •  Dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga (Mat 9:12).

    Orang yang tidak nikah demi “Kerajaan Sorga (Allah), dalam Gereja kita, pertama ialah para klerus (imam/pastor) dan kedua para warga Religius (Tarekat Hidup Bhakti). Ini merupakan suatu peraturan yang diatur dalam Hukum Gereja. “Para klerikus terikat kewajiban untuk memelihara tarak sempurna dan selamanya demi Kerajaan Surga, karena itu terikat selibat yang merupakan anugerah istimewa Allah; dengan itu pelayan suci dapat lebih mudah bersatu dengan Kristus dengan hati yang tak terbagi dan membaktikan diri lebih bebas untuk pelayanan kepada Allah dan kepada manusia” (KHK 277 #1). Demikian pula bagi para anggota religius atau “Hidup Bhakti” yakni para Pastor Tarekat, Suster dan Bruder. “Nasihat Injili kemurnian yang diterima demi Kerajaan Allah, yang menjadi tanda dunia yang akan datang dan merupakan sumber kesuburan melimpah dalam hati yang tak terbagi, membawa serta kewajiban bertarak sempurna dalam selibat” (KHK 599).

    Paulus sendiri tidak nikah. Ia menganjurkan agar orang tidak nikah demi Kerajaan Surga. Tetapi hal ini adalah suatu anugerah Allah (1 Kor 7:7). Sebagai pribadi umat beriman, kita juga bisa mengucapkan kaul kepada Allah. Kita menyerahkan diri kita untuk tidak berkeluarga meski tidak masuk ke dalam suatu tarekat demi pelayanan dalam Gereja atau masyarakat umum. Paulus menasehati, kalau tidak tahan baiklah berkeluarga saja, agar “tidak hangus karena hawa nafsu” (1 Kor 7:11).

    Doa: Berkati dan kuatkanlah para pastor, bruder dan suster yang menyerahkan diri mereka untuk mencintai-Mu seutuhnya. Lindungi dan jagailah mereka dari rasa bosan dan godaan.

    Janji: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja” --- Mat 9:11

    Pujian: Santa Teresa dari Kalkuta, India, dalam pelayanan sebagai biarawati, ia tegaskan bukan suksesnya atau berapa hasilnya yang telah dicapai, tetapi sejauh mana kita setia dalam pelayanan.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/