• Renungan Harian - Jumat, 6 Oktober 2017

    Jumat, 6 Oktober 2017

    St. Bruno, Im

    Barukh 1:15-22

    Mazmur 79:1-2,3-5,8-9

    Lukas 10:13-16

    MENERIMA YESUS SEBAGAI MESIAS

    "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.” --- Lukas 10:13

    YESUS MENGECAM keras orang-orang yang berada di beberapa kota di Galilea, yakni Khorazim, Betsaida dan Kapernaum. Di kota-kota itu, Yesus  mewartakan Kabar Baik tentang Kerajaan Allah dan melakukan banyak mukjizat dan kebaikan-kebaikan lainnya, seperti menyembuhkan orang lumpuh (Mrk 2:11), membangkitkan orang mati (Mrk 5:41), dan  mengusir orang yang kerasukan roh jahat (Mrk 1:21-28).

    Mukjizat Yesus yang seharusnya dimaknai sebagai tanda kehadiran Allah, tetapi hati mereka tetap keras dan tertutup. Mereka menolak Yesus, apalagi percaya bahwa Yesuslah Sang Mesias yang dijanjikan. Mungkin mukjizat Yesus hanya mereka anggap sebagai sesuatu yang tontonan atau ‘sulap’ belaka.

    Sebaliknya, orang-orang dari kota Tirus dan Sidon, yang selama ini dinyatakan jahat di hadapan Tuhan, ternyata akan bertobat dan berkabung jika Yesus melakukan mukjizat seperti yang dilakukannya di ketiga kota itu. Ini semakin menegaskan betapa keras dan degil hati orang-orang Yahudi yang tinggal di Khorazim, Betsaida dan terlebih lagi Kapernaum. Nyatanya mereka malah lebih buruk dibandingkan penduduk kota Tirus dan Sidon. Yesus menegaskan, bahwa pada waktu penghakiman, dinyatakan tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dibandingkan orang-orang di ketiga kota tersebut.

    Dalam perjalanan hidup kita sebagai pengikut Yesus, tidak jarang kita mengabaikan penyertaan Yesus. Ketika sukses dalam hidup keluarga dan dalam kerja,  seringkali kita menganggap bahwa kesuksesan yang kita raih adalah karena hasil usaha kita sendiri. Kebaikan dan kasih Allah yang dilimpahkan kepada kita, dianggap sebagai hal yang biasa. Dan baru membutuhkan Yesus pada saat kita mengalami kegagalan.

    Menolak Yesus, tawaran akan keselamatan, menjadikan kita jatuh ke dalam dosa, dan  menjadi penghalang untuk masuk pada pintu pertobatan. Maka perlu kita mohon untuk mengenal keterbatasan kita dan rahmat pertobatan. Hanya pertobatan sejati yang akan menghantarkan kita kepada keselamatan kekal.

    Dengan rendah hati, kita harus menyadari dan menyesali segala kesalahan yang telah kita lakukan baik melalui pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian kita.  Marilah kita ikuti ajakan dalam ‘ulangan (refrein) mazmur tanggapan’: Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu (PS 854). (Thony)

    Doa: Ya Tuhan, bukalah mata dan hatiku, agar selalu mengimani-Mu sebagai Sang Juru Selamatku.

    Janji: “Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami. ... Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!” (Mzm 79:8-9)

    Pujian: Chris John, seorang legenda petinju kelas dunia, sebelum dan sesudah pertandingan berakhir selalu membuat tanda salib. Menang atau kalah, saat diwawancara, ia selalu mengungkapkan iman Katoliknya dengan mengucap syukur dan berterima kasih kepada Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/