• Renungan Harian - Jumat, 10 Maret 2017

    Jumat, 10 Maret 2017

    Yehezkiel 18:21-28

    Mazmur 130:1-8

    Matius 5:20-26

    BAGAIMANA KITA MASUK KE DALAM KERAJAAN SURGA 

     “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” --- Matius 5:20 

    KEHENDAK ALLAH BAPA ialah agar kita Umat-Nya memperoleh hidup. Untuk itu perlu kita melakukan ‘kebenaran’. Ini bukan hanya masalah ajaran  tetapi lebih-lebih berbuat kebaikan kepada orang lain. Inilah jalan masuk ke “Kerajaan-Nya”.

    Dalam Injil hari ini dengan jelas, bagaimana tuntutan Yesus kepada kita. Penghayatan keagamaan kita yang hanya harafiah, yang hanya supaya ‘dilihat orang’ sama sekali tidak cukup. Kita dituntut untuk bertindak ‘lebih benar.’ Orang Farisi dan ahli Taurat mendasarkan pola hidup keagamaan kita dengan perintah-perintah Musa yakni “Kesepuluh Firman.” Di sini Yesus memperluas pemahaman kita dalam menghayati Firman itu. Penghayatan Perintah-perintah  Perjanjian Lama itu dikontraskan dengan perintah Yesus, yakni dengan istilah “Kamu telah mendengar” dengan “Aku berkata kepadamu ...” Inilah jalannya Yesus  menggenapi Hukum dan Nubuat para nabi sambil memperjelas makna sejati dari “Kesepuluh Firman.” Di sini nampak sekali bahwa Yesus menunjukkan kuasa-Nya guna menerangkan prinsip-prinsip moral yang jauh lebih radikal dan menuntut.

    Kalau dalam penghayatan keagamaan, kita merasa puas secara lahiriah saja, yakni apa yang tertulis, Yesus mengajak kita memahami inti, maksud, tujuan kehendak Allah. Ia mengajak kita untuk kembali ke dalam diri dan hati nurani kita, melihat motif-motif di balik tindakan kita. Yesus menuntun kita agar kita berusaha  menghindarinya dari ujung tindakan kita yakni jangan menuju ke dosa , apalagi berat.

    Dalam Masa Pra-Paska ini, Yesus mengajak kita utuk memperbaharui dan mempertajam hati nurani kita, motif-motif tindakan kita. Ia tuntun kita untuk memahami dengan benar perintah-perintah-Nya, sambil memperbaiki relasi kita dengan sesama kita, lewat tobat dan laku tapa kita, memperbaiki relasi-relasi yang telah rusak. Di sini letak perlunya kita ber-rekonsiliasi dengan Tuhan, dengan sesama dan dengan diri kita sendiri.

    Doa: “Berilah daku, ya Tuhan, hati yang baru. Beri daku urapan Roh-Mu untuk mengenal kesalahan dan untuk bertobat serta memperbaiki diri.

    Janji: “Jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkan persembahan di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahan itu” --- Matius 5:23-24

    Pujian: Di suatu Gereja Paroki, selalu ada Pastor yang duduk di kamar pengakuan sebelum Misa. Darsono memanfaatkannya dengan menyambut Sakramen Rekonsiliasi dahulu sebelum merayakan Ekaristi.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/