• Renungan Harian - Jumat, 15 September 2017

    Jumat, 15 September 2017

    SP Maria Berdukacita

    Ibrani 5:7-9

    Mazmur 31:2-6,15-16,20

    Yohanes 19:25-27

    atau Lukas 2:33-35

    PESAN YESUS BAGI BUNDA MARIA DAN PARA MURID

    "… Ibu, inilah, anakmu!". "Inilah ibumu!" ---Yohanes 19:26-27

    YESUS DITOLAK. Penolakan para pimpinan agama Yahudi terhadap Yesus, ialah berujud ‘menghukum mati’, lewat keputusan Gubernur Pilatus yang cuci tangan atas ‘kasus Yesus’ itu. Hukuman mati ‘Salib’ merupakan hukum paling hina bagi orang Yahudi. Ia harus memanggul Salib-Nya ke tempat ‘eksekusi’ yakni Kalvari.

    Kalau kita berdoa “Jalan Salib” kita mencoba ikut berbela rasa memanggul Salib, dalam proses menuju puncak Kalvari. Berkat Doa Jalan Salib, kita dimampukan memanggul salib kehidupan kita sehari-hari. Kita dimampukan untuk memberi hormat dan terima kasih atas perjuangan Yesus.  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7).

    Bahkan pada detik-detik terakhir hidup-Nya, Yesus tidak melupakan tanggung jawab-Nya, yang belum diselesaikan-Nya. Untuk itulah Ia menyampaikan pesan terakhirnya, salah satu dari “tujuh sabda Yesus di kayu salib”, yaitu ucapan-Nya kepada Bunda Maria: “Ibu, inilah anakmu”, yang dilanjutkannya dengan ucapan kepada Yohanes, sebagai wakil para murid-Nya: “Inilah ibumu” (Yoh 19:26-27). Pada saat itu pun sesungguhnya Bunda Maria sedang sedih, karena melihat Anak yang ia lahirkan, ia kasihinya sedang dalam puncak derita meregang nyawa di kayu salib. Walaupun demikian Bunda mentaati pesan terakhir Anaknya itu. Hal ini pun diperingati Gereja, yang telah menetapkan hari ini sebagai peringatan Santa Perawan Maria Berdukacita.

    Pesan terakhir Yesus ini sungguh sangat bermakna. Saat itu para murid  sedang kacau dan galau, seperti anak ayam kehilangan induknya. Kini kembali mereka memiliki pelindung, yaitu Bunda Maria. Seluruh murid diterima untuk tinggal bersama Maria, untuk bersama-sama berdoa Novena Pentakosta untuk pertama kali. Maria dan para murid menantikan datang dan tercurahnya Roh Kudus pada hari Pentakosta, yang merupakan hari lahirnya Gereja.

    Tugas kita-lah sekarang untuk melanjutkan ‘perutusan’ Yesus bagi penyelamatan umat manusia. Kita adalah perpanjangan tangan-Nya untuk membawa orang-orang di sekitar kita ke hadapan Bapa, sehingga mereka pun mengalami keselamatan, seperti yang telah kita alami. Mari kita teruskan dan galakkan gerakan Evangelisasi. (Dag)

    Doa: Bapa, kami siap melaksanakan perintah Tuhan Yesus untuk ikut dalam karya menyelamatkan umat manusia.

    Janji: “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia” --- Mazmur 31:20

    Pujian: Bunda Maria, walau dalam perasaan yang galau, Ibu tetap tabah dan taat pada perintah terakhir Yesus Kristus, menjadi Bunda kami, murid-murid Putera-mu terkasih.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/