• Praktek Yang Harus Dihindari


    Ditulis pada tanggal : Friday, 08 March 2013, 01:52 PM

    20 April 2008

    Ekumenisme 
    Pembaruan Karismatik adalah kekuatan ekumenis yang besar karena sejumlah besar orang-orang Protestan karismatik dan orang-orang Pentakosta klasik berbagi dengan orang-orang karismatik Katolik pengalaman yang sama. Namun demikian, pengalaman masing-masing berakar dalam kebudayaan gerejaninya. Karena itu, dalam persekutuan-persekutuan doa ekumenis kewaspadaan harus diperhatikan untuk melindungi kemumian iman dan tradisi masing-masing anggota. 

    Kepekaan besar dan discernment hams dipakai jangan sampai apa yang mau dikerjakan oleh Roh Kudus dalam semua gereja-gereja untuk mempersatukan orang-orang Kristiani dipadamkan dan kepekaan yang sama dan cintakasih harus dilaksanakan jangan sampai dimensi ekumems dari Pembaruan Karismatik menjadi kesempatan perpecahan dan menjadi penghalang. Kepekaan terhadap kebutuhan-kebutuhan dan pandangan-pandangan orang-orang Kristiani lainnya jangan sampai membuat orang-orang Katolik menjadi kurang komit terhadap tradisi mereka sendiri. 

    Dalam menjelaskan bahwa Roh Kudus sendiri harus menunjukkan kepada kita jalan kearah persatuan Kristiani, Paus Yohanes Paulus II berkata kepada para pemimpin Pembaruan Karismatik Katolik: Dengan mengalami banyak karunia-karuma Roh Kudus yang juga dialami oleh saudara-saudara kita yang terpisah, milik andalah sukacita istimewa bertumbuhdalam kerinduan untuk persatuan kemana Roh Kudus membimbing kita dan dalam komitment kepada tugas ekumenisme.Bagaimana tugas ini dapat dilaksanakan ? Konsili Vatikan II mengajar kita : Akan tetapi umat Katolik sendiri pertama-tamawajib mempertimbangkon dengan jujur dan penuh perhatian segala sesuatu, yang dalam keluarga Katolik sendiri perludiperbarui dan dilaksanakan, supaya peri hidupnya memberi kesaksian yang lebih setia dan lebih jelas tentang ajaran dansegala sesuatu yang ditetapkan oleh Kristus serta diwariskan melalui para Rasul (Unitatis Redintegratio 4). 

    Ekumenisme yang benar membantu meningkatkan kerinduan kita akan persatuan gerejawi semua orang Kristiani dalam satuiman, sehingga dunia dapat dipertobatkan kepada Injil dan dengan demikian diselamatkan untuk kemuliaan Allah (UnitatisRedintegratio 4). Marilah kita yakin bahwa jika kita menyerahkan diri kita kepada karya Pembaruan Sejati dalam Roh Kudus,Roh Kudus yang sama ini akan menerangi strategi untuk ekumenisme yang akan membuat harapan kita menjadi kenyataanyaitu harapan satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang diatas semua dan olehsemua dan didalam semua (Efesus 4, 5-6). (Konperensi para Pemimpin Karismatik di Roma 1981). 

    Karena itu dalam praktek, persekutuan-persekutuan doa Katolik hams menerima kepahitan akibat dari ketaatannya kepada aturan-aturan Gereja, misalnya mengenai interkomunio. Sebenarnya sudah banyak contoh pada konperensi-konperensi karismatik dan perternuan-perternuan doa ketika orang-orang Kristiani lain disambut dengan hangat untuk bergabung dalam liturgi Katolik tetapi diberitahukan bahwa mereka tidak dapat menerima komuni suci dan aturan ini diterima dengan penuh pengertian oleh semua yang hadir. 

    Devosi kepada Maria 
    Orang-orang dalam Pembaruan Karismatik Katolik bersama- sama dengan seluruh Gereja secara penuh menerima bahwa devosi yang sejati kepada Maria merupakan kanmia penting dari Roh Kudus bagi orang Kristiani. Roh Kudus menggerakkan devosi kepada Maria dan devosi yang benar kepada Maria memupuk kepatuhan kepada Roh Kudus. 
    Narnun demikian perlu senantiasa diusahakan melalui ajaran dan teladan bahwa devosi kepada Maria diatur dengan benar , sebagaimana Paus Paulus VI mengatakannya dalam surat apostolisnya Marialis Cultus (penghormatan kepada Maria). Devosi sejati kepada Maria terdiri dari tiga unsur ini : 


    • memperingati apa yang diajarkan Gereja tentang dia. 
    • meniru keutamaannya yang menonjol, yaitu keutamaan iman, harap dan kasih dan keterbukaannya yang berani kepada kehendak Allah. 
    • memohon bantuan keibuannya imtuk kebutlihan-kebutuhan kita.




    Devosi yang benar akan memupuk ingatan akan Perawan Maria sebagai contoh dan model Gereja dan pelaksanaan tertinggi nilai-nilai injil (Sabda Bahagia dsb). Penyimpangan- penyimpangan dapat terjadi bila apa yang kita peringati tentang Maria merupakan produk kesalehan kita bukannya apa yang diajarkan Gereja dan bila doa-doa kita kepada Maria untuk memohon kasih karunia tidak diimbangi dengan keinginan untuk meneladan dia juga dalam hidupnya sebagai murid Tuhan yang unggul. 

    Devosi dapat menyimpang menjadi praktek tahyul jika upacara lahiriah dari doa menjadi lebih penting bagi si pendoa itu dari pada sikap bathinnya dalam menyembah Allah dengan kerendahan hati dan komitmennya kepada ajaran-ajaran Kristus. Dalam ensikliknya mengenai peranan Maria dalam misteri Kristus dan Gereja (Mater Redemptoris 1987) Paus Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa dalam berdevosi yang sejati kepada Maria, semakin orang tekun dan maju dalam sikap yang dijiwai penyerahan seorang anak kepada Maria, semakin dalam pula dia membawa orang itu masuk kedalam kekayaan Kristus yang tidak terduga itu (Efesus 3,8). Banyak orang dalam Pembaruan Karismatik Katolik telah mengalami hal ini terjadi dalam hidup mereka sendiri, dan diharapkan bahwa lebih banyak orang lagi akan diberkati dengan rahnmat yang sama. 

      
    Sakramen-sakramen 
    Orang-orang Katolik dalam Pembaruan Karismatik dapat menerima dengan sepenuhnya bahwa ketujuh sakramen merupakan sarana yang unik untuk bertemu dengan Tuhan Yesus dalam kehidupan Kristiani. Sakramen baptis (bila diterimakan dengan sah, meskipun diterimakan waktu bayi atau anak-anak) selalu memberikan karunia Roh Kudus, yang membuat orang menjadi anak Allah dan sakramen baptis itu tidak pemah boleh diulangi. Sakramen rekonsiliasi atau sakramen pengakuan dosa harus sering diterirna untuk pengampunan do.sa.-dosa dan untuk penyembuhan spiritual. Ekaristi kudus merupakan. bentuk ibadat umum yang tertinggi dari Gereja: 
    Dalam Ekaristi Kudus, Sang Penebus sendiri yang sungguh-sungguh hadir dalam rupa rori dan anggur yang kudus,memberikan diriNya kepada orang-orang beriman. Dia mempersatukan mereka dengan diriNya dan sekaligus mempersatukanmereka satu sama lain. Dengan cara ini, Ekaristi membangun Gereja, sebab Ekaristi adalah tanda dan. penyebab persatuanUmat Allah dan karena itu-merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani . (Paus Yohanes Pauills II, Jubilee of theRedemption, 6 January 1983). 

    Tiap-tiap sakramen harus diterima oleh orang beriman dalam hubungan dengan perseklituan para Kudus, sebagai tindakan iman dalam misteri Penebusan dan perwujudannya dalam Gereja . 

    Narnun demikian, sakramen-sakramen itu tidak boleh diterima secara mekanis saja atau dengan sikap acuh tak acuh, tetapi dengan komitmen dan kesetiaan seorang murid Yesus Kristus yang sejati : menurut prinsip teologis ex opereoperantis, orang mendapatkan makanan rohani lewat sakramen sebanding dengan iman, kasih yang menjiwai orang yang menerima sakramen itu. Dengan kata lain, daya subyektif dari sakramen tergantung dan keterbukaan orang terhadap Roh Kudus. 

    Emosionalisme 
    Pengungkapan-pengungkapan perasaan relisius secara pribadi dan mendalam tidak periu dikhawatirkan sebagai tanda-tanda emosionalisme, sebab pengalaman relisius dan emosionalisme itu tidaklah sama. 
    Emosionalisme adalah sikap yang memusatkan perhatian pada perasaan saja dengan mengesampingkan akal budi yang sehat, dan hal seperti ini pada urnumnya tidak terdapat dalam Pembaruan Karismatik Katolik. Dilain pihak, unsur emosional jangan dipisahkan dan pengalaman : manusia adalah makhiuk yang berfikir, berkehendak, mengasihi dan berperasaan dan tanggapan yang menyeluruh dan pribadi manusia terhadap Allah dalam ibadat periu digalakkan. Dalam beberapa belahan dunia dianggap tidak patut mengungkapkan secara lahiriah dihadapan umum perasaan-perasaan relisius, bahkan juga dijaman modem ini, sehingga ungkapan relisius telah dibatasi didalam otak dan didalam kehendak saja. .Tetapi bentuk-bentuk ibadat yang terlalu intelektualistis ini telah membuat evangelisasi, liturgi dsb menjadi mandul dan periu dibetulkan. 

    Paus Paulus II sebenarnya memuji Pembaruan Karismatik karena menggalakkan ibadat yang penuh sukacita, dengan mengatakan kepada mereka yang turut ambil bagian dalam Kongres Karismatik th. 1975 di Roma : 
    Tidak ada sesuatupun yang lebih penting bagi dunia yang semakin menjaukkan diri dari Tuhan daripada kesaksian PembaruanSpiritual ini yang kita lihat dimunculkan oleh Roh Kudus dijaman ini didaerah-daerah dan lingkungan yang berbeda-beda.Manifestasinya bermacam- macam; persatuan mendalam dari Jiwa-jiwa, hubungan yang mesra dengan Tuhan, kesetiaankepada komitmen yang dijanjikan pada waktu menerima sakramen baptis ..... dan kesetiaan kepada keyakinan ataukepercayaan pribadi. Keyakinan ini bersumber bukan hanya pada instruksi yang diterima dengan iman, tetapi bersumber jugapada pengalaman yang dihayati..... karena itu kebutuhan untuk memuji Allah, bersyukur kepadaNya dan merayakan karya-karyaNya yang ajaib yang Dia lakukan disekeliling kita dan didalam diri kita ..... Pembaruan Karismatik ini harus meremajakandunia, memberikan kembali kepadanya roh, ji-wa dan pikiran relisius dan membuka kembali bibirnya yang terkatup untukberdoa dan membuka mulutnya untuk menyanyi, untuk bermadah, untuk bersaksi, untuk bersukacita. Mereka yang tidak ikutdalam gerakan anda seharusnya mempersatukan diri mereka dengan anda untuk merayakan pesta Pentakosta, supayamereka juga sebagai peziarah-peziarah saleh kepusat iman Katolik ini dapat memperoleh makanan rohani dan semangat bagidiri mereka sendiri. Dengan kekuatan rohani dan semangat inilah kita harus menghayati agama kita. 
    Dan kami mau mengatakan hat ini : dijaman ini, orang okan melakukan salah satu dari dua hal ini yclitu menghayati imannyadengan kesetiaan, kekuatan dan sukacita atau imannya akan mati. (L Observatwe Romano, 29 Mei 1975) 

    Narnun demikian, bahaya yang harus dihindari dalam praktek adalah bahaya melebih-lebihkan. Ini terJadi jika orang lupa bahwa ada yang disebut bagasi kebudayaan . Bagasi kebudayaan ialah kelompok-kelompok orang beriman dengan benar beribadat menurut latar belakang kebudayaan mereka sendiri dan tidak ada alasan apapun bagi seorang untuk meniru yang lain, atau lebih buruk lagi, bagi seorang untuk memaksakan pada orang lain merek pujian yang istimewa miliknya sendiri. Dalam menyanyikan lagu-lagu pujian orang-orang Amerika Latin dapat menyanyi dengan suara keras dan berlebih-lebihan. Orang-orang Jepang lebih suka mengungkapkan sukacita yang sama secara kurang demonstratif (kurang terbuka dalam mengungkapkan perasaan). Pentakostalisme Klasik mungkin meloncat atau berguling-guling, sedangkan orang-orang Katolik walaupun dipenuhi dengan Roh tidak usah meniru mereka itu!!!. Yang penting ialah bahwa pujian kepada Allah harus dilakukan sepenuh hati dan dengan tulus dan hendaknya dipenuhi dengan Roh(Efesus 5, 18-20), sebab Yesus menginginkan semua murid-muridNya menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran(Yohanes 4,23). 

    Menyalahgunakan karisma-karisma 
    Karisma-karisma adalah karunia kuasa dan karena itu dapat disalah gunakan oleh orang-orang yang kurang matang atau kurang dewasa atau oleh orang-orang yang masih membutuhkan penyembuhan luka bathin. Hal seperti itu terjadi misalnya bila karisma-karisma digunakan untuk kemuliaan sendiri, untuk mendapatkan uang dan untuk kepuasan emosi. Karena penyimpangan-penyimpangan seperti itu dan karena terlalu dibesar-besarkan, Santo Paulus memperingatkan dengan keras Gereja di Korintus dan Yesus sendiri telah memperingatkan murid-muridNya : Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu : Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namaMu dan mengusir seta demi namaMu dan mengadakan banyak mukjizat demi namaMu juga ? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata : Aku tidak pemah mengenal kamu! Enyahlah dari padaKu, kamu sekalian pembuat kejahatan!(Matius 7, 22-23). 

    Penyalahgunaan karunia-karunia kuasa adalah akibat dari arogansi dan kesombongan dan manifestasi-menifestasi dari hal ini ialah iri hati, perselisihan, perpecahan, kurang kepatuhan kepada otoritas atau tidak mau bertanggung jawabkepada orang-orang lain. 

    Menjinakkan (domestikasi) 
    Doa Bapak Paus Yohanes XXIII untuk keberhasilan Konsili Vatikan II berisikan kata-kata ini : Ya Tuhan, perbaruilahkeajaiban-keajclibanMu dijaman kami ini, sebagai Pentakosta Baru ! . Pembaruan Karismatik Katolik telah dipandang oleh para paus dan berbagai Konperensi Nasional Uskup-Uskup sebagai satu manifestasi dan Pentakosta baru ini. Paus Paulus VI berkata : 
    Betapa mengagumkan jadinya jika Tuhan masih meningkatkan pencurahan karisma-karisma supaya Gereja menjadi subur,indah dan menakjubkan. Kami akan menyebutkan sebuah buku yang ditulis tepat pada waktu ini oleh Kardinal Suenens, yangdisebut A New Pentecost (Pentakosta Baru). 
    Dalam buku itu dia menjelaskan dan membenarkan harapan baru ini, yang dapat sungguh-sungguh merupakan tindakankemurahan Tuhan dalam sejarah Gereja, yang terdiri dari pencurahan karunia-karunia yang lebih besar (L ObservatoreRomano 16 Oktober 1974). 

    Narnun demikian, ada beberapa uskup dan beberapa imam yang menginginkan hanya bagian yang terbatas dari apa yang Allah berikan kepada Gereja dijaman ini. Sebab ada uskup-uskup dan imam-imarn yang mengambil dan memilih hanya apa yang aman dan tidak kontroversial (dapat menimbulkan perdebatan), sementara menghindari apa yang menuntut perubahan. 
    Banyak orang menghendaki Pembaruan hanya untuk kepentingan menggalakkan kembali kegiatan-kegiatan saleh dalam paroki misalnya kegiatan doa, kehidupan sakramental, devosi kepada Bunda Maria dsb. tetapi tidak terbuka bagi tantangan-tantangan yang dibawa oleh Pembaruan Karismatik Katolik, misalnya pencurahan baru karisma-karisma (terutama karunia bahasa roh, karunia bernubuat, karunia penyembuhan, dan pelepasan), penekanan pada evangelisasi, pembentukan komunitas-komunitas perjanjian, keterbukaan pada kegiatan ekumenis dsb. 
    Dengan kata-kata lain, ada kendala yaitu Pembaruan Karismatik mau dijinakkan (domistication of the Renewal). Karena itu akhirnya Pembaruan Karismatik akan kehilangan kuasanya untuk mempromosikan Seminar Hidup Baru dalam Roh, lalu persekutuan doa karismatik hanya menjadi satu lagi perkumpulan atau kelompok dalam paroki. Padahal agar Pembaruan Karismatik terus tetap sungguh- sungguh menjadi kesempatan bagi Gereja dan dunia . (kata-kata Paus Paulus VI), para pemimpinnya, baik imam maupun awam, harus memperhatikan agar tidak memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (Lumen Gentium 12 dan ITes 5,2 dan 19-21).Pembaruan Karismatik Katolik harus diijinkan dan disemangati oleh para uskup, para imam dan awam untuk mengeluarkan harta yang lama dan yang baru , seperti tuan rumah dalam Injil Matius 13,52 dan untuk melaksanakan panggilan dan misi yang diberikan Allah kepada Gereja dijaman ini. 


    Sumber : Buku Pembaruan Karismatik Katolik 
    Buku Pegangan Untuk Para Pemimpin dan Peminat PKK


    Fr.Fio Mascarenhas, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/