• Renungan Harian - Senin, 4 September 2017

    Senin, 4 September 2017

    1 Tesalonika 4:13-17a

    Mazmur 96:1,3-5,11-13

    Lukas 4:16-30

    ALLAH MEMBERIKAN KEKUATAN KETIKA DITOLAK

     “Yesus berkata lagi, Aku berkata kepadamu: Sungguh, tiada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” --- Lukas 4:24

    APAKAH ANDA pernah merasa ditolak? Tak jarang ketika kita lalu cenderung merasa tidak dihargai, marah, sedih, bahkan menjadi rendah diri atau bahkan mengasihani diri sendiri. Ini dialami oleh Yesus. Bagaimana reaksi-Nya?

    Orang-orang Nazareth yang menolak Yesus justru, mereka yang sangat meledak-ledak kemarahannya, padahal mereka sedang berada di rumah Ibadat, mereka bahkan ingin berbuat kasar terhadap Yesus. Mereka menghalau Yesus ke luar kota Mereka mau melempar Dia dari tebing gunung (lih. Luk 4:29).

    Ya, ketika marah, manusia tak jarang menjadi ‘kelepasan’, mengatakan perkataan yang menyakitkan hati atau melakukan perbuatan yang berbahaya dan merugikan orang lain!

    Mengapa orang-orang Nazareth ini menjadi marah? Padahal Yesus-lah pihak yang ditolak. Yesus dengan tenang menghadapi semua ini. Dan yang teramat penting, Yesus tidak menghindar untuk beribadat bersama mereka di Bait Allah. Yesus tetap menghargai kebersamaan untuk beribadat. Orang-orang Nazareth di Bait Allah itu merasa tersinggung karena menurut penilaian mereka, pewartaan sabda yang Yesus sampaikan -- terasa ‘keterlaluan’. Mereka menolak apa yang Yesus sampaikan. Mereka memandang rendah latar belakang Yesus yang adalah anak seorang tukang kayu. Mereka tidak percaya akan karya keselamatan yang sudah Yesus lakukan di daerah lain. Dengan penolakan ini, justru mereka tidak mendapatkan berkat-berkat rohani. Mereka lebih berkonsentrasi dengan pemikiran dunia mereka.

    Di jaman sekarang ini, masih banyak cara pandang manusia yang keliru dalam menilai sesamanya. Jika latar belakangnya tidak baik, maka orang tersebut dianggap tidak baik juga. Padahal latar belakang seseorang dan masa lalu seseorang tidak menentukan masa depan orang tersebut, tidak menentukan karakter orang tersebut maupun kemampuannya.

    Mari kita meneladan Yesus, yang tidak menjadi marah ketika ditolak, yang tidak menjadi ‘jera’ untuk tetap menyebarkan misi cinta kasih-Nya. Dan dengan merenungkan sikap orang-orang Nazareth tersebut, semoga dapat menjadi gambaran bahwa kemarahan yang meledak-ledak disertai tindakan negatif tidak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Selain itu, kita tidak boleh memandang seseorang hanya dari latar belakangnya saja. Tuhan tidak pernah pilih-pilih dalam memberkati seseorang, Ia tidak pernah melihat latar belakangnya.

    Yesus kuat ketika ditolak untuk ke sekian kalinya, karena Yesus percaya bahwa Allah Bapa tidak pernah meninggalkannya. Puncak penolakan pada diri Yesus adalah ‘pengadilan di hadapan Pilatus’ dan ‘Salib di Puncak Kalvari’.

    Mari kita persembahkan semua perasaan tertolak kita kepada Tuhan Yesus. Ia mampukan kita unyuk memaafkan mereka. Yesus pasti akan memulihkan dan memberikan hati baru kepada kita. (Lisa)

    Doa: Allah Roh Kudus, pulihkanlah hati kami ketika kami merasa tidak dihargai ataupun ditolak oleh sesama kami. Kuatkanlah kami selalu, karena Engkau selalu menyertai kami. Mampukan kami untuk memaafkan dan melupakan peristiwa itu.

    Janji: “Ia datang, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kesetiaan-Nya” --- Mazmur 96:13

    Pujian: Para perawat dan pengasuh anak-anak penyandang disabilitas di Indonesia; kalian mempunyai hati yang penuh kasih dan sabar. Terima kasih karena telah menerima dan merawat setiap anak penyandang disabilitas yang dibuang keluarganya.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/