• Renungan Harian - Jumat, 27 Januari 2017

    Jumat, 27 Januari 2017         

    Ibrani 10:32-39

    Mazmur 37:3-6, 23-24, 39-40

    Markus 4:26-34

    JADILAH  PENABUR  KEBAIKAN

    “... seumpama orang yang menaburkan benih di tanah” --- Markus 4:26

    SEWAKTU MASIH DI SMP, ada pelajaran ilmu hayati atau ilmu tumbuh-tumbuhan. Waktu itu, Ibu Guru yang mengajar, meminta kita besok paginya membawa  dua tiga butir kedelai, kacang hijau atau biji kacang-kacang yang lain. Tiga doos berisi tanah perlu disediakan. Waktu di kElas, kita diminta menaburkan benih-benih itu dalam tanah di doos-doos itu. Kita sirami sedikit doos tersebut dengan air. Ketiga doos diletakkan dalam kaca dan ditaruh di depan klas. Tiap hari kita melihatnya. Dan seminggu kemudian, Ibu Guru memperlihatkan butir-butir kacang-kacangan itu sudah berubah menjadi kecambah. Kita asyik menyaksikan suatu mukjizat terjadi , perlahan tetapi pasti.

    Hari ini Injil bicara tentang ‘penabur yang menaburkan benih’. Asal lempar bebijian itu ke kiri kanan jalan, bukanlah suatu cara yang  baik untuk pendederan benih. Tetapi ‘penaburan biji itu’ seperti itu menggambarkan ‘penginjilan’ yang terasa lebih lumrah bagi kita. Kadang kita merasa Roh Kudus mendorong-dorong kita untuk menemui seseorang dan berbagi tentang iman, kita tentu akan berpikir, “Saya mau ngomong apa ya? Langkah apa yang perlu saya ambil?” Tetapi itu bukan keadaan atau situasi yang kita temukan dalam bacaan Injil ini. Di situ si petani nampak berjalan begitu saja, sambil merogoh benih dari kantong lalu disebar begitu saja dengan bebas. Mungkin saja ada cara-cara menggapai orang-orang untuk berbagi iman tanpa ada kesan kita memaksanya atau membuat orang itu merasa ‘risih’.

    Dan kita sendiri bagaimana? Tipe orang semacam apa? Kita orang yang lebih cenderung mendorong dan membesarkan hati orang? Atau kita lebih bersikap ‘ringan tangan’ dalam arti senang membantu teman yang nampak kebanyakan tugas dan pekerjaan. Kalau kita ketemu teman, mungkin kita memberi hadiah kecil, mungkin kita ajak minum kopi di pagi hari atau ajak minum teh di sore hari dengan cemilan kecil.

    Berjumpa orang dengan cara-cara seperti itu sebenarnya kita baru menabur benih! Itu bukan sekedar sikap ramah, tetapi juga merupakan suatu berkah, suatu perjumpaan yang memberi inspirasi, yang menyembuhkan dan melegakan hati yang bersangkutan. Kita memiliki ‘energi rohani yang luar biasa’ yang berasal dari Roh Kudus yang kita pancarkan dan salurkan lewat perjumpaan sederhana itu.

    Tak perlu kita berpusing bagaimana nanti kita kalau berbagi iman. Cukup hati berpusat pada teman yang kita ajak berbincang dengan santai. Dan kesaksian iman akan keluar dengan sendirinya. Ini bisa lewat kata-kata, lewat senyum dan pancaran perhatian dan kasih yang mereka terima dan rasakan.

    Perumpamaan hari ini meneguhkan kita kalau benih-benih yang kita taburkan itu akan tumbuh alami dan menjadi ‘kecambah-kecambah’. Tugas kita hanya menabur dan menabur sebanyak mungkin. Menabur senyum. Menabur peduli, Menabur belarasa. Menabur kasih dan kebaikan.

    Doa: Bapa, panggil dan utus kami menjadi penabur sabda Putera-Mu dalam hidup kami sehari-hari.

    Janji: “Janganlah kamu melepaskam kepercayaanmu, sebab besar upah yang menantinya” --- Ibrani 10:35

    Pujian: Pesta St. Angela. Awalnya relawan  pelayanan amal. Angela menuntun mereka dalam hidup rohani mereka. Dan hasilnya mereka bersepakat hidup bersama dalam Komunitas. Akhirnya komunitas itu menjadi Ordo Ursulin.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/