• Renungan Harian - Rabu, 21 Februari 2018

    ­­­Rabu, 21 Februari 2018

    Yunus 3:1-10

    Mazmur 51:3-4,12-13,18-19

    Lukas 11:29-32

    MUNGKINKAH MENGASIHI TUHAN

    “Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Ninive, demikianlah pula Anak Manusia menjadi tanda untuk angkatan ini.” --- Lukas 11:30

    SEWAKTU MEMBACA Injil hari ini, di mana Yunus disebut-sebut oleh Yesus, saya lalu membuka Buku Yunus, yang terdiri dari ‘tiga bab’ dan membacanya. Ternyata saya hanya butuh waktu sepuluh menitan untuk membacanya. Kisah Yunus, yang disebut oleh Yesus dalam sabda-Nya, ternyata bukan sekedar cerita tentang suatu ikan yang besar menelan Yunus. Kisah sebenarnya adalah hal sikap penolakan Yunus (Yun 1:3) terhadap perintah Allah. Dan inipun bukan yang menjadi bab yang utama. Buku Yunus yang kita baca benar-benar, adalah suatu perumpamaan yang berpesan kita ‘harus mengampuni musuh-musuh kita.

    Orang-orang Niniwe memang musuh dari umat Israel, tetapi mereka bukanlah musuh Allah. Mereka adalah anak-anak Allah dan juga menikmati sebagai anak  Allah, kasih dan kerahiman dari sang Pencipta (Yun 3:3-4). Oleh karena itu, meski musuh umat Israel, Allah tidaklah melebur orang-orang Ninive, sebagaimana Yunus inginkan, tetapi justru sebaliknya Allah menghendaki   Yunus memaafkan mereka.

    Memang perlu diakui salah satu ajaran Yesus yang paling sukar  adalah mengampuni dan mengasihi musuh-musuh kita. Terasa seperti ada pertentangan. Biasanya yang berlaku, teman disayang -- musuh kita lawan! Tetapi justru di sini keunikan dan kebaruan dari ajaran Yesus “mengampuni musuh dan lawan-lawan kita”. Hal ini sangat membuka lebih lebar wawasan kita. Dan semakin lebar cara pandang kita, makin lebih mudah kita menanggapi pertanyaan dan persoalan dalam hal relasi kita.

    Wajar kalau kita bingung dan bergumul kalau harus mengasihi musuh. Kalau kita masih bertanya-tanya serta menyangsikannya, baiknya kita membaca keseluruhan kitab Yunus yang hanya tiga bab itu. Cukup sepuluh menit saja! Mungkin malah kurang. Mengasihi musuh merupakan terapi paling indah. Silakan mencoba! Kita akan merasakan perubahan dalam hidup kita khususnya cara pikir dan cara pandang kita terhadap lawan-lawan kita.

    Doa: Tuhan, bantulah diriku mengurangi musuh-musuhku dengan pengampunan dan kasih.

    Janji: “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya” --- Yunus 3:10

    Pujian: Seorang teman menerima Sakramen Tobat. Setelah selesai, ia bertemu dengan teman-temannya. Ia bercerita bahwa dirinya harus berdamai dengan teman yang menyakiti hatinya, sebagai pepulih.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2018 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/