• Renungan Harian - Kamis, 2 Februari 2017

    Kamis, 2 Februari 2017

    Pesta Yesus Dipersembahkan Di Bait Allah

    Maleakhi 3:1-4

    atau Ibrani 2:14-18­

    Mazmur 24:7-10

    Lukas 2:22-40 (2:22-32)

    YESUS DIPERSEMBAHKAN DIBAIT ALLAH

    “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah.” --- Lukas 2:23

    SETIAP TANGGAL 2 Februari, kita merayakan pesta “Yesus dipersembahkan ke Bait Allah.” Sebagai keluarga Yahudi, Keluarga Kudus sangat patuh akan adat kebiasan saleh sebagaimana ditulis dalam Hukum Taurat.  Kalau kita rayakan kelahiran Yesus di tanggal 25 Desember, maka hari pentahiran bagi Ibu yang melahirkan anak adalah 40 hari sesudah bersalin. Dan ini jatuh tanggal 2 Februari.  Bersama itu pula, anak yang dilahirkan dibawa ke Kenisah untuk dipersembahkan kepada Allah.

    Dalam surat kepada orang-orang Ibrani yang kita baca, dikatakan tentang Yesus, bahwa  “Ia harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya dalam segala hal, ...” (Ibr 2:14). Maka Keluarga Kuduspun juga harus mempersembahkan kurban pendamaian. Berhubung mereka itu termasuk golongan miskin, maka yang dipersembahkan adalah “sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati” (Luk 2:24).

    Kita kenang peristiwa Yesus dibawa ke Kenisah. Tetapi sebenarnya dalam arti yang dalam, Yesus yang memasuki Kenisah itu mau menjumpai umat yang percaya kepada-Nya. Maka dalam peristiwa ini, didorong oleh Roh Kudus, Simeon, “seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel” (Luk 2:25). Setelah terpuaskan harapannya, ia berkata “Sekarang Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang dalam damai sejahtera” (Luk 2:29).

    Disebut juga ada orang lain yang menunggu dan menanti kedatangan Isa al Masih, yakni Hana. Ibu tua ini, seorang janda. Ia tak pernah “meninggalkan Bait Allah dan siang malam ia beribadah dengan berpuasa dan berdoa.” Kalau kita menempatkan diri kita dalam Bait Allah dan menyaksikan perisitwa bersejarah itu, apa kiranya yang dapat kita pelajari sebagai teladan bagi kita?

    Kita patut meniru teladan Keluarga Kudus tentang kepatuhannya akan kebiasaan saleh dalam hidup beragama: mengucap syukur diberi karunia anak dan apakah kita juga mempersembahkan anak-anak kita kepada Tuhan? Kalau kita sudah lanjut usia, bisakah kita memiliki kebiasaan berdoa dan berpuasa, bagi anak dan cucu kita serta sanak keluarga kita?

    Sebagaimana Simeon, segala asal dan harapan telah terpenuhi oleh Tuhan, ia lalu mohon diri agar diperbolehkan mundur dalam damai sejahtera. Punyakah kita iman akan penyelenggaraan ilahi? Punyakah kita rasa pasrah dan berdamai dengan sesama dan siapa saja?

    Doa: Bapa, ajarilah aku semangat penyerahan diri seutuhnya kepada-Mu sejak masa muda sampai di usia lanjut.

    Janji: “Siapakah itu Raja kemuliaan? Tuhan semesta alam, Dia-lah Raja kemuliaan!” --- Refrein Mazmur 24:8,10

    Pujian: Ibu Alexandra membawa putranya ke Gereja, selain mempermandi- kannya, dia juga mempersembahkan anak sulungnya kepada Tuhan agar Tuhan berkenan memakainya.

    Penanggung Jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/