• Renungan Harian - Jumat, 24 Februari 2017

    Jumat, 24 Februari 2017

    Sirakh 6:5-17

    Mazmur 119:12,16,18,27,34,35

    Markus 10:1-12

    KESETIAAN: SAMPAI MAUT MEMISAHKAN

    "Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?" --- Markus 10:2

    SERING KALI bacaan Injil hari ini dipakai dalam Misa Pemberkatan Perkawinan. Di sini diutarakan kesucian hidup berkeluarga, yang perlu dijaga. Satu-satu sarana menjaga yaitu kesetiaan akan janji perkawinan, kesetiaan kepada satu sama lain.

    Kita semua tahu dan sadar kekhasan perkawinan Katolik adalah monogami atau bersuami/beristri satu dan tak terceraikan, kecuali oleh kematian. Tetapi bagaimana kenyataannya? Kerap kali gaya hidup zaman modern menyuguhkan pilihan yang lain. Dan pasangan Katolik sering tergoda oleh gaya hidup, yang menekankan kekebasan yang menggrogoti ‘kesetiaan’. Cekcok, ketidak harmonisan yang berujung pisah, malahan  cerai sipil, itu suatu kenyataan sekarang, khususnya keluarga Katolik di kota-kota besar.

    Tetapi dalam Reksa Pastoral hidup berkeluarga, Gereja berusaha keras menjaga ‘kesetiaan’ itu. Kita kenal dengan ‘penyelidikan kanonik’ oleh pastor paroki terhadap pasangan yang mau menikah. Dalam tahap ini dapat dideteksi dini tentang adanya benih-benih ketidak-setiaan atau kepura-puraan ataupun ketidak-dewasaan dalam bertanggung jawab. Sering Pastor yang mempersiapkan juga memberi ‘questionnaire’ kepada keduanya tentang hal-hal yang bisa terjadi dalam perjalanan hidup mereka nanti, dan bagaimana sikap mereka masing-masing. Selain calon pasangan harus mengikuti Kursus Persiapan Perkawinan dalam akhir pekan, juga ada yang menyelenggarakan kursus ‘Discovery’. Di situ pembicara membimbing pasangan untuk menemukan hal-hal kesamaan atau perbedaan dalam kepribadian, baik selaras mau keinginan dan harapan masing-masing pihak. Ada pasangan setelah mengikutinya batal dan tidak meneruskan hubungannya karena merasa secara sadar kurang adanya titik temu.

    Reksa Pastoral sesudah nikah juga ada. Selain rekoleksi dan pembaruan Janji Nikah, juga ada Retret Pasutri, Retret “Marriage Encounter’ atau ME. Sekarang ditambah lagi ada Retret “Pria Katolik Sejati” dan “Wanita Katolik Bijak” atau “Terberkati”.

    Selain itu secara kelembagaan Reksa Pastoral Keluarga juga berwujud adanya Seksi Keluarga, yang memberi Bimbingan Konseling atau Konsultasi di Paroki-paroki. Para Konselor dan Psikolog Katolik dilatih dalam cara dan gaya membimbing keluarga yang bermasalah.

    Bagaimana kita sendiri? Betulkah kita menjaga kesetiaan kita satu sama lain? Bagaimana kita menyikapi adanya pelbagai macam Reksa Pastoral Keluarga? Kita bisa ikut membantu?

    Doa: Bapa, Dikaulah sumber cinta. Mampukah pasangan suami-istri untuk tetap saling mencintai, khususnya pada saat kehidupan menjadi sulit dan adanya salib-salib dalam kebersamaan hidup berkeluarga.

    Janji: “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia" --- Markus 9:7-9

    Pujian: Di Keuskupan Agung Jakarta, dihimbau para Konselor dan Psikolog Katolik membantu paroki-paroki dalam reksa pastoral keluarga.

    Penanggung jawab: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/