• Renungan Harian - Sabtu, 23 September 2017

    Sabtu, 23 September 2017

    St. Pius dr Pietrelcina (Padre Pio)

    1 Timotius 6:2c-12

    Mazmur 144:1-4

    Lukas 8:4-15

    KERAJAAN ALLAH – TANAH YANG DITABURI

    “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan." --- Lukas 8:15

    KERAJAAN  ALLAH atau “Kerajaan Sorga” menjadi tema pokok pewartaan Kabar Gembira atau Injil dari Yesus. Yohanes Pembaptis mengawali tugasnya sebagai nabi terakhir dari Perjanjian Lama yang “mempersiapkan jalan bagi“ Tuhan (Luk 1:76), berseru kepada orang-orang yang mengerumuninya: “Bertobatlah, Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 3:2). Setelah Yohanes ditangkap, Yesus meninggalkan Nazaret dan tinggal di Kapernaum, serta menyerukan hal yang sama, seperti apa yang diserukan oleh Yohanes “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat 4:17).

    Yesus mengajar para murid untuk berdoa “Datanglah Kerajaan-Mu” (Mat 6:10a; Luk 11:2). Apa itu Kerajaan Sorga atau Kerjaaan Allah, hanya Yesus-lah yang tahu. Ia mengajar rakyat umum selalu dalam bentuk ‘perumpamaan’ (Luk 8:10). Menurut catatan ada 21 perumpamaan tentang Kerajaan Allah, termasuk bacaan Injil hari ini, tentang Penabur yang menaburkan benih. Tetapi secara khusus, atas permintaan para murid-Nya, Yesus berkenan menjelaskan apa maksud perumpanaan itu: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah” (Luk 8:10).

    Dalam hal ini, bukan pertama masalah “sang Penabur benih”, bukan pula “benihnya” tetapi jenis “tanah” yang tertaburi oleh benih yang ditaburkan sang Penabur, yakni “Firman Allah” (Luk 8:11). Meski tidak dijelaskan ‘siapa” ‘sang Penabur’ itu, untuk kita jelas yaitu Yesus sendiri, dan nantinya semua murid Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah.

    Benih ada yang jatuh “di pinggir jalan” ada yang jatuh “di tanah yang berbatu-batu”, ada pula yang jatuh “dalam semak berduri” dan akhirnya  benih jatuh “di tanah yang baik.” Apa artinya? Yesus jelaskan: “orang yang setelah mendengarkan firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan” (Luk 8:15). “Hati yang baik” dapat diartikan hati yang “tidak bercacat dan tidak bercela” (1 Tim 6:14).

    “Ketekunan” kita artikan “rajin”,  “bersungguh-sungguh”, “memusatkan pikiran dan tenaga” untuk terus dan “tetap berpegang teguh pada” prinsip atau apa yang telah diputuskan dengan matang  dan bijak. “Bertekunlah dalam membaca Kitab-kitab Suci” (1 Tim 4:13). “Ketekunan menimbulkan tahan uji” (Rm 5:4).

    Kita bisa bertanya pada diri kita sendiri! Sebagai umat yang telah diurapi dengan Krisma apalagi telah mengikuti “Kursus Evangelisasi” (SEP atau KEP”) sadarkah kita bahwa kita itu diutus untuk menjadi “Penabur Firman”, baik sebagai ‘pewarta mimbar’ atau sebagai ‘saksi” dengan teladan hidup? Apakah kita ‘tekun’ dalam tugas pewartaan? Dan kalau kita sebagai “tanah  yang baik”,  betulkah  ‘firman Tuhan” kita simpan dan cernakan dengan hati yang baik, dan dengan penuh ‘ketekunan’ kita olah dan praktekkan firman itu sehingga “ada buahnya”? Dan buahnya itu berlipat, ‘ada yang seratus kali lipat, ada yang enam kali lipat, ada yang tigapuluh kali lipat” (Mat 13:23)? Kalau belum, masih ada kesempatan!

    Doa: Tuhan, mampukan aku untuk tekun dan bertahan dalam bersiap dan berbuat baik kepada siapa pun.

    Janji: “Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun” --- Mazmur 100:5

    Pujian: “Normal school” (Sekolah Guru) van Lith, di Muntilan, di zaman penjajahan Belanda, mencetak guru profesional sekaligus ‘penginjil’. Mereka mengajar di sekolah-sekolah negeri waktu itu, dan dari pergaulan dengan mereka, banyak para murid terbuka hati mereka untuk menerima Berita Injil.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/