• Renungan Harian - Senin, 18 September 2017

    Senin, 18 September 2017

    1 Timotius 2:1-8

    Mazmur 28:2,7-9

    Lukas 7:1-10

    MERASA TAK PANTAS

    "Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami." ---  Lukas 7:4-5

    ADA LIMA macam “Ajakan Menyambut Komuni” dari imam. Yang biasa dipakai oleh Imam: “Inilah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke Perjamuan Tuhan. Dan jawaban dari Umat yang menghadiri Misa, yakni sama: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah, maka saya akan sembuh”. Kadang ucapan itu dinyanyikan (MB 280; PS 418).

    Kalimat ungkapkan ‘kerendahan hati’ dari ucapan seorang perwira Romawi. Kalimat itu  kita ucapkan setiap kali jelang Komuni, berasal dari bacaan Injil hari ini. Perwira itu begitu sayang dan prihatin akan hambanya yang sakit. Hamba itu “sakit keras dan hampir mati” (Luk 7:2), dalam Matius, dikatakan hambanya itu “sakit lumpuh dan ia sangat menderita” (Mat 8:6). Karena perwira itu merasa tak layak:

    • “Ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya” (Luk 7:3);
    • Orang-orang Yahudi yang diminta pertolongannya menghadap Yesus dan mengatakan alasan kepada Yesus  "Ia layak Engkau tolong.” Dan alasannya: “sebab ia mengashisi bangsa kita dan dia-lah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami” (Luk 7:5).

    Akhirnya Yesus menanggapinya. Ia datang bersama para murid-Nya. Mengetahui hal ini perwira itu tetap merasa ‘tak pantas’ menghadap Yesus, maka ia menyuruh “sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, dengan suatu pesan:

    • "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;
    • “sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Luk 7:7).

    Kata-kata perwira yang diabadikan dalam doa jelang Komuni itu. Tetapi bagaimana sewaktu kita mengucapkan sikap ‘ketidak-layakan kita?” Kita ucapkan tanpa kita sadar dan rasakan, kata-kata ‘kerendahn hati’ itu meluncur begitu saja dari mulut kita?

    Bagi perwira Romawi, yang berhati dermawan itu, mengatakan ‘ketidak-layakan’ sebagai ungkapan ‘kerendahan hati’. Tetapi bagi Yesus kata-kata perwira itu juga sebagai tanda dan ungkapan iman yang besar akan Diri Yesus. Ia percaya akan “sabda” Yesus untuk menyembuhkan penyakit, sebagaimana perwira itu sendiri alami. Apa saja yang ia katakan kepada  para prajurit bawahan, mereka patuh taat melaksanakannya. Perwira percaya, apa yang akan dikatakan Yesus pasti terjadi. Kuasanya firman Allah itu juga diungkapkan oleh Yehezkiel: “Apa yang Ku-firmankan akan terjadi” (Yeh 12:25). Memang ‘kata-kata Yesus penuh kuasa’ (Mrk 1:27; Mat 7:28).

    Kita bisa belajar rendah hati dan beriman dari perwira Romawi, yang umumnya dianggap oleh orang Yahudi sebagai ‘kafir’ dan ‘penjajah.’

    Doa: Tuhan, semoga aku memilki kerendahan hati dan iman yang teguh, sebagai mana perwira yang memohonkan kesembuhan bagi hambanya.

    Janji: “Allah, Juruselamat kita ... menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” --- 1 Timotius 2:4

    Pujian: Darto sering mengikuti KRK (Kebangunan Rohani Katolik). Ia selalu menyaksikan orang-orang yang didoakan oleh tim doa sembuh selaras dengan harapan penderita. “Mukjizat pasti terjadi.”

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/