• Renungan Harian - Selasa, 7 Maret 2017

    Selasa, 7 Maret 2017

    St. Pepertua, St. Felisitas

    Yesaya 55:10-11

    Mazmur 34:4-7,16-19

    Matius 6:7-15

    BAPA KAMI

    “Mata Tuhan tertuju pada orang-orang benar, dan telinga-Nya  kepada teriak mereka minta tolong.” --- Mazmur 34:16

    BERDOA ADALAH berbicara secara pribadi, dari hati ke hati antara dua orang pribadi,  yakni saya dan Tuhan. Bagaimana kalau kita baru asyik berbincang lewat tilpun, tiba-tiba teman saya di pihak sana tidak ada -- tak terdengar suaranya. Hubungan putus. Ada gangguan? Mungkin tilpun atau HP di sana yang tak berfungsi, atau sebaliknya tilpun atau HP saya yang bermasalah. Dan ini sering terjadi. Dan ternyata masalahnya ada pada HP saya. Saatnya kita perlu membeli HP yang baru atau kita bawa HP itu ke tempat servis. Sangatlah tak mengenakkan pembicaraan terganggu dan terputus, apalagi kalau ‘teman berbincang di sana’ adalah orang penting.

    Masalah HP membawa kita untuk memperhatikan saat-saat kita berdoa. Kita ingin sekali dalam doa itu merupakan percakapan panjang dan mesra dengan Allah. Tetapi nampaknya, mungkin Tuhan-lah yang tidak mendengarkan doa-doa kita -- atau sebaliknya, kita yang tidak mendengarkan sabda Tuhan. Mungkin jawaban permasalahan kita terjawab dalam ajakan Yesus dengan doa “Bapa Kami”.

    Bila kita itu ‘seorang ayah’ tentu kita tahu dan sadari betapa kita mengasihi anak-anak kita. Kalau anda bukan seorang ayah, dapat kita membayangkan bagaimana kasih cinta ayah kepada kita. Kita bisa membayangkan betapa besar dedikasi ayah dalam berpeduli akan anak-anaknya, betapa kreatifnya ayah dalam berperan dan menunjukkan diri mereka sebagai bapa kita.  Kalau kita temukan dedikasi, rasa perasaan kasih, dan macam-macam reka mereka dalam mengasihi anak-anaknya, dan ini kita lipat gandakan satu juta kali, ini sama sekali belum apa-apanya bila dibandingkan dengan kepedulian kasih Bapa kita di surga kepada kita.

    Bila ada ‘bapa di bumi ini’ -- meski jahat -- tak akan memberi batu kepada anaknya yang meminta roti, memberi ular bila anaknya meminta ikan? “Apalagi Bapamu yang ada di surga” (Mat 7:8-11). Hal semacam itulah yang perlu kita camkan bila kita menyebut Allah itu Bapa, dalam doa-doa kita. Bisa saja kita bayangkan, Ia duduk di samping kita, memeluk kita, Dia bukan duduk di singgasana pengadilan.

    Kalau kita berdoa, jangan lupa ‘Siapa Bapa kita itu’. Ini menyingkirkan segala pikiran kacau kita kekawatiran dan segala kegalauan kita. Sebelum kita mengutarakan permohonan atau kebutuhan kita, mari kita ucapkan terima kasih kita lebih dahulu kepada Bapa. Bila kita tiba-tiba merasa kosong apa yang hendak kita ucapkan kepada Bapa, baiklah kita baca Mazmur tanggapan hari ini secara perlahan. Tuhan dekat dan melepaskan kita dari kesesakan dan menyembuhkan orang yang patah hati  (Mzm 34:4-7,16-19).

    Doa: Bapa kami di surga, terima kasih pada-Mu atas suatu keistimewaan yang Kau beri untuk boleh berbincang dengan-Mu. Terima kasih atas karuniamu untuk bisa berdoa.

    Janji: “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya” --- Matius 6:8 b

    Pujian: Salah satu cara berdoa yang diajarkan Santo Ignatius dalam bukunya “Latihan Rohani” ialah  mengucapkan doa Bapa Kami, Salam Maria dll, secara perlahan. Pertama, dengan menyebut Bapa, nafas ditahan, dirasakan makna kata “Bapa” baru melepas nafas serta menarik nafas perlahan dan pindah ke kata “kami’ selama menahan nafas, juga kita camkan arti ‘kami’ di sini, dan seterusnya ...

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/