• Pengertian Yang Harus Dihindari


    Ditulis pada tanggal : Friday, 08 March 2013, 01:47 PM

    20 April 2008

    Baptisan dalam Roh Kudus 
    Adalah salah besar berpendapat bahwa setiap orang Katolik yang sudah dibaptis dan menerima sakramen penguatan secara sah belum menerima Roh Kudus justru hanya karena dia tidak memperlihatkan tanda-tanda yang jelas dan hidupnya yang dihayati dengan kuasa Roh Kudus. Dalam teologi Katolik diajarkan bahwa sakramen-sakramen itu secara obyektifberhasil guna, karena sakramen-sakramen itu tindakan Kristus sendiri. Karena itu baptisan ulang sakramental tidak pemah dianjurkan. Sebaliknya melalui pewartaan Injil yang segar setiap orang Katolik ditantang untuk bertobat kembali, menyesal dan membuka dirinya atas cara yang baru untuk menerima karunia Roh Kudus, yang adalah Tuhan dan Pemberi hidup dan jika diundang secara pribadi, akan mengubah hidup lama seseorang menjadi hidup baru. Dan dengan menghayati hidup yang baru, menjadi saksi Yesus Kristus yang telah bangkit. 

    Berbicara dalam bahasa Rob 
    Meskipun semua orang didorong untuk menghargai karunia bahasa roh , menginginkannya sebagai karunia doa dan didorong untuk menggunakannya, orang-orang KatoUk percaya babwa bahasa rob hanya merupakan satu tanda dan sesuatu yang 61 jauh lebih mendalam yang terjadi bila pencurahan Roh Kudus diberikan. Tidak seperti beberapa Gereja-Gereja Pentakosta klasik, Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa berbicara dalam bahasa roh merupakan bukti atau tanda dan baptisan dalam roh 

    Penyembuhan Misteri penderitaan yang dihadapi orang pada waktu sakit dan kematian tidak dapat dengan mudah diselesaikan dengan menegaskan bahwa kehendak Allah selalu mau menyembuhkan sekarang juga. Di satu pihak, karunia penyembuhan adalah sesuatu yang dicurahkan Allah dalam Gereja dan kita semua harus belajar bekerjasama dalam iman dengan karunia-kanmia Roh sedemikan rupa sehingga kita sendiri dapat menerima penyembuhan dan melayani penyembuhan untuk orang-orang lain. Tetapi dilain pihak, orang suka menyalahkan orang yang sakit dengan mengatakan secara tidak langsung bahwa mereka tidak mempunyai iman! Paus Yohanes Paulus II selalu mengajarkan bahwa orang-orang sakit secara khusus dikasihi oleh Allah dan bahwa penderitaan mereka mempunyai nilaipenebusan jika mereka mempersatukan diri dengan Tuhan. 

    Karena itu orang Katolik tidak boleh berpendapat bahwa orang sakit belum disembuhkan hanya karena dia kurang beriman . Penyembuhan itu suatu proses dan bila doa-doa mohon kesembuhan tidak selalu dijawab dengan segera, hal itu mungkin ada alasan yang baik. Adalah salah juga mengatakan bahwa orang tidak usah minum obat dan hanya bersandar melulu pada doa-doa penuh iman . 

    Kitab Saci saja 
    Orang-orang yang membaca Kitab suci tanpa mempelajari exegese kadang-kadang dapat terjerumus kedalam penafsiran pribadi dan kedalam fundamentalisme. A text out of context if pretext (Teks keluar dan konteks adalah kepura-puraan), tetapi beberapa orang Kristiani dan gereja-gereja lain dan dan denominasi-denominasi percaya bahwa segala sesuatunya didalam Alkitab hanis dimengerti secara harafiah, seolah-olah semua yang tertulis dalam Alkitab kebenaran ilmiah. Tetapi kenyataannya Alkitab adalah suatu perpustakaan dan berbagai macam kesusasteraan, tennasuk didalamnya penimpamaan, cerita, syair dan pengarang suci sendiri memaksudkan arti simbolis untuk teks sedemikian; teks yang lain yang merupakan catatan peristiwa-peristiwa historis yang aktual pengarang- pengarang suci memaksudkan untuk diimani secara harafiah, misalnya kematian Yesus dikayu salib. 
    Karena itu, Kitab Suci jangan dipandang lepas dari Tradisi, tetapi bersama-sama dengan Tradisi khususnya untuk soal-soal doktrinal. 
    Karena itu orang-orang Katolik harus diajar menafsirkan firman Tuhan sesuai dengan iman yang hidup dari Gereja. Kitab Suci sendiri menyatakan kebutuhan akan hal ini : 
    Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar dipahami, sehingga orang-orang yang tidak memahami dan yang tidak teguhimannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang terkasih, kamu telah mengetahai hal ini sebelumnya. Karena ituwaspadalah supaya kamu jangan terseret kedalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum dan jangan kehilanganpeganganma yang teguh (II Ptr 3,16-17). 

    Seorang fundamentalist meremehkan syahadat Gereja, doktrin Gereja dan praktek-praktek liturgis (Tradisi) dan kuasa mengajar Gereja (Magisterium), dengan melupakan bahwa Perjanjian Baru mengambil bentuknya dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik dan bahwa Kitab Suci dan Gereja inilah, yang keberadaannya mendahului keberadaan Kitab Suci. 

    Pendekatan fundamentalist juga berbahaya karena pendekatan fundamentalist memberikan penafsiran-penafsiran yang saleh tetapi khayal kepada orang-orang yang mencari dalam Alkitab jawaban-jawaban terhadap masalah-masalah kehidupan. Orang- orang demikian secara tidak sadar mencampuradukkan substansi ilahi pesan Kitab Suci dengan apa yang sebenarnya kekurangan- kekurangan manusiawi, karena mereka menolak memperhatikan asal-usul historis dan perkembangan dari teks. 

    Maka orang-orang Katolik harus membaca Alkitab dengan iman yang mendalam, sambil mengharapkan memperoleh kuasanya yang besar dalam perjalanan mereka sehari-hari bersama Tuhan, tetapi mereka harus membacanya dalam Tradisi yang hidup dari Gereja, karena Roh Kudus yang sama yang menggerakkan pengarang suci untuk menuliskan pesan keselamatan, juga melengkapi Gereja dengan bantuanNya yang tak kunjung henti untuk menafsirkan Alkitab. 


    Sumber : Buku Pembaruan Karismatik Katolik 
    Buku Pegangan Untuk Para Pemimpin dan Peminat PKK


    Fr.Fio Mascarenhas, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/