• Sharing Dari Ibu Vivi Yulia


    Ditulis pada tanggal : Friday, 18 October 2013, 09:22 AM

    SETETES EMBUN

    Sore hari yang dingin, hujan deras membasahi kota Jakarta. Tanpa aktifitas, alias menganggur, saya duduk di depan computer tanpa tahu mau melakukan apa. Dalam keadaan setengah merenung, terbayang sesosok wajah lugu, yang menginspirasi saya untuk menuliskan pengalaman saya ini. 

    Sejak kecil dalam setiap pergaulan dan dalam setiap aktifitas saya selalu merupakan sosok yang menonjol. Sehingga secara tidak sadar dalam setiap aktifitas dan pergaulan saya, saya selalu masuk dalam garis depan. Sejak SMP sudah membawa rombongan untuk kegiatan ke luar kota, seperti perpisahan maupun ziarah ke Goa Maria. Dan saya selalu sebagai pencetus ide dan saya yang mengetuai rombongan. Dan dalam memilih team pelaksana, selalu memilih orang-orang yang punya kemampuan untuk bekerja, menurut pandangan saya. Dan ini berlanjut dalam setiap aktifitas saya. Tapi, semua ini berubah setelah saya mejadi Ketua Panitia KEP.

    Pertama kali diajak untuk ikut KEP, yang ada dalam pikiran saya adalah “Bakal tambah satu lagi agenda, dan waktu saya akan tersita, dan saya harus mengikuti sesuatu yang membosankan. Evangelisasi…..mendengarnya aja udah ribet”. Jujur……itulah yang ada dalam pikiran saya. Maka saya berusaha mencari umat dari lingkungan saya yang bersedia untuk ikut KEP supaya saya bisa bebas dari todongan Ketua Panitia.  Dan saya mendapatkan 2 orang yang bersedia ikut, dan saya bisa bernafas lega. Tapi itu rencana saya, ternyata rencana Tuhan berbeda. Walaupun saya sudah mendaftarkan 2 umat lingkungan saya untuk ikut KEP ternyata saya masih juga ditodong oleh Ketua Panitia untuk ikut, apaboleh buat, daripada ribet saya mendaftar tapi dengan hati yang tidak ikhlas. Diam-diam saya berkata dalam hati “Pasti banyak bolong dan gak bakalan ikut sampai selesai”.

    Lagi-lagi rencana Tuhan berbeda dengan rencana saya, saya seperti disediakan waktu oleh Tuhan untuk bisa hadir dan saya bisa menyelesaikan kursus. Dan bahkan saya dipilih sebagai Ketua Panitia untuk angkatan berikutnya. Ada rasa keberatan, tapi akhirnya diterima juga sebagai panggilan Tuhan.

    Sepanjang kursus, selain menambah wawasan dan teman, saya juga mengenal berbagai karakter manusia. Maka dalam menyusun kepanitiaan, saya cenderung memilih yang mempunyai kemampuan untuk ikut dalam kepanitiaan, walaupun mencoba melibatkan hampir sebagian besar alumni. Ada beberapa nama yang memang tidak saya masukkan karena dianggap tidak mampu. Akhirnya saya berhasil menyusun kepanitiaan KEP angkatan 4. Lega, satu tugas dapat diselesaikan.

    Suatu pagi, saya mendapatkan sms dari nomor yang tidak saya kenal, dan orang yang sms itu menawarkan diri untuk menjadi panitia KEP. Saya bertanya, siapa dia dan ketika dia menyebutkan namanya, saya sempat bingung sejenak. Sosok yang sangat tidak saya perhitungkan untuk masuk dalam kepanitiaan. Penilaian pribadi saya anak ini terlalu diam dan tidak akan mampu berbuat apa-apa. Tapi untuk tidak mengecewakan dia, saya libatkan dia dalam kepanitiaan.

    Ternyata anak ini menunjukkan kesungguhan hatinya untuk membantu dan terlibat. Dalam setiap rapat dia hadir, bahkan dalam hal-hal kecil, dia sangat membantu. Dalam puasa dan doa, dia menunjukkan kesungguhan hatinya. Bahkan dalam pelaksanaan KEP dia sangat membantu, dari hal kecil sampai yang penting.

    Pengalaman ini menyadarkan saya akan banyak hal. Sebagai manusia, saya sering melihat penampilan luar, sehingga sering dalam berbagai aktifitas, orang-orang pilihan kita sering mengecewakan. Orang yang punya kemampuan, tapi tidak melayani dengan hati, maka hasilnya akan sia-sia. Tuhan selalu memilih orang yang benar, Tuhan selalu melihat dari kedalaman hati, hati yang benar-benar mau melayani. Dan anak ini membuka mata saya, bahwa orang yang lugu dan kelihatan tidak pandai belum tentu tidak punya kemampuan.

     

    Sharing dari Ibu Vivi Yulia                                                                      

    (Ketua Panitia KEP IV/tahun 2013  Paroki Kampung Duri - Jakarta)

     

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/