• Renungan Harian - Jumat, 10 Februari 2017

    Jumat, 10 Februari 2017

    St. Skolastika

    Kejadian 3:1-8

    Mazmur 32:1-7

    Markus 7:31-37

    ORANG TULI DARI DEKAPOLIS: “EFATA”

     “Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas orang itu.” --- Markus 7:32

    SEWAKTU YESUS ditanya, apakah Dia itu Mesias yang ditunggu atau bukan, Yesus menjawab “Pergilah dan katakanlah ... orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir,  orang tuli mendengar, ...” (Mat 11:4). Dan dalam bacaan Injil hari ini, mukjizat orang tuli terjadi. Dan apa yang dilakukan Yesus? “Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya: "Efata!", artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik” (Mrk 7:33-35).

    Kita ingat sewaktu kelahiran Yohanes Pembaptis, karena tak percaya, Zakharia, ayah Yohanes menjadi bisu. Sewaktu menulis nama anaknya, “Namanya adalah Yohanes”, terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya. Zakharia dapat berkata-kata dan memuji Allah (Luk 1:63-64).

    Bisa saja kita tergolong orang-orang ‘tuli’. Kita menutup telinga dan menolak mendengarkan sabda Allah. Kalau kita mau mendengar, bisa saja masuk telinga kanan dan langsung pesan Injil keluar lewat telinga kiri. Ajaran dan nasehat Tuhan kita abaikan. Kita mengikuti kata hati kita sendiri, dan buahnya adalah kita tersesat, berjalan di jalan yang tidak benar.

    Peristiwa di Dekapolis berkisah Yesus menyembuhkan orang tuli. Sebelumnya ada hambatan untuk mendengar, dan dibuat oleh Yesus si tuli sembuh dan dapat mendengar. Akhirnya, dia yang sembuh lalu bisa mendengar pewartaan Yesus dan menghayati sabda-Nya.

    Meskipun kita tidak tuli secara jasmani, tetapi bisa saja kita tuli secara rohani. Kita mohon penyembuhan dari Yesus, biar kita mendengar lantang “Efata” – terbukalah! Semoga telinga hati kita tak pernah akan tuli. Dengan telinga hati kita mendengar sabda-sabda Allah yang menyampaikan kehendak-Nya. Kita lalu dituntun dan dibimbing oleh sabda-Nya menapaki jalan hidup yang dikehendaki Tuhan dan mulai berani mewartakannya.

    Doa: Tuhan, buka telingaku, lepaskan kekauan lidahku. Biar aku mendengar sabda-Mu dan mewartakan sabda yang menyelematkan dari-Mu.

    Janji: "Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata" --- Markus 7:37

    Pujian: Bu Sastra, meski dia tidak bisa membaca dan menulis, tetapi ia dapat dengan lancar berdoa “Bapa Kami”, “Salam Maria” dan “Doa Tobat.”

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/