• Renungan Harian - Selasa, 11 April 2017

    Selasa, 11  April 2017

    Yesaya 49:1-6                     

    Mazmur 71:1-2,3-4a,5-6ab,15,17

    Yohanes 13:21-33,36-38

    DOSA KESOMBONGAN

    Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." --- Yohanes 13:38b

    MANUSIA LEBIH bodoh dari keledai! “Keledai tidak akan jatuh di lubang yang sama dua kali”, kata orang. Tetapi manusia jatuh berkali-kali dalam  dosa yang sama dan itu-itu saja. Untuk itu kita tidak boleh sombong, dan mengandalkan kemampuan diri kita sendiri. Kita manusia lemah!

    Hal ini pun ternyata dialami oleh Petrus, salah satu murid andalan Yesus yang sudah mengikuti-Nya selama tiga tahun Ia juga jatuh dalam kesalahan, sehingga ia menyangkal Yesus tiga kali. Padahal sebelumnya ia mengatakan dengan sombong dan penuh rasa percaya diri, bahwa ia akan rela untuk memberikan nyawanya bagi Yesus.

    Bila Petrus saja jatuh dalam dosa kesombongan, maka kita pun perlu sangat berhati-hati juga. Di antara tujuh dosa pokok, maka dosa kesombongan merupakan dosa paling pokok atau paling utama. Dari kesombongan muncullah dosa-dosa pokok lainnya.  

    Sombong, berarti menganggap diri kita lebih dari pada orang lain. Karenanya kita lalu sering berusaha menarik perhatian orang lain agar diri kita menjadi pusat perhatian. Orang yang sombong, memiliki kebiasaan untuk meremehkan atau merendahkan orang lain. Ia hanya menganggap dirinya yang paling hebat dan paling pintar, orang lain tidak ada apa-apanya. Orang sombong tak sudi memberi pujian kepada orang lain meskipun mereka mungkin layak dipuji. Karena itu orang sombong, akan ditinggalkan teman-temannya.

    Sedangkan Bunda Maria merupakan contoh dari pribadi yang sebaliknya. Ia rendah hati. Bunda Maria, walaupun ia ‘terpuji di antara para wanita’, tetapi ia selalu ramah dan rendah hati. Ia tidak pernah meremehkan siapa pun, Ia mau mengunjungi dan melayani saudaranya Elisabeth, yang sudah hamil tua sampai dilahirkannya Yohanes. Sewaktu Maria dipuji oleh Elizabet, karena imannya yang besar kepada Allah, Bunda Maria mengembalikan pujian itu kepada Allah dengan Kidungnya “Jiwaku muliakan Tuhan”. Sebagai istri dan ibu rumah tangga Bunda Maria melayani Yesus dan Bapa Yosup dengan penuh kasih dan setia. (DAG).

    Doa: Tuhan Yesus, bentuklah aku menjadi manusia yang rendah hati.

    Janji: “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati”--- Amsal 11:2 

    Pujian: Devosi Bu Harti kepada Bunda Maria kuat. Ia ingin meneladan  kerendahan hatinya dan sikap Maria dalam  menghargai sesama.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/