• Renungan Harian - Rabu, 20 September 2017

    Rabu, 20 September 2017

    St. Andreas Kim Taegon, ImMrt

    St. Paulus Chong Hasang, Mrt

    1 Timotius 3:14-16

    Mazmur 111:1-6

    Lukas 7:31-35

    BERSYUKUR

    “Aku bersyukur dengan segenap hati ...” --- Mazmur 111:1

    BERSYUKUR ARTINYA, saya ‘mengucap terima kasih atas segala yang telah saya terima dan alami dari berkat Tuhan.

    Sering kita dengar nyanyian sebagai pembuka atau penutup kegiatan rekoleksi atau retret, di pagi hari atau malam hari:

    “Selamat pagi (malam) Bapa, Selamat pagi Yesus, Selamat pagi Roh Kudus. Trima kasih atas anugerah-Mu semalam t’lah berlalu (sepanjang hari ini), kubersyukur...”

    Selain “Doa Permohonan”, “Doa Syafaat” dan “Doa Pujian”, kita mengenal dan sering melakukannya yakni “Doa Syukur”, yang memiliki ciri khas dalam Gereja. Karena berkat karya penyelamatan dan penebusan Kristus, kita sebagai ciptaan-Nya dibebaskan dari dosa dan kematian. Untuk itu  kita ‘bersyukur’. Pusat dan puncak Ibadat kita ialah “Kurban Syukur”. Ini diwujudkan dalam Ekaristi. Kata “Eukaristia” sendiri memang berarti ‘Tindakan Bersyukur’. Maka doa-doa dalam Ekaristi kita sebut “Doa Syukur Agung.” Kita mengucapkan terima kasih kita kepada Allah lewat dan dalam Ekaristi.

    Kita awali doa-doa kita, khususnya doa permohonan dengan “Bersyukur”. Umumnya surat-surat Paulus diawali dan atau diakhiri dengan ucapan syukur. Paulus mengajak kita “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus bagi kamu” (1 Tes 5:18). Lagi “Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur” (Kol 4:2).

    Sejauh mana kita telah menghayati seruan Paulus ini?

    Orang yang bersyukur kepada Tuhan selalu mendorong diri untuk ‘memuji’ Tuhan. Itulah yang dilakukan oleh Bunda Maria sewaktu mengidungkan “Magnificat” (Luk 1:46-55), dan juga Petrus (1 Ptr 1:3-5). Orang yang tahu bersyukur memiliki hati yang damai, tenang, senang, gembira dan murah senyum. Orang yang murah senyum memiliki banyak sahabat yamg dibuatnya damai dan sukacita.

    Beberapa Kidung Rohani kita bertemakan ‘syukur’. Ada delapan dalam Madhah Bakti, baik itu dari daerah ataupun lagu tradisional kita nyanyikan setelah Pembaruan Janji Baptis, yakni “Syukur kepada-Mu Tuhan” (MB 427; KS 592).

    Pernahkah kita sewaktu menyanyikan lagi bernada ‘syukur’ kita renungkan dan hayati? Cobalah!

    Juga ada “Litani Syukur” di Puji Syukur (no. 154). Di situ ada alasan-alasan syukur yang disajikan, sebagai contoh saja.  Kita dapat menambah atau mengurangi di mana dirasa perlu. Coba saja! Mari kita doakan perlahan “Litani Syukur” itu.

    Doa: Bapa, ciptakanlah hati kami menjadi ‘hati yang bersyukur’ kepada-Mu dalam segala hal dan peristiwa.

    Janji: “Tuhan itu pengasih dan penyayang” --- Mazmur 111:4b

    Pujian: Seorang Pastor yang memimpin Retret Pengutusan KEP suatu Paroki mengatakan: “Seorang Katolik yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun, itu orang yang berpikiran positif, mudah meminta maaf dan memaafkan dan tidak sukar melupakan kesalahan sesama. Orang itu akan berusia panjang.”

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/