• Renungan Harian - Kamis, 8 Juni 2017

    Kamis, 8 Juni 2017

    Tobit 6:1-11; 7:1,6,8-13; 8:1,5-9

    Mazmur 128:1-5

    Markus 12:28b-34

    MENGASIHI SESAMA TANPA PAMRIH

     “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” --- Markus 12:31 

    HUKUM KASIH. Itulah yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya. "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini" (Mrk 12:29-31).

    Dalam Perjamuan Akhir, Yesus berbincang dengan para murid, antara lain tentang Perintah Baru, yakni “Kasih” malah dua kali Yesus bersabda tentang hal itu. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).

    "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu ...  Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:9,12). Tetapi dalam kenyataannya, kita tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak kelihatan, tanpa mengasihi sesama yang jelas ada di sekitar kita (1 Yoh 4:20). Bila kita mengatakan bahwa kita mengasihi Allah tetapi tanpa mengasihi sesama atau melahan membenci, maka semua itu hanyalah ‘omdo’ (omong doang).

    Riwayat hidup dr. Lie Dharmawan sebagai contoh ‘mengasihi sesama’. Beliau sering dianggap sebagai dokter “gila”. Di usianya yang sudah tidak muda ia masih bersemangat mengobati dan memberikan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat miskin. Pada Maret 2013 (saat berusia 67 tahun), impiannya terwujud, ia berhasil membangun rumah sakit apung di atas sebuah kapal Phinisi berukuran 23,5 x 6,55  meter. Awalnya, kapal bekas yang terbuat dari kayu ulin itu, ia beli dengan harga Rp 600 juta dengan uang yang diperolehnya dari hasil menjual rumah. Kapal itu kemudian dimodifikasi menjadi dua tingkat dengan ruang operasi ditempatkan di lambung kapal. Dengan kapalnya itu, kemudian dokter Lie melayani orang-orang sakit yang berada di berbagai pulau di seluruh Indonesia, khususnya di NTT.

    Di atas kapalnya, sampai hari ini ia telah melaksanakan lebih dari 178 operasi, mulai dari hernia sampai tumor, dan ada sekitar 2.000 warga yang sudah diobati. Ini semua dilakukannya dengan sukarela dan tanpa memungut bayaran. Karyanya ini didukung oleh sejumlah sponsor yang juga memiliki misi yang sama.

    Dokter Lie tidak memilih suku dan agama dalam melayani. Semua adalah ‘anak-anak’ Allah. Mereka adalah sesama manusia yang harus dikasihi. Dengan  ia mengasihi dan melayani sesama, ia telah mengasihi Allah, karena ia telah melaksanakan perintah-Nya untuk mengasihi sesama.  --- ADRI

    Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami mengasihi Engkau dan sesama kami.

    Janji: Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah --- Matius 5:9

    Pujian: Dr. Lie Dharmawan, engkau memang diutus Tuhan untuk menolong sesama yang membutuhkan. Terimakasih atas teladanmu kepada kami.

    Penanggung jawab RH: Rm. Subroto Widjojo, SJ

Copyright © 2007-2017 Badan Pelayanan Nasional, Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia (BPK PKK).
versi archive 2007 link : www.karismatikkatolik.org/archived/