• Renungan Harian - Kamis, 6 April 2017


    Ditulis pada tanggal : Wednesday, 05 April 2017, 09:49 PM

    Renungan Harian - Kamis, 6 April 2017

    Kamis, 6 April 2017

    Kejadian 17:3-9

    Mazmur 105:4-5,6-7,8-9

    Yohanes 8:51-59

    JANJI TUHAN

    “Dia adalah Allah kami. Pada hal kamu tidak men genal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. ... Aku menuruti firman-Nya” --Yohanes 8:55

    PERJALANAN BANGSA Israel menuju Tanah Terjanji lewat padang gurun, lewat jalan berliku-liku, belok ke sana, belok ke sini. Seakan hal itu memperlihatkan Tuhan Allah plintat plintut.

    Hari ini disuruh bergerak ke sini, besok ke sana. Besok lusa sudah berubah lagi. Tentu saja hal demikian bukan karena kesalahan Tuhan Allah membuat skenario perjalanan bangsa Israel menuju Tanah Terjanji. Tetapi itu semua karena pemberontakan bangsa itu terhadap ketetapan yang sudah disampaikan oleh Tuhan, karena kedegilan hati mereka dan sulitnya bangsa pilihan itu ini diatur oleh Allah yang menuntunnya.

    Perjanjian lama mengisahkan bagaimana pada masa itu Tuhan Allah memimpin langsung pergerakan umat pilihanNya melalui Musa dan para nabi Utusan-Nya. Hingga pada suatu titik bangsa tersebut menolak dipimpin Allah dan menginginkan seorang raja yang memimpin mereka.

    Bagaimana dengan kita sendiri?

    Perjalanan hidup kita pun serupa dengan perjalanan bangsa Israel saat itu. Banyak hal yang kita lakukan sebagai wujud ketaatan kita pada Allah. Yakni  dengan cara kita mencari Tuhan dan kekuatanNya, mencari wajahNya selalu dan senantiasa mengingat perbuatan-perbuatanNya yang ajaib, lewat mujizat-mujizatNya yang kita alami sendiri. Pastinya hal-hal yang baik dengan gampangnya menumbuhkan rasa syukur kita kepada Allah. Itu kalau kehendak-Nya mudah kita laksanakan dan kita cocok.

    Tetapi sebaliknya bagaimana bila kita harus menghadapi saat di mana kehendak Tuhan berseberangan dengan keinginan kita yang masih dikendalikan oleh keinginan daging.  Tidak dipungkiri bila suatu saatpun kita ada pada titik memberontak pada kehendakNya. Hati kita mengeras. Kita mau jalan sendiri dan menutup kepekaan hati kita akan suara Tuhan.

    Hal inilah yang menyebabkan kita berakhir pada dosa dan berujung pada maut sebagai upah dosa.

    Allah menghendaki kita dapat menikmati kebahagiaan di dunia ini maupun di kehidupan kekal setelah kematian nanti. Semuanya telah disediakanNya bagi kita dan mesti kita perjuangkan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan selama kita masih hidup didunia yang fana ini. Janganlah kita mempertaruhkan kehidupan kekal yang akan kita peroleh nanti dengan segala sesuatu yang sifatnya hanya sementara. Mintalah pada Tuhan kasih karuniaNya untuk dapat hidup setia mengikuti firmanNya sehingga kita pun akan sampai pada janji Tuhan yaitu hidup kekal bersamaNya. 

    Doa: Ya Allah yang berkuasa atas segala sesuatu, pandanglah kami yang lemah ini. Kuatkan hati kami untuk tetap beriman teguh sampai Engkau membawa kami masuk dalam kehidupan yang kekal dan berhadapan muka denganMu

    Janji: “Sesungguhnya barangsiapa menuruti firmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya” --- Yohanes 8:51

    Pujian: Melalui ketekunan membaca dan mendengar firman Tuhan setiap hari serta melakukannya dengan setia, Agus merasa janji-Allah sudah menghampiri hidupnya.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

     

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/