• Renungan Harian - Jumat, 2 Juni 2017

    Jumat, 2 Juni 2017

    S. Marselinus & Petrus, Mrt

    Kisah para Rasul 25:13-21­

    Mazmur 103:1-2,11-12,19-20

    Yohanes 21:15-19

    MENDERITA UNTUK MEWARTAKAN INJIL

    "Karena itu aku menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar." --- Kisah Para Rasul 25:21

    KISAH PARA RASUL menceritakan bagaimana Roh Kudus akan turun atas diri para rasul dan bagaimana mereka akan menjadi saksi-saksi Kristus sampai ke ujung bumi (Kis 1:8). “Ujung bumi”, waktu itu diartikan kota Roma, ibukota Kekaisaran Romawi. Tujuh bab terakhir dari Kisah Para Rasul (Bab 22-28) mencatat serangkaian kekacauan tentang perjalanan Paulus ke Roma. Ia mengalami banyak penderitaan untuk membawa Injil ke Roma. Meskipun sebagai tahanan dan dipenjara, Paulus sangat yakin bahwa dirinya tidak bersalah. Ia dipenjara karena mempertahankan imannya, bukan karena melakukan perbuatan jahat. Bahkan, agar Injil bisa didengar oleh pejabat tertinggi di Kekaisaran Romawi, Paulus mendapat tambahan hukuman dua tahun penjara. Walaupun demikian, Paulus tetap bersukacita sebab penderitaannya telah berubah menjadi berkat bagi pewartaan Injil, "Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil" (Filipi 1:12). Selama ditahan, Paulus mendapatkan kesempatan menulis surat-suratnya.

    Paulus bukanlah satu-satunya yang mengalami situasi kacau yang meyakitkan dalam menyebarkan Injil. Petrus, yang memimpin Gereja Perdana dan yang mengetuai Sidang Yerusalem (Kis 15:1-21), akhirnya kehilangan kebebasan karena ada: “orang lain mengikat dan membawa ‘Petrus’ ke tempat yang ‘ia’ tidak kehendaki” (Yoh 21:18-19). Dan Yesus sendiri, sebagai Utusan Allah Bapa, menanggung konsekuensi Pewartaan keselamatan, dengan mengalami ketidakadilan, dengan ditangkap dan diseret ke pengadilan. Dalam proses persidangan, timbul kekacauan ketika Pilatus menyatakan bahwa ia tidak mendapati kesalahan apapun, sehingga tidak ada alasan untuk dihukum mati (Yoh 19:4). Meskipun tidak bersalah, Yesus harus tetap disalibkan atas desakan dari rakyatnya.

    Sebagai hamba Allah, Yesus disiksa dan disalib, sebagaimana dinubuatkan oleh nabi Yesaya (Yes 52:14--53:10). Buah dari penderitaan dan wafat Yesus ialah agar semua orang “diselamatkan dan datang untuk mengetahui kebenaran” (1 Tim 2:4).

    Untuk diselamatkan dan menjadi pengikut Yesus, setiap orang mempunyai  kisah masing-masing; ada yang menjadi Katolik sejak lahir, dan ada yang setelah dewasa. Ketertarikan untuk beriman Katolik dapat muncul dari berbagai peristiwa, seperti saat belajar di sekolah Katolik, mendengarkan lagu-lagu rohani, ataupun melalui perjumpaan dengan orang-orang Katolik (juga pacar) yang perilakunya  mencerminkan kasih Yesus. Prosesnyapun berbeda-beda, ada yang  berjalan dengan mulus, namun tidak sedikit juga yang mengalami pertentangan dan perselisihan, baik dari keluarga ataupun dengan orang-orang di sekitarnya.

    Pergolakan, atau penderitaan yang kita alami dalam kehidupan ini justru merupakan cara yang digunakan Allah untuk tujuan yang lebih mulia, yakni untuk menyebarkan firman-Nya. SabdaNya kepada Petrus tetap mengiang di telinga kita “Ikutilah aku!” (Yoh 21:19) -- TONNY
    Doa: Ya Yesus, ajarilah kami keberanian untuk mewartakan Injil dan mampukanlah kami menghadapi segala rintangan.
    Janji: "Sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita" ---  Mazmur 103:12
    Pujian: Karena  kasih-Nya yang besar, meski menderita Santo Paulus tetap setia dan  bersuka cita  mewartakan Injil sampai ke ujung bumi.
    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ
Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/