• Renungan Harian - Selasa, 13 Februari 2018

    Selasa, 13 Februari 2018

    Yakobus 1:12-18

    Mazmur 94:12-15,18-19

    Markus 8:14-21

    BERIMAN PENUH KEPADA YESUS

    “Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat?  dan kamu mempunyai  telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi?” --- Markus 8:18

    JARANG KITA dengar kata-kata  keras dan pedasnya kata-kata yang diucapkan Yesus kepada para murid-Nya. Yesus memperingatkan mereka untuk berjaga-jaga dan waspada terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Persoalannya bukan hanya pada jumlah satu roti saja yang ada di dalam perahu, tetapi Yesus lebih melihat bahwa para murid tidak mau berjaga-jaga. Para murid berpikir bahwa seandainya mereka membutuhkan makanan, mereka pasti akan mengandalkan Yesus yang akan mencukupi kebutuhan mereka dengan melakukan lagi seperti pada penggandaan tujuh roti dan beberapa ikan untuk memberi makan empat ribu orang (Mark 8:1-10).

    Di sini, Yesus kecewa akan kedegilan hati dan ketidakpahaman mereka, yang melihat mujizat penggandaan roti hanya sebagai perbuatan yang ajaib di mata mereka. Yesus menginginkan agar apa yang telah diperbuat-Nya adalah sebagai sarana untuk membuat mereka percaya dan mengimani Yesus sebagai sang Juru Selamat.

    Lalu bagaimana dengan sikap kita? Apakah kita mampu menolak pengaruh ragi kecongkakan kaum Farisi dan ragi keinginan hawa nafsu Herodes, yang bisa membuat kita menjadi lambat dan tidak mampu mengimani penuh Yesus sebagai sang Juru Selamat? Jangan sampai kita pun terjebak menjadi kaum yang sibuk mencari tanda dari Tuhan agar kita dapat percaya, karena mujizat Tuhan itu nyata dan selalu kita alami sehari-hari. Kita sering disibukkan dengan hal-hal duniawi sehingga membutakan mata kita akan kebaikan Tuhan. Kita tidak bisa mendengar rencana Tuhan melalui sabda-Nya yang telah ditulis dalam Injil karena kita ditulikan oleh godaan yang jahat. Kadang kala kita tidak bisa menyediakan waktu secara khusus untuk mendengarkan Firman Tuhan yang dibacakan Lektor dan Imam saat Liturgi Sabda pada perayaan Misa, meskipun   hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja.

    Iman, yang timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus (Rm 10:17), merupakan hadiah cuma-cuma dari Tuhan, dan selebihnya adalah bagaimana kita menanggapi hadiah tersebut. Kita hanya diminta untuk membuka mata agar dapat melihat kebenaran Tuhan. Kita pun juga diminta untuk membuka telinga kita agar bisa mendengarkan rencana kabar keselamatan Kerajaan Allah.

    Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr 11:1). Dengan mengimani Yesus sebagai sang Juru Selamat maka kita percaya bahwa hanya Dialah yang dapat  mengaruniakan kehidupan kekal bagi kita. (Thonny)

    Doa: Ya Tuhan, bantulah kami agar selalu menyertakan dan menjadikan Engkau sebagai sang juru selamat kami.

    Janji: Ketika aku berpikir: "Kakiku goyang," maka kasih setia-Mu, ya TUHAN, menyokong aku. Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku” --- Mazmur 94:18-19

    Pujian: Saat masih remaja, ibu Siti Suyani pernah mengalami kesembuhan dari penyakit malaria Tropicana, saat diberkati seorang Romo. Hal ini membangkitkan kerinduannya akan Yesus, sehingga 67 tahun kemudian, ia pun dibaptis. Hal ini membuatnya berbahagia di usia lanjut, karena Gereja Katolik memberikan kerahiman Ilahi dengan mempermudah proses baptisnya.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2018 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/