• Renungan Harian - Sabtu, 3 Februari 2018

    Sabtu, 3 Februari 2018

    St. Blasius, UskMrt

    St. Ansgarius, Uskup

    1 Raja-raja 3:4-13; 13;1-8

    Ibrani 13:15-17,20-21

    Mazmur 23:1-6

    Markus 6:30-34

    GEMBALA YANG BERBELAS KASIH

    “Mari kita menyendiri ke tempat yang terpencil dan beristirahat sejenak.” --- Markus 6:31a

    PARA RASUL kembali dari perutusan berdua-dua untuk mewartakan Injil tentang Kerajaan Allah (Mrk 6:7-13). Mereka capai. Sebagai Guru yang baik, Yesus sangat memahami kondisi para rasul-Nya. Setelah para rasul memberitahukan dan melaporkan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka ajarkan, Yesus mengajak mereka untuk pergi bersama-sama ke tempat yang terpencil untuk beristirahat sejenak. Itu sebuah ajakan yang sangat menarik dan tepat bagi para rasul yang sedang kelelahan, agar mereka dapat menyegarkan kembali fisik dan mental mereka. Di tempat lain, dikatakan, begitu banyaknya orang yang datang dan pergi, sehingga untuk makan saja mereka tidak sempat. Hal ini menggambarkan betapa sibuknya para rasul saat menghadapi orang-orang itu, sehingga mereka bahkan tidak punya waktu istirahat yang cukup untuk diri mereka sendiri.

    Pernahkah kita mengalami situasi seperti itu juga? Saat kita terjebak dalam kegiatan sehari-hari dalam berkarya, bekerja, melayani Tuhan atau dalam kegiatan rutin lainnya? Apakah kita selalu bahagia meski kita pun  mengalami  rasa lelah, lesu, atau jenuh? Dan ketika mengalami hal seperti itu, apa yang biasanya kita lakukan? Apakah menghindar dari masalah atau tetap bertahan dalam kejenuhan? Tentu setiap orang mempunyai cara yang berbeda-beda dalam mengatasinya. Namun, tidak ada salahnya jika saat mengalami situasi yang tidak mengenakkan tersebut, kita pun  beristirahat, seperti ajakan Yesus, yakni pergi ke tempat terpencil untuk istirahat sejenak atau “retret”. Kita mengalami rasa hening dan tenang.

    Melalui retret, kita mempunyai waktu untuk dapat menyepi dan merenungkan hal-hal apa saja yang telah kita lakukan selama ini. Alangkah baiknya jika kita dapat mengikuti retret secara teratur. Sering disuguhkan tema-tema retret, yang mungkin cocok dengan kebutuhan rohani kita. Ada banyak tema retret, misalnya retret awal atau yang dikenal dengan nama “Seminar Hidup Baru dalam Roh” (SHDR), persiapan  menerima pencurahan karunia Roh Kudus; ada lagi: retret penyembuhan luka batin. Ada retret menurut kelompok: retret  remaja, retret karyawan, mahasiswa, retret pasutri dan retret lansia.

    Kita juga dapat memilih tempat retret sesuai dengan suasana yang kita inginkan. Istirahat sejenak yang kita lakukan, bukan berarti  lari dari persoalan. Dalam keheningan dan kesendirian, terlebih lagi jika retret didampingi oleh orang-orang yang sudah terlatih. Di situ kita bisa mendapatkan kembali kekuatan, kesegaran, dan semangat untuk  menjadi manusia yang lebih baik, dan yang utama adalah diperbaharui iman kita kepada Yesus.

    Dalam bacaan Markus 6:34, dinyatakan bahwa Yesus dan para rasul gagal menyepi dan beristirahat sejenak karena orang banyak berkerumun saat perahu yang mereka tumpangi mendarat. Di sini Yesus memberi teladan kepada kita tentang bagaimana kita harus bersikap ketika menghadapi orang-orang yang terus mengejarnya. Karena belas kasih-Nya yang mendalam, Yesus meski masih lelah, tetap mau memberi pengajaran banyak hal kepada orang-orang yang telah kehilangan pemimpinnya, Yohanes Pembaptis, yang telah dibunuh Herodes. Yesus mengumpamakan mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Yesus sangat mengasihi mereka dan mengetahui hal itu. Maka Yesus bertindak sebagai gembala yang baik. Gembala yang tahu apa yang dibutuhkan domba-dombanya, Yesus adalah gembala yang maha baik dan berbelas kasih kepada umat-Nya. (Thonny)

    Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami agar selalu bersemangat dalam melayani Engkau, dan mempunyai rasa belas kasih untuk meringankan beban sesama yang membutuhkan bantuan kami.

    Janji: “Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku, gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” --- Mazmur 23:3b-4

    Pujian: Ignatius Joseph Kasimo, pendiri Partai Katolik yang telah ditetapkan sebagai seorang Pahlawan Nasional, selau berani menampakkan iman Katolik dalam kegiatan berpolitiknya, sehingga umat Katolik mulai diakui dan terlibat  dalam kehidupan politik Indonesia.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2018 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/