• Renungan Harian - Minggu, 12 Januari 2017

    Minggu, 12 Februari 2017

    Minggu Biasa VI

    Sirakh 15:15-20

    Mazmur 119:1-2,4-5,17-18,33-34

    1 Korintus 2:6-10

    Matius 5:17-37

    BAGAIMANA KITA MENGHAYATI PERINTAH-PERINTAH AGAMA?

    Sirakh 15:15-20

    “Asal sungguh mau engkau dapat menepati hukum, dan berlaku setiapun dapat kaupilih.  Api dan air telah ditaruh oleh Tuhan di hadapanmu, kepada apa yang kaukehendaki dapat kauulurkan tanganmu. Hidup dan mati terletak di depan manusia, apa yang dipilih akan diberikan kepadanya. Sungguh besarlah kebijaksanaan Tuhan, Ia adalah kuat dalam kekuasaan-Nya dan melihat segala-galanya. Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut kepada-Nya, dan segenap pekerjaan manusia Ia kenal. Tuhan tidak menyuruh orang menjadi fasik, dan tidak memberi izin kepada siapapun untuk berdosa.”

     1 Korintus 2:6-10

    “Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.”

    Matius 5:17-37

    “Lalu mereka mendesak Yesus supaya Ia meninggalkan daerah mereka. Pada waktu Yesus naik lagi ke dalam perahu, orang yang tadinya kerasukan setan itu meminta, supaya ia diperkenankan menyertai Dia. Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" Orang itu pun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran.

    Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sedang Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya: "Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup." Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya. Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya.”

    “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” --- Matius 5:20

    TIAP AGAMA mempunyai ajaran, perintah dan peraturan. Dalam bacaan Injil hari ini -- bagian dari Kotbah Yesus di Bukit-tentang orang yang melaksanakan perintah agama secara harafiah. Dan kita melihat suatu contoh ‘melaksanakan perintah agama secara harafiah’ itu, tanpa tahu itu untuk apa! Atau apa maksud di balik perintah itu. Itulah yang dihayati oleh kaum Farisi yang dikritik oleh Yesus. Benar kaum Farisi taat pada perintah agama, tetapi patuh taat seperti itu kering dan mandul. Bagi kaum Farisi merasa cukup taat secara harafiah, apa yang tertulis dalam perintah itu. Mereka memang tidak membunuh, tetapi bisa saja, melukai badan orang lain, tanpa merasa bersalah, melukai hati atau marah-marah pada orang. Sekedar contoh: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala” (Mat 5:21-22). Di sini ajaran Yesus mengenai melaksanakan perintah Allah menukik tajam, bukan hanya apa tertulis, tetapi apa makna perintah Allah itu. Kita sekarang bisa mengatakan ‘hargailah hidup orang lain, hargailah martabatnya, hormatilah hak-hak azasinya. Singkat kata : ujud dari Hukum Kasih -- ‘Cintailah sesamu manusia.’

    Yesus menginginkan agar kita para murid-Nya tidak terperosok dalam sikap agama yang kaku dan dangkal -- asal menuruti aturan hukum. Karena kurangnya pendalaman makna atau juga dalam memahami motivasi di balik perilaku kita, masih banyak umat Katolik bertanya : ini boleh atau tidak. Ini dosa atau tidak!

    Hidup suci, hidup saleh dan hidup berkenan pada Tuhan, bukan soal tidak melakukan kesalahan atau dosa, tetapi apakah kita semakin mendekatkan hidup kita dengan Tuhan. Atau, apakah kita semakin meningkatkan perbuatan kasih kita?

    Menantang dan berat tuntutan Yesus : “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat 5:20).

    Doa: Bukalah budi dan hati ku, Tuhan, agar aku lebih bijak dalam menghayati hidup keagamaanku.

    Janji: “Jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka” --- Matius 5:29

    Pujian: Tantinah membaca Kotbah Yesus di Bukit, Matius bab 5 sampai 7, dua bulan sekali, untuk mengingatkan akan penghayatan Hukum Kasih dari Yesus.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/